Si Piano Kecil Biru

Tulisan ini adalah teks yang saya buat dalam rangka kegiatan kelas “Roman Picisan” tanggal 26 Maret 2019. Kelas “Roman Picisan” adalah kegiatan reguler di Forum Lenteng, yang difasilitasi oleh Otty Widasari.

Si Piano Kecil Biru datang kesekian kalinya ke rumah Saidi untuk menyapa memori Sang Penari. Ia sebenarnya sudah berpindah tangan dari Sang Burung Kecil—begitulah aku sering mendengar Bodas memangil ibunya—ke tangan Si Bibi Kecil, bibi dari seorang bocah yang dipuja oleh Sang Penari sebagai burung kecil pula, Bohdana. Tapi itu hanyalah perpindahan tangan yang sementara saja. Dan di masa perpindahannya itulah, Si Piano Kecil Biru lebih sering menggoda Sang Penari, membisikkan rayuan kepada perempuan yang pernah memiliki piano kecil merah—dulu. Sebab, si burung kecil Bohdana, konon, tak begitu peka akan kehadirannya.

“Bawalah aku, hei, Sang Penari, ke rumahmu!” seru Si Piano Kecil Biru itu. “Nanti akan kubawa kau ke masa kecilmu!”

Tampaknya, Sang Penari lumayan tergoda. Barangkali ia diam-diam telah mengumpulkan niat untuk membangun istana piano-piano, seperti The Small Instruments, istana milik seorang penenun bunyi yang aku kenal di Polandia.

Sementara itu, seminggu terakhir ini, aku tengah terbius bunyi-bunyi dari Pemenang, dan tadi pagi kudengar Si Piano Kecil Biru itu mendendangkannya pula. Aku pun tergoda. Aku rasa aku harus bergerak cepat agar Si Piano Kecil Biru lebih memilihku daripasa Sang Penari. Aku membutuhkannya. Sebab, aku juga ingin bisa terbang ke alam memori, seperti ke dunia Sang Burung Kecil, alamnya puisi-puisi.

Kamus

Tulisan berikut ini adalah teks yang saya buat dalam rangka kegiatan kelas “Roman Picisan” tanggal 26 Maret 2019. Kelas “Roman Picisan” adalah kegiatan reguler yang diselenggarakan di Forum Lenteng, difasilitasi oleh Otty Widasari.

Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Keempat, yang ada di atas meja di depan saya sekarang adalah buku yang diterbitkan oleh PT. Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2012. Buku tersebut memiliki 1704 halaman, bersampul cokelat. Ada cap Forum Lenteng di halaman judulnya. Selama ini, buku itu terletak di rak di dekat pintu, tidak disentuh orang-orag. Sampulnya berdebu. Saya mengambilnya dari sudut rak itu.

Kamus ini sebelumnya berada di rak tersebut untuk dipajang. Di Forum Lenteng, orang-orang bekerja untuk membuat tulisan. Mungkin, kamis ini berguna untuk membantu mereka membuat tulisan. Tapi, saya tida pernah melihat ada anggota Forum Lenteng yang menggunakannya. Jadi, kesimpulan saya, kamus ini ada di sini, selain untuk dipajang, adalah untuk menjadi topik cerita saya.

Sekarang, sudah ada situs KBBI Daring. Koleksi kata-kata di dalam kamus daring itu terbit tahun 2016. Mungkin para penulis akan lebih memilih fasilitas itu daripada membaca kamus berbentuk buku. Kalaupun masih memilih buku kamus, sekarang juga sudah ada buku KBBI yang terbit lebih baru. Artinya, kamus di depan saya bisa dibilang sudah using. Akakah ia tetap digunakan oleh orang-orang di kantor ini? Saya pribadi lebih suka menggunakan internet untuk mencari kata-kata baku. Jadi, paling-paling, kamus ini akan kembali diletakkan di rak tersebut, untuk dipajang lagi, hingga sampulnya berdebu.

Tapi, setelah dilihat-lihat, kamus ini mengandung sejumlah halaman yang berisi informasi tentang kata-kata serapan asing; juga ada informasi soal lema-lema yang tidak ada di daftar kamus KBBI 2008. Di KBBI Daring, tentu, koleksi kata-katanya lebih lengkap, tapi tidak ada informasi apakah sebuah kata yang kita cari termasuk sebagai lema lama atau lema baru pada versi setelah tahun 2008. Kebetulan, saya sedang mengerjakan proyek buku selama dua minggu ke depan. Informasi soal kata-kata serapan asing dan lema-lema itu lumayan penting. Kalau begitu, saya angkut saja buku ini ke sebelah laptop saya nanti, untuk saya gunakan.


