Seni adalah Penelitian; Penelitian adalah Seni

Suatu siang di awal Bulan November, sekitar pukul sebelas, saya duduk di salah satu meja kantin kampus. Seorang teman bertanya kepada saya, “Yang lu kerjain di Senen itu sebenarnya penelitian atau kesenian, sih?”

“Dua-duanya,” jawab saya singkat. “Karya seni berbasis riset.”

“Memangnya bisa?”

“Ya, bisa dong! Sekarang, kan semuanya udah lintas disiplin.”

Keningnya berkerut, tetapi kepalanya manggut-manggut. Matanya masih menatap saya, penuh tanya, tapi tidak ada pertanyaan lanjutan yang keluar dari mulutnya.

Dokumentasi akumassa Ad Hoc: Suasana ketika melakukan penyuntingan karya video di Sanggar Budaya Paseban. [Foto: Anib Basatada]

Dokumentasi akumassa Ad Hoc: Suasana ketika melakukan penyuntingan karya video di Sanggar Budaya Paseban. [Foto: Anib Basatada]

Ini dia masalahnya. Banyak teman saya di kampus yang tidak paham bagaimana sebuah kerja seni bisa dipadukan dengan kerja penelitian. Maksud saya, kerja penelitian yang sebenarnya. Bukan sekedar survei tempat untuk kepentingan presentasi atau negosiasi dengan komunitas di lokasi tertentu demi lancarnya aksi berkesenian.

Berbagi pengalaman terkait soal penelitian dan juga dengan kesenian, orang-orang di kampus saya, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, menjadi contoh yang nyata. Masalah ini sudah mengakar begitu lama, karena terjebak oleh kungkungan kepentingan-kepentingan akademis yang bersifat eksklusif.

Dokumentasi akumassa Ad Hoc: Suasana ketika proses penyuntingan karya video di Sanggar Budaya Paseban. [Foto: Harryaldi Kurniawan]

Dokumentasi akumassa Ad Hoc: Suasana ketika proses penyuntingan karya video di Sanggar Budaya Paseban. [Foto: Harryaldi Kurniawan]

Dalam penelitian, misalnya. Biasanya, jika ingin mendapat nilai A untuk mata kuliah penelitian, mahasiswa (termasuk saya) harus mengikuti kemauan dosen (yang mengikuti kurikulum jurusan). Mahasiswa harus mencantumkan hasil tinjauan terhadap jurnal ilmiah ke dalam makalah miliknya. Paling sedikit, sepuluh jurnal. Jurnalnya, harus jurnal internasional. Kampus menyediakan akses yang baik bagi kebutuhan ini. Mahasiswa dapat mengunduh beratus-ratus jurnal ilmiah internasional melalui portal online yang disediakan kampus dengan gratis. Ini adalah sebuah kesempatan, di mana mahasiswa mampu mempelajari berbagai bentuk dan perkembangan metodologi penelitian dari jurnal-jurnal yang mereka baca.

Akan tetapi, ujung-ujungnya hal ini menjadi masalah. Teman saya punya pengalaman harus bergadang semalam suntuk di kampus bersama kelompok penelitiannya. Ketika itu mereka sedang mengulas sebuah jurnal ilmiah tentang peraturan lalu lintas. Teman saya itu, mahasiswirock n’ roll yang memiliki hobi menghabiskan waktu saban hari dengan nongkrong dan bermusik (hingga akhirnya dia suka menunda-nunda waktu untuk mengerjakan tugas), berteriak-teriak histeris gara-gara muak dengan jurnal yang ia baca. Pasalnya hanya gara-gara kata ‘police stop’, yang sulit baginya untuk mencari padanan dalam Bahasa Indonesia. Hingga akhirnya tiba di titik kejenuhan, kelompoknya mengambil jalan pintas dan menafsirkan kata itu menjadi ‘tilang’. Padahal, tidak sesederhana itu. Sebab, dalam konteks Amerika, ‘police stop’ menjadi perhatian para periset ilmu sosial karena ada kecacatan sistem yang menjadi persoalan di baliknya. Dan jurnal yang ia baca sesungguhnya sedang berbicara soal hak-hak kelompok minoritas kulit hitam di Negeri Paman Sam tersebut.

