Exquisite Corpse Jaman Now

Tulisan ini adalah catatan reflektif atas sebuah eksperimen terkait praktik seni gambar bergerak yang dilakukan secara kolektif menggunakan pendekatan performans di media sosial pada dini hari, tanggal 26 Mei 2019.

27 Maret 2017, saya dan Gelar Soemantri membuat sebuah draf yang rencananya akan kami terbitkan kala itu menjadi semacam manifesto tentang karakteristik medium gambar bergerak masa kini, yaitu media sosial. Kami secara spesifik mengkaji kemungkinan-kemungkinan artistik dari teknologi media sosial Instagram. Dalam rangka proyek Turn Left After Sunday Market, draf manifesto itu kami beri judul “KINOSLIDE”—meskipun belakangan draf itu tidak pernah terbit secara resmi sebagai manifesto.

Draf manifesto itu dibuat berdasarkan pemikiran yang mencoba menanggapi tulisan Hafiz di Jurnal Footage yang mengulas video klip salah sebuah lagu Radiohead yang berjudul House of Card. Menggunakan pisau teoretik “Kino Brush”, Hafiz menulis:

Format simbolik dalam bahasa Manovich mengandaikan sebuah era baru terhadap sinema. Pada masa filem-filem realisme, perekaman kamera merupakan periode di mana visual selalu mengandaikan narasi sebagai representasi terhadap realitas. Hal inilah yang dibongkar oleh Dziga Vertov dengan Manifesto Kino Eye. Berdasarkan kaidah-kaidah Kino Eye Vertov inilah kemudian direfleksikan oleh Lev Manovich menjadi kino-brush yang mengasumsikan pengambilan data sebagai pengganti perekaman kamera, yang berdampak pada proses representasi numerik. Kino brush mengandaikan sinema yang basis representasi database. … Kino Eye mengandaikan skema-skema representasional yang sudah tersedia di realitas, sedangkan … kino brush mengandaikan adanya modifikasi terhadap sinyal gelombang yang sudah ada.

________… House of Cards merupakan satu di antara ekspresi baru yang berusaha keluar dari semangat kebudayaan narasi. Sebuah semangat interaktifitas [sic!] yang merupakan keniscayaan teknologi media zaman sekarang.”[1]

 

Menanggapi gagasan kino brush dan fenomena media sosial, saya dan Gelar berspekulasi tentang gerakan “kinoslide”, yaitu gerakan yang relevan untuk era ketika aksi “menyentuh dan menggeser citra di atas layar telepon genggam” menjadi gelagat baru bagi manusia untuk mencerap makna susunan gambar. Jika Kino Eye dan kino brush masih menjadi fakta tentang kewajiban penonton untuk menyimak gambar bergerak (moving image) secara berturutan sesuai dengan urutan yang disusun oleh pembuat, ide “KINOSLIDE” memungkinkan pencerapan pesan lewat urutan yang acak: bisa dari kiri ke kanan, bisa juga sebaliknya, atau bahkan dari atas ke bawah dan sebaliknya. Dalam “KINOSLIDE”, aksi “menggeser” dan “menyentuh” layar yang dilakukan oleh penonton (yang menonton melalui layar telepon genggam) merupakan bagian terpenting dalam proses menonton yang dialaminya. Salah satu teknologi yang memungkinkan situasi seperti ini adalah teknologi gambar bergerak yang difasilitasi media sosial semacam Instagram, baik itu yang ada di bagian Kronologi (feed) ataupun yang ada di fitur Stories.

11 Januari 2018, saya kembali memikirkan ide tentang “KINOSLIDE” karena tengah mempelajari teori “deframing” yang dicetuskan oleh Pascal Bonitzer. Untuk menguji pemikiran saya dalam mengaitkan ide “KINOSLIDE” dan “deframing” itu, saya membuat sebuah “esai” di Instagram Stories, yang mana isinya memaparkan keterkaitan antara kedua konsep tersebut sekaligus mempraktikkannya di Instagram Stories (karena saya berpikir, fitur Stories dari Instagram adalah teknologi yang cukup efektif untuk mempraktikkan kemungkinan tersebut).