Lalu, di bagian yang ini, adalah versi setelah teks tersebut diubah beberapa katanya, sebagai bagian dari simulasi yang dilakukan di dalam kelas “Roman Picisan” (26 Maret 2016).

Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Keempat, yang menempel di atas akrilik di depan Walay sekarang adalah kitab yang diproduksi oleh Pusat Bahasa. Kitab tersebut berisi 1704 lembar kartas, berkulit cokelat. Tertera nama kantor saya di lembar mukanya. Selama ini, kitab itu berdiri di batu di dekat ventilasi, tidak dimakan kutu-kutu. Kulitnya berjamur. Saya mengambilnya dari bawah ventilasi itu.

Kitab ini sebelumnya berdiri di batu tersebut untuk dipuja. Di kantor saya, orang-orang hidup untuk mencipta wacana. Mungkin kitab ini bertujuan untuk memengaruhi mereka mencipta wacana. Tapi, saya tidak pernah melihat orang-orang mendekatinya. Jadi, kesimpulan saya, kitab ini hinggap di sini, selain untuk dipuja, adalah untuk menginspirasi topik cerita saya.

Sekarang, sudah ada situs KBBI Daring. Koleksi kata-kata di dalam kamus daring itu terbit tahun 2016. Mungkin para penulis akan lebih memilih fasilitas itu daripada mencerna kitab berukuran batako. Kalaupun masih memilih kitab kamus, sekarang juga sudah ada kitab KBBI yang berusia lebih baru. Artinya, kitab di depan saya, bisa dibilang, sudah tua. Akankah ia tetap dijauhi oleh kutu-kutu di rumah ini? Saya pribadi lebih suka menggunakan internet untuk mencari kata-kata baku. Jadi, paling-paling, kitab ini akan kembali berdiam di batu tersebut, untuk dipuja lagi, hingga kulitnya melepuh.

Tapi, setelah dilihat-lihat, kitab ini menyimpan sejumlah lembaran yang berisi peta tentang aksara-aksara kuno. Juga ada peta soal sandi-sandi yang tidak ada di daftar kamus KBBI 2008. Di KBBI Daring, tentu, koleksi kata-katanya lebih lengkap, tapi tidak ada informasi apakah sebuah kata yang kita cari termasuk sebagai lema lama atau lema baru pada versi setelah tahun 2008. Kebetulan, saya sedang mengerjakan proyek buku selama dua minggu ke depan. Peta soal aksara-aksara kuno dan sandi-sandi itu lumayan penting. Kalau begitu, saya baringkan saja kitab ini ke sebelah tas saya nanti, untuk saya sembah.

Dari Luar Ke Dalam Layar, lalu Ke Luar Layar

Artikel ini adalah esai yang saya buat sebagai pengantar kuratorial untuk karya seni performans berjudul Di Luar Ruang Suaka Hukuman (atau Out Of In The Penal Colony, 2017) karya Otty Widasari, Prashasti Wilujeng Putri, Hanif Alghifary, dan Ragil Dwi Putra — dimuat dalam katalog presentasi karya tersebut. Keempat seniman tergabung ke dalam kelompok studi, bernama 69 Performance Club, Jakarta. Karya ini dipresentasikan secara khusus di tiga lokasi di Eropa, yakni di S.M.A.K. (Ghent, Belgia), Tranzitdisplay (Praha, Ceko), dan Acacias (RU) (Jenewa, Swiss).

Poster “Out Of In The Penal Colony” untuk presentasi di Tranzitdisplay, Praha, Ceko.

SAYA PRIBADI MENYETUJUI pandangan-pandangan yang menganggap bahwa cerpen Franz Kafka yang ditulis pertama kali tahun 1914, In The Penal Colony, adalah alegori dari detik-detik keruntuhan sistem hukum lama yang serba fisik, ritualistik, dan gigantik. Di akhir cerita itu, kita seolah dihadapkan pada suatu keadaan baru yang belum (dan sangat mungkin akan sulit) diuraikan; Kafka agaknya menawarkan sebuah pertanyaan tentang bagaimana kita mengandaikan diri kita di tengah situasi yang serba tak terdefinisi dan tak tersentuh—tetapi secara nyata hadir sebagai suatu rutinitas keseharian baru—di saat kuasa-kuasa terpusat membelah diri menjadi pecahan-pecahan pengetahuan dan bahasa yang memungkinkan produksi-produksi difusional berupa kontrol alam bawah sadar.

