The Loss of The Real

Artikel ini sudah pernah terbit lebih dulu di situs web akumassa dengan judul yang sama pada tanggal 21 Juli 2010.

Ketika baru tiba kembali di Jakarta sepulang dari Bandung, saya langsung membuka komputer dan mengakses situs jejaring sosial facebook untuk melihat apakah ada notification baru.

Pembukaan pameran seni The Loss of The Real.

Ketergantungan saya dengan dunia maya sudah berada dalam tahap akut. Selain itu, hari-hari saya akan terasa kurang apabila telepon genggam tidak ada di tangan saya. Karena walaupun hanya sekali sehari, berbalas pesan lewat SMS juga sudah menjadi santapan sehari-hari yang tidak bisa dihilangkan.

Begitulah, saya yang merupakan ‘aku’ bagian dari ‘massa’, terutama massa di jaman yang serba canggih ini, tidak bisa melepaskan diri dari teknologi dan dunia digital. Perkembangan teknologi tidak bisa dihambat. Perusahaan-perusahaan besar terus menghasilkan produk-produk mutakhir dengan berbagai inovasi demi memenuhi tuntutan dan kenyamanan konsumen. Segala aktivitas manusia kini terbantu dengan kehebatan teknologi-teknologi tersebut, yang kemudian menjadikan permasalahan waktu dan jarak bukan lagi sebagai suatu kendala yang perlu dikhawatirkan. Perkembangan teknologi memberikan andil yang besar dalam permasalahan komunikasi, informasi, dan interaksi. Seseorang bisa merasa dekat dengan orang yang lain meskipun mereka berada di tempat yang saling berjauhan satu sama lain, disebabkan oleh teknologi yang serba canggih saat ini.

Namun, kemajuan teknologi yang begitu pesat sepertinya membawa masalah baru. Meskipun teknologi sangat membantu komunikasi, tetapi dia memberikan kenyataan bahwa semakin berkurangnya interaksi yang terjadi antara manusia yang satu dengan manusia lain secara langsung, yang kemudian mengurangi pula proses sosialisasi di antara mereka. Teknologi mutakhir seolah-olah mengantarkan kita ke dalam dunia yang tidak nyata, atau kita sebut saja sebagai ‘kenyataan yang berbeda’. Dengan keberadaan teknologi ini, yang sebagian besar menyajikan kecanggihan akan dunia digital atau dunia cyber, realitas kehidupan yang dimiliki manusia serasa hilang dan menjadi tidak penting. Manusia menjadi terbuai dengan teknologi.

Beberapa pengunjung pameran sedang melihat karya video Forum Lenteng.

Saya rasa seperti itulah rangkuman pemikiran yang dapat saya tangkap dari pernyataan Agung Hujatnikajennong, Kurator Selasar Sunaryo Art Space, yang sempat saya temui di Bandung saat menghadiri pembukaan pameran di Selasar Sunaryo. Dan mungkin juga Pameran Seni The Loss of  The Real ini dihelatkan karena kesadaran yang dimiliki oleh Sang Kurator akan dampak dari kemajuan teknologi, yang apabila tidak kita sadari, akan memberikan masalah baru yang cukup serius dan membutuhkan perhatian dari kita semua.

Dari tulisan di website Selasar Sunaryo saya mengetahui bahwa Pameran Seni The Loss of The Real adalah salah satu rangkaian acara yang ada di Selasar Sunaryo Art Space, yang diadakan pada tanggal 19 Juli hingga 1 Agustus 2010, dan pembukaan pada hari  Minggu, 18 Juli 2010. Dalam acara pameran ini, Kurator Selasar Sunaryo Art Space, Agung Hujatnikajenong, mengetengahkan tema kuratorial The Loss of The Real yang mengangkat fenomena tentang kehilangan yang nyata akibat dari kemajuan teknologi dan perkembangan dunia digital. Lebih jauh lagi, pameran ini pada dasarnya merupakan suatu provokasi, yang mencoba menyadarkan khalayak akan permasalahan yang sedang terjadi di masyarakat.