Dokumentasi akumassa Ad Hoc: Suasana ketika para partisipan akumassa Ad Hoc melakukan riset dan sytuing di Grand Theatre Senen. [Foto: Mufti al Umam]

Dokumentasi akumassa Ad Hoc: Suasana ketika para partisipan akumassa Ad Hoc melakukan riset dan sytuing di Grand Theatre Senen. [Foto: Mufti al Umam]

Ada juga pengalaman lain, ketika saya terlibat diskusi dengan teman yang lain mengenai ‘kejahatan’, ‘media’, dan ‘budaya populer’. Dalam sebuah pemaparan singkat, seorang akademisi Barat bernama Jeff Ferrell mewacanakan soal ‘adegan berdarah-darah yang penuh ancaman’ dalam tulisannya. Saya sempat menangkap bahwa yang dimaksud Jeff Ferrell adalah cerita dan informasi kejahatan, dalam bentuk visual, memiliki pengaruh terhadap gaya hidup masyarakat perkotaan yang hidup dalam budaya tontonan. Tentu saja itu keliru, tetapi saya tak menyadarinya waktu itu. Baru beberapa hari kemudian, pendapat seorang teman membuat saya menepuk jidat sendiri. Pendapat itu mungkin wajar muncul dari mahasiswa jurusan komunikasi. Tetapi, bagi sudut pandang kriminologi, jurusan saya, saya seharusnya menerjemahkan pemaparan Jeff Ferrell itu sebagai wacana kejahatan yang terselubung secara sistemik dalam kemasan budaya populer yang terdistribusi melalui media massa. “Meaning in Motion; Bloody Knuckles”, ungkap Ferrell, bahwa visual-visual kejahatan yang dikemas menjadi acara TV itu menyembunyikan bentuk subordinasi oleh kekuasaan kapital (industri) terhadap kesadaran publik: bentuk kejahatan yang lebih rumit. Dan wilayah seni, oleh sebagian besar akademisi seperti Ferrell, diamini sebagai salah satu wacana yang bisa mengkritisi itu karena sikap skeptisnya. Gampang saja sebenarnya, kalau dalam konteks Indonesia, Ferrell itu sebenarnya sedang berbicara soal sinetron.

Itu sedikit dari banyak kelucuan yang sering saya temukan terkait pengalaman review-review-an jurnal ilmiah internasional. Umumnya, mahasiswa malah kebingungan karena contoh-contoh kasus yang mereka baca memiliki konteks ruang dan waktu yang berbeda. Cara pandangnya juga berbeda, apalagi paradigmanya. Rata-rata, mahasiswa sulit melepas pengaruh cara berpikir Barat dalam menghadapi masalah penelitian yang ada di lingkungan sekitarnya.

Untuk kesenian, tak kalah bermasalah. Saya sering mengerutkan kening jika di suatu minggu ada penyelenggaraan apresiasi seni, mendadak saja kampus saya dipenuhi oleh selebritis. Acara musik, pameran seni visual, penampilan teater, kegiatan seni yang mengundang masyarakat, semuanya dipegang oleh entertainer, ada yang jadi pemandu workshop atau seminar yang hanya diadakan sehari, juri kompetisi, bintang tamu, atau MC. Mahasiswanya? Malah jadi kacung yang puas berbangga dengan kesibukan mondar-mandir membawa walkie-talkie yang kabelnya melilit jaket almamater.

Dokumentasi akumassa Ad Hoc: Suasana ketika para partisipan akumassa Ad Hoc melakukan riset dan syuting di Tanah Tinggi. [Foto: Mufti al Umam]

Dokumentasi akumassa Ad Hoc: Suasana ketika para partisipan akumassa Ad Hoc melakukan riset dan syuting di Tanah Tinggi. [Foto: Mufti al Umam]

Mahasiswa-mahasiswa di kampus saya, umumnya, memandang kesenian sebagai obyek yang berbeda dengan bidang studi mereka. Bahkan, masih ada pandangan tentang seni yang artifisial, jauh dari sifat ‘mewarga’, dan menganggap seni adalah wilayah bagi orang-orang yang tenar. Kalaupun ada yang menyenangi seni, seni dianggap sebagai hobi, bukan bagian yang integral dengan wilayahnya sebagai calon akademisi. Dampaknya, penyelenggaraan seni di kampus saya berhenti di titik selebrasi dan hiburan saja. Pertunjukan kesenian hanya menjadi puncak acara-acara yang kemasannya tak jauh-jauh dari bentuk yang diadakan oleh EO (event organizer).

Maka tak heran, jika ada teman saya yang bingung ketika saya bercerita bahwa di Senen, saya dan beberapa teman menetap di sana sekitar dua bulan mengerjakan penelitian dengan pendekatan antropologi-sosiologis untuk membuat karya seni.

***

Suatu malam di Bulan Oktober, sekitar pukul sebelas, saya dan Andrie, teman seperjalanan saya di Senen, berada di area parkiran depan rumah-rumah toko (ruko) di Pasar Senen. Malam hari, area parkir itu menjadi lapak para pedagang kue. Orang-orang menyebutnya ‘kue subuh’, karena para pedagang di sana berdagang hingga dini hari. Kami berdua ingin merekam peristiwa massa di tempat itu.