Dengan menggunakan aplikasi perekam layar, saya membuka lagi arsip Instagram Stories di akun pribadi saya, dan merekam simulasi teoretik yang saya buat kala itu. Sebagaimana dapat dilihat pada video di bawah ini:

Sejak itu, saya selalu membayangkan adanya sebuah inisiatif untuk bereksperimen dengan fitur Instagram Stories dalam membuat karya sinematik (atau yang memiliki motivasi untuk membongkar ulang konsep konstruksi sinematik itu).

Pada tanggal 2 September 2018, saya melakukan simulasi sekali lagi. Saya memancing beberapa teman pengguna Instagram untuk beramai-ramai “menenggelamkan” teks yang saya buat di Instagram Stories pada akun pribadi saya, dengan cara me-repost atau me-reshare setiap Stories yang memuat teks tersebut. Hasilnya, tumpukan demi tumpukan teks beragam warna yang memunculkan pola artistik tertentu. Sebagaimana yang dapat dilihat pada rekaman dokumentasi di bawah ini (saya merekamnya kembali menggunakan aplikasi perekam layar):

Dari tiga pengalaman yang saya ceritakan di atas, sebenarnya saya jadi memikirkan betapa potensi “tagging”, “repost”, dan “reshare” yang ada pada Instagram Stories bisa memungkinkan kita, para pengguna Instagram, secara kolektif mengkonstruk suatu naratif sebagaimana membuat film.

Sudah ada beberapa pembuat film yang mencoba memecahkan kemungkinan untuk membuat film dengan (atau diperuntukkan pada) Instagram Stories. Contohnya, adalah akun @eva.stories, yang membuat narasi tentang seorang tokoh korban kekejaman Nazi.

Dalam narasi @eva.stories, si tokoh utama mempunyai sebuah smartphone dan akun media sosial Instagram, lalu setiap hari mengabarkan keadaannya selama berada di kamp ke Instagram Stories miliknya. Namun, narasi yang dibangun pada proyek @eva.stories justru menjadi aneh dan tidak konteks karena selama cerita berlangsung, tidak disebutkan tentang kehadiran smartphone milik si tokoh dan juga tidak ada logika narasi yang menunjukkan bahwa kehadiran smartphone (berfasilitas media sosial itu) adalah sesuatu yang lumrah. Nyatanya, smartphone dan Instagram Stories milik si tokoh hanya menjadi subjek gaib layaknya kamera sutradara, sementara tokoh-tokoh yang lain di dalam cerita film tersebut tidak menyadari kehadiran smartphone yang digunakan si tokoh utama. Dengan kata lain, smartphone dalam konteks film @eva.stories masih menjadi mata orang ketiga, dan tidak menjadi bagian dari cerita film itu sendiri. (Lagipula, secara naratif, @eva.stories agak memaksakan keberadaan smartphone tersebut dan melupakan fakta sejarah bahwa pada masa itu, smartphone adalah benda yang belum ada di dunia).

Sementara, saya membayangkan bagaimana penggunaan (atau aksi menggunakan) atau keberadaan dari Instagram Stories itu juga menjadi bagian yang penting (dan menjadi subject matter) dari konstruksi sinematik yang dibuat. Selain itu, semestinya (dengan mengamini potensi dari “kolektivitas” yang ada pada media sosial), semua orang bisa berpartisipasi dalam pembangunan konstruksi susunan gambar. Para pengguna akun bisa menjadi penonton sekaligus pembuat (atau penyumbang) shot dan scene. Jadi, karya sinema yang dibuat menjadi semacam “viewer-generated montage”.

Gambar Exquisite corpse (cadavre exquis) oleh Noah Ryan dan Erica Parrott, dari Exquisite Corpse Zine. (Sumber: Ericaparrott [CC BY-SA 3.0], via Wikimedia Commons).