Pameran ini mencerminkan situasi di abad informasi yang membuat dunia semakin terkoneksi namun menjadi kian transparan. Kenyataan di abad 21 telah mengalami suatu pergeseran dari kenyataan yang selama ini dikenal oleh manusia ke suatu kenyataan lingkungan yang dimediasi oleh teknologi dan media global, yaitu televisi, internet, dan budaya digital. Media menghubungkan kita sangat dekat, tetapi akhirnya memisahkan kita dari ‘yang sebenarnya’.

Pameran The Loss of The Real menampilkan karya-karya dari para seniman yang berasal dari Indonesia, Jepang, Perancis, dan Pakistan. Pameran ini bertujuan untuk membahas seni masa kini, sebagai daerah yang bebas dari linear dan progresifitas sejarah dari aspek teknologi. Pameran ini bukan berfokus pada pentingnya penggunaan suatu teknologi, melainkan menekankan perantaraan pesan, yang berhubungan dengan keindahan seni dan pendekatan sosial terhadap yang ‘nyata’ dan yang ‘khayal’.

Peserta yang berpartisipasi dalam acara ini antara lain adalah Daito Manabe (Jepang); Takao Minami (Jepang); Romain Osi (Perancis); Benjamin L. Amant (Perancis); Amar Mahboob (Pakistan); Agan Harahap (Indonesia); Forum Lenteng (akumassa dan Jurnal Footage) (Indonesia); Bandung Oral History (Indonesia); Deden Hendan Durahman (Indonesia); Dimas Arif Nugroho (Indonesia); Jompet (Indonesia); Prilla Tania (Indonesia); Venzha/House of Natural Fiber (Indonesia); dan Widianto Nugroho (Indonesia).

Saya sendiri yang ikut aktif dalam program akumassa milik Forum Lenteng, mendapatkan kesempatan untuk mengikuti kegiatan display, sehari sebelum pembukaan pameran. Yang diutus dari Forum Lenteng untuk menghadiri pembukaan adalah saya, Rio, Bagasworo Aryaningtyas, dan Tienatalia Sitorus.

Saat display di Selasar Sunaryo Art Space.

Hari itu, kami berempat bekerja penuh selama satu hari menempel berbagai sketsa dan coretan-coretan tangan para aktivis akumassa dari berbagai workshop di dinding ruangan pameran dengan lem kayu, persis seperti Antonio Ricci yang menempel poster di dinding gedung-gedung kota dalam filem The Bicycle Thief. Pada malam harinya, kami diizinkan menginap di penginapan yang telah disediakan oleh pihak Selasar Sunaryo. Keesokan harinya, pada pagi hari sebelum kembali bekerja di ruangan pameran untuk finishing terakhir, kami berempat menikmati sajian kopi hangat sambil menikmati pemandangan yang terbentang di depan penginapan. Pikiran saya pun melayang kepada kebiasaan Danny dan teman-temannya yang menikmati pagi hari sebangun dari tidur sambil menikmati anggur dalam cerita Dataran Tortilla.

Suasana bilik pameran Forum Lenteng ketika proses men-display karya.

Acara pembukaan Pameran Seni The Loss of The Real dimulai pada pukul tujuh malam. Jadwal itu adalah jadwal yang tertera di katalognya, tetapi seingat saya, acara baru dimulai kira-kira setengah jam setelah adzan Isya berkumandang. Sang Kurator, Agung Hujatnikajennong memberikan kata sambutan dalam Bahasa Inggris, di mana isinya lagi-lagi menekankan tentang pentingnya kesadaran kita akan fungsi dari teknologi dan media yang sesungguhnya sehingga kita tidak terbuai dalam kenyataan yang berbeda itu.

Beberapa saat setelah acara pembukaan, saya menyempatkan diri untuk mengobrol, yang sebenarnya lebih terkesan seperti wawancara, dengan Mas Agung (begitulah saya menyapanya) sekadar untuk mengetahui kesan dan pesannya tentang pameran yang ia kuratori. Percakapan saya dengan Mas Agung sempat saya rekam di handphone saya.

Saya : Ini kan, udah selesai pembukaan. Pertama sekali pengen tahu perasaan Mas Agung setelah acara pembukaan ini?

