Si Piano Kecil Biru

Tulisan ini adalah teks yang saya buat dalam rangka kegiatan kelas “Roman Picisan” tanggal 26 Maret 2019. Kelas “Roman Picisan” adalah kegiatan reguler di Forum Lenteng, yang difasilitasi oleh Otty Widasari.

Si Piano Kecil Biru datang kesekian kalinya ke rumah Saidi untuk menyapa memori Sang Penari. Ia sebenarnya sudah berpindah tangan dari Sang Burung Kecil—begitulah aku sering mendengar Bodas memangil ibunya—ke tangan Si Bibi Kecil, bibi dari seorang bocah yang dipuja oleh Sang Penari sebagai burung kecil pula, Bohdana. Tapi itu hanyalah perpindahan tangan yang sementara saja. Dan di masa perpindahannya itulah, Si Piano Kecil Biru lebih sering menggoda Sang Penari, membisikkan rayuan kepada perempuan yang pernah memiliki piano kecil merah—dulu. Sebab, si burung kecil Bohdana, konon, tak begitu peka akan kehadirannya.

“Bawalah aku, hei, Sang Penari, ke rumahmu!” seru Si Piano Kecil Biru itu. “Nanti akan kubawa kau ke masa kecilmu!”

Tampaknya, Sang Penari lumayan tergoda. Barangkali ia diam-diam telah mengumpulkan niat untuk membangun istana piano-piano, seperti The Small Instruments, istana milik seorang penenun bunyi yang aku kenal di Polandia.

Sementara itu, seminggu terakhir ini, aku tengah terbius bunyi-bunyi dari Pemenang, dan tadi pagi kudengar Si Piano Kecil Biru itu mendendangkannya pula. Aku pun tergoda. Aku rasa aku harus bergerak cepat agar Si Piano Kecil Biru lebih memilihku daripasa Sang Penari. Aku membutuhkannya. Sebab, aku juga ingin bisa terbang ke alam memori, seperti ke dunia Sang Burung Kecil, alamnya puisi-puisi.

Kamus

Tulisan berikut ini adalah teks yang saya buat dalam rangka kegiatan kelas “Roman Picisan” tanggal 26 Maret 2019. Kelas “Roman Picisan” adalah kegiatan reguler yang diselenggarakan di Forum Lenteng, difasilitasi oleh Otty Widasari.

Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Keempat, yang ada di atas meja di depan saya sekarang adalah buku yang diterbitkan oleh PT. Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2012. Buku tersebut memiliki 1704 halaman, bersampul cokelat. Ada cap Forum Lenteng di halaman judulnya. Selama ini, buku itu terletak di rak di dekat pintu, tidak disentuh orang-orag. Sampulnya berdebu. Saya mengambilnya dari sudut rak itu.

Kamus ini sebelumnya berada di rak tersebut untuk dipajang. Di Forum Lenteng, orang-orang bekerja untuk membuat tulisan. Mungkin, kamis ini berguna untuk membantu mereka membuat tulisan. Tapi, saya tida pernah melihat ada anggota Forum Lenteng yang menggunakannya. Jadi, kesimpulan saya, kamus ini ada di sini, selain untuk dipajang, adalah untuk menjadi topik cerita saya.

Sekarang, sudah ada situs KBBI Daring. Koleksi kata-kata di dalam kamus daring itu terbit tahun 2016. Mungkin para penulis akan lebih memilih fasilitas itu daripada membaca kamus berbentuk buku. Kalaupun masih memilih buku kamus, sekarang juga sudah ada buku KBBI yang terbit lebih baru. Artinya, kamus di depan saya bisa dibilang sudah using. Akakah ia tetap digunakan oleh orang-orang di kantor ini? Saya pribadi lebih suka menggunakan internet untuk mencari kata-kata baku. Jadi, paling-paling, kamus ini akan kembali diletakkan di rak tersebut, untuk dipajang lagi, hingga sampulnya berdebu.

Tapi, setelah dilihat-lihat, kamus ini mengandung sejumlah halaman yang berisi informasi tentang kata-kata serapan asing; juga ada informasi soal lema-lema yang tidak ada di daftar kamus KBBI 2008. Di KBBI Daring, tentu, koleksi kata-katanya lebih lengkap, tapi tidak ada informasi apakah sebuah kata yang kita cari termasuk sebagai lema lama atau lema baru pada versi setelah tahun 2008. Kebetulan, saya sedang mengerjakan proyek buku selama dua minggu ke depan. Informasi soal kata-kata serapan asing dan lema-lema itu lumayan penting. Kalau begitu, saya angkut saja buku ini ke sebelah laptop saya nanti, untuk saya gunakan.


Lalu, di bagian yang ini, adalah versi setelah teks tersebut diubah beberapa katanya, sebagai bagian dari simulasi yang dilakukan di dalam kelas “Roman Picisan” (26 Maret 2016).

Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Keempat, yang menempel di atas akrilik di depan Walay sekarang adalah kitab yang diproduksi oleh Pusat Bahasa. Kitab tersebut berisi 1704 lembar kartas, berkulit cokelat. Tertera nama kantor saya di lembar mukanya. Selama ini, kitab itu berdiri di batu di dekat ventilasi, tidak dimakan kutu-kutu. Kulitnya berjamur. Saya mengambilnya dari bawah ventilasi itu.

Kitab ini sebelumnya berdiri di batu tersebut untuk dipuja. Di kantor saya, orang-orang hidup untuk mencipta wacana. Mungkin kitab ini bertujuan untuk memengaruhi mereka mencipta wacana. Tapi, saya tidak pernah melihat orang-orang mendekatinya. Jadi, kesimpulan saya, kitab ini hinggap di sini, selain untuk dipuja, adalah untuk menginspirasi topik cerita saya.

Sekarang, sudah ada situs KBBI Daring. Koleksi kata-kata di dalam kamus daring itu terbit tahun 2016. Mungkin para penulis akan lebih memilih fasilitas itu daripada mencerna kitab berukuran batako. Kalaupun masih memilih kitab kamus, sekarang juga sudah ada kitab KBBI yang berusia lebih baru. Artinya, kitab di depan saya, bisa dibilang, sudah tua. Akankah ia tetap dijauhi oleh kutu-kutu di rumah ini? Saya pribadi lebih suka menggunakan internet untuk mencari kata-kata baku. Jadi, paling-paling, kitab ini akan kembali berdiam di batu tersebut, untuk dipuja lagi, hingga kulitnya melepuh.

Tapi, setelah dilihat-lihat, kitab ini menyimpan sejumlah lembaran yang berisi peta tentang aksara-aksara kuno. Juga ada peta soal sandi-sandi yang tidak ada di daftar kamus KBBI 2008. Di KBBI Daring, tentu, koleksi kata-katanya lebih lengkap, tapi tidak ada informasi apakah sebuah kata yang kita cari termasuk sebagai lema lama atau lema baru pada versi setelah tahun 2008. Kebetulan, saya sedang mengerjakan proyek buku selama dua minggu ke depan. Peta soal aksara-aksara kuno dan sandi-sandi itu lumayan penting. Kalau begitu, saya baringkan saja kitab ini ke sebelah tas saya nanti, untuk saya sembah.

Dari Luar Ke Dalam Layar, lalu Ke Luar Layar

Artikel ini adalah esai yang saya buat sebagai pengantar kuratorial untuk karya seni performans berjudul Di Luar Ruang Suaka Hukuman (atau Out Of In The Penal Colony, 2017) karya Otty Widasari, Prashasti Wilujeng Putri, Hanif Alghifary, dan Ragil Dwi Putra — dimuat dalam katalog presentasi karya tersebut. Keempat seniman tergabung ke dalam kelompok studi, bernama 69 Performance Club, Jakarta. Karya ini dipresentasikan secara khusus di tiga lokasi di Eropa, yakni di S.M.A.K. (Ghent, Belgia), Tranzitdisplay (Praha, Ceko), dan Acacias (RU) (Jenewa, Swiss).

Poster “Out Of In The Penal Colony” untuk presentasi di Tranzitdisplay, Praha, Ceko.

SAYA PRIBADI MENYETUJUI pandangan-pandangan yang menganggap bahwa cerpen Franz Kafka yang ditulis pertama kali tahun 1914, In The Penal Colony, adalah alegori dari detik-detik keruntuhan sistem hukum lama yang serba fisik, ritualistik, dan gigantik. Di akhir cerita itu, kita seolah dihadapkan pada suatu keadaan baru yang belum (dan sangat mungkin akan sulit) diuraikan; Kafka agaknya menawarkan sebuah pertanyaan tentang bagaimana kita mengandaikan diri kita di tengah situasi yang serba tak terdefinisi dan tak tersentuh—tetapi secara nyata hadir sebagai suatu rutinitas keseharian baru—di saat kuasa-kuasa terpusat membelah diri menjadi pecahan-pecahan pengetahuan dan bahasa yang memungkinkan produksi-produksi difusional berupa kontrol alam bawah sadar.

Sebagaimana Deleuze menambahkan catatan untuk pandangan teoretik Foucault, bahwa Masyarakat Disiplin (Disciplinary Societies) telah bertransformasi menjadi Masyarakat Kontrol (Societies of Control), inilah saatnya kita harus mengakui pandangan Deleuze tentang bagaimana ritus-ritus berpembatas (‘sites of confinement’) telah menjadi “dunia tanpa dinding” (‘infinite world’), tetapi justru sedang melipatgandakan “energi pemenjaraan” (‘panoptic energy’) dalam bentuk tergaibnya; era analog digeser oleh era digital yang mengakumulasi sengkarut sirkulasi komunikasi hingga ke alur terumitnya. Aparatus teknologis pun kini melompat dalam jarak yang tak pernah terbayangkan oleh kita sebelumnya.

Namun, satu hal: konon, menurut Manovich (1995), kita belum juga beranjak dari dunia layar (the era of the screen).

Layar, kiranya, adalah kandidat yang paling mungkin menjadi “penjara abadi” (‘imperishable enclosure’)[1] di kehidupan manusia. Ketimbang berbicara tentang sistem hukum dan penghukuman lewat bahasa deskriptif yang naïve, upaya untuk mendisrupsi kemapanan sistem kontrol tanpa akhir itu barangkali akan membuahkan inspirasi-inspirasi yang lebih menyegarkan lewat refleksi estetik atas elemen-elemen yang membangun konsep “aparatus”—jejala yang dibangun, muncul dari, dan berada dalam sebuah hubungan kekuasaan dan jaringan/rezim pengetahuan.