Salah satu shot dari karya video akumassa Ad Hoc, “Manis Dini Hari”.

Salah satu shot dari karya video akumassa Ad Hoc, “Manis Dini Hari”.

Kue subuh, mungkin, merupakan fenomena yang biasa saja. Isu-isu yang berkembang di sekitarnya juga dengan gampang bisa ditebak. Sebut saja beberapa diantaranya, seperti sirkulasi ekonomi, konflik sosial dan politik mengenai komodifikasi ruang dan kepemilikan, dan sebagainya. Namun, cara kerja yang biasa kami lakukan di proyek-proyek akumassa menghantarkan kami ke persoalan lain yang menarik. Akumassa berbicara tentang keindahan, tentang estetika yang berhubungan dengan praktik sosial antara para pedagang dan pembeli kue subuh, artistik yang dibangun secara sadar tidak sadar oleh kebiasaan suatu lingkup komunitas pedagang di Senen.

Keindahan apakah itu?

Maka kami pun menjadi pembeli berbekal kamera yang ada di telepon seluler (ponsel). Hari-hari yang kami habiskan di Senen selama lebih satu minggu sebelumnya memberikan informasi detil bahwa keramaian para pedagang membuka lapak terjadi pada pukul setengah lima sore. Mobil-mobil boks berisi keranjang-keranjang kue akan menepi di pinggir jalan, lalu orang-orang akan mengangkut keranjang demi keranjang ke atas meja triplek. Meja yang disanggah kaki besi itu disewa ke pemilik area parkir seharga Rp 5000,-. Pada waktu itu, motor-motor yang parkir akan hilang satu demi satu. Umumnya, seperti yang saya amati, pengendara-pengendara motor terakhir itu adalah pedagang baju bekas di ruko depan area parkir. Pukul setengah enam, keranjang-keranjang dibuka, satu per satu kue-kue basah warna-warni dipajang di atas meja. Ada kue tart juga. Selain itu, keranjang-keranjang berisi roti disusun di atas lantai aspal, bertingkat-tingkat. Ketika azan berkumandang, lampu-lampu dari setiap lapak mulai menyala. Area yang semulanya gelap, menjadi terang. Pemandangan kue berbaris-baris pun dimulai.

Salah satu shot dalam karya video akumassa Ad Hoc, “Manis Dini Hari”.

Salah satu shot dalam karya video akumassa Ad Hoc, “Manis Dini Hari”.

Keindahan yang kami temukan tidak mengada-ada. Semua itu tertangkap di dalam frame kamera ponsel yang kami bawa. Menurut pengalaman saya, jika saya berdiri di posisi para pembeli yang memilih kue, melalui frame kamera, saya akan melihat jejalan kue-kue itu membentuk komposisi titik, garis, bidang yang simetris, serta komposisi warna yang teratur. Keteraturan ini mengalami distraksi oleh gerak tangan pedagang dan pembeli yang bertransaksi, diterpa pendar cahaya berwarna kuning bercampur putih dari bohlam yang tergantung di langit-langit lapak, atau dari sorotan lampu mobil boks yang memasok barang dagangan untuk subuh hari. Suara orang-orang, lagu dari pengamen-pengamen, bising kendaraan bermotor dari jalan raya juga turut melengkapi. Bahkan, ada suara televisi yang sengaja diletakkan oleh salah seorang pedagang di lapaknya untuk ditonton, sekedar mengisi waktu luang jika sepi pembeli.

lapak-dan-TV

Salah satu shot dari karya video akumassa Ad Hoc, “Manis Dini Hari”.

Perspektif yang kami gunakan untuk melihat keindahan itu adalah perspektif pembeli. Mungkin, menurut para peneliti aliran universitas, sudut pandang ini tidak ada istimewa-istimewanya. Akan tetapi, saya yang tinggal di Depok dan lebih banyak menghabiskan waktu di kampus, kurang tahu banyak tentang lokasi-lokasi lain di Jakarta. Ketika mengetahui bahwa di Senen ada pedagang kue dini hari yang begitu ramai di satu tempat, saya justru takjub. Melalui mata seorang pembeli, saya melihat tumpukan-tumpukan kue di area parkir itu sebagai suatu pemandangan yang artistik. Pembeli yang tinggal jauh dari Senen, bisa membuktikan hal itu. Salah satu caranya, seperti yang saya lakukan, menggunakan kamera ponsel untuk mendokumentasikannya. Dan narasi ini tertuang dalam hasil penelitian berupa karya seni dalam bentuk video, berjudul Manis Dini Hari.