Agung : Ya, seneng aja, ya, udah dibuka. Tujuannya kan emang supaya bisa dilihat banyak orang, jadi ngelihat antusias semua orang yang ke pameran ini, jumlah orang kayaknya lebih dari dua ratus, ya, itu saya pikir udah tanda bagus lah untuk pameran ini. Mungkin untuk hari-hari selanjutnya akan tambah banyak lagi.

Saya : Mengenai The Loss of The Real sendiri, itu konsepnya bisa Mas Agung jabarkan, nggak?

Agung : Ya konsepnya sebenarnya, judulnya sendiri itu kayak provokasi gitu, ya. Provokasi bahwa, ng… apa yang selama ini kita sebut sebagai kenyataan itu sudah hilang, gitu lho! Sudah hilang karena, ng… mungkin udah sepuluh dua puluh tahun belakangan, kan, kehidupan masyarakat, gitu, terutama, sudah tidak bisa terpisahkan lagi dengan media, gitu, dan media… yang sangat dominan sekarang ini adalah digital media, gitu kan? Digital media itu, ya, memang dulu dia diciptakan untuk, ng… membuat komunikasi menjadi lancar, tapi di sisi lain juga dia memisahkan interaksi langsung, ng… fisikal, misalnya orang sekarang lebih pengen ngomong lewat handphone atau lewat internet, gitu, daripada ketemu langsung. Jadi, yang dulu kita sebut nyata, misalnya saya ketemu kamu sekarang, itu sekarang udah tergantikan lah oleh kebudayaan baru. Jadi itu, ng… latar belakangnya kenapa judul itu, gitu. Nah, pameran itu sendiri justru pengen menawarkan sesuatu yang, ng… apa namanya, melawan provokasi itu sendiri, gitu. Jadi, makanya karya-karya yang ditampilkan justru tidak semuanya digital, gitu, dan tidak semuanya, ng… juga, berbicara soal… cuma berbicara soal teknologi, gitu, teknologi media, tapi ada pendekatan sosial, seperti Forum Lenteng, kemudian ada yang sangat analog, karya-karya yang kinetik, analog, gitu, juga karya-karya yang menggunakan programming yang sangat advanced, gitu lho! Itu saya campur aja, dulu kan ada pembagian antara ‘media lama’ dan ‘media baru’, nah, sekarang itu saya pikir, juga untuk melawan provokasi yang tadi itu, ya. Saya pikir, sebenarnya kenyataannya nggak gitu juga, bahwa sebenarnya yang analog, yang kinetik dan tradisional gitu, ya, juga sebenarnya masih bisa berbicara sebagai medium artistik.

Saya : Ya, dari pengutaraan Mas Agung tadi, berkaitan dengan tulisan yang Mas bikin di sana itu, ya, yang katanya digital itu bukan segalanya, bahwa sesungguhnya interaksi di masyarakat itu masih bisa ada. Nah, sekarang yang pengen saya pribadi, pengen tahu, pendapat Mas gimana, karena perkembangan teknologi jaman sekarang nggak bisa dihambat. Itu bagaimana? Interaksi semakin berkurang, teknologi semakin maju…?

Agung : Makanya sebenarnya dengan beragam media ini, dengan memasukan lagi media-media analog, ya, sebenarnya ya media digital memang akan semakin dominan, gitu ya, dalam kehidupan masyarakat, tapi yang penting adalah bagaimana refleksi kita terhadap media itu sendiri, bahwa dia itu cuman sebagai… apa ya, sebagai, ng… perangkat lah, bukan sesuatu yang… seharusnya… merubah kebudayaan kita, gitu lho! Justru yang, ng… apa namanya… diharapkan melalui pameran ini, tuh, kita punya sikap-sikap reflektif, gitu ya, reflektif terhadap media, punya jaraklah, gitu. Punya jarak kritis juga, tidak semerta-merta hanya menjadi user yang… yang pasif, gitu ya, tapi punya… sadar media, gitu! Punya jaraklah, sikap reflektif itu, saya pikir penting, itu.