Sebagaimana Deleuze menambahkan catatan untuk pandangan teoretik Foucault, bahwa Masyarakat Disiplin (Disciplinary Societies) telah bertransformasi menjadi Masyarakat Kontrol (Societies of Control), inilah saatnya kita harus mengakui pandangan Deleuze tentang bagaimana ritus-ritus berpembatas (‘sites of confinement’) telah menjadi “dunia tanpa dinding” (‘infinite world’), tetapi justru sedang melipatgandakan “energi pemenjaraan” (‘panoptic energy’) dalam bentuk tergaibnya; era analog digeser oleh era digital yang mengakumulasi sengkarut sirkulasi komunikasi hingga ke alur terumitnya. Aparatus teknologis pun kini melompat dalam jarak yang tak pernah terbayangkan oleh kita sebelumnya.

Namun, satu hal: konon, menurut Manovich (1995), kita belum juga beranjak dari dunia layar (the era of the screen).

Layar, kiranya, adalah kandidat yang paling mungkin menjadi “penjara abadi” (‘imperishable enclosure’)[1] di kehidupan manusia. Ketimbang berbicara tentang sistem hukum dan penghukuman lewat bahasa deskriptif yang naïve, upaya untuk mendisrupsi kemapanan sistem kontrol tanpa akhir itu barangkali akan membuahkan inspirasi-inspirasi yang lebih menyegarkan lewat refleksi estetik atas elemen-elemen yang membangun konsep “aparatus”—jejala yang dibangun, muncul dari, dan berada dalam sebuah hubungan kekuasaan dan jaringan/rezim pengetahuan.

Di Luar Ruang Suaka Hukuman (atau Out of in The Penal Colony, 2017) adalah proyek seni performans yang digagas oleh Forum Lenteng, yang menjadi bagian dari 69 Performance Club—sebuah platform yang mendorong studi kolaboratif berkelanjutan tentang performativitas, yang diinisiasi oleh organisasi tersebut sejak awal tahun 2016 dengan melibatkan sejumlah seniman di Indonesia. Karya performans yang diniatkan sebagai presentasi khusus ini mencoba mengambil inspirasi dari cerpen Kafka itu dalam rangka meluaskan kajian Forum Lenteng sendiri tentang situasi media dan seni pada masa sekarang.

Saya mengamini beberapa pemikir yang cenderung tidak berniat untuk mendefinisikan “aparatus” secara terang-terangan, lurus, dan tegas—sebagaimana yang dipercayai oleh Agamben bahwa “…terminology is the poetic moment of thought” (Agamben, 2006, “What Is an Apparatus?”). Alasannya tentu saja karena adanya beragam kompleksitas (baik yang terkandung di dalam maupun yang terhubung dari luar) istilah tersebut. Sejalan dengan itu, saya kira Di Luar Ruang Suaka Hukuman dikembangkan sebagai proyek seni performans yang bukan dalam rangka menanggapi secara ilustratif, apalagi eksplanatoris, cerpen In The Penal Colony. Akan tetapi, mengacu kepada beberapa poin dari cerita itu—yang oleh para performer dianggap paling signifikan membentuk impresi kita mengenai sebuah sistem/mekanisme pengaturan (‘a kind of regulatory mechanism or system’)—yang telah dipilih sebagai materi untuk diinterpretasi ke dalam bentuk seni performans, saya berpendapat bahwa karya ini lebih sebagai upaya untuk mendeklamasikan artikulasi-artikulasi puitik tentang perubahan-perubahan yang sedang berlangsung pada masa sekarang—yaitu, era modulasi dan serba-berlayar ini—di mana praktik multikorporasi lintas wilayah akibat globalisasi, digitalisasi, dan ekspansi jaringan dunia maya adalah keadaan faktual yang membangun situasi multi-kontrol-diri masyarakat dunia.

Deklamasi atas hal itu pada karya ini, sebagaimana dapat dilihat kemudian, dipertunjukkan melalui suatu dramaturgi teknologis yang mencoba merefleksikan posisi tubuh manusia (i.e. para performer) di dalam situasi riil-nya sekaligus keterhubungannya dengan realitas citraan (atau dunia representasional), yang mana citraan-citraan itu pada masa sekarang telah dapat ditransmisikan secara langsung lewat suatu sirkuit elektronis yang diatur sedemikian rupa sehingga membuka kemungkinan tentang komposisi bahasa artistik yang secara sadar melibatkan perangkat-perangkat media saat ini—bisa dibilang, perangkat-perangkat yang mereka gunakan merupakan aparatus kontemporer—sebagai bagian utama dari langgam bahasa ataupun gaya ungkapnya.

Para seniman yang menciptakan karya ini, yaitu Otty Widasari, Prashasti Wilujeng Putri, Ragil Dwi Putra, dan Hanif Alghifary—keempatnya adalah partisipan 69 Performance Club—dengan sengaja mengimprovisasi terjemahan mereka sendiri mengenai konsep aparatus, baik yang mengacu kepada gagasan-gagasan yang terkembang di era lama (analog; fisik) dan yang terbangun di era [media] baru (digital; tak dapat disentuh), serta hubungan timbal balik di antara keduanya.

The Man, Decipher, The Wound, dan The Script adalah empat kata kunci yang mengandung gagasan dan semangat untuk mendekonstruksi sistem regulatoris. Di satu sisi, keempat kata kunci ini adalah tapal-tapal batas yang menunjukkan bagaimana mekanisme regulatoris bekerja; jampi-jampi yang mengantarkan imajinasi tentang kekudusan hukum dan penghukuman, tentang aparatus yang—mengadopsi kalimat Agamben—melepaskan segala hal (termasuk kita, manusia) dari kewajaran-kewajaran profan dan menempatkannya ke lingkungan yang terpisah (terisolasi).

Di sisi yang lain, jika kita menyetujui pandangan Agamben bahwa hal-hal yang telah dipisahkan lewat suatu aktivitas ritual semacam itu (termasuk, menurut saya, adalah peristiwa penjatuhan vonis, ataupun penerapan kontrol dan disiplin oleh para penguasa terhadap pihak-pihak yang didominasi oleh mereka) dapat dipulihkan dan dikembalikan ke ruang wajarnya melalui suatu aksi penggunaan atau penciptaan kontra-aparatus—yakni, Profanation (‘hujatan atas yang suci’), dalam istilah Agamben—maka, deklamasi berulang-ulang dari keempat kata kunci tersebut yang dilakukan oleh para seniman dengan memanfaatkan distorsi-distorsi elektronis dalam performans ini—turut serta di dalamnya ialah [re]produksi langsung dari gambar dan suara yang dihasilkan melalui gerak konstan tubuh mereka sendiri, bahkan diperluas efeknya dengan teknologi internet—tidak lain adalah tindakan performatif konkret yang dilakukan secara intens dalam rangka mengganggu kemapanan sistem kontrol dari aparatus itu sendiri. Sebagaimana Kafka yang melalui cerpennya mencoba mengalegorisasikan sejauh apa suatu sistem hukum, penghukuman, dan pengaturan mampu bertahan, Di Luar Ruang Suaka Hukuman adalah artikulasi subjektif para performernya dalam rangka niat yang sama. Bahwa, imajinasi tentang keruntuhan sistem yang kini ada, dan kedatangan sebuah era dengan sistem yang baru, barangkali, perlu diandaikan lewat suatu teror yang puitik.

Namun sepertinya, pengandaian-pengandaian yang demikian, yakni imajinasi tentang penggeseran suatu mekanisme lama oleh mekanisme yang baru, selalu akan tetap menuntut keseimbangan. Dalam pandangan yang ekstrem, sebagaimana tergambarkan dalam cerpen Kafka, kiranya peruntuhan mesin ritual yang gigantik itu (masih) membutuhkan suatu martir yang secara sadar mengamini kesezamanan sang aparatus—dan hal ini mengindikasikan bahwa “kejatuhan” sebuah aparatus akan tetap terjadi dengan mengikuti sifat dan karakter elemen-elemen yang membangunnya.

Jikalau Kafka menganggap penghancuran yang fisik membutuhkan pengorbanan fisik pula dalam peristiwa yang sakral—The Officer yang dengan detail mengorasikan kemegahan sang mesin (aparatus), lantas menyerahkan tubuhnya sebagai subjek penghukuman terakhir untuk sang mesin sebelum menuju kehancurannya—para performer Di Luar Ruang Suaka Hukuman adalah subjek-subjek yang merayakan kelindan teknologi media masa kini. Mengikuti sifat dan karakter aparatus kontemporer, maka bukan lagi fisik, tapi mereka memilih untuk “memerangkapkan” citra tubuh mereka ke dalam layar—entitas yang menjadi “aparatus abadi” kita itu—dengan maksud untuk mendorong ke titik terjauh imajinasi mereka sendiri tentang bahasa media yang lebih eksperimental, jikalau bukan tentang dunia media (atau aparatus-aparatus) yang lebih baru.