Di Luar Ruang Suaka Hukuman (atau Out of in The Penal Colony, 2017) adalah proyek seni performans yang digagas oleh Forum Lenteng, yang menjadi bagian dari 69 Performance Club—sebuah platform yang mendorong studi kolaboratif berkelanjutan tentang performativitas, yang diinisiasi oleh organisasi tersebut sejak awal tahun 2016 dengan melibatkan sejumlah seniman di Indonesia. Karya performans yang diniatkan sebagai presentasi khusus ini mencoba mengambil inspirasi dari cerpen Kafka itu dalam rangka meluaskan kajian Forum Lenteng sendiri tentang situasi media dan seni pada masa sekarang.

Saya mengamini beberapa pemikir yang cenderung tidak berniat untuk mendefinisikan “aparatus” secara terang-terangan, lurus, dan tegas—sebagaimana yang dipercayai oleh Agamben bahwa “…terminology is the poetic moment of thought” (Agamben, 2006, “What Is an Apparatus?”). Alasannya tentu saja karena adanya beragam kompleksitas (baik yang terkandung di dalam maupun yang terhubung dari luar) istilah tersebut. Sejalan dengan itu, saya kira Di Luar Ruang Suaka Hukuman dikembangkan sebagai proyek seni performans yang bukan dalam rangka menanggapi secara ilustratif, apalagi eksplanatoris, cerpen In The Penal Colony. Akan tetapi, mengacu kepada beberapa poin dari cerita itu—yang oleh para performer dianggap paling signifikan membentuk impresi kita mengenai sebuah sistem/mekanisme pengaturan (‘a kind of regulatory mechanism or system’)—yang telah dipilih sebagai materi untuk diinterpretasi ke dalam bentuk seni performans, saya berpendapat bahwa karya ini lebih sebagai upaya untuk mendeklamasikan artikulasi-artikulasi puitik tentang perubahan-perubahan yang sedang berlangsung pada masa sekarang—yaitu, era modulasi dan serba-berlayar ini—di mana praktik multikorporasi lintas wilayah akibat globalisasi, digitalisasi, dan ekspansi jaringan dunia maya adalah keadaan faktual yang membangun situasi multi-kontrol-diri masyarakat dunia.

Deklamasi atas hal itu pada karya ini, sebagaimana dapat dilihat kemudian, dipertunjukkan melalui suatu dramaturgi teknologis yang mencoba merefleksikan posisi tubuh manusia (i.e. para performer) di dalam situasi riil-nya sekaligus keterhubungannya dengan realitas citraan (atau dunia representasional), yang mana citraan-citraan itu pada masa sekarang telah dapat ditransmisikan secara langsung lewat suatu sirkuit elektronis yang diatur sedemikian rupa sehingga membuka kemungkinan tentang komposisi bahasa artistik yang secara sadar melibatkan perangkat-perangkat media saat ini—bisa dibilang, perangkat-perangkat yang mereka gunakan merupakan aparatus kontemporer—sebagai bagian utama dari langgam bahasa ataupun gaya ungkapnya.

Para seniman yang menciptakan karya ini, yaitu Otty Widasari, Prashasti Wilujeng Putri, Ragil Dwi Putra, dan Hanif Alghifary—keempatnya adalah partisipan 69 Performance Club—dengan sengaja mengimprovisasi terjemahan mereka sendiri mengenai konsep aparatus, baik yang mengacu kepada gagasan-gagasan yang terkembang di era lama (analog; fisik) dan yang terbangun di era [media] baru (digital; tak dapat disentuh), serta hubungan timbal balik di antara keduanya.

The Man, Decipher, The Wound, dan The Script adalah empat kata kunci yang mengandung gagasan dan semangat untuk mendekonstruksi sistem regulatoris. Di satu sisi, keempat kata kunci ini adalah tapal-tapal batas yang menunjukkan bagaimana mekanisme regulatoris bekerja; jampi-jampi yang mengantarkan imajinasi tentang kekudusan hukum dan penghukuman, tentang aparatus yang—mengadopsi kalimat Agamben—melepaskan segala hal (termasuk kita, manusia) dari kewajaran-kewajaran profan dan menempatkannya ke lingkungan yang terpisah (terisolasi).

Di sisi yang lain, jika kita menyetujui pandangan Agamben bahwa hal-hal yang telah dipisahkan lewat suatu aktivitas ritual semacam itu (termasuk, menurut saya, adalah peristiwa penjatuhan vonis, ataupun penerapan kontrol dan disiplin oleh para penguasa terhadap pihak-pihak yang didominasi oleh mereka) dapat dipulihkan dan dikembalikan ke ruang wajarnya melalui suatu aksi penggunaan atau penciptaan kontra-aparatus—yakni, Profanation (‘hujatan atas yang suci’), dalam istilah Agamben—maka, deklamasi berulang-ulang dari keempat kata kunci tersebut yang dilakukan oleh para seniman dengan memanfaatkan distorsi-distorsi elektronis dalam performans ini—turut serta di dalamnya ialah [re]produksi langsung dari gambar dan suara yang dihasilkan melalui gerak konstan tubuh mereka sendiri, bahkan diperluas efeknya dengan teknologi internet—tidak lain adalah tindakan performatif konkret yang dilakukan secara intens dalam rangka mengganggu kemapanan sistem kontrol dari aparatus itu sendiri. Sebagaimana Kafka yang melalui cerpennya mencoba mengalegorisasikan sejauh apa suatu sistem hukum, penghukuman, dan pengaturan mampu bertahan, Di Luar Ruang Suaka Hukuman adalah artikulasi subjektif para performernya dalam rangka niat yang sama. Bahwa, imajinasi tentang keruntuhan sistem yang kini ada, dan kedatangan sebuah era dengan sistem yang baru, barangkali, perlu diandaikan lewat suatu teror yang puitik.

Namun sepertinya, pengandaian-pengandaian yang demikian, yakni imajinasi tentang penggeseran suatu mekanisme lama oleh mekanisme yang baru, selalu akan tetap menuntut keseimbangan. Dalam pandangan yang ekstrem, sebagaimana tergambarkan dalam cerpen Kafka, kiranya peruntuhan mesin ritual yang gigantik itu (masih) membutuhkan suatu martir yang secara sadar mengamini kesezamanan sang aparatus—dan hal ini mengindikasikan bahwa “kejatuhan” sebuah aparatus akan tetap terjadi dengan mengikuti sifat dan karakter elemen-elemen yang membangunnya.

Jikalau Kafka menganggap penghancuran yang fisik membutuhkan pengorbanan fisik pula dalam peristiwa yang sakral—The Officer yang dengan detail mengorasikan kemegahan sang mesin (aparatus), lantas menyerahkan tubuhnya sebagai subjek penghukuman terakhir untuk sang mesin sebelum menuju kehancurannya—para performer Di Luar Ruang Suaka Hukuman adalah subjek-subjek yang merayakan kelindan teknologi media masa kini. Mengikuti sifat dan karakter aparatus kontemporer, maka bukan lagi fisik, tapi mereka memilih untuk “memerangkapkan” citra tubuh mereka ke dalam layar—entitas yang menjadi “aparatus abadi” kita itu—dengan maksud untuk mendorong ke titik terjauh imajinasi mereka sendiri tentang bahasa media yang lebih eksperimental, jikalau bukan tentang dunia media (atau aparatus-aparatus) yang lebih baru.

Karena kita masih akan tetap berada di bawah “kungkungan gaib” dunia layar itu, yang berarti mekanisme regulasi masih akan tetap eksis hingga waktu yang tak dapat diduga ujungnya, peristiwa-peristiwa ritualistik kiranya bisa didapuk dan sekaligus diempang lewat permainan bahasa seni—dalam konteks karya ini, ialah seni performans. Atau setidaknya, dengan cara menguatkan kesadaran kita tentang bagaimana subjektifikasi (‘peng-identitas-an’—dalam pengertian saya) itu juga diproduksi dan ditentukan definisinya oleh aparatus kekuasaan.

Di Luar Ruang Suaka Hukuman adalah bagian dari upaya para seniman tersebut untuk mencari kemungkinan baru bagi cara pandang kita terhadap dunia yang “divonis” sebagai era layar ini. Bagaimana kita kemudian—subjek yang berusaha melepas belenggu aturan demi aturan yang ada—jika tak lagi berada di bawah “kuasa” layar? ***

Catatan Kaki:

[1] “Penjara Abadi” adalah istilah dari saya sendiri untuk mengabstraksikan keadaan faktual yang perdebatannya “diprovokasi” oleh Lev Manovich ketika ia menjelaskan “arkeologi layar komputer” (lihat Lev Manovich, 1995, An Archeology of a Computer Screen). Menurutnya, kultur layar sudah ada bahkan jauh sebelum kamera dan teknologi layar ditemukan, termasuk sejak era lukisan gua. Sekarang ini, “layar” barangkali adalah entitas kontemporer yang tak akan pernah bisa lepas dari kehidupan kita sehari-hari; hanya karena interaksi dengan layar, interaksi antarmanusia pun bisa tereduksi hingga ke situasi yang cukup mengkhawatirkan—kita seakan-akan terpenjara dan teralienasi dari kawajaran-kewajaran atau bahkan hakikat kemanusiaan. Layar secara tidak langsung “mengontrol” alam bawah sadar manusia. Tentunya, gagasan ini tidak serta merta membuat kita memilih kata ‘prison’ sebagai diksi dalam bahasa Inggris. Saya merasa kata ‘enclosure’ lebih tepat karena kata tersebut secara kultural membawa narasi-narasi historis yang berhubungan dengan bagaimana “teknologi itu kemudian berkembang” hingga ke titik tercanggihnya pada masa sekarang (dan mungkin terus ke masa depan).

Referensi:

Agamben, G. (2009). What Is an Apparatus?. Dalam G. Agamben, What Is an Apparatus? and Other Essays (D. Kishik, & S. Pedatella, Penerjemah., hal. 1-24). Stanford, California: Standford University Press.

Deleuze, G. (1992). “Postscript on the Societies of Control”. October , 59 (Winter), 3-7.

Hildebrand-Nilshon, M., Motzkau, J., Papadopoulos, D. (2001). Reintegrating sense into subjectification. Dalam J. R. Morss, N. Stephenson, H. van Rappard, (Editor), Theoretical issues in psychology. Boston: Kluwer Academic Publishers.