Saya : Terus mengenai konsep pamerannya sendiri, ini kan mengenai digital, terus kenapa Mas Agung menyajikannya dengan, kalau Mas Agung kemarin istilahkan, ‘ribut’ gitu. Kenapa harus disajikan dengan art yang seperti itu?

Agung :  Karena sebenarnya seni media sendiri kan sebuah disiplin yang lahir dari teknologi media itu, dan, ng… apa namanya… saya pikir perkembangan artistik, ya, pokoknya perkembangan seni media ini sebenarnya merefleksikan apa yang terjadi, gitu. Yang terjadi itu sebetulnya, ya, yang… yang digital itu bukan yang paling semuanya lah, bukan yang segalanya itu, yang saya bilang. Justru dengan menghadirkan karya-karya yang analog, yang mungkin yang ‘ribut’ tadi, ada yang pake chemical, ada yang pake… yang kaya Forum Lenteng persentasinya lebih kepada metode, bagaimana Forum Lenteng membuat proyek-proyeknya, gitu ya, itu kan sisi-sisi yang menunjukkan bahwa seniman-seniman itu justru punya jarak kritis terhadap media, jadi media cuman sekadar perangkat aja, gitu. Yang lebih penting adalah mungkin pesan sosialnya yang bisa memancing refleksi itu.

Saya : Pendapat pribadi Mas Agung sendiri terhadap akumassa milik Forum Lenteng, bagaimana?

Agung : Saya suka banget, ya. Sama proyek-proyeknya saya suka banget. Ng… dan itu saya pikir bentuk proyek, ya, bentuk inisiatif Forum Lenteng, akumassa itu bentuk inisiatif yang cocok di negara-negara dunia ketiga, saya pikir. Jadi justru media itu harus diberdayakan, bukan jadi sebagai alat panutan, gitu.

Saya : Terus, terakhir, harapan Mas Agung kedepannya terhadap pameran ini gimana?

Agung : Ya pameran itu, kan, pada dasarnya harus ada… kalau dibilang hasil mungkin… paling tidak itu, ng… ada kesadaran lah yang timbul, gitu, di penonton pameran, gitu ya. Ng… ya untuk bisa lebih, lebih punya jarak aja pada media.

Demikianlah percakapan singkat saya dengan Sang Kurator Selasar Sunaryo Art Space selepas acara pembukaan Pameran Seni The Loss of The Real. Pesan yang paling penting adalah bagaimana kita bisa menimbulkan kesadaran kita terhadap media, bahwa teknologi bukan segalanya, dan bahwa sesungguhnya media bisa menjadi alat yang memiliki fungsi luar biasa apabila kita bisa memanfaatkannya dengan tepat. Hal itu juga selalu ditekankan oleh para fasilitator kepada saya sewaktu mengikuti workshop akumassa di Forum Lenteng.

Pengalaman mengikuti pameran seni di Bandung itu banyak memberikan bahan pembelajaran kepada saya. Pengalaman itu tidak akan terlupakan, apalagi cuaca dingin yang selama satu hari membuat badan saya menggigil, terutama pada saat malam pembukaan pameran. ***

Oleh-oleh dari Ancol: Pentingnya Strategi Politik Bagi Komunitas

Artikel ini sudah pernah terbit di situs web AKUMASSA, dengan judul yang sama, tanggal 4 Juli 2010.

Beberapa waktu yang lalu, saya berkesempatan menghadiri pameran di North Art Space, Pasar Seni Jaya Ancol. Yang menarik, terutama bagi saya, adalah kemasan pamerannya, yang belum pernah terpikirkan oleh saya sebelumnya.

Para pengunjung pameran FIXER di North Art Space, Ancol.

Selama ini saya mengira apa yang dipamerkan dalam sebuah acara pameran adalah karya-karya seni atau teknologi. Akan tetapi, apa yang dipamerkan dalam acara tersebut sungguh berbeda. Saya takjub, karena yang dipamerkan bukan hanya sekadar karya, tetapi juga komunitas-komunitas atau organisasi-organisasi pilihan, yang aktif dalam kegiatan seni, yang tersebar di Indonesia. Bagi saya, pameran yang seperti itu merupakan sesuatu yang baru.