Karena kita masih akan tetap berada di bawah “kungkungan gaib” dunia layar itu, yang berarti mekanisme regulasi masih akan tetap eksis hingga waktu yang tak dapat diduga ujungnya, peristiwa-peristiwa ritualistik kiranya bisa didapuk dan sekaligus diempang lewat permainan bahasa seni—dalam konteks karya ini, ialah seni performans. Atau setidaknya, dengan cara menguatkan kesadaran kita tentang bagaimana subjektifikasi (‘peng-identitas-an’—dalam pengertian saya) itu juga diproduksi dan ditentukan definisinya oleh aparatus kekuasaan.

Di Luar Ruang Suaka Hukuman adalah bagian dari upaya para seniman tersebut untuk mencari kemungkinan baru bagi cara pandang kita terhadap dunia yang “divonis” sebagai era layar ini. Bagaimana kita kemudian—subjek yang berusaha melepas belenggu aturan demi aturan yang ada—jika tak lagi berada di bawah “kuasa” layar? ***

 

Catatan Kaki:

[1] “Penjara Abadi” adalah istilah dari saya sendiri untuk mengabstraksikan keadaan faktual yang perdebatannya “diprovokasi” oleh Lev Manovich ketika ia menjelaskan “arkeologi layar komputer” (lihat Lev Manovich, 1995, An Archeology of a Computer Screen). Menurutnya, kultur layar sudah ada bahkan jauh sebelum kamera dan teknologi layar ditemukan, termasuk sejak era lukisan gua. Sekarang ini, “layar” barangkali adalah entitas kontemporer yang tak akan pernah bisa lepas dari kehidupan kita sehari-hari; hanya karena interaksi dengan layar, interaksi antarmanusia pun bisa tereduksi hingga ke situasi yang cukup mengkhawatirkan—kita seakan-akan terpenjara dan teralienasi dari kawajaran-kewajaran atau bahkan hakikat kemanusiaan. Layar secara tidak langsung “mengontrol” alam bawah sadar manusia. Tentunya, gagasan ini tidak serta merta membuat kita memilih kata ‘prison’ sebagai diksi dalam bahasa Inggris. Saya merasa kata ‘enclosure’ lebih tepat karena kata tersebut secara kultural membawa narasi-narasi historis yang berhubungan dengan bagaimana “teknologi itu kemudian berkembang” hingga ke titik tercanggihnya pada masa sekarang (dan mungkin terus ke masa depan).

Referensi:

Agamben, G. (2009). What Is an Apparatus?. Dalam G. Agamben, What Is an Apparatus? and Other Essays (D. Kishik, & S. Pedatella, Penerjemah., hal. 1-24). Stanford, California: Standford University Press.

Deleuze, G. (1992). “Postscript on the Societies of Control”. October , 59 (Winter), 3-7.

Hildebrand-Nilshon, M., Motzkau, J., Papadopoulos, D. (2001). Reintegrating sense into subjectification. Dalam J. R. Morss, N. Stephenson, H. van Rappard, (Editor), Theoretical issues in psychology. Boston: Kluwer Academic Publishers.

Kafka, F. (2003, October). In the Penal Colony (terj. Ian Johnston). Diperoleh tanggal 8 November 2017, dari situs web The Kafka Project: http://www.kafka.org/index.php?aid=167

Manovich, L. (1995). An Archeology of a Computer Screen. Diperoleh tanggal 8 November 2017, dari situs web Lev Manovich: http://manovich.net/content/04-projects/011-archeology-of-a-computer-screen/09_article_1995.pdf

Catatan Desember 04

catatan desember 04

Di Forum Lenteng, pukul 21:00 WIB, 4 Desember 2013. Andang Kelana (kacamata), Hafiz (baju putih) dan Mahardika Yudha.