Saya semakin yakin bahwa ide itu bisa dieksperimentasikan ketika membaca sebuah praktik kesenian yang disebut Exquisite corpse, yaitu sebuah metode untuk membuat kumpulan kata atau gambar secara kolektif, di mana setiap kolaborator menyumbangkan komposisi secara bergantian dengan menanggapi konten yang dibuat oleh kolaborator sebelumnya, dan baru boleh melihat hasil akhir saja. Di mata saya, metode ini, semestinya bisa diterapkan pada Instagram Stories dengan memanfaatkan fitur hashtag dan mention, serta repost atau reshare. Oleh karena itu, tanggal 11 Mei 2019, saya menyerukan ide ini ke beberapa teman.

Pada tanggal 26 Mei 2019, saya (bersama dengan Dhanurendra Pandji dan Luthfan Nurrochman) memancing suatu performans menggunakan Instagram Stories. Sedikit demi sedikit, kami mengkonstruk suatu susunan sinematik menggunakan Instagram Stories dan mengajak sejumlah orang (para pengguna akun Instagram lainnya) untuk terlibat. Akhirnya, terciptalah beberapa konstruksi yang saling berbeda satu sama lain meskipun footagefootage yang kami gunakan merupakan materi-materi yang akarnya sama (dan terdistribusikan melalui fitur reshare dan repost tersebut). Alur cerita pun menjadi bercabang-cabang. Orang yang tidak berminat menyumbangkan konten, bisa menyimak saja, tapi mereka diberi peluang untuk mengikuti alur cerita dari sudut pandang yang berbeda-beda. Ia bisa mengikuti cerita dari akun Instagram saya (@manshurzikri), bisa juga dari akun Instagram Pandji (@dhanupandji), atau Luthfan (@loethvan), atau dari milik Maria Silalahi (@imarea0), Dhuha Ramadhani (@dhuha.ramadhani), Dini Adanurani (@diniada), Julinanda Pychita (@_witchslut), atau Syarullah (@matamesin) (beberapa orang yang berhasil kami pancing).

Berikut adalah rekaman dari Instagram Stories saya yang dibuat dalam rangka proyek yang kami beri nama EC project (singkatan dari Exquisite corpse project) tersebut:

Dari beberapa contoh video yang saya letakkan di atas, kita pun bisa mengingat diskusi mengenai performativitas. Dalam apa yang dilakukan oleh teman-teman pengguna Instagram melalui konstruksi sinematik yang diujicobakan itu, kemungkinan-kemungkinan dari Instagram Stories tidak semata diungkapkan lewat penjelasan teks, tetapi secara sekaligus di-perform-kan dengan menunjukkan secara gamblang mekanisme atau kinerja dari teknologi smartphone dan fitur-fitur yang dimiliki Instagram itu sendiri. Dengan kondisi yang demikian, penonton diajak untuk menelusuri titik-titik informasi seperti membangun konstruksinya sendiri terkait sebuah isu ketika berusaha menapakinya lewat Twitter, Facebook, atau platform-platform online lainnya. Jika biasanya para pengguna secara sadar tidak sadar dituntun untuk mengambil kesimpulannya sendiri tentang isu sosial tertentu yang diribut-ributkan orang di media sosial, lewat eksperimen EC project, pengguna akun Instagram yang memosisikan diri menjadi penonton diajak untuk membangun konstruksi ceritanya sendiri, bergantung pada akun Instagram pembuat cerita yang mana yang ingin ia ikuti.

Namun, setelah saya lihat-lihat, konstruksi yang dibuat oleh pengujicoba EC project masih terjebak pada penggunaan teks yang sangat dominan, sedangkan eksplorasi visual (gambar bergerak) dengan teknik pengambilan gambar yang bersifat dokumenter tidak dimaksimalkan. Meskipun dalam konteks media baru, teks yang terpampang di atas layar dengan sendirinya akan bermontase pada image-image yang bersanding dengannya, tapi penggunaan teks yang dilakukan oleh para pegiat EC project belum berada pada kesadaran montasional yang dipaparkan oleh Manovich.

Saya kira, eksplorasi visual (tanpa bergantung pada bantuan fitur teks Instagram Stories) harus dimaksimalkan pada eksperimen berikutnya. Sebab, layar vertikal, akhirnya, telah menjadi vokabulari faktual kita hari ini.

 

Jakarta, 26 Mei 2019, pukul 07:23 WIB.

 

Endnotes:

[1] Lihat Hafiz (26 Januari 2010), “House of Card: Dari Kino Eye ke Kino Brush”, di situs web Jurnal Footage. Diakses tanggal 26 Mei 2019.

Tentang berpindah

Beberapa hari lalu saya membaca sebuah artikel seorang blogger. Isinya manis. Saya mengunjungi blognya karena si penulis me-repost pernyataan saya tentang Feminisme di Instagram Stories. Akun Instagram kami memang saling mengikuti.

Kalau saya ingat-ingat, alasan saya mengikuti Instagramnya—kapan tepatnya saya mulai mengikuti, saya lupa—adalah karena perempuan ini berbasis di Yogyakarta dan—sebagaimana yang saya lihat di daftar follower miliknya—ia juga banyak mengikuti akun para pegiat kebudayaan yang saya kenal. Selain itu—lagi-lagi kalau saya tidak salah ingat—alasannya juga karena dia sempat terlibat kegiatan seni yang di dalamnya saya juga berpartisipasi. Atau bukan? Apa pun itu, tapi biasanya, saya memang akan mem-follow akun Instagram seseorang jika isi halaman akun miliknya menarik atau menggambarkan suatu aktivitas tertentu di daerah tertentu; gelagat ini semacam membaca peta. Alasan lainnya: untung-untung dapat teman baru. Alasan yang lebih konyolnya: supaya di-folback—alasan yang wajar-wajar saja, toh?

***

Pernyataan tentang Feminisme yang saya buat di Instagram Stories itu sebenarnya merupakan tanggapan saya pribadi terhadap kasus Jojo (Jonatan Christie, atlet Asian Games). Awalnya, saya ingin menganggap lalu saja kasus itu. Tapi, dua artikel di situs web Magdalene, yang mencoba menanggapi kehebohan itu dengan maksud membela kaum perempuan dengan/dari sudut pandang teoretik dan juga menegaskan sikap dan posisi kaum Feminis, mendorong saya untuk ikut berkomentar pula. Dalam komentar itu, saya pun turut membela Feminisme, tetapi berusaha mengutarakan pendapat sebagai jalan tengah. Intinya: kita harus menghindari hipokrisi dan hiperkritikal(itas); nyatanya, hipokrisi dan hiperkritik terhadap Feminisme masih menjadi gelagat umum dari orang-orang yang tidak menyetujui paham ini.

Pernyataan saya di Instagram Stories @manshurzikri

Ada banyak kampanye tentang kesetaraan gender yang menghimbau berbagai elemen masyarakat supaya mau dan tak segan-segan menyatakan dirinya berpaham Feminisme, terlepas apa jenis kelaminnya. Kesediaan yang didorong-dorong itu, mungkin, dianggap dapat mengakumulasi efek positif dari gerakan Feminisme kontemporer. Ketika kampanye-kampanye sejenisnya sampai ke telinga saya, kerap saya bertanya kepada diri sendiri: bersediakah saya menyatakan diri sebagai seorang Feminis?