Kafka, F. (2003, October). In the Penal Colony (terj. Ian Johnston). Diperoleh tanggal 8 November 2017, dari situs web The Kafka Project: http://www.kafka.org/index.php?aid=167

Manovich, L. (1995). An Archeology of a Computer Screen. Diperoleh tanggal 8 November 2017, dari situs web Lev Manovich: http://manovich.net/content/04-projects/011-archeology-of-a-computer-screen/09_article_1995.pdf

Pemberdayaan: Suatu Pendalaman tentang Seni sebagai Aktivisme

img_20160720_225142

Image © Manshur Zikri, 2016

Dalam rangka mengkaji secara terus-menerus esensi aktivisme pemberdayaan, usaha untuk turut mendistribusikan beberapa karya tulis menyangkut topik “pemberdayaan” lewat blog ini, pada dasarnya, menjadi bagian langsung dari praktik pemberdayaan itu sendiri. Pikiran dan pengalaman yang tertuang dalam karya-karya tulis ini hanyalah sedemikian kecil bagian dari keseluruhan cakrawala gagasan mengenai pemberdayaan yang bagian-bagian lainnya dapat dikatakan belum tereksplorasi secara mendalam oleh para pegiat akar rumput (termasuk penulis sendiri).

Esai-esai berikut ditulis berdasarkan pengalaman (empirik) penulis dalam beberapa proyek/program yang diorganisir oleh Forum Lenteng (organisasi nirlaba berbasis di Jakarta, tempat penulis beraktivitas). Satu tulisan, berjudul “Sadar Instagram”, merupakan esai yang dibuat di waktu senggang sekitar dua tahun lalu, menanggapi keseruan beberapa kawan yang mencoba berkreasi dengan menggunakan media sosial. Sementara itu, sebuah resensi berjudul “Tantangan Pemberontakan Baru Atas Media [Filem]”, sebenarnya merupakan sebuah esai kuratorial untuk program penayangan filem The Uprising (2013) karya Peter Snowdon di festival filem ARKIPEL 2014. Filem tersebut merespon fenomena media sosial (YouTube). Oleh penulis, gagasan dalam kuratorial ini cukup relevan sebagai salah satu contoh praktik alternatif dari pemberdayaan yang mendasarkan literasi media sebagai kerangka pikirnya.

Filem berjudul Gerimis Sepanjang Tahun (2015) yang diproduksi oleh Forum Lenteng, bekerja sama dengan Komunitas Ciranggon, adalah salah satu karya komunitas lokal yang juga merepresentasikan esensi pemberdayaan media. Berpartisipasi dalam proyek lokakarya AKUMASSA Jatiwangi yang diselenggarakan oleh Forum Lenteng (atas undangan sekaligus dukungan Jatiwangi Art Factory), warga lokal di Dusun Wates (Desa Jatisura, Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat) lantas mendirikan Komunitas Ciranggon sebagai langkah konkret pengorganisiran suatu gerakan pemberdayaan lokal. Filem ini adalah suatu cara untuk bersuara dengan mendayakan puisi visual: lanskap sebuah lokasi yang dinarasikan melalui sudut pandang warga. Rekaman tentang rivalitas antara ‘pembangunan modern’ dan ‘rutinitas tradisional’ ini dibingkai baik sebagai kritik sosial maupun sebagai pintu untuk mengimajinasikan spekulasi-spekulasi taktikal dalam rangka mengantisipasi gegar budaya di masa mendatang yang dapat diakibatkan oleh perubahan-perubahan yang bergerak pelan tapi pasti itu.

Penulis terlibat secara langsung dalam produksi filem Gerimis Sepanjang Tahun, baik sebagai peneliti, fasilitator lokakarya, maupun sebagai salah satu kolaborator yang turut merekam peristiwa dan menyunting gambar. Pemuatan link YouTube filem tersebut di blog ini adalah bagian dari upaya untuk mendukung agenda Forum Lenteng dalam mendistribusikan karya-karya audiovisual secara terbuka kepada khalayak luas, semata demi kepentingan pendidikan.

Suatu gerakan, suatu pemberdayaan, dan cita-cita aktivisme, tak akan pernah tercapai secara maksimal tanpa totalitas dalam hal pengorganisirannya. Ini berkaitan dengan inisiatif untuk mengelola berbagai materi—termasuk pengelolaan arsip. Lewat blog ini, saya mencoba menerapkan gagasan itu: memilah kembali, lantas mengolahnya ke dalam editorial “pemberdayaan”, dengan harapan arsip ini dapat terus membuka berbagai peluang pengelolaan yang lebih baik di masa depan.

Selamat membaca!

Daftar Isi

Esai (Tematik)
Masyarakat Berdaya Untuk Pemberdayaan Pemerintah
Pemberdayaan. Apakah itu?
Sadar Instagram
Disrupsi Terhadap Konstruksi Arsip: Tatkala Kamera Mencerminkan Gelagatnya

AKUMASSA
Wates Bermedia Membangun Desa

Halaman Papua
Keaksaraan Media Pangkal Bagi Perbaikan Sistem Pelayanan Kesehatan

Resensi
Tantangan Pemberontakan Baru Atas Media [Filem]

Image
Gerimis Sepanjang Tahun

Gerimis Sepanjang Tahun


Gerimis Sepanjang Tahun (2015 | 51mins 5secs)
AKUMASSA Jatiwangi (Forum Lenteng & Komunitas Ciranggon)

Tentang sebuah dusun di Jatiwangi, Jawa Barat, yang kehidupan masyarakatnya berputar seperti mesin untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari secara tradisional, namun berdampingan dan harus berhadapan dengan pembangunan wilayah secara modern. Narasi lokal yang disajikan melalui perspektif warga dalam filem Gerimis Sepanjang Tahun ini memberikan gambaran bagaimana geliat pabrik genteng tradisional serta pola kerja kehidupan agraris bersanding dengan pembangunan jalan tol yang akan mengubah banyak pola kehidupan sosial, ekonomi, serta budaya masyarakat di masa mendatang. Filem ini diproduksi pada awal tahun 2015 secara partisipatoris oleh warga Dusun Wates sendiri, yang tergabung dalam Komunitas Ciranggon, yang juga merupakan komunitas dampingan Forum Lenteng dalam Program akumassa.

About a hamlet in Jatiwangi, West Java, which its community life revolves such as an engine to meet the daily needs traditionally, yet adjacent to and have to deal with the modern development of the region. Local narratives is presented through the residents perspective in it provides an overview of how the twisted of traditional tile factory and agrarian life work patterns coupled with the construction of the toll road that will change a lot of patterns of social, economic, and cultural communities in the future. This film was produced in early 2015 by participatory of Wates citizens, which is incorporated in the Community of Ciranggon, which is also assisted by Forum Lenteng in akumassa Program.


Realization:
Aceng Abidin, Abdul Latif, Ayu Anindiya, Didik Junaedi, Didin Hoerudin, Herlina Octaviana, Iim Rohiman, Iing Solihin, Imas Masitoh, Maman Sudirman, Mamiek Widya, Mia Amelia, Miningsih, Muhammad Nur Aziz, Muhammad Khusaeri, Muhammad Nasuhi, Muhammad Wildan, Nina Dewi Rosliana, Rangga Nurzaman, Setia Nour, Yaya Nuryadi.

Facilitators:
Bunga Siagian, Manshur Zikri, Otty Widasari

Production:
Forum Lenteng & Komunitas Ciranggon

Sadar Instagram

BEBERAPA HARI INI, ada yang menarik sehubungan kisah Gembel-gembel Lenteng di Forum Lenteng. Gembel Lenteng—sebutan yang saya harap akan jadi populer—kalau saya tidak salah, pertama kali dicetuskan oleh Otty Widasari di instagram dengan hashtag, #gembellenteng.

Beberapa foto instagram milik Otty

Beberapa foto instagram milik Otty. (Sumber: akun instagram Otty).

Belakangan, Gembel-gembel Lenteng kerap menjadi objek yang direpresentasikan melalui media sosial, terutama Instagram yang cukup menarik perhatian Otty dan Ugeng. Bagi mereka, dan pastinya juga bagi orang lain yang juga menyenangi media sosial tersebut, Instagram adalah ruang atau galeri untuk mendistribusikan karya secara mandiri. Kegiatan ini seolah menjadi proyek berkarya mereka sehari-hari, baik untuk membicarakan unsur-unsur artistik atau estetika sebuah karya (dari segi ilmu pengetahuan mengenai seni visual) maupun untuk memperdebatkan media Instagram dan teknologi mobile phone itu sendiri sebagai medium berkarya (dari segi ilmu pengetahuan mengenai seni media [baru]).

Beberapa karya instagram milik Ugeng.

Beberapa karya instagram milik Ugeng. (Sumber: akun instagram Ugeng).

Yang menjadi bahan pelajaran dari kegiatan ‘iseng’-cum-serius mereka ini adalah kesadaran mereka dalam mendayagunakan media sosial, bukan semata-mata untuk menyalurkan ekspresi dan membentuk identitas diri, tetapi lebih kepada kampanye literasi media. Instagram, bagi mereka, justru menjadi media pendisiplin diri untuk mengasah kemampuan mata dan tangan: kemampuan mata dalam menangkap (sekaligus mengurasi) fragmen-fragmen realitas, dan kemampuan tangan (craftsmanship) dalam mengemas ‘realitas baru’ dari fragmen-fragmen itu.

Saya mengetahui niat mereka karena, memang, dalam beberapa diskusi langsung dengan Otty dan Ugeng, mereka mengemukakan ide-ide mereka (meskipun belum tentu seluruh idenya, tetapi sebagian dari keseluruhan ide itu dapat saya pahami).

Sumber: akun instagram Otty

Sumber: akun instagram Otty.

Otty, misalnya, dalam beberapa kegiatan atau proyek yang saya ikuti—Otty biasanya menjadi koordinator dan mentor dari kegiatan itu—sering mengatakan bahwa media sosial dan teknologi mobile phone memiliki peluang untuk dipergunakan oleh warga dalam memproduksi dan mendistribusikan informasi/pengetahuan. Melalui dua medium itu, kita bisa membuat esai atau gagasan yang mengandung nilai-nilai pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat.

Ide Otty menekankan akses. Saya setuju dengan pendapatnya bahwa mobile phone telah menjadi benda (teknologi) yang tidak lepas dari kehidupan kebanyakan orang. Mulai dari anak-anak usia sekolah dasar hingga orang tua, terutama di kota-kota besar, keberadaan mobile phone sudah tidak asing bagi kita semua. Ditambah lagi kecanggihan akses dunia maya (internet) dan kelengkapan teknologi audiovisual (kamera/video) yang dimiliki smartphone, menjadikannya semakin visioner, karena telah mengawinkan teknologi produksi dan distribusi dalam satu paket (lebih canggih dari kamera video biasa). Akses menjadi semakin besar.

