All posts tagged: Forum Lenteng

Si Piano Kecil Biru

Tulisan ini adalah teks yang saya buat dalam rangka kegiatan kelas “Roman Picisan” tanggal 26 Maret 2019. Kelas “Roman Picisan” adalah kegiatan reguler di Forum Lenteng, yang difasilitasi oleh Otty Widasari. Si Piano Kecil Biru datang kesekian kalinya ke rumah Saidi untuk menyapa memori Sang Penari. Ia sebenarnya sudah berpindah tangan dari Sang Burung Kecil—begitulah aku sering mendengar Bodas memangil ibunya—ke tangan Si Bibi Kecil, bibi dari seorang bocah yang dipuja oleh Sang Penari sebagai burung kecil pula, Bohdana. Tapi itu hanyalah perpindahan tangan yang sementara saja. Dan di masa perpindahannya itulah, Si Piano Kecil Biru lebih sering menggoda Sang Penari, membisikkan rayuan kepada perempuan yang pernah memiliki piano kecil merah—dulu. Sebab, si burung kecil Bohdana, konon, tak begitu peka akan kehadirannya. “Bawalah aku, hei, Sang Penari, ke rumahmu!” seru Si Piano Kecil Biru itu. “Nanti akan kubawa kau ke masa kecilmu!” Tampaknya, Sang Penari lumayan tergoda. Barangkali ia diam-diam telah mengumpulkan niat untuk membangun istana piano-piano, seperti The Small Instruments, istana milik seorang penenun bunyi yang aku kenal di Polandia. Sementara itu, seminggu terakhir …

Dari Luar Ke Dalam Layar, lalu Ke Luar Layar

Artikel ini adalah esai yang saya buat sebagai pengantar kuratorial untuk karya seni performans berjudul Di Luar Ruang Suaka Hukuman (atau Out Of In The Penal Colony, 2017) karya Otty Widasari, Prashasti Wilujeng Putri, Hanif Alghifary, dan Ragil Dwi Putra — dimuat dalam katalog presentasi karya tersebut. Keempat seniman tergabung ke dalam kelompok studi, bernama 69 Performance Club, Jakarta. Karya ini dipresentasikan secara khusus di tiga lokasi di Eropa, yakni di S.M.A.K. (Ghent, Belgia), Tranzitdisplay (Praha, Ceko), dan Acacias (RU) (Jenewa, Swiss).

Naga yang Berjalan di Atas Air

Salah satu hari yang paling saya tunggu ialah Hari Sabtu, tanggal 12 Mei 2012. Mengapa? Karena pada hari itu, sebuah film hasil kerja kolaborasi Forum Lenteng dan Komunitas Djuanda dalam program akumassa, berjudul Naga Yang Berjalan Di Atas Air akan diputar secara perdana ke khalayak penonton. #asyek Pasti nantinya, di sana, saya bisa bertemu dengan para filmmaker muda, yaitu teman-teman dari Komunitas Djuanda, dan juga para sineas di lingkungan perfilman tanah air. Selain kabar yang mengatakan bahwa film ini berisi gagasan dan isu tentang multikulturalisme—yang berarti bahwa diskusinya pasti menarik—perbincangan dengan teman-teman yang aktif di ranah media (film dan video) serta lingkungan aktivisme sosial dan budaya (terutama tentang masyarakat, massa dan warga) merupakan satu momen yang tidak boleh saya lewatkan (mengingat bidang ini sudah mulai mendarah daging. #yoeeeh). Nih, silakan disikat dulu trailer si Naga! Sebuah cerita kecil dari perbatasan Kabupaten Tangerang dan Kabupaten Bogor, di mana hiduplah Kang Sui Liong, sang penjaga kuil, bersama istri dan anak-anaknya. Zaman berganti. Kang Sui Liong menjadi saksi kejayaan kaum Cina Benteng yang hidup dari hilir di Tangerang …

Tulisan Pertama di Jurnal akumassa

Saya sudah mengikuti workshop selama seminggu di Forum Lenteng (tetapi workshop belum lagi selesai), dan saya sudah dianjurkan untuk menulis apa saja yang ingin saya tulis tentang daerah yang sedang saya riset. Akhrinya, saya memutuskan untuk menulis tentang daerah Kober. Dan tulisan itu dimuat di dalam jurnal akumassa. Silakan lihat di http://akumassa.org/, tulisan saya berjudul “Jalan Kebo dan Ziarah Malam di Kuburan Syekh Al-Maghribi”.