Ketika saya masih kuliah di UI dulu, ada satu-dua orang teman bertanya: “Memangnya ada Feminis yang laki-laki?” Saya kurang tahu. Tapi, dalam kehidupan nyata, di lingkungan terdekat saya, saya melihat ada banyak laki-laki yang cara berpikirnya (dan kehidupan sehari-harinya) sangat mencerminkan gagasan-gagasan Feminisme meskipun mereka tak pernah menyatakan diri sebagai seorang Feminis. Jujur saja, dari merekalah saya juga banyak belajar tentang esensi dari ide dan gerakan tersebut, hingga hari ini, selain dari perempuan-perempuan yang (di mata saya) sangat Feminis tapi mereka tak ambil pusing dengan “gelar” itu—karena yang mereka utamakan adalah esensi keadilan bagi perempuan ketimbang mempublikasikan diri sebagai seseorang yang memegang Feminisme.

Di salah satu obrolan yang saya ingat, seorang teman saya berujar: “Kartini berbicara tentang kesetaraan karena melihat semuanya sebagai manusia; sudut pandangnya adalah sudut pandang kemanusiaan.” Saya menginterpretasi pendapat teman saya itu, begini: Keadilan adalah hal yang mutlak diperjuangkan dan diberikan kepada siapa pun, dan ini bukan semata soal mencari kesetaraan antara perempuan dan laki-laki saja; jika dunia tercipta tanpa adanya perbedaan itu pun, perjuangan mencari keadilan akan tetap ada. Artinya, yang menjadi penekanan dari pendapat teman saya itu, sebagaimana ia merujuk Kartini, ialah keadilan bagi setiap individu manusia, bukan lagi hanya persoalan di level tentang bagaimana gender yang satu bisa setara dengan gender yang lain.

Saya, jujur saja, tidak tahu (dan tidak yakin) apakah Kartini pernah berujar atau menulis pemikiran seperti itu. Jangan-jangan, itu hanya interpretasi teman saya saja terhadap pemikiran-pemikiran Kartini. Tapi, kalau memang benar Kartini pernah menerlukan gagasan itu, maka Kartini akan menjadi semakin keren di mata saya.

Tapi, bagaimanapun, gagasan tidak boleh melupakan konteks realitas; dan pada kenyataannya, “keadilan tanpa urusan gender” merupakan utopia; itu juga rentan menjadi cara pandang yang bisa menjebak kita kembali terjerat ke dalam dunia patriarki. Pendapat teman saya itu bisa saja dimanfaatkan oleh mereka yang, sadar tak sadar, mengamini kuasa kaum laki-laki terhadap perempuan. Pendapat semacam itu bisa saja juga menjadi pembenaran oleh patriarki untuk meredam kecerewetan para pejuang kesetaraan gender. Mengingat adanya kemungkinan itu, saya memilih untuk tak menyetujui pendapat teman saya sepenuhnya. Sebab, realitas tentang kaum perempuan yang selama ini bergerak memperjuangkan haknya di masyarakat, adalah fakta sejarah yang tak bisa dibantah. Seorang teman saya di Yogyakarta mengingatkan hal ini kepada saya beberapa minggu lalu ketika saya menemuinya di sebuah acara festival musik. Dengan kata lain, berbicara keadilan dalam konteks Feminisme memang tidak bisa dilakukan secara gegabah, apalagi dengan mengabaikan kenyataan bahwa gender yang disebut sebagai “perempuan” itu memang ada di kehidupan kita. Dalam konteks ini, keberpihakan menjadi hal yang penting. Perjuangan untuk kesetaraan gender, saya kira, akan gagal mencapai sasarannya jika tidak ada keberpihakan (terhadap perempuan).

Bersediakah saya menyatakan diri sebagai seorang Feminis? Alih-alih menjawab pertanyaan itu, saya punya pertanyaan lain: “Beranikah saya menyatakan diri sebagai seorang Feminis?”