Selain itu, Otty juga menjadikan Instagram sebagai medium diskusi mengenai narasi sehari-hari dan sejarah. Dapat dilihat bahwa karya-karya yang diterbitkan Otty melalui akun Instagram miliknya, khususnya beberapa hari ini, umumnya memuat karya lukis atau gambar yang pernah ia buat di catatan harian. Gambar-gambar itu berupa potret orang atau peristiwa-peristiwa yang ia pernah alami. Tentu saja, narasi itu sesungguhnya sudah menjadi sejarah. Saya percaya diri mengatakannya sebagai sejarah karena ada ‘medium dokumentasi’ yang mengabadikan ‘kenangan’-nya, yaitu buku catatan harian Otty, dan nilai ke-sejarah-an itu diwacanakan kembali oleh Otty melalui pendayagunaan ‘medium baru’. Melalui Instagram, narasi itu disebarluaskan ke orang-orang terdekatnya, dan seketika menjadi ruang diskusi mengenai memori-memori masa lalu. Atau, Otty juga sering menggambar di tempat—sering juga mengambil foto dari objek langsung, bukan karya gambar atau lukisan—lalu mem-post-nya ke Instagram saat itu juga. Orang yang memiliki kedekatan dengan sesuatu yang digambar atau difoto oleh Otty, ketika melihat karya Otty di Instagram, akan memiliki kesempatan untuk melakukan refleksi terhadap pengalaman-pengalamannya.

Instagram, bagi Otty, bisa jadi, meneruskan dua fungsi: (1) fungsi kuratorial terhadap arsip, dan (2) fungsi aktual dalam menanggapi peristiwa.

Karya instagram Otty tentang Bodas

Karya instagram Otty tentang Bodas

Sesungguhnya, apa yang dilakukan oleh Otty adalah hal yang sederhana, tak ada bedanya dengan orang lain yang juga menggunakan Instagram. Akan tetapi, poin dari cerita saya ini adalah tentang kesadaran dari tindakan-tindakan yang dilakukan dalam menyikapi kehadiran Instagram (dan media sosial lainnya) itu. Bagi saya, apa yang dilakukan oleh Otty adalah sesuatu yang bernilai karena idenya tentang kesadaran terhadap media. Tanpa pemberitahuan melalui diskusi dengan saya pun, dengan mudah saya (dan mungkin juga Anda) melihat kecenderungan itu pada Instagram Otty. Sebab, dari hari ke hari, Instagram Otty memiliki pola yang dapat dibaca.

Contohnya, karya-karyanya mengenai Bodas, anaknya. Foto-foto atau gambar-gambar tentang Bodas, bagi saya, adalah sebuah catatan (data) perkembangan yang didokumentasikan oleh Otty terkait dengan pertumbuh-kembangan daya kemampuan sosial Bodas dengan lingkungannya. Mulai dari kegiatan sehari-hari Bodas di Forum Lenteng, pergi sekolah naik sepeda, kecerdikan Bodas yang menggonta-ganti jadwal kegiatan Forum Lenteng diam-diam untuk menyiasati Otty, hingga ke percakapan-percakapan Bodas dengan ayah dan ibunya. Dokumentasi ini, menurut saya, dapat berguna bagi siapa saja yang menggeluti bidang tentang perkembangan anak.

Psycho Sequential (UTM, 2013). Diakses dari akun instagram Ugeng.

Psycho Sequential (UTM, 2013). (Sumber: akun instagram Ugeng).

Sementara itu, Ugeng mengemukakan ide yang tak kalah menarik. Berdasarkan pemahaman saya ketika berdiskusi dengannya mengenai keasikannya dengan Instagram, Ugeng sedang mempersoalkan gagasan tentang viralitas medium: sejauh mana Instagram itu mampu menyita perhatian publik maya dan publik nyata. Metode yang digunakan Ugeng untuk meneliti itu sederhana saja: dia bermain-main dengan bentuk objek yang dia post ke Instagram. Sembari itu, Ugeng seringkali mewacanakan pengetahuan tentang sejarah seni media, seni visual, senirupa, film dan video, dalam karya-karya Instagram-nya.

Kita bisa lihat contoh pada seri Psycho Sequential yang di-post oleh Ugeng, atau gambar-gambar potret Gembel-gembel Lenteng dalam b/w series. Tak jarang, Ugeng juga mengetengahkan persoalan cahaya dalam foto-foto Instagram-nya. Rasionalitas empiris Ugeng terhadap alat smartphone (dengan teknologi kameranya) menunjukkan kepada kita tentang pertimbangan-pertimbangan mengenai “perspektif” dan “posisi” kamera. Bahkan, bayangan yang terpantul pada gambar yang difoto juga menjadi pembahasannya. Kesadaran medium Ugeng justru terlihat dari sudut-sudut pengambilan gambar tersebut. Misalnya saja, dengan menyadari adanya bayangan itulah kita pun akan tersadar bahwa semua ini tentang medium, bukan gagah-gagahan atau keren-kerenan gambar. Ugeng meng-Instagram-kan itu semua secara sadar, bukan kebetulan.

Sumber

Sumber: akun instagram Ugeng.

Selain itu, seperti yang saya utaraka di awal, Instagram menjadi media pendisiplin diri. Dalam menyambut kehadiran Instagram, produktivitas Otty dan Ugeng dalam menghasilkan karya lukis atau gambar menjadi meningkat. Ide tentang ‘menggambar setiap hari’ pun kembali digalakkan. Kesadaran medium semakin menguat, dan menjadi pembahasan yang terus mengalami ‘konflik’ pemikiran, baik dari segi artistik, estetika, maupun sosial. Dan yang paling menarik dari apa yang dilakukan oleh Otty dan Ugeng itu, Gembel-gembel Lenteng juga ikut belajar mengulik Instagram sebagai medium berkarya. Tak terkecuali saya, yang mencoba menyumbangkan pandangan mengenai kegiatan menarik itu—yang baru-baru ini menjadi musim di Lenteng Agung—melalui tulisan.

Gajah di Pelupuk Mata Pembuat Film dan Video di Indonesia

Ada semacam kesulitan bagi kita jika hendak membicarakan persinggungan antara film dan video dalam konteks Indonesia. Hal ini disebabkan oleh adanya semacam kegagapan dari kalangan pelaku film dan video sendiri pada awal kehadiran kamera video yang datang secara instan di tengah masyarakat. Kegagapan ini membuat mereka meraba-raba dan pada akhirnya menciptakan suatu kekosongan, bahkan kekeliruan dalam menafsirkan perbedaan utama dari kedua medium tersebut. Oleh sebab itu untuk membaca persinggungan antara film dan video di Indonesia lebih mungkin dilihat dari aspek sosial daripada aspek artistik maupun estetiknya.

Film dan Video Beda

Jika kita merujuk pada definisinya, film dan video adalah dua hal berbeda. Film dilihat sebagai kelanjutan dari tradisi seni pendahulunya yang lahir dari perkembangan teknologi (film disebut sebagai “seni ketujuh” dalam tradisi kebudayaan Prancis). Sebagai strategi ekspresi, film tetap mengikuti tradisi baku di bidang seni pertunjukan konvensional (dalam hal ini tradisi teater). Kata “sinema” sendiri bahkan merujuk pada tradisi panggung: sebuah “ruang gelap” di mana terjadi aktivitas menonton suatu bentuk pementasan, pertunjukan (Hafiz, Forum Lenteng, 2011). Sementara André Bazin, kritikus film dari Prancis, berpendapat bahwa konsepsi tentang sinema, pada dasarnya, telah muncul sebelum adanya teknologi film itu sendiri. Ide bawaan yang terdapat pada “film” dan “sinema” muncul dari hasrat untuk mereproduksi realitas sebagaimana yang dirasakan oleh manusia. Dengan demikian, film (teknologi canggih itu) berasal dari dorongan mendasar untuk menghadirkan kembali “yang nyata” dari realitas sosial.

Dari pengertian di atas maka dapat dipahami bahwa film dan sinema berdiri sendiri karena hasrat tradisi berkesenian untuk menghadiran kembali apa “yang nyata” sedetail mungkin. Alih-alih mengatakan bahwa film dan sinema muncul karena teknologi, maka lebih tepat untuk menyimpulkan bahwa film dan sinema adalah sebuah pencapaian puncak dari tradisi seni dalam kebudayaan dunia yang menggabungkan pelbagai medium kesenian yang hadir melalui temuan teknologi (Hafiz, 2011).

Sementara jika kita mendefinisikan video maka yang akan kita temukan adalah sebuah bentuk teknologi yang mampu memproses, menangkap, merekam, menyimpan, mentransimisi, dan merekonstruksi rentetaan gambar diam secara elektronis yang kemudian menghasilkan serangkaian gambar bergerak (Wikipedia). Dari sekian banyak pengertian tentang apa itu “seni video”, pernyataan dari Veronika Kusumaryati, kritikus film Kelompok Kajian Film IKJ, mungkin dapat membantu. Ia menjelaskan bahwa “medium video menyangkut perangkat berbasis teknologi elektronik dan berisi citraan yang merupakan reaksi terhadap teknologi itu sendiri. Sedangkan Mahardika Yudha, peneliti dari Forum Lenteng, menjelaskan bahwa video lahir dari rahim televisi (media massa). Televisi pulalah yang kemudian menjadi landasan bagi persebaran, perkembangan, dan penggunaan medium video. Di sini pendapat Mahardika memiliki kesamaan dengan pendapat Veronika, bahwa seni video lahir sebagai bentuk tanggapan atas teknologi itu sendiri (Hafiz, 2011).

Berpijak pada pengertian di atas, kita dapat melangkah lebih jauh untuk melihat persinggungan antara film dan video. Sejatinya, persinggungan ini dapat diutarakan dengan kalimat sederhana: kedua medium tersebut sama-sama menangkap objek dan menampilkannya pada permukaan layar. Namun pemahaman ini menjadi sesuatu yang dilupakan. Tidak adanya kesadaran dalam memahami esensi film dan video menyebabkan para praktisi (khususnya di Indonesia sendiri) terjebak dalam euforia kecanggihan teknologi semata sehingga yang dilihat oleh mereka hanyalah aspek praktis dalam aktivitas produksi dan distribusi semata. Bahkan sejak periode 80-an hingga sekarang, persinggungan kedua medium tersebut di Indonesia tidak dilihat sebagai pertemuan yang berpotensi menciptakan bahasa visual dan elemen artistik yang khas dan terus berkembang. Di Indonesia keduanya hanya ditempatkan sebagai sarana komunikasi (bahkan lebih sempit lagi: hiburan) yang sebisa mungkin diterima oleh masyarakat.

