All posts tagged: Jakarta Biennale

Seni adalah Penelitian; Penelitian adalah Seni

Suatu siang di awal Bulan November, sekitar pukul sebelas, saya duduk di salah satu meja kantin kampus. Seorang teman bertanya kepada saya, “Yang lu kerjain di Senen itu sebenarnya penelitian atau kesenian, sih?” “Dua-duanya,” jawab saya singkat. “Karya seni berbasis riset.” “Memangnya bisa?” “Ya, bisa dong! Sekarang, kan semuanya udah lintas disiplin.” Keningnya berkerut, tetapi kepalanya manggut-manggut. Matanya masih menatap saya, penuh tanya, tapi tidak ada pertanyaan lanjutan yang keluar dari mulutnya. Ini dia masalahnya. Banyak teman saya di kampus yang tidak paham bagaimana sebuah kerja seni bisa dipadukan dengan kerja penelitian. Maksud saya, kerja penelitian yang sebenarnya. Bukan sekedar survei tempat untuk kepentingan presentasi atau negosiasi dengan komunitas di lokasi tertentu demi lancarnya aksi berkesenian. Berbagi pengalaman terkait soal penelitian dan juga dengan kesenian, orang-orang di kampus saya, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, menjadi contoh yang nyata. Masalah ini sudah mengakar begitu lama, karena terjebak oleh kungkungan kepentingan-kepentingan akademis yang bersifat eksklusif. Dalam penelitian, misalnya. Biasanya, jika ingin mendapat nilai A untuk mata kuliah penelitian, mahasiswa (termasuk saya) harus mengikuti kemauan dosen (yang mengikuti kurikulum jurusan). Mahasiswa harus mencantumkan hasil …

Kami, Pendatang, Bongkar Senen Sekarang

Ada apa di Senen? Banyak. Sebagian besar sejarah Ibukota, di Senen. Sebagian besar realisasi dari kebijakan pemerintah Ibukota—juga kegagalannya, di Senen. Sebagian besar rivalitas-rivalitas sosial dan budaya Ibukota, di Senen. Siasat dan daya muslihat warga—baik asli maupun pendatang—atas tuntutan ekonomi, di Senen. Intinya, sebagian besar narasi dan peristiwa massa Ibukota, di Senen. Kalimat-kalimat itu jadi semacam kesimpulan awal saya, sebagai seorang perantau di Ibukota Jakarta, mengenai Senen. Memang, sih, semua tempat di belahan dunia mana pun pasti juga begitu. Akan tetapi, jikangomong soal Jakarta, Senen jadi salah satu bahan utama. Sebagaimana kata salah seorang saudara yang sudah merantau lebih dulu ke sini, “Kau tak akan mengenal Jakarta kalau belum mengenal Senen.” Lebih kurang setengah bulan sudah, saya dan beberapa kawan melakukan riset mengenai Senen. Kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan yang diinisiasi oleh Program akumassa Forum Lenteng, yang dinamakan proyek akumassa Ad Hoc, dalam rangka berpartisipasi pada Jakarta Biennale—sebuah perhelatan seni rupa kontemporer berskala internasional yang diselenggarakan dan didukung penuh oleh Dewan Kesenian Jakarta dan Dinas Pariwisata & Kebudayaan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta—tahun 2013, dengan tema ‘SIASAT’ (Tactic). Berpijak pada pengertian perhelatan biennale sebagai sebuah …