***

Di malam yang berbeda di Bulan Oktober, sekitar pukul sembilan, saya menjadi salah satu penonton pertandingan bulutangkis di Lapangan Perintis, Kelurahan Paseban, Kecamatan Senen. Kekerabatan sosial warga masyarakat adalah salah satu fokus saya dalam penelitian ini. Lapangan Perintis ialah salah satu ruang yang membangun itu.

Salah satu shot dari karya video akumassa Ad Hoc, “Pertandingan Kali Ini”.

Salah satu shot dari karya video akumassa Ad Hoc, “Pertandingan Kali Ini”.

Jika orang-orang pertelevisian (media massa) datang ke lokasi ini, peristiwa massa malam itu—turnamen bulutangkis PB Perintis Paseban waktu itu diselenggarakan selama lebih kurang dua minggu—pasti sudah menjadi informasi menarik mengenai inisiatif-inisiatif warga. Saya berpikir demikian karena teringat cerita Mbak Ira dan Bang Galis, aktivis dari Sanggar Budaya Paseban, tentang seringnya orang TV datang ke Paseban untuk meliput kegiatan masyarakat di daerah itu. Oleh industri media massa, inisiatif ini biasanya dikomodifikasi menjadi bahan program berita ringan, yang ujung-ujungnya menghilangkan esensi kekerabatan sosial yang berpeluang untuk ditafisr dengan bernas.

Saya bisa saja memastikan, terlepas dari kemungkinan-kemungkinan lain yang tentu saja ada, bahwa peneliti-peneliti dari kampus pasti akan meminta waktu kepada panitia, pengurus RW, dan warga masyarakat untuk diwawancarai, terkait dengan perhelatan turnamen bulutangkis ala warga itu. Mungkin, instrumen semacam kuesioner akan disebar untuk menakar sejauh apa kekerabatan sosial dipengaruhi oleh penyelenggaraan kegiatan semacam itu, atau sebaliknya. Hasilnya, sebuah narasi kering tentang kehidupan warga yang sebenarnya tidak tahu menahu soal dirinya yang sudah menjadi obyek penelitian.

Ada cara lain untuk melihatnya?

Saya, sebagai penonton, tertarik mendokumentasikan peristiwa itu dengan kamera digital yang saya bawa. Bukannya menyorot atlit yang bertanding, saya lebih memilih merekam ekspresi-ekspresi warga yang sedang serius menonton. Gerakan kepala dan kerlingan mata mereka mengikuti gerakan kock di lapangan, celetukan dan guyonan mereka, serta pecah tawa dan senyum atau tampang kekecewaan mereka dalam menanggapi jalannya pertandingan. Jika instrumen penelitian umumnya membutuhkan jawaban tertulis atau terucap dari orang-orang yang menjadi responden, saya justru menganggap ekspresi-ekspresi itu sebagai ‘pernyataan-pernyataan’ yang dapat ditangkap oleh frame kamera.

Salah satu shot dari karya video akumassa Ad Hoc, “Pertandingan Kali Ini”. Karya ini menangkap ekspresi-ekspresi penonton turnamen bulutangkis di Lapangan Perintis, Paseban, saat itu.

Salah satu shot dari karya video akumassa Ad Hoc, “Pertandingan Kali Ini”. Karya ini menangkap ekspresi-ekspresi penonton turnamen bulutangkis di Lapangan Perintis, Paseban, saat itu.

ekspresi-2

ekspresi-5

Hasil penelitian kami itu, yang berupa karva video berjudul Pertandingan Kali Ini, ditayangkan ke hadapan warga-warga Paseban, di malam 7 November 2013. Hasil interpretasi kami sebagai warga pendatang, dilemparkan kembali kepada warga lokal, memancing suatu refleksi warga mengenai kekerabatan sosial yang ada di RW 03, Kelurahan Paseban. Reaksi mereka adalah jawaban dari penelitian ini: kekerabatan itu sudah jauh terbangun, dan karena itu lah turnamen bulutangkis itu ada. Warga saling mengenal, tertawa, bercanda, dan berkegiatan di Lapangan Perintis sebagai ruang publik yang dikelola bersama-sama.