Kilas Balik Video sebagai Alat Produksi Film

Apa yang terpikirkan ketika kita berbicara tentang film dan video? Tidak lain adalah hal yang selama ini menjadi referensi visual sebagian besar masyarakat Indonesia, yaitu sinetron (sinema elektronik. Di Indonesia sinetron cukup memperlihatkan singgungan antara kedua medium tersebut, yaitu “sinema” (yang merujuk pada “film”) dan “elektronik” (yang merujuk pada video sebagai piranti elektronis).

Sinetron bisa menjadi pijakan pertama dalam membicarakan persinggungan ini karena ia merupakan sebuah produk budaya yang mengamini perkembangan media dan teknologi, sekaligus sebagai cara untuk menyiasati permasalahan ekonomi yang melanda pada masanya. Ketika produksi film di tahun 80-an mengalami kemerosotan karena tingginya biaya, para pembuat film mengalami kesulitan untuk menarik massa agar datang ke bioskop. Maka muncul sebuah strategi alternatif: film yang justru mendatangi massa-nya melalui media televisi. Fritz G. Schadt, salah satu penggiat perfilman Indonesia pada dekade 1970-1980-an pernah mengatakan bahwa televisi adalah medium yang khas rumah tangga; “film” tidak lagi hadir di bioskop melainkan di dalam rumah kita sendiri. Kehadiran televisi membuat para pelaku film tidak lagi memproduksi karya dengan peralatan yang mahal dan dengan proses yang rumit. Mereka memanfaatkan piranti video (dan televisi) yang lebih murah dan cepat. Berangkat dari titik inilah kemudian film dan video (yang diwakili oleh televisi) mengalami persinggungan yang konkrit di tengah-tengah kita.

Catatan sejarah memperlihatkan bahwa kehadiran sinetron menjadi bagian penting dalam soal ini, yaitu ketika di tahun 1985 sebuah film televisi berjudul Gadis Kami Tercinta arahan sutradara Tiar Muslim memenangkan piala Vidia dalam Festifal Film Indonesia di Bandung. Lebih dari itu, kemajuan teknologi video kala itu terlihat pada fenomena merebaknya jumlah video rental (jumlah tempat penyewaan video ketika itu mencapai 1.200 buah), semakin meluasnya kegiatan perekaman yang menggunakan pita magnetis di masyarakat, dan stasiun TV nasional TVRI (Televisi Republik Indonesia) yang semakin gencar menggunakan video dalam memproduksi program acara, termasuk sandiwara. Arswendo Atmowiloto sebagai orang yang memperkenalkan istilah “sinema elektronik” dan Ali Shahab sebagai salah satu pelopor produksi sinetron pada dekade 1980-an percaya bahwa “…yang akan merajai dunia film bukan lagi bahan baku seluloid, tapi video” (Majalah Tempo Online, Agustus 1985).

Penggunaan video untuk menghasilkan karya film terus berlanjut. Terutama ketika pertengahan tahun 90-an muncul semacam gerakan yang disebut “Sinema Gerilya” [1]. Lalu lahir generasi muda yang dibesarkan oleh beragamnya kanal-kanal televisi (khususnya stasiun MTV / Music Television yang pertama kali hadir di Indonesia pada 1993). Mereka sangat intens dalam memproduksi video musik, video iklan, dan video dokumenter. Berbagai festival film pendek bermunculan, seperti Festival Film-Video Independen Indonesia dan Jakarta International Film Festival (JIFFest) di tahun 1999, satu tahun setelah Reformasi 1998. Kemunculan film Kuldesak (1998) menguatkan hasrat untuk menciptakan kultur “sinema independen” [2]. Hal ini kemudian berlanjut pada maraknya aktivitas produksi film panjang (feature) yang dilakukan dengan kamera digital kemudian mentransfernya ke dalam format pita seluloid 35 mm untuk diedarkan ke gedung-gedung bioskop (Gotot Prakosa, 2001: 13).

Hingga awal tahun 2000-an video masih hanya digunakan sebagai alat untuk merekam dan membuat film semata. Meskipun ada gerakan lain di awal tahun 90-an yang mendayagunakan video sebagai medium ekspresi seni lain (baca: seni rupa). Sebutlah Heri Dono sebagai salah satu pelakunya melalui karya video Hoping to Hear from You Soon (1992) dan Krisna Murti lewat karya 12 Jam dalam Kehidupan Penari Agung Rai (1993). Tetapi apa yang mereka lakukan belum memberikan dampak berarti terhadap kesadaran akan potensi medium video yang sesungguhnya dapat berdiri sebagai medium artistik. Bahkan, pasca Reformasi 1998 yang membuka potensi kebebasan berekspresi dan dapat menjadi momentum bagi masyarakat untuk dapat secara bebas menggunakan medium video pun hanya ditanggapi dengan hadirnya Komunitas Film Independen (Konfiden) tahun 1999. Kenyataan ini hanyalah gerakan kultural repetitif yang kembali menafsirkan video sebagai alat untuk membuat film semata [3]. Pada tahun 2001, ruangrupa Jakarta membuat semacam proyek bernama Silent Forces dan melakukan riset awal untuk membaca perkembangan seni video di Indonesia. Hasilnya adalah hampir 90% karya yang didapatkan dari proyek itu merupakan film pendek dan dokumentasi performance art oleh kalangan seniman (Hafiz, 2011).

Gajah di Pelupuk Mata Pembuat Film Indonesia

Pemaparan di atas merupakan bukti bahwa video di Indonesia masih dijadikan alat untuk “menyempurnakan” tradisi seni terdahulu. Video menjadi piranti untuk memindahkan panggung teater ke dalam bentuk tampilan layar datar. Dengan kata lain, produksi video adalah produksi film. Atas pertimbangan kendala dari alat-alat yang lama (baca: produksi film konvensional dan mahal), para pembuat film menggunakan video (dengan mental filmmaker) untuk terus menghidupkan sinema, yang justru berujung pada penurunan kualitas estetik film itu sendiri. Terlebih lagi karena kemunculan sinetron, film-film yang hadir di televisi (juga di layar lebar), mau tidak mau harus tunduk pada kepentingan industri kejar tayang untuk memuaskan hasrat penonton yang sudah terlenakan dengan visual-visual yang tidak berbobot [4].

Kenyataan tersebut hadir karena sebagian besar pelaku film Indonesia pada masa itu tidak menyadari bahwa video, sesungguhnya, memiliki attitude dan bahasanya sendiri, bahwa video memiliki potensi sebagai satu bentuk seni yang utuh, yang dapat berbeda dari film. Berbeda dengan di negara lain, kehadiran video dengan cepat disadari potensinya oleh para seniman luar, misalnya di Amerika Serikat. Sebutlah nama-nama seperti Howard Fried, Bucky Schwart, Frank Gillete, Nam June Paik, dan sebagainya. Mereka percaya bahwa video memiliki kemampuan yang luar biasa karena sifatnya yang elektronis mampu memanipulasi citraan (Schadt, 1985). Para pelaku seni ini berusaha mencari celah untuk menjadikan video sebagai sebuah bentuk kesenian baru/new media art (Schadt, 1981). Sementara di Indonesia, video adalah alat sosial (juga finansial) untuk terus menghidupkan film, alih-alih sebagai media yang potensial menciptakan temuan artistik yang baru.

Dengan kehadiran video, produksi film menjadi mudah, distribusi menjadi lebih gampang, dan dalam hal presentasi karya pun video tidak sulit untuk dipindahkan ke dalam berbagai format tayang. Hingga sekarang, sangat sedikit sineas Indonesia yang menggunakan pita seluloid untuk memproduksi film. Mereka lebih memilih video (baik dalam format analog maupun digital) dengan berbagai pertimbangan ekonomisnya. Terlebih jika kita menyadari kehadiran sinetron yang tetap bertahan dan bahkan menjadi primadona di hampir seluruh stasiun televisi nasional saat ini. Hal ini tentu menjadi bukti nyata bahwa video memang merajai aktivitas produksi gambar bergerak yang menjadi bahan hiburan tontonan masyarakat, bukan sebagai medium kesenian yang otonom.

Mungkin benar bahwa sejauh ini film dan video saling melengkapi. Akan tetapi sejauh mana mereka bisa saling mengisi? Barangkali jawabannya hanya ada pada level peningkatan kuantitas, bukan pada tataran pertarungan bahasa tutur, peningkatan kualitas, pemahaman dan penafsiran konsep, serta eksplorasi kreatif.

(Kemungkinan) Gajah di Pelupuk Mata Pembuat Video

Lantas bagaimana dengan munculnya fenomena berkesenian dengan medium video di Indonesia dalam kurun 10 tahun terakhir? Benar memang, dalam satu dekade terakhir, para pelaku seni sudah menyadari bahwa video dapat berdiri sebagai medium seni tersendiri. Terutama sejak kehadiran ruangrupa dengan OK. Video-nya yang dianggap menjadi salah satu tonggak perkembangan seni video di Indonesia. Tidak dapat dipungkiri bahwa melalui OK. Video banyak seniman muda yang mulai melirik dan mengutak-atik medium yang sangat luar biasa itu. Namun, tetap saja ada “kekosongan”, ada bayang-bayang gajah yang samar di depan mata.

Gali lubang, tutup lubang. Dalam beberapa hal, seni video ditanggapi sebagai satu hal yang berada sejauh-jauhnya dari persoalan film. Seakan ingin terlepas dari dosa para pendahulu yang aktif di tahun 80 dan 90-an. Tetapi bisa jadi justru terjadi hal yang sebaliknya: muncul semacam glorifikasi berlebihan dari seniman hari ini untuk memperlakukan seni video sebagai hal yang tidak dapat dilihat dari perspektif film dan sinema, dan oleh karena itu muncul kecenderungan untuk membuat karya seni video sebebas-bebasnya. Para pembuat video Indonesia seakan tidak membutuhkan referensi pengetahuan film dan sinema, dan hanya bersandar pada kecanggihan luar biasa dari medium video ini.

Keyakinan seperti inilah yang pada akhirnya membuat kita bisa tergagap jika, misalnya, ada karya seni video yang dibuat dengan menggunakan medium film (seluloid). Oleh sebab itu sudah seharusnya kita dapat menyadari usaha OK. Video – Jakarta International Video Festival yang menghilangkan kata art dari istilah video art dan membiarkan kata “video” berdiri sendiri. Keputusan ini dapat dilihat sebagai strategi untuk membuka segala kemungkinan yang dapat dieksplorasi dari medium video sehingga kita tidak terkungkung pada soal seni video yang diartikan secara sempit: melukis dengan video.