Menjawab pertanyaan yang terakhir itu pun juga sangat sulit. Yakinkah saya bahwa Feminisme itu telah mendarah daging di tubuh saya ini? Jangankan saya, si orang yang tidak begitu menyelami dunia perjuangan perempuan ini, mereka yang sudah bertahun-tahun berjuang membela hak perempuan pun masih sering keliru menyerap dan menerapkan paham Feminisme. Itu yang sering saya lihat. Yang terjadi malah bumerang: bukannya membuat situasi menjadi baik, tingkah pongah dari beberapa orang yang telah mengaku sebagai Feminis itu tidak jarang malah melipatgandakan misogyny. Padahal, apa yang saya yakini adalah, Feminisme tidak bekerja dengan seruntulan, apalagi dengan kesombongan.

Jadi, terlepas apakah saya bersedia atau tidak, berani atau tidak, menyatakan diri sebagai seorang Feminis, sementara ini saya cenderung untuk meyakini bahwa Feminisme adalah sebuah paham yang akan mengantarkan masyarakat kita ke kehidupan yang lebih baik dan adil. Feminisme bukan semata teori, tapi ia layaknya sebuah keyakinan atau falsafah hidup yang menolak ketidakadilan dalam bentuk apa pun. Dan karena esensinya adalah kebaikan, maka tak ada alasan bagi saya untuk meragukan Feminisme. Kekeliruan-kekeliruan yang kerap terjadi dalam penerapan paham Feminisme, sebagaimana kekeliruan dari beberapa orang yang sering saya temui di kehidupan sehari-hari, adalah sebuah kewajaran. Bukankah sabda-sabda Nabi pun juga sering disalahartikan oleh umatnya? Apalagi Feminisme yang hanya ciptaan manusia biasa?

Yang menjadi penting di sini justru usaha untuk mendalami paham Feminisme itu setepat-tepatnya. Usaha itulah yang kemudian layak dinilai—dan di tingkat itu, ia menjadi persoalan moral. Tatkala semua orang berusaha mendalami Feminisme dalam rangka mencari esensinya, hipokrisi dan hiperkritikal (baik dari pihak yang mengaku Feminis maupun dari pihak yang meragukan Feminisme) akan dapat kita hindari; dan menghindari hipokrisi sekaligus hiperkritikal itu, menurut saya, adalah salah satu cara untuk mengurangi pertikaian. Bukankah begitu?

***

Artikel si blogger yang saya baca itu berkisah tentang “berpindah”—ruang, fisik, dan rasa. Di dalamnya, tersirat pula suatu refleksi tentang apa yang pada akhirnya tetap tinggal, juga tentang yang ditinggalkan, dan yang dibawa pergi. Semuanya mengalir sebagai kenangan yang bercampur pengalaman-pengalaman baru, di dalam ketersalinghubungan minat kultural yang dimiliki sebuah pasangan. Dapat diduga, tulisan itu adalah kisah nyata si blogger—sebagaimana dua buah foto yang terpampang di akhir tulisan itu. Kalau pun bukan, kuat saya meyakini itu terinspirasi dari pengalaman—entah milik ia si penulis atau teman/kerabatnya—yang benar adanya. Si blogger mengartikulasikan refleksinya itu dengan cukup jenaka.

Kisahnya itu memancing saya untuk mengingat-ingat sebuah puisi yang pernah saya buat mengenai Waktu. Bahwa, Waktulah yang paling ber-maha-kuasa selain Tuhan. Waktu bisa membuat apa yang pergi mendatangkan kebaruan; apa yang menyesalkan melahirkan pembelajaran.

Tadi malam, saya dan beberapa teman berbincang hingga larut tentang perasaan. Di antara kami, ada yang berusaha tidur karena sedang ditekan—atau menekan—perasaannya sendiri. Sebenarnya, bisa dibilang bahwa teman saya itu sudah berhasil “pindah” dari tekanan yang lebih lampau, tapi sepertinya pengalaman terbaru yang ia hadapi sekarang tak kalah merisaukan hatinya. Tidak sekali saya menggoda teman saya yang tengah berusaha tidur itu, dengan berkata: “Ceritalah!” Tapi dia menolak.