FIXER, Pameran Ruang Alternatif & Kelompok Seni Rupa di Indonesia. Begitulah kalimat yang tertulis di sampul buku katalog berwarna biru, bergambar labirin yang sedikit cembung, yang memuat berbagai informasi dan penjelasan tentang komunitas-komunitas yang menjadi peserta dalam pameran tersebut.

Sampul katalog pameran FIXER.
Acara pembukaan pameran FIXER.

Awalnya saya berpikir, mungkin yang dipamerkan hanyalah karya-karya yang telah dibuat oleh masing-masing komunitas. Namun, setelah mengikuti beberapa diskusi yang diadakan dalam acara itu, saya berkesimpulan bahwa memang komunitas-komunitas pilihan itu lah yang sebenarnya dipamerkan, di mana di dalam gedung pameran itu dipajang banyak foto, video dan karya seni rupa lainnya milik setiap komunitas beserta juga dengan profilnya masing-masing.

FIXER, acara pameran yang dikuratori oleh Ade Darmawan dan Rifky Effendy itu, diselenggarakan pada tanggal 19 hingga 28 Juni 2010. Diikuti oleh 21 komunitas/organisasi dari berbagai kota, diantaranya Padang Panjang (Sarueh), Jakarta (Akademi Samali, Atap Alis, Forum Lenteng, Kampung Segart, Maros Visual Culture Initiative, ruangrupa, Serrum, dan Tembok Bomber), Bandung (Asbestos Art Space, Common Room Networks Foundation, dan Videolab), Jatiwangi (Jatiwangi Art Factory), Cirebon (Gardu Unik), Semarang (Byar Creative Industry), Yogyakarta (House of Natural Fiber, Ruang Mes 56, dan Performance Klub), Malang (Malang Meeting Point), Surabaya (Urbanspace), dan Makassar (Ruang Akal).

Komunitas Gardu Unik (Cirebon) dan Sarueh (Padang Panjang) juga tergabung dalam komunitas jaringan akumassa.

Dari semua benda yang dipamerkan itu, di mana saya masih berpikir sampai saat ini bahwa n=benda-benda itu pastinya mewakili kegiatan dan program yang dimiliki oleh setiap komunitas, yang menarik perhatian saya adalah karya dari House of Natural Fiber (HONF), yang memajang karya berupa rangkaian alat-alat yang sering saya lihat di ruang laboratorium kimia. Salah satu karya dari HONF ini memperlihatkan tentang pembuatan cairan dari buah-buahan, yang kemudian menghasilkan suara.

Karya House of Natural Fiber (HONF).

Setelah bertanya ke sana kemari, saya baru mengetahui bahwa karya itu adalah contoh dari karya seni media baru. Kemudian ada juga karya video dari Forum Lenteng yang berjudul “Bilal”. Adegan yang terlihat adalah seorang anak berdandan  punk sedang mengumandangkan azdan. Aneh tapi menarik, mengundang tanya dan takjub dalam kepala saya.

Pada acara pembukaan pameran, saya langsung membaca beberapa tulisan dalam buku katalog yang saya dapat di meja tamu. Dan tulisan dari Ade Darmawan langsung membuat saya mengerti alasan mengapa pameran ini dihelatkan.

Selama ini, produksi gagasan seni rupa tidak diimbangi dengan dukungan dan pengembangan elemen lain seperti kritik, kajian, pendidikan, penerbitan, serta fasilitas ruang sebagai sarana pembentuk wacana, pendukung apresiasi, serta penyebaran informasi dan promosi, baik dalam skala nasional maupun internasional. (Ade Darmawan, Juni 2010)

Begitulah kutipan dari tulisan berjudul “Memperbaiki Mata Rantai Siklus Gagasan”. Lebih lanjut Ade menjelaskan dalam tulisannya:

Sejumlah inisiatif seniman yang muncul kemudian, akhirnya tak hanya mencoba melengkapi dan memperbaiki terputusnya mata rantai siklus produksi gagasan seni rupa tersebut, namun juga membawanya ke dalam konteks masyarakat yang lebih luas. (Ade Darmawan, Juni 2010)

Setelah membacanya, saya menyadari bahwa usaha dari komunitas-komunitas ini sungguh mulia. Mereka mencoba mengemas seni menjadi sesuatu yang baru dengan memanfaatkan perkembangan teknologi dan media sehingga karya-karya yang diciptakan menjadi tidak kaku dengan aturan yang konvensional. Saya rasa, tidak ada salahnya mengatakan para aktivis-aktivis yang tetap bertahan dengan komunitas yang mereka bangun ini sebagai pahlawan.