Apa yang selalu menjadi masalah utama adalah kultur berkesenian kita yang tidak berjalan secara runut. Seni video dilahap oleh para pembuatnya tanpa menyadari akar sejarah munculnya medium ini. Mereka tidak pula memahami sejarah perkembangan dan kontribusi sinema dan film dalam persinggungannya dengan video. Kalau pun ingin dikatakan bahwa video tidak memiliki induk, bahwa dia muncul dari budaya media massa?berbeda dengan film yang merupakan tetasan telur dari seni teater?kita tidak dapat memungkiri bahwa video, bagaimana pun bentuknya, adalah karya moving image (citra bergerak) yang tidak dapat begitu saja dipisahkan dari film sebagai pembandingnya, karena mereka sama-sama memiliki kode-kode visual yang dapat dibaca (bahkan) dengan cara yang sama.

Dari sekian banyak karya seni video yang dibuat oleh seniman Indonesia, mungkin hanya sedikit yang dapat kita anggap memiliki kesadaran tentang esensi (signifikansi perspektif) film di dalamnya. Sebutlah misalnya Alam: Syuhada (2005) karya Hafiz yang masuk dalam kompilasi 10 Tahun Seni Video Indonesia (2000-2010).

Karya ini dengan genial mampu menghadirkan representasi satu fragmen dalam sebuah bingkai sehingga membuka kemungkinan bagi penonton untuk membaca kode-kode visual secara horizontal untuk merefleksikan keseharian sang tokoh dalam video itu dan juga pengalamannya selama di Jakarta (Akbar Yumni, 2011). Cara menonton horizontal ini merupakan gagasan Barthes untuk menginterpretasikan kode visual dalam film sebagai hal yang dapat diamati dalam bentuk fragmen (pecahan). Di dalam karya video Hafiz, hal itu sangat dimungkinkan. Akan tetapi karena pembuatnya mengemas bahasa video, maka tata cara pembacaan fragmen-fragmen pada film itu tidak dibutuhkan. Sebab tampilan visual dalam video itu sendiri sudah menjadi satu kesatuan fragmen yang utuh, tidak perlu dipecah-pecah. Kode-kode visual semacam itu hanya akan muncul ketika pembuat videonya menyadari dan mengerti esensi bahasa film dalam meramu bahasa video. Dan pembacaan seperti ini hanya akan disadari ketika kita juga menyadari esensi dari film dan bahasanya. Oleh sebab itu, karya video Alam: Syuhada tidak serta merta berhenti pada bentuk seni video yang sempit, tetapi juga dapat dilihat sebagai karya film eksperimental.

Karya video lain yang mungkin bisa kita lihat sebagai karya yang tidak serta merta melupakan esensi dari film adalah karya-karya video akumassa yang memiliki standar teknis yang merujuk pada bahasa dasar pembuatan film. Melihat video akumassa mengingatkan kita pada konsep penyutradaraan yang dilakukan Hitchcock, yang “memberikan otoritas” kepada subjek di dalam bingkai untuk membangun ruang dan jalur sirkulasinya sendiri. Namun pengemasan gaya bahasa yang mengutamakan eye level dan pengambilan gambar yang selektif untuk menguatkan objektivitas substansi, serta tidak menekankan pada durasi: awal, tengah, akhir; klimaks-antiklimaks, menjadikannya sebagai karya yang memiliki bahasa video tersendiri.

Pemahaman seperti inilah yang harus dimiliki oleh para pembuat film dan video: bahwa persinggungan di antara kedua medium tersebut bisa saja terjadi dalam tataran estetis, bukan sekadar pada tataran sosial (apalagi finansial) yang hanya memandang video sebagai alat memudahkan aktivitas produksi dan distribusi semata. Dalam konteks ini, fungsi bahasa viual dalam film dijadikan sebagai pembongkar aktivitas penciptaan karya video sendiri, begitu juga sebaliknya.

Merupakan suatu keniscayaan bahwa karya video, sama halnya dengan film, dapat dilihat dari berbagai perspektif dan interdisiplin pengetahuan. Perspektif film pun, pada dasarnya, dapat dijadikan sebagai salah satu pisau bedah dalam mengkaji karya video yang memiliki attitude dan bahasanya sendiri itu. Dan merupakan suatu keharusan bagi pembuat karya seni video untuk memiliki kesadaran tentang bahasa film dan konsepsi sinema dalam berkarya.

Film dan video memang berbeda, tetapi keduanya sesungguhnya bergerak ke arah yang sama untuk saling bertemu dan melengkapi. Jika kita terus tenggelam dalam euforia kemudahan dan kecanggihan yang ditawarkan video untuk menutupi persoalan-persoalan teknis film dan sinema, kita tidak akan bisa lepas dari senyum jahil sang gajah yang dengan setia nangkring di depan mata, membutakan kita dari potensi-potensi mengejutkan dari persinggungan antara film dan video itu sendiri.*

Catatan:

[1] Gerakan ini dipelopori oleh Seno Gumira Adjidarma, Marseli dan kawan-kawan (mahasiswa Institut Kesenian Jakarta). Pengertian gerilya di sini merujuk pada aksi memproduksi film secara “bergerilya” karena sulitnya mendapatkan izin produksi pada masa Orde Baru. Namun, pada sisi artistik atau temuan bentuk, sinema gerilya tidak punya dampak signifikan bagi perkembangan film cerita, film eksperimental, dan karya seni video di Indonesia.

[2] Pada perkembangan selanjutnya cita-cita ini diikuti dengan dideklarasikannya sebuah gerakan bernama I Cinema oleh Riri Riza, Mira Lesmana, Rizal Mantovani dan kawan-kawan. Mereka membayangkan sebuah gerakan industri film yang menguasai pasar Indonesia dengan diputarnya karya-karya anak bangsa di bioskop-bioskop Studio 21. Untuk bacaan lebih lanjut, lihat Gotot Prakosa, “Ketika Film Pendek Bersosialisasi” (Jakarta: Yayasan Layar Putih, 2001).

[3] Komunitas ini menggerakkan anak-anak muda di Indonesia (terutama di Pulau Jawa) untuk membuat film dengan jargon yang sangat terkenal: “membuat film itu mudah”. Hal ini membawa pandangan di tengah masyarakat bahwa film adalah sesuatu yang “trendy” dan “cool” bagi anak-anak muda di Indonesia. Secara tidak langsung hal ini juga membentuk penonton film-film nasional yang diproduksi oleh komunitas yang ditandai oleh besarnya minat penonton film Indonesia di bioskop. Meskipun ujung-ujungnya tetap industrilah yang mendapat berkahnya.

[4] Padahal, pada masa awal sinema elektronik, kualitas karya yang dihasilkan sangat baik. Beberapa sutradara yang berkualitas itu di antaranya adalah Irwansyah dengan karyanya yang sangat terkenal, Sayekti dan Hanafi.

___________________________________________________________________

Tulisan ini adalah salah satu karya tulis saya tentang video, film dan sinema.Tulisan ini saya buat karena permintaan dari seorang rekan yang aktif di bidang yang bersangkutan, dan dimuat dalam sebuah jurnal online komunitasfilm.org pada tanggal 18 September 2011, di kolom OpiniBisa dilihat di link ini! Tulisan ini saya muat lagi di blog ini sekedar untuk berbagi. Silakan dibaca dan semoga bermanfaat! #asyek

The Loss of The Real

Artikel ini sudah pernah terbit lebih dulu di situs web akumassa dengan judul yang sama pada tanggal 21 Juli 2010.

Ketika baru tiba kembali di Jakarta sepulang dari Bandung, saya langsung membuka komputer dan mengakses situs jejaring sosial facebook untuk melihat apakah ada notification baru.

Pembukaan pameran seni The Loss of The Real.

Ketergantungan saya dengan dunia maya sudah berada dalam tahap akut. Selain itu, hari-hari saya akan terasa kurang apabila telepon genggam tidak ada di tangan saya. Karena walaupun hanya sekali sehari, berbalas pesan lewat SMS juga sudah menjadi santapan sehari-hari yang tidak bisa dihilangkan.

Begitulah, saya yang merupakan ‘aku’ bagian dari ‘massa’, terutama massa di jaman yang serba canggih ini, tidak bisa melepaskan diri dari teknologi dan dunia digital. Perkembangan teknologi tidak bisa dihambat. Perusahaan-perusahaan besar terus menghasilkan produk-produk mutakhir dengan berbagai inovasi demi memenuhi tuntutan dan kenyamanan konsumen. Segala aktivitas manusia kini terbantu dengan kehebatan teknologi-teknologi tersebut, yang kemudian menjadikan permasalahan waktu dan jarak bukan lagi sebagai suatu kendala yang perlu dikhawatirkan. Perkembangan teknologi memberikan andil yang besar dalam permasalahan komunikasi, informasi, dan interaksi. Seseorang bisa merasa dekat dengan orang yang lain meskipun mereka berada di tempat yang saling berjauhan satu sama lain, disebabkan oleh teknologi yang serba canggih saat ini.

Namun, kemajuan teknologi yang begitu pesat sepertinya membawa masalah baru. Meskipun teknologi sangat membantu komunikasi, tetapi dia memberikan kenyataan bahwa semakin berkurangnya interaksi yang terjadi antara manusia yang satu dengan manusia lain secara langsung, yang kemudian mengurangi pula proses sosialisasi di antara mereka. Teknologi mutakhir seolah-olah mengantarkan kita ke dalam dunia yang tidak nyata, atau kita sebut saja sebagai ‘kenyataan yang berbeda’. Dengan keberadaan teknologi ini, yang sebagian besar menyajikan kecanggihan akan dunia digital atau dunia cyber, realitas kehidupan yang dimiliki manusia serasa hilang dan menjadi tidak penting. Manusia menjadi terbuai dengan teknologi.

Beberapa pengunjung pameran sedang melihat karya video Forum Lenteng.

Saya rasa seperti itulah rangkuman pemikiran yang dapat saya tangkap dari pernyataan Agung Hujatnikajennong, Kurator Selasar Sunaryo Art Space, yang sempat saya temui di Bandung saat menghadiri pembukaan pameran di Selasar Sunaryo. Dan mungkin juga Pameran Seni The Loss of  The Real ini dihelatkan karena kesadaran yang dimiliki oleh Sang Kurator akan dampak dari kemajuan teknologi, yang apabila tidak kita sadari, akan memberikan masalah baru yang cukup serius dan membutuhkan perhatian dari kita semua.

