All posts tagged: Instagram

Exquisite Corpse Jaman Now

Tulisan ini adalah catatan reflektif atas sebuah eksperimen terkait praktik seni gambar bergerak yang dilakukan secara kolektif menggunakan pendekatan performans di media sosial pada dini hari, tanggal 26 Mei 2019. 27 Maret 2017, saya dan Gelar Soemantri membuat sebuah draf yang rencananya akan kami terbitkan kala itu menjadi semacam manifesto tentang karakteristik medium gambar bergerak masa kini, yaitu media sosial. Kami secara spesifik mengkaji kemungkinan-kemungkinan artistik dari teknologi media sosial Instagram. Dalam rangka proyek Turn Left After Sunday Market, draf manifesto itu kami beri judul “KINOSLIDE”—meskipun belakangan draf itu tidak pernah terbit secara resmi sebagai manifesto. Draf manifesto itu dibuat berdasarkan pemikiran yang mencoba menanggapi tulisan Hafiz di Jurnal Footage yang mengulas video klip salah sebuah lagu Radiohead yang berjudul House of Card. Menggunakan pisau teoretik “Kino Brush”, Hafiz menulis: “Format simbolik dalam bahasa Manovich mengandaikan sebuah era baru terhadap sinema. Pada masa filem-filem realisme, perekaman kamera merupakan periode di mana visual selalu mengandaikan narasi sebagai representasi terhadap realitas. Hal inilah yang dibongkar oleh Dziga Vertov dengan Manifesto Kino Eye. Berdasarkan kaidah-kaidah Kino Eye Vertov …

Tentang berpindah

Beberapa hari lalu saya membaca sebuah artikel seorang blogger. Isinya manis. Saya mengunjungi blognya karena si penulis me-repost pernyataan saya tentang Feminisme di Instagram Stories. Akun Instagram kami memang saling mengikuti. Kalau saya ingat-ingat, alasan saya mengikuti Instagramnya—kapan tepatnya saya mulai mengikuti, saya lupa—adalah karena perempuan ini berbasis di Yogyakarta dan—sebagaimana yang saya lihat di daftar follower miliknya—ia juga banyak mengikuti akun para pegiat kebudayaan yang saya kenal. Selain itu—lagi-lagi kalau saya tidak salah ingat—alasannya juga karena dia sempat terlibat kegiatan seni yang di dalamnya saya juga berpartisipasi. Atau bukan? Apa pun itu, tapi biasanya, saya memang akan mem-follow akun Instagram seseorang jika isi halaman akun miliknya menarik atau menggambarkan suatu aktivitas tertentu di daerah tertentu; gelagat ini semacam membaca peta. Alasan lainnya: untung-untung dapat teman baru. Alasan yang lebih konyolnya: supaya di-folback—alasan yang wajar-wajar saja, toh? *** Pernyataan tentang Feminisme yang saya buat di Instagram Stories itu sebenarnya merupakan tanggapan saya pribadi terhadap kasus Jojo (Jonatan Christie, atlet Asian Games). Awalnya, saya ingin menganggap lalu saja kasus itu. Tapi, dua artikel di situs web Magdalene, yang …

Sadar Instagram

BEBERAPA HARI INI, ada yang menarik sehubungan kisah Gembel-gembel Lenteng di Forum Lenteng. Gembel Lenteng—sebutan yang saya harap akan jadi populer—kalau saya tidak salah, pertama kali dicetuskan oleh Otty Widasari di instagram dengan hashtag, #gembellenteng. Belakangan, Gembel-gembel Lenteng kerap menjadi objek yang direpresentasikan melalui media sosial, terutama Instagram yang cukup menarik perhatian Otty dan Ugeng. Bagi mereka, dan pastinya juga bagi orang lain yang juga menyenangi media sosial tersebut, Instagram adalah ruang atau galeri untuk mendistribusikan karya secara mandiri. Kegiatan ini seolah menjadi proyek berkarya mereka sehari-hari, baik untuk membicarakan unsur-unsur artistik atau estetika sebuah karya (dari segi ilmu pengetahuan mengenai seni visual) maupun untuk memperdebatkan media Instagram dan teknologi mobile phone itu sendiri sebagai medium berkarya (dari segi ilmu pengetahuan mengenai seni media [baru]). Yang menjadi bahan pelajaran dari kegiatan ‘iseng’-cum-serius mereka ini adalah kesadaran mereka dalam mendayagunakan media sosial, bukan semata-mata untuk menyalurkan ekspresi dan membentuk identitas diri, tetapi lebih kepada kampanye literasi media. Instagram, bagi mereka, justru menjadi media pendisiplin diri untuk mengasah kemampuan mata dan tangan: kemampuan mata dalam menangkap (sekaligus …