Teman saya itu memang sedang gundah gulana; dan gundah gulananya menyebabkan sebuah perubahan tindak-tanduk, karakternya sedikit “berpindah” dari keadaan yang biasanya. Itu semua saya simpulkan karena saya menyimak Instagram Stories miliknya. Betapa layar berdurasi 15 detik itu kini menjadi rupa-citra baru bagi orang-orang kontemporer yang saya kenal.

Dahulu Facebook—sebelumnya Friendster—kini Instagram. Tentu bukan mutlak pada tiga platform media sosial itu saja; orang lain mungkin punya pilihan yang berbeda. Misalnya, ada orang yang dulu gandrung Myspace—sedangkan saya tidak begitu meminatinya sejak dulu—sebelum mereka benar-benar meninggalkannya; atau sekarang ini, ada banyak teman saya yang mulai kembali berpindah ke Twitter. Saya pribadi lebih senang untuk tetap menjadikan WordPress sebagai ruang ekspresi utama—meskipun jarang membukanya belakangan ini—dibandingkan dengan platform media sosial lainya, yang begitu banyak jenisnya itu. Di internet, nyatanya, semua orang juga punya banyak pilihan untuk “berpindah” ruang, fisik (artifisial), dan rasa.

Saya juga harus mengingatkan diri sendiri: saya harus segera pindah. Sebab, semut-semut hitam mulai berjalan-jalan lagi di sebelah kotak putih saya—“Oh, saya sebenarnya sudah ‘berpindah’ ke kotak kuning!” Tapi, apakah sekarang saya mesti berteriak sekali lagi seperti dulu: “Hoi, tebing yang ingin kau panjat masih menunggu, ayo kembali ke rencana semula!” …? Geli juga, rasanya.

Sedetik lalu, saya jadi ingat—dan sekarang mulai bertanya-tanya juga—apakah si jurnalis sang pujaan hati itu sudah “berpindah” pula demi menghindari induk semangnya yang—katanya—menyebalkan? Lagian, di sana ada kamera CCTV, bayangkan saja?! Dan apakah ia juga sudah benar-benar “pindah” dari masa lalunya yang memberatkan, karena bukankah ia—sepertinya—sudah mulai banyak membaca literatur-literatur Feminis? Seandainya “Jalan Damai” bukan semata nama sebuah jalan, tetapi lintasan sungguhan yang bisa dilalui oleh orang-orang yang sulit “memindahkan diri” dari hal-hal yang memberatkan. Betapa masygul, jika niat baik sebuah hubungan terpaksa dihentikan karena adanya keengganan untuk “berpindah” keyakinan dan adat.

Meskipun saya sendiri memilih untuk percaya bahwa kedua hal yang saya sebut terakhir di atas bukanlah sesuatu yang perlu dipindah-pindahkan, juga bukan suatu tempat di mana kita bisa saling memindahkan diri, keberanian untuk menerabas cara pikir umum memang bukanlah sesuatu yang mudah dicerna; dan memindahkan cara berpikir khusus ini ke semua orang adalah hal yang paling tidak mungkin. Jadi, ada kalanya orang memutuskan untuk menetap, enggan berpindah, karena satu atau lebih musabab.

Nah, tentang saya sendiri: saya memang harus segera berpindah, sepertinya. Saya pikir, “berpindah” mungkin adalah cara terbaik untuk tetap sadar. Bukankah sebuah garis di atas kertas tak akan tercipta jika ujung alat tulis tidak berpindah dari satu titik ke titik yang lain…? Feminisme pun begitu, ia berpindah dari satu fase ke fasenya yang baru, meninggalkan kekurangan di masa lampau, mencari kelengkapan di masa dan cara yang baru, agar tidak disalahmengerti oleh dunia.

Selain itu, “berpindah” juga bisa menjadi manifestasi untuk tetap dapat mengelola rasa. Apa kiranya yang akan dipikirkan oleh teman-teman saya tadi malam, jika saya mengucapkan kalimat ini? Iya, kan? Berpindah…? Hm…!?