Dari tulisan di website Selasar Sunaryo saya mengetahui bahwa Pameran Seni The Loss of The Real adalah salah satu rangkaian acara yang ada di Selasar Sunaryo Art Space, yang diadakan pada tanggal 19 Juli hingga 1 Agustus 2010, dan pembukaan pada hari  Minggu, 18 Juli 2010. Dalam acara pameran ini, Kurator Selasar Sunaryo Art Space, Agung Hujatnikajenong, mengetengahkan tema kuratorial The Loss of The Real yang mengangkat fenomena tentang kehilangan yang nyata akibat dari kemajuan teknologi dan perkembangan dunia digital. Lebih jauh lagi, pameran ini pada dasarnya merupakan suatu provokasi, yang mencoba menyadarkan khalayak akan permasalahan yang sedang terjadi di masyarakat.

Pameran ini mencerminkan situasi di abad informasi yang membuat dunia semakin terkoneksi namun menjadi kian transparan. Kenyataan di abad 21 telah mengalami suatu pergeseran dari kenyataan yang selama ini dikenal oleh manusia ke suatu kenyataan lingkungan yang dimediasi oleh teknologi dan media global, yaitu televisi, internet, dan budaya digital. Media menghubungkan kita sangat dekat, tetapi akhirnya memisahkan kita dari ‘yang sebenarnya’.

Pameran The Loss of The Real menampilkan karya-karya dari para seniman yang berasal dari Indonesia, Jepang, Perancis, dan Pakistan. Pameran ini bertujuan untuk membahas seni masa kini, sebagai daerah yang bebas dari linear dan progresifitas sejarah dari aspek teknologi. Pameran ini bukan berfokus pada pentingnya penggunaan suatu teknologi, melainkan menekankan perantaraan pesan, yang berhubungan dengan keindahan seni dan pendekatan sosial terhadap yang ‘nyata’ dan yang ‘khayal’.

Peserta yang berpartisipasi dalam acara ini antara lain adalah Daito Manabe (Jepang); Takao Minami (Jepang); Romain Osi (Perancis); Benjamin L. Amant (Perancis); Amar Mahboob (Pakistan); Agan Harahap (Indonesia); Forum Lenteng (akumassa dan Jurnal Footage) (Indonesia); Bandung Oral History (Indonesia); Deden Hendan Durahman (Indonesia); Dimas Arif Nugroho (Indonesia); Jompet (Indonesia); Prilla Tania (Indonesia); Venzha/House of Natural Fiber (Indonesia); dan Widianto Nugroho (Indonesia).

Saya sendiri yang ikut aktif dalam program akumassa milik Forum Lenteng, mendapatkan kesempatan untuk mengikuti kegiatan display, sehari sebelum pembukaan pameran. Yang diutus dari Forum Lenteng untuk menghadiri pembukaan adalah saya, Rio, Bagasworo Aryaningtyas, dan Tienatalia Sitorus.

Saat display di Selasar Sunaryo Art Space.

Hari itu, kami berempat bekerja penuh selama satu hari menempel berbagai sketsa dan coretan-coretan tangan para aktivis akumassa dari berbagai workshop di dinding ruangan pameran dengan lem kayu, persis seperti Antonio Ricci yang menempel poster di dinding gedung-gedung kota dalam filem The Bicycle Thief. Pada malam harinya, kami diizinkan menginap di penginapan yang telah disediakan oleh pihak Selasar Sunaryo. Keesokan harinya, pada pagi hari sebelum kembali bekerja di ruangan pameran untuk finishing terakhir, kami berempat menikmati sajian kopi hangat sambil menikmati pemandangan yang terbentang di depan penginapan. Pikiran saya pun melayang kepada kebiasaan Danny dan teman-temannya yang menikmati pagi hari sebangun dari tidur sambil menikmati anggur dalam cerita Dataran Tortilla.

Suasana bilik pameran Forum Lenteng ketika proses men-display karya.

Acara pembukaan Pameran Seni The Loss of The Real dimulai pada pukul tujuh malam. Jadwal itu adalah jadwal yang tertera di katalognya, tetapi seingat saya, acara baru dimulai kira-kira setengah jam setelah adzan Isya berkumandang. Sang Kurator, Agung Hujatnikajennong memberikan kata sambutan dalam Bahasa Inggris, di mana isinya lagi-lagi menekankan tentang pentingnya kesadaran kita akan fungsi dari teknologi dan media yang sesungguhnya sehingga kita tidak terbuai dalam kenyataan yang berbeda itu.

Beberapa saat setelah acara pembukaan, saya menyempatkan diri untuk mengobrol, yang sebenarnya lebih terkesan seperti wawancara, dengan Mas Agung (begitulah saya menyapanya) sekadar untuk mengetahui kesan dan pesannya tentang pameran yang ia kuratori. Percakapan saya dengan Mas Agung sempat saya rekam di handphone saya.

Saya : Ini kan, udah selesai pembukaan. Pertama sekali pengen tahu perasaan Mas Agung setelah acara pembukaan ini?

Agung : Ya, seneng aja, ya, udah dibuka. Tujuannya kan emang supaya bisa dilihat banyak orang, jadi ngelihat antusias semua orang yang ke pameran ini, jumlah orang kayaknya lebih dari dua ratus, ya, itu saya pikir udah tanda bagus lah untuk pameran ini. Mungkin untuk hari-hari selanjutnya akan tambah banyak lagi.

Saya : Mengenai The Loss of The Real sendiri, itu konsepnya bisa Mas Agung jabarkan, nggak?

Agung : Ya konsepnya sebenarnya, judulnya sendiri itu kayak provokasi gitu, ya. Provokasi bahwa, ng… apa yang selama ini kita sebut sebagai kenyataan itu sudah hilang, gitu lho! Sudah hilang karena, ng… mungkin udah sepuluh dua puluh tahun belakangan, kan, kehidupan masyarakat, gitu, terutama, sudah tidak bisa terpisahkan lagi dengan media, gitu, dan media… yang sangat dominan sekarang ini adalah digital media, gitu kan? Digital media itu, ya, memang dulu dia diciptakan untuk, ng… membuat komunikasi menjadi lancar, tapi di sisi lain juga dia memisahkan interaksi langsung, ng… fisikal, misalnya orang sekarang lebih pengen ngomong lewat handphone atau lewat internet, gitu, daripada ketemu langsung. Jadi, yang dulu kita sebut nyata, misalnya saya ketemu kamu sekarang, itu sekarang udah tergantikan lah oleh kebudayaan baru. Jadi itu, ng… latar belakangnya kenapa judul itu, gitu. Nah, pameran itu sendiri justru pengen menawarkan sesuatu yang, ng… apa namanya, melawan provokasi itu sendiri, gitu. Jadi, makanya karya-karya yang ditampilkan justru tidak semuanya digital, gitu, dan tidak semuanya, ng… juga, berbicara soal… cuma berbicara soal teknologi, gitu, teknologi media, tapi ada pendekatan sosial, seperti Forum Lenteng, kemudian ada yang sangat analog, karya-karya yang kinetik, analog, gitu, juga karya-karya yang menggunakan programming yang sangat advanced, gitu lho! Itu saya campur aja, dulu kan ada pembagian antara ‘media lama’ dan ‘media baru’, nah, sekarang itu saya pikir, juga untuk melawan provokasi yang tadi itu, ya. Saya pikir, sebenarnya kenyataannya nggak gitu juga, bahwa sebenarnya yang analog, yang kinetik dan tradisional gitu, ya, juga sebenarnya masih bisa berbicara sebagai medium artistik.

Saya : Ya, dari pengutaraan Mas Agung tadi, berkaitan dengan tulisan yang Mas bikin di sana itu, ya, yang katanya digital itu bukan segalanya, bahwa sesungguhnya interaksi di masyarakat itu masih bisa ada. Nah, sekarang yang pengen saya pribadi, pengen tahu, pendapat Mas gimana, karena perkembangan teknologi jaman sekarang nggak bisa dihambat. Itu bagaimana? Interaksi semakin berkurang, teknologi semakin maju…?

Agung : Makanya sebenarnya dengan beragam media ini, dengan memasukan lagi media-media analog, ya, sebenarnya ya media digital memang akan semakin dominan, gitu ya, dalam kehidupan masyarakat, tapi yang penting adalah bagaimana refleksi kita terhadap media itu sendiri, bahwa dia itu cuman sebagai… apa ya, sebagai, ng… perangkat lah, bukan sesuatu yang… seharusnya… merubah kebudayaan kita, gitu lho! Justru yang, ng… apa namanya… diharapkan melalui pameran ini, tuh, kita punya sikap-sikap reflektif, gitu ya, reflektif terhadap media, punya jaraklah, gitu. Punya jarak kritis juga, tidak semerta-merta hanya menjadi user yang… yang pasif, gitu ya, tapi punya… sadar media, gitu! Punya jaraklah, sikap reflektif itu, saya pikir penting, itu.

Saya : Terus mengenai konsep pamerannya sendiri, ini kan mengenai digital, terus kenapa Mas Agung menyajikannya dengan, kalau Mas Agung kemarin istilahkan, ‘ribut’ gitu. Kenapa harus disajikan dengan art yang seperti itu?

Agung :  Karena sebenarnya seni media sendiri kan sebuah disiplin yang lahir dari teknologi media itu, dan, ng… apa namanya… saya pikir perkembangan artistik, ya, pokoknya perkembangan seni media ini sebenarnya merefleksikan apa yang terjadi, gitu. Yang terjadi itu sebetulnya, ya, yang… yang digital itu bukan yang paling semuanya lah, bukan yang segalanya itu, yang saya bilang. Justru dengan menghadirkan karya-karya yang analog, yang mungkin yang ‘ribut’ tadi, ada yang pake chemical, ada yang pake… yang kaya Forum Lenteng persentasinya lebih kepada metode, bagaimana Forum Lenteng membuat proyek-proyeknya, gitu ya, itu kan sisi-sisi yang menunjukkan bahwa seniman-seniman itu justru punya jarak kritis terhadap media, jadi media cuman sekadar perangkat aja, gitu. Yang lebih penting adalah mungkin pesan sosialnya yang bisa memancing refleksi itu.

Saya : Pendapat pribadi Mas Agung sendiri terhadap akumassa milik Forum Lenteng, bagaimana?

Agung : Saya suka banget, ya. Sama proyek-proyeknya saya suka banget. Ng… dan itu saya pikir bentuk proyek, ya, bentuk inisiatif Forum Lenteng, akumassa itu bentuk inisiatif yang cocok di negara-negara dunia ketiga, saya pikir. Jadi justru media itu harus diberdayakan, bukan jadi sebagai alat panutan, gitu.