Dokumentasi akumassa Ad Hoc: Suasana ketika pemutaran karya video akumassa Ad Hoc kepada warga masyarakat Paseban di Lapangan Perintis. [Foto: Anib Basatada]

Dokumentasi akumassa Ad Hoc: Suasana ketika pemutaran karya video akumassa Ad Hoc kepada warga masyarakat Paseban di Lapangan Perintis. [Foto: Anib Basatada]

Dokumentasi akumassa Ad Hoc: Suasana ketika pemutaran karya video akumassa Ad Hoc kepada warga masyarakat Paseban di Lapangan Perintis. [Foto: Dian Ageung Komala]

Dokumentasi akumassa Ad Hoc: Suasana ketika pemutaran karya video akumassa Ad Hoc kepada warga masyarakat Paseban di Lapangan Perintis. [Foto: Dian Ageung Komala]

Ini lah penelitian yang partisipatoris itu. Warga benar-benar terlibat. Mereka memiliki andil dalam proses dan penentuhan hasil. Selain itu, hasil penelitian yang didapat tidak serta-merta dimasukkan ke lemari arsip yang susah diakses oleh warga, seperti yang sering dilakukan oleh kalangan peneliti kampus, melainkan menjadi sebuah karya seni yang dapat diberdayakan kembali oleh warga Paseban, baik sebagai konsumsi hiburan alternatif maupun sebagai materi pendidikan.

***

Akumassa lebih mengutamakan suatu aksi yang mendorong warga untuk membaca diri mereka sendiri. Standar pengukuran atas obyek permasalahan warga tidak ditentukan oleh peneliti. Cara pandang dan paradigma berasal dari warga, dan reliabilitas hasil penelitian dan kualitas karya seni itu pun akhirnya akan dilegitimasi oleh warga itu sendiri.

foto-oleh-umam-2

Sebab, akumassa percaya, sebagaimana yang dinyatakan oleh Linda Tuhiwai Smith di tahun 1999 dalam Decolonizing Methodologies, Research and Indigenous Peoples, bahwa narasi-narasi warga (yang bersifat lokal) sesungguhnya memiliki daya untuk mempertanyakan ulang watak-watak yang diandaikan pada hal-hal ideal dan berfungsi sebagai cerita alternatif sebagai tandingan yang ‘mapan’. Dan dengan demikian, akumassa melihat “protokol-protokol kultural, nilai dan perilaku lokal sebagai bagian integral metodologi”, baik sebagai penelitian, aksi berkesenian, atau kedua-duanya sekaligus.

— — —

Tulisan ini sudah dimuat di website akumassa, tertanggal 16 Desember, 2013, dan juga di dalam Jurnal akumassa Ad Hoc, berjudul Seni di Batas Senen (Forum Lenteng, 2013).

Kami, Pendatang, Bongkar Senen Sekarang

Ada apa di Senen? Banyak. Sebagian besar sejarah Ibukota, di Senen. Sebagian besar realisasi dari kebijakan pemerintah Ibukota—juga kegagalannya, di Senen. Sebagian besar rivalitas-rivalitas sosial dan budaya Ibukota, di Senen. Siasat dan daya muslihat warga—baik asli maupun pendatang—atas tuntutan ekonomi, di Senen. Intinya, sebagian besar narasi dan peristiwa massa Ibukota, di Senen.

BW1-VCxCMAAUxZt-copy

Kalimat-kalimat itu jadi semacam kesimpulan awal saya, sebagai seorang perantau di Ibukota Jakarta, mengenai Senen.

Memang, sih, semua tempat di belahan dunia mana pun pasti juga begitu. Akan tetapi, jikangomong soal Jakarta, Senen jadi salah satu bahan utama. Sebagaimana kata salah seorang saudara yang sudah merantau lebih dulu ke sini, “Kau tak akan mengenal Jakarta kalau belum mengenal Senen.”

header_logo-JB2013-no-background-copy

Lebih kurang setengah bulan sudah, saya dan beberapa kawan melakukan riset mengenai Senen. Kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan yang diinisiasi oleh Program akumassa Forum Lenteng, yang dinamakan proyek akumassa Ad Hoc, dalam rangka berpartisipasi pada Jakarta Biennale—sebuah perhelatan seni rupa kontemporer berskala internasional yang diselenggarakan dan didukung penuh oleh Dewan Kesenian Jakarta dan Dinas Pariwisata & Kebudayaan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta—tahun 2013, dengan tema ‘SIASAT’ (Tactic). Berpijak pada pengertian perhelatan biennale sebagai sebuah pembacaan yang berkelanjutan atas kota melalui perspektif seni kontemporer, akumassa ditantang untuk melihat dan menanggapi dinamika kota melalui aksi merekam kenyataan sosial dalam lingkup ruang dan waktu yang spesifik, demi mendapatkan suatu tafsir berupa produk karya terkait soal hubungan antara praktik sosial dan kemungkinan estetik.