We media! Dari balik layar melakukan gerakan kebudayaan. #asyek

Naga yang Berjalan di Atas Air

Salah satu hari yang paling saya tunggu ialah Hari Sabtu, tanggal 12 Mei 2012. Mengapa? Karena pada hari itu, sebuah film hasil kerja kolaborasi Forum Lenteng dan Komunitas Djuanda dalam program akumassa, berjudul Naga Yang Berjalan Di Atas Air akan diputar secara perdana ke khalayak penonton. #asyek

Pasti nantinya, di sana, saya bisa bertemu dengan para filmmaker muda, yaitu teman-teman dari Komunitas Djuanda, dan juga para sineas di lingkungan perfilman tanah air. Selain kabar yang mengatakan bahwa film ini berisi gagasan dan isu tentang multikulturalisme—yang berarti bahwa diskusinya pasti menarik—perbincangan dengan teman-teman yang aktif di ranah media (film dan video) serta lingkungan aktivisme sosial dan budaya (terutama tentang masyarakat, massa dan warga) merupakan satu momen yang tidak boleh saya lewatkan (mengingat bidang ini sudah mulai mendarah daging. #yoeeeh).

Nih, silakan disikat dulu trailer si Naga!

Sebuah cerita kecil dari perbatasan Kabupaten Tangerang dan Kabupaten Bogor, di mana hiduplah Kang Sui Liong, sang penjaga kuil, bersama istri dan anak-anaknya.

Zaman berganti. Kang Sui Liong menjadi saksi kejayaan kaum Cina Benteng yang hidup dari hilir di Tangerang ke hulu di Bogor, hingga proses asimilasi menghitamkan kulit mereka.

Di kala hari telah senja, Kang Sui Liong duduk termangu di persimpangan jalan, bertanya pada dirinya sendiri, akan di bawa ke mana tradisi warisan leluhur ini kelak.

2012 | Warna | PAL | 02.55 Detik
Otty Widasari (Forum Lenteng) berkolaborasi dengan Komunitas Djuanda

Dan yang paling menarik dari pemutaran perdana ini, terutama bagi mahasiswa kere seperti saya, ialah acaranya GRATIS!!!

Nah, bagi yang ingin belajar tentang film, khususnya film dokumenter yang baik, bisa langsung nimbrung ke pemutaran perdana ini! Mengapa saya berkata demikian? Mengingat yang memproduksi film ini adalah Forum Lenteng dan Komunitas Djuanda—Forum Lenteng sendiri sudah pernah membuat film dokumenter berjudul Dongeng Rangkas, hasil kerja kolaborasi dengan teman-teman Saidjah Forum, dan film ini mendapat penghargaan Film Dokumenter Panjang Terbaik dalam Festival Film Dokumenter 2011 (10 Desember 2011, di Yogyakarta). Silakan lihat di link ini kalau Anda tidak percaya!—jadi wajar, dong, kalau saya bilang film ini pasti bagus?! #asyek

Naga Yang Berjalan Di Atas Air adalah sebuah filem dokumenter panjang yang diproduksi oleh Forum Lenteng bekerjasama dengan Komunitas Djuanda, Tangerang Selatan, dalam program Monitoring – Upgrading, akumassa.

Filem ini adalah produksi dokumenter panjang Forum Lenteng ke-2 setelah Dongeng Rangkas yang diproduksi pada 2011, bekerjasama dengan Saidjah Forum, Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten.

Kolaborasi Penyutradaraan oleh
Otty Widasari (Forum Lenteng) & Komunitas Djuanda
 
Sabtu, 12 Mei 2012
Pukul 10.00-12.00 WIB
Di Studio 1 XXI Taman Ismail Marzuki
Jl. Cikini Raya, No. 73
Jakarta Pusat
GRATIS

Jadi, tunggu apa lagi? Segera rombak kembali jadwal kegiatan Anda, jadikan waktu pemutaran film ini sebagai jadwal kegiatan penting yang harus Anda lakukan! Siapkan uang (buat cemilan), tenaga, dan juga mental untuk menyaksikan sebuah karya yang penuh dengan pengetahuan tentang warga, media dan isu-isu sosial-budaya! #asyek

Sampai bertemu di sana, yak! #yaamaaannn!!!

Tulisan Pertama di Jurnal akumassa

Saya sudah mengikuti workshop selama seminggu di Forum Lenteng (tetapi workshop belum lagi selesai), dan saya sudah dianjurkan untuk menulis apa saja yang ingin saya tulis tentang daerah yang sedang saya riset. Akhrinya, saya memutuskan untuk menulis tentang daerah Kober. Dan tulisan itu dimuat di dalam jurnal akumassa.

Silakan lihat di http://akumassa.org/, tulisan saya berjudul “Jalan Kebo dan Ziarah Malam di Kuburan Syekh Al-Maghribi”.

Tulisan saya yang masuk Jurnal akumassa