Saya : Terus, terakhir, harapan Mas Agung kedepannya terhadap pameran ini gimana?

Agung : Ya pameran itu, kan, pada dasarnya harus ada… kalau dibilang hasil mungkin… paling tidak itu, ng… ada kesadaran lah yang timbul, gitu, di penonton pameran, gitu ya. Ng… ya untuk bisa lebih, lebih punya jarak aja pada media.

Demikianlah percakapan singkat saya dengan Sang Kurator Selasar Sunaryo Art Space selepas acara pembukaan Pameran Seni The Loss of The Real. Pesan yang paling penting adalah bagaimana kita bisa menimbulkan kesadaran kita terhadap media, bahwa teknologi bukan segalanya, dan bahwa sesungguhnya media bisa menjadi alat yang memiliki fungsi luar biasa apabila kita bisa memanfaatkannya dengan tepat. Hal itu juga selalu ditekankan oleh para fasilitator kepada saya sewaktu mengikuti workshop akumassa di Forum Lenteng.

Pengalaman mengikuti pameran seni di Bandung itu banyak memberikan bahan pembelajaran kepada saya. Pengalaman itu tidak akan terlupakan, apalagi cuaca dingin yang selama satu hari membuat badan saya menggigil, terutama pada saat malam pembukaan pameran. ***

Oleh-oleh dari Ancol: Pentingnya Strategi Politik Bagi Komunitas

Artikel ini sudah pernah terbit di situs web AKUMASSA, dengan judul yang sama, tanggal 4 Juli 2010.

Beberapa waktu yang lalu, saya berkesempatan menghadiri pameran di North Art Space, Pasar Seni Jaya Ancol. Yang menarik, terutama bagi saya, adalah kemasan pamerannya, yang belum pernah terpikirkan oleh saya sebelumnya.

Para pengunjung pameran FIXER di North Art Space, Ancol.

Selama ini saya mengira apa yang dipamerkan dalam sebuah acara pameran adalah karya-karya seni atau teknologi. Akan tetapi, apa yang dipamerkan dalam acara tersebut sungguh berbeda. Saya takjub, karena yang dipamerkan bukan hanya sekadar karya, tetapi juga komunitas-komunitas atau organisasi-organisasi pilihan, yang aktif dalam kegiatan seni, yang tersebar di Indonesia. Bagi saya, pameran yang seperti itu merupakan sesuatu yang baru.

FIXER, Pameran Ruang Alternatif & Kelompok Seni Rupa di Indonesia. Begitulah kalimat yang tertulis di sampul buku katalog berwarna biru, bergambar labirin yang sedikit cembung, yang memuat berbagai informasi dan penjelasan tentang komunitas-komunitas yang menjadi peserta dalam pameran tersebut.

Sampul katalog pameran FIXER.
Acara pembukaan pameran FIXER.

Awalnya saya berpikir, mungkin yang dipamerkan hanyalah karya-karya yang telah dibuat oleh masing-masing komunitas. Namun, setelah mengikuti beberapa diskusi yang diadakan dalam acara itu, saya berkesimpulan bahwa memang komunitas-komunitas pilihan itu lah yang sebenarnya dipamerkan, di mana di dalam gedung pameran itu dipajang banyak foto, video dan karya seni rupa lainnya milik setiap komunitas beserta juga dengan profilnya masing-masing.

FIXER, acara pameran yang dikuratori oleh Ade Darmawan dan Rifky Effendy itu, diselenggarakan pada tanggal 19 hingga 28 Juni 2010. Diikuti oleh 21 komunitas/organisasi dari berbagai kota, diantaranya Padang Panjang (Sarueh), Jakarta (Akademi Samali, Atap Alis, Forum Lenteng, Kampung Segart, Maros Visual Culture Initiative, ruangrupa, Serrum, dan Tembok Bomber), Bandung (Asbestos Art Space, Common Room Networks Foundation, dan Videolab), Jatiwangi (Jatiwangi Art Factory), Cirebon (Gardu Unik), Semarang (Byar Creative Industry), Yogyakarta (House of Natural Fiber, Ruang Mes 56, dan Performance Klub), Malang (Malang Meeting Point), Surabaya (Urbanspace), dan Makassar (Ruang Akal).

Komunitas Gardu Unik (Cirebon) dan Sarueh (Padang Panjang) juga tergabung dalam komunitas jaringan akumassa.

Dari semua benda yang dipamerkan itu, di mana saya masih berpikir sampai saat ini bahwa n=benda-benda itu pastinya mewakili kegiatan dan program yang dimiliki oleh setiap komunitas, yang menarik perhatian saya adalah karya dari House of Natural Fiber (HONF), yang memajang karya berupa rangkaian alat-alat yang sering saya lihat di ruang laboratorium kimia. Salah satu karya dari HONF ini memperlihatkan tentang pembuatan cairan dari buah-buahan, yang kemudian menghasilkan suara.

Karya House of Natural Fiber (HONF).

Setelah bertanya ke sana kemari, saya baru mengetahui bahwa karya itu adalah contoh dari karya seni media baru. Kemudian ada juga karya video dari Forum Lenteng yang berjudul “Bilal”. Adegan yang terlihat adalah seorang anak berdandan  punk sedang mengumandangkan azdan. Aneh tapi menarik, mengundang tanya dan takjub dalam kepala saya.

Pada acara pembukaan pameran, saya langsung membaca beberapa tulisan dalam buku katalog yang saya dapat di meja tamu. Dan tulisan dari Ade Darmawan langsung membuat saya mengerti alasan mengapa pameran ini dihelatkan.

Selama ini, produksi gagasan seni rupa tidak diimbangi dengan dukungan dan pengembangan elemen lain seperti kritik, kajian, pendidikan, penerbitan, serta fasilitas ruang sebagai sarana pembentuk wacana, pendukung apresiasi, serta penyebaran informasi dan promosi, baik dalam skala nasional maupun internasional. (Ade Darmawan, Juni 2010)

Begitulah kutipan dari tulisan berjudul “Memperbaiki Mata Rantai Siklus Gagasan”. Lebih lanjut Ade menjelaskan dalam tulisannya:

Sejumlah inisiatif seniman yang muncul kemudian, akhirnya tak hanya mencoba melengkapi dan memperbaiki terputusnya mata rantai siklus produksi gagasan seni rupa tersebut, namun juga membawanya ke dalam konteks masyarakat yang lebih luas. (Ade Darmawan, Juni 2010)

Setelah membacanya, saya menyadari bahwa usaha dari komunitas-komunitas ini sungguh mulia. Mereka mencoba mengemas seni menjadi sesuatu yang baru dengan memanfaatkan perkembangan teknologi dan media sehingga karya-karya yang diciptakan menjadi tidak kaku dengan aturan yang konvensional. Saya rasa, tidak ada salahnya mengatakan para aktivis-aktivis yang tetap bertahan dengan komunitas yang mereka bangun ini sebagai pahlawan.

Namun begitu, saya masih melihat beberapa kekurangan, bukan dari acara pameran FIXER-nya, melainkan dari beberapa komunitas-komunitas ini. Tentu saja hal ini mungkin hanya pendapat pribadi saya, tetapi mungkin juga pendapat saya itu benar. Pendapat ini muncul ketika saya menghadiri acara diskusi pada hari ke tiga pameran, 20 Juni 2010. Tema diskusi kali itu adalah “Strategi artistik di ruang kota dan warga”. Dalam diskusi itu, yang menjadi bahasan adalah mengenai langkah-langkah dari masing-masing komunitas dalam melakukan negosiasi terhadap masyarakat berhubungan dengan aktivitas berkesenian mereka di ruang publik. Saya masih ingat satu pernyataan dari peserta diskusi yang sangat menggelitik telinga saya. Kira-kira pertanyaannya seperti ini, “Apa strategi kalian dalam melakukan negosiasi dengan masyarakat, karena ruang-ruang yang kalian bubuhkan dengan karya seni itu adalah milik publik/umum, belum tentu semua masyarakat menyetujui dengan aksi kalian?”

Pertanyaan itu dijawab oleh masing-masing komunitas yang duduk di meja depan. Akan tetapi, saya tidak menemukan inti jawaban yang memuaskan. Bahkan menurut saya, jawaban dari dua atau tiga komunitas itu sedikit ke luar jalur dari inti pertanyaan yang dilontarkan. Sayangnya, saat itu saya tidak memilki cukup keberanian untuk bertanya, karena merasa masih belum mengetahui apa-apa dan takut keliru untuk menyampaikan pendapat atau pertanyaan.

Diskusi bertema “Strategi Artistik di Ruang Kota dan Warga”.

Pertanyaan selanjutnya, yang menurut saya juga penting, yang dilontarkan oleh orang yang sama kepada komunitas yang melakukan presentasi, adalah mengenai strategi politik, yaitu mengenai standar-standar yang dimiliki oleh komunitas. Kira-kira pertanyaannya seperti ini, “Apa tolak ukur kalian dalam menentukan bahwa program yang kalian jalankan telah berjalan dengan baik dan sesuai tujuan, seperti contohnya, dalam pendidikan terdapat standar kurikulum untuk menentukan sukses atau tidaknnya pendidikan itu berjalan. Bagaimana cara kalian mengukur itu?”

Lagi-lagi jawaban yang diberikan tidak memuaskan saya. Karena perwakilan dari komunitas yang melakukan presentasi saat itu tidak menyebutkan standar-standar yang dimaksudkan.

Hingga acara diskusi itu selesai, kegelisahan saya terhadap hasil diskusi saya simpan saja. Karena seperti yang saya katakan sebelumnya, saya tidak memilki cukup keberanian untuk bertanya.

Dari pelajaran yang saya dapatkan tentang komunitas atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di kampus, strategi politik itu merupakan suatu hal yang penting. Karena strategi itulah yang akan menentukan apakah suatu organisasi dapat bertahan atau tidak.

Penyelenggaraan acara pameran FIXER ini, menurut saya, merupakan salah satu cara dari perwujudan strategi politik tersebut. Membangun jaring-jaring yang menghubungkan setiap komunitas di Indonesia akan meningkatkan kekuatan dalam menempuh jalan menuju generasi yang maju. Saya berharap, di lain waktu saya dapat menghadiri acara-acara yang serupa seperti pameran FIXER ini. Selain makanan kecil yang disajikan lumayan lezat dan hiburan yang meriah pada acara pembukaan, kegiatan seperti ini banyak menambah wawasan saya sebagai mahasiswa yang masih baru. ***