Namun begitu, saya masih melihat beberapa kekurangan, bukan dari acara pameran FIXER-nya, melainkan dari beberapa komunitas-komunitas ini. Tentu saja hal ini mungkin hanya pendapat pribadi saya, tetapi mungkin juga pendapat saya itu benar. Pendapat ini muncul ketika saya menghadiri acara diskusi pada hari ke tiga pameran, 20 Juni 2010. Tema diskusi kali itu adalah “Strategi artistik di ruang kota dan warga”. Dalam diskusi itu, yang menjadi bahasan adalah mengenai langkah-langkah dari masing-masing komunitas dalam melakukan negosiasi terhadap masyarakat berhubungan dengan aktivitas berkesenian mereka di ruang publik. Saya masih ingat satu pernyataan dari peserta diskusi yang sangat menggelitik telinga saya. Kira-kira pertanyaannya seperti ini, “Apa strategi kalian dalam melakukan negosiasi dengan masyarakat, karena ruang-ruang yang kalian bubuhkan dengan karya seni itu adalah milik publik/umum, belum tentu semua masyarakat menyetujui dengan aksi kalian?”

Pertanyaan itu dijawab oleh masing-masing komunitas yang duduk di meja depan. Akan tetapi, saya tidak menemukan inti jawaban yang memuaskan. Bahkan menurut saya, jawaban dari dua atau tiga komunitas itu sedikit ke luar jalur dari inti pertanyaan yang dilontarkan. Sayangnya, saat itu saya tidak memilki cukup keberanian untuk bertanya, karena merasa masih belum mengetahui apa-apa dan takut keliru untuk menyampaikan pendapat atau pertanyaan.

Diskusi bertema “Strategi Artistik di Ruang Kota dan Warga”.

Pertanyaan selanjutnya, yang menurut saya juga penting, yang dilontarkan oleh orang yang sama kepada komunitas yang melakukan presentasi, adalah mengenai strategi politik, yaitu mengenai standar-standar yang dimiliki oleh komunitas. Kira-kira pertanyaannya seperti ini, “Apa tolak ukur kalian dalam menentukan bahwa program yang kalian jalankan telah berjalan dengan baik dan sesuai tujuan, seperti contohnya, dalam pendidikan terdapat standar kurikulum untuk menentukan sukses atau tidaknnya pendidikan itu berjalan. Bagaimana cara kalian mengukur itu?”

Lagi-lagi jawaban yang diberikan tidak memuaskan saya. Karena perwakilan dari komunitas yang melakukan presentasi saat itu tidak menyebutkan standar-standar yang dimaksudkan.

Hingga acara diskusi itu selesai, kegelisahan saya terhadap hasil diskusi saya simpan saja. Karena seperti yang saya katakan sebelumnya, saya tidak memilki cukup keberanian untuk bertanya.

Dari pelajaran yang saya dapatkan tentang komunitas atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di kampus, strategi politik itu merupakan suatu hal yang penting. Karena strategi itulah yang akan menentukan apakah suatu organisasi dapat bertahan atau tidak.

Penyelenggaraan acara pameran FIXER ini, menurut saya, merupakan salah satu cara dari perwujudan strategi politik tersebut. Membangun jaring-jaring yang menghubungkan setiap komunitas di Indonesia akan meningkatkan kekuatan dalam menempuh jalan menuju generasi yang maju. Saya berharap, di lain waktu saya dapat menghadiri acara-acara yang serupa seperti pameran FIXER ini. Selain makanan kecil yang disajikan lumayan lezat dan hiburan yang meriah pada acara pembukaan, kegiatan seperti ini banyak menambah wawasan saya sebagai mahasiswa yang masih baru. ***