Tim akumassa Ad Hoc sendiri terdiri dari para partisipan yang berasal dari beberapa komunitas dampingan akumassa. Otty Widasari, Koordinator Program akumassa Forum Lenteng, memimpin awak akumassa Ad Hoc, yang diantaranya adalah Anib dan Ghembrang (perwakilan dari Komunitas Anak Seribu Pulau, Blora), Umam (perwakilan dari Komunitas Djuanda, Tangerang Selatan), Ageung dan Jayu (perwakilan dari Komunitas Suburbia, Depok), Siba (perwakilan dari Komunitas Pasir Putih, Lombok Utara), Ari (perwakilan dari Komunitas Sarueh, Padangpanjang), dan Andre serta saya sendiri, Zikri (perwakilan dari Forum Lenteng, Jakarta).

DSCN1284

Setelah melalui proses pemantapan ide dan identifikasi isu mengenai Senen—lokasi yang menjadi fokus akumassa dalam proyek kali ini—Anib, Umam dan Andre, partisipan yang sudah berada di Jakarta sejak awal Bulan Oktober, melakukan tinjauan awal ke lapangan beberapa kali. Mereka berkeliling kawasan Senen dan sekitarnya, mulai dari sekitaran rel kereta api di Timur hingga ke area bantaran Sungai Ciliwung di Barat, dari pagi hingga malam hari. Tinjauan itu bahkan sedikit diperluas ke wilayah Kecamatan Johar Baru, yakni di Galur dan Kota Paris, demi memperluas kemungkinan-kemungkinan tangkapan atas bentuk aktivitas sosial masyarakat di sekitar Senen, untuk dapat didedah lebih jauh dan dibingkai menjadi sebuah karya. Hal ini sesuai dengan konsep dan metode kerja akumassa, yang selalu berhubungan dengan tiga hal utama, yakni lokasi, narasi-narasi kecil, dan peristiwa massa, sehingga wilayah-wilayah yang berbatasan atau bersentuhan dengan daerah yang menjadi fokus pun seringkali juga menjadi wilayah riset dan bahan tambahan untuk berkarya.

DSCN1269

Tinjauan awal mereka itu menghasilkan beberapa catatan mengenai titik-titik lokasi yang lebih sepesifik dan identik dengan narasi-narasi warga setempat yang menarik dan unik. Dan berdasarkan hasil diskusi yang dilakukan selama proses tinjauan awal tersebut berlangsung, titik-titik lokasi beserta narasi-narasinya itu lah yang menjadi kepingan-kepingan fragmen dari konstruksi wacana terkait Senen—hasil dedahan dalam proses riset—yang nantinya akan dirangkai menjadi fragmen dari konstruksi wacana Senen yang baru sebagai suatu pembacaan atas problematika warga masyarakat sehubungan dengan kebertahanannya menghadapi segala macam keterbatasan, ancaman dan masalah-masalah yang dihadapi.

DSC_0034

Ada apa di Senen?

17 Oktober, 2013, saya turut bergabung dengan rombongan Anib, Umam dan Andre, melakukan observasi lanjutan demi mendapatkan informasi-informasi tambahan. Yang menjadi penekanan, riset kami ini bukan “menggali-gali peninggalan bersejarah” terkait Senen, melainkan merekam peristiwa-peristiwa massa dan narasi-narasi kecil yang menyertainya untuk dilihat dalam konteks sekarang, dari perspektif kami sebagai orang pendatang (atau lebih tepatnya, pendatang di Senen).

Berbekal hasil temuan pada riset awal di lapangan dan kesepakatan pada diskusi-diskusi sebelumnya, titik-titik lokasi yang kami datangi di sekitaran Senen terasa lebih mudah dan lebih tentu arah. Tidak seperti cerita Anib, yang mana pada hari-hari sebelumnya mereka benar-benar harus mengelilingi seluruh kawasan Senen, hari itu kami hanya mengobservasi beberapa tempat saja.

Titik-titk lokasi yang kami datangi hari itu umumnya berada di area Proyek Senen, di antaranya adalah sebuah tempat sholat dan toilet umum pada salah satu blok di area Proyek Senen; ibu-ibu penjahit tangan yang duduk berjejer di sekitaran tangga pada salah satu blok di area Proyek Senen juga; blok-blok bagian dalam Proyek Senen, di mana para penjual baju bekas berdagang saling bersebelahan dan hadap-hadapan; dan tempat parkir yang berhadapan langsung dengan Jalan Pasar Senen. Selain itu, agak jauh dari area Proyek Senen, kami juga mengunjungi sebuah warung makan di bawah jembatan (koridor) Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusomo (RSCM) Kencana yang melintasi Sungai Ciliwung, di Jalan Inspeksi Kenari.

IMG_0247

Tempat sholat dan toilet umum yang kami kunjungi itu menarik karena, sebagaimana pendapat Umam yang melakukan riset di sana sedari awal, titik lokasi itu memiliki persoalan tentang bagaimana ruang religiusitas dalam bentuk yang memiliki kontradiksi dengan pemahaman wajar masyarakat umum tentang tempat ibadah. Yang pertama, gelaran sejadah dan pembatas dinding dengan triplek yang serta merta—atau, lebih tepatnya, mau tidak mau, karena keterbatasan akses—dijadikan ‘musholla’. Kontradiksi kedua ialah tentang ritual ibadah sholat yang identik dengan kebersihan, namun pada realitasnya hal itu berbanding terbalik dengan keadaan tempat ibadah yang kumuh dan berhadapan langsung dengan pintu WC (toilet umum terletak persis di arah kiblat sholat). Sedangkan kontradiksi ketiga adalah persepsi tentang kebebasan dalam beribadah, yakni tak ada tanggungan lain selain penyerahan diri kepada Sang Khalik, menjadi kian dipertanyakan karena pertimbangan ekonomis; kebutuhan mengakses air wudhu mensyaratkan para pengunjung musholla untuk mengeluarkan uang seribu-dua ribu rupiah (tempat ibadah menjadi komoditas).

DSCN1332

Aktivitas menjahit secara manual, atau menggunakan tangan, yang dilakukan oleh ibu-ibu di sekitaran tangga di salah satu blok pada area Pasar Senen juga menarik perhatian kami karena terbersit rasa penarasan: mengapa di antara begitu banyak toko jahit pakaian yang berproduksi menggunakan mesin, masih ada orang yang mau melayani pesanan dengan menggunakan tangan? Setelah melakukan riset lebih jauh, kami mengetahui bahwa apa yang dilakukan oleh ibu-ibu itu ternyata merupakan bagian dari proses pembuatan pakaian dari setiap toko-toko jahit yang ada di titik lokasi tersebut. Dengan kata lain, mereka merupakan pegawai dari toko-toko jahit tersebut. Mereka menjahit dengan tangan karena, dalam proses penjahitan pakaian, memang ada satu proses yang tidak dilakukan menggunakan mesin, yakni teknik tusuk som dan pasang kancing. Namun, pemandangan menjahit dengan menggunakan tangan itu tetap menarik karena ibu-ibu duduk berjejer di lantai keramik, bersandar ke dinding-dinding toko dan memakan tempat di perlintasan pejalan kaki. Alasan mereka, seperti yang diutarakan oleh salah seorang ibu (yang tak mau menyebut namanya), “Kalau di dalam agak gelap dan gerah, makanya duduk di luar.”

IMG_20131008_1508411

Sementara itu, di area blok bagian dalam, fenomena jual baju murah juga tak kalah menarik. Masuk ke area itu seakan-akan masuk ke dalam timbunan baju-baju. Para pembeli dengan bebas mengobrak-abrik gunungan pakaian untuk memilih model yang mereka suka. Meskipun padat dan pengap, orang-orang yang membeli tetap bersemangat menawar-nawar harga penuh harap. Para pedagang yang umumnya berdiri di tengah-tengah gunungan pakaian, meneriakkan harga obral dagangan masing-masing, saling beradu suara dari lapak siapa yang lebih keras, terkadang mereka saling sahut-menyahut, menjadi sebuah interaksi yang memiliki keunikan sendiri sebagai sebuah peristiwa massa yang terjadi setiap hari. Selain visual, audio pada lokasi tersebut dapat ditangkap sebagai representasi sebuah persoalan terkait rivalitas-rivalitas warga dalam isu jual-beli di pasar.

DSCN1340

Sedangkan di area luar Proyek Senen, tepatnya tempat parkir, juga menjadi titik lokasi yang kami incar karena alasan mobilitas dan pergantian bentuk aktivitas para warganya. Siang hari, tempat itu adalah lahan parkir sepeda motor, berbagi tempat dengan para pedagang baju murah yang membuka lapak di lahan pejalan kaki. Mungkin, karena ‘tak kebagian tempat’ di area dalam rumah-rumah toko (blok bagian dalam Proyek Senen). Menjelang sore, ketika area parkir mulai sepi, satu per satu mobil box berhenti di pinggir Jalan Pasar Senen, dan orang-orang menurunkan kotak-kotak berisi beragam jenis kue dari mobil tersebut, mulai dari kue basah, kue kering, kue tart hingga ke makanan jenis roti, yang siap didagangkan pada malam hari, sampai waktu subuh esok harinya. Hiruk pikuk keramaian yang diciptakan tak kalah riuh dengan siang hari. Selain itu, terpaan visual warna-warni yang dihasilkan dari kue-kue yang dipajang seolah menjadi muslihat yang menggoda mata dan perut pembeli agar mau mampir ke salah satu lapak. Orang-orang menyebut ‘wajah malam’ tempat parkir itu sebagai tempat jual kue subuh.

IMG_20131008_122253

Yang terakhir, ialah sebuah lokasi di luar Kelurahan Senen. Terdapat sebuah warung kecil yang terletak di pinggiran Jalan Inspeksi Kenari, tepat di bawah jembatan RSCM Kencana yang melintasi Sungai Ciliwung. Pemandangan alat-alat berat yang mengeruk sungai menemani aktivitas para pembeli di meja makan. Di warung itu, jika kita mau lebih cermat memperhatikan pada jam-jam makan siang, terutama, ada peristiwa menarik, yakni orang memesan makanan dari atas jembatan. Jembatan yang sesungguhnya menjad koridor RSCM tersebut terbagi dua jalur, dan di tengah-tengah jalur tersebut ada celah jeruji yang menjadi atap warung. Cukup dengan menghampiri koridor, para pegawai RSCM yang merasa lapar, tapi enggan berjalan jauh, memanfaatkan celah jeruji itu sebagai jalan pintas untuk memesan makanan, tanpa perlu ke luar gedung dan memutari lahan parkir menuju warung.

IMG_20131008_132152

Beberapa titik lokasi yang telah dijabarkan tersebut menjadi tantangan tersendiri untuk ditangkap oleh bingkai kamera dan direpresentasikan secara visual, atau dijadikan bahan karya tulis yang mengulas fenomena itu dari perspektif seni, menyorot ‘SIASAT’ yang tercipta dari peristiwa massa maupun dari narasi lokalnya.

IMG_0170-2

Sebenarnya, masih ada lokasi lain yang termasuk dalam daftar incaran tim akumassa Ad Hoc, di antaranya adalah titik lokasi di daerah Galur dan Kota Paris di Kecamatan Johar Baru. Dua lokasi yang dipisahkan oleh kali itu menjadi menarik karena ada fenomena warga masyarakat yang sering menerbangkan burung-burung merpati balap peliharaan mereka, dan juga keberadaan gang-gang kecil di antara rumah-rumah susun yang membentuk semacam labirin yang cukup membingungkan.

IMG_20131001_161421

Fenomena Bioskop Grand yang terletak di persimpangan Jalan Keramat Bunder dan Keramat Raya juga termasuk dalam daftar titik lokasi yang menjadi incaran tim akumassa Ad Hoc, mengingat kabar angin mengenai lokasi itu terkait penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh orang-orang dengan dalih menonton filem. Namun, bagi akumassa sendiri, titik lokasi itu menjadi menarik justru karena keterkaitannya dengan sejarah dan wacana filem di Indonesia. Melalui proyek ini, kami berharap menemukan harta-harta karun ‘sinematis’ yang mungkin selama ini luput dari perhatian akibat selubung-selubung aktivitas-aktivitas para pelanggan yang umumnya dianggap menyimpang oleh norma masyarakat umum.

IMG_2280

Lokasi lainnya adalah Kelurahan Paseban. Di kelurahan tersebut ada sebuah komunitas, bernama Sanggar Budaya Paseban, yang aktif melakukan kegiatan-kegiatan pemberdayaan warga masyarakat dengan melibatkan perangkat-perangkat RT/RW. Rumah Bang Galis dan Mba Ira, yang merupakan markas komunitas tersebut, menjadi markas sementara tim akumassa Ad Hoc selama melakukan riset lapangan di daerah Senen.

Rumah Bang Galis dan Mbak Ira, aktivis seni-budaya di Sanggar Budaya Paseban, yang menjadi markas sementara kami selama melakukan riset di Senen.

Rumah Bang Galis dan Mbak Ira, aktivis seni-budaya di Sanggar Budaya Paseban, yang menjadi markas sementara kami selama melakukan riset di Senen.

Hingga sekarang, aktivitas riset di kawasan Senen, dan terkhusus di Kelurahan Paseban, masih terus berlangsung. Terutama untuk titik-titik lokasi yang disebutkan belakangan, observasi dan pengenalan secara lebih mendalam terus kami lakukan pada hari-hari selanjutnya sampai kami benar-benar mendapatkan angle yang pas untuk membingkai lokasi tersebut menjadi sebuah karya.

DSCN1264

Dan dalam beberapa waktu ke depan, setiap harinya Redaksi akumassa akan menaikkan tulisan-tulisan terkait perkembangan proses kerja proyek akumassa Ad Hoc, serta tulisan-tulisanakumassa lainnya yang berhubungan dengan isu-isu yang ada di kawasan Senen.

— — —

Tulisan ini sudah dimuat di website akumassa, tertanggal 20 Oktober, 2013, dan juga di dalam Jurnal Akumassa Ad Hoc, berjudul Seni di Batas Senen (Forum Lenteng, 2013).