Delman dan Polemik Kemanusiawian Jakarta

Artikel ini sudah terbit lebih dulu di jurnal akumassa dengan judul yang sama, “Delman dan Polemik Kemanusiaan Jakarta”, pada tanggal 24 Juni 2013.

PERAYAAN HARI ULANG Tahun DKI Jakarta tahun ini mengusung tema “Jakarta Baru, Jakarta Kita”. Kompas.com, pada Mei, 2013, memuat penjelasan Asisten Pemerintahan DKI, Sylviana Murni, selaku ketua panitia perayaan hari jadi DKI Jakarta. Katanya, tema itu mengusung semangat untuk mengubah dan menata Jakarta yang lebih humanis, futuris, dan pluralis.

Sepulang dari diskusi di Warung Daun, depan Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, saya iseng pergi ke Monas untuk melihat euforia hari jadi DKI. Sebenarnya, saya sangat menyayangkan tak sempat hadir pada ‘PRJ Monas’ atau Pekan Produk Kreatif Daerah, pada tanggal 14-16 Juni 2013 lalu. Padahal, proyek uji coba Jokowi, yang oleh beberapa media massa disebut-sebut akan menjadi embrio Pesta Rakyat Jakarta di tahun 2014 nanti itu, merupakan momen yang tepat untuk membaca langkah evaluasi pemerintah terhadap acara-acara serupa yang mengusung nama Jakarta. Oleh sebab itu, pada Hari Sabtu, 22 Juni 2013, saya mondar-mandir di area Monas berharap dapat menemukan sesuatu yang menarik di detik-detik puncak perayaan pesta besar ulang tahun Ibukota, paling tidak menemukan salah satu dari tiga hal yang disebut humanis, futuris, dan pluralis.

Suasana di luar area Monas pada siang hari, 22 Juni 2013

Dalam tulisan ini, saya tidak bermaksud meninjau keberhasilan acara perayaan HUT DKI Jakarta. Sebab, saya hanya mampu melawan panas terik matahari di Monas hingga pukul empat sore. Ketika baterai kamera saya habis, saya memutuskan pulang, mengingat ada kegiatan lain yang harus saya hadiri malam itu. Tapi, saya punya pendapat bahwa semangat humanis, futuris dan pluralis, sedapat mungkin memang direpresentasikan oleh Pemda DKI dalam rangkaian acara perayaan tahun ini. Salah satunya pameran prototipe kereta monorel—yang bisa dibilang menjadi bagian dari langkah sosialisasi proyek Monorel Jakarta, demi masa depan transportasi Ibukota yang lebih baik (futuris)—yang sungguh sangat disayangkan juga, tak sempat sempat saya lihat karena pameran itu baru akan dibuka untuk publik pada petang hari, sedangkan pukul enam sore saya sudah harus berada di Depok.

Pameran Monorel Jakarta.
Pintu gerbang untuk masuk ke dalam pameran monorel. Pameran belum dibuka ketika saya datang berkunjung, siang hari pukul 13.00 WIB.

Saya memang tak mempunyai cukup bahan untuk mengevaluasi “Jakarta Baru, Jakarta Kita”. Tapi, jika kembali merefleksi pengalaman sepintas saya ketika berjalan-jalan di area Monas siang itu, saya ingin fokus membahas satu di antara tiga semangat yang diusung pada HUT DKI tahun ini, yakni semangat Jakarta yang lebih humanis. Dan sebelum mendebatkannya lebih jauh, saya ingin bercerita tentang delman di Monas.

Sering kali saya bertanya pada diri sendiri, “Apa sebenarnya yang harus manusiawi dari Jakarta?” Pertanyaan itu kembali muncul di benak saya setelah sempat berbincang dengan seorang kusir delman yang berkeliaran di sekitar Monas. Karena tak kuat berjalan kaki menaklukkan luasnya Lapangan Medan Merdeka, saya akhirnya memilih menaiki delman. Jujur saja, hari itu baru pertama kalinya saya melihat delman bebas keluar-masuk area Monas sejak saya tinggal di Jakarta dari tahun 2009. Otomatis, saya paham bahwa transportasi tradisional Betawi itu hadir dalam rangka memeriahkah HUT DKI Jakarta ke-486. Tampilan delman-delman itu meriah, lengkap dengan hiasan ondel-ondel di bagian kanan-kiri tempat duduk penumpang sementara pak kusir mengenakan baju khas betawi, seperti babe-babe yang saya lihat di drama seri TV, Si Doel Anak Sekolahan.

Pak Yahya, salah seorang kusir delman yang hari itu ikut menawarkan jasa angkutan kereta kudanya di area Monas.

Pak Yahya, warga Pulo Jahe, si kusir delman yang saya naiki, awalnya menyebut lima puluh ribu rupiah untuk sekali naik. Saya menawarnya menjadi tiga puluh lima ribu. Meskipun dengan tampang tak senang, dia bersedia mengantar saya berkeliling Monas.

“Udah sejak kapan bawa delman, Pak?” tanya saya mencoba memecah keheningan di atas kereta kuda.

“Udah lama, dua puluh tahun ada,” jawabnya sambil melecuti si kuda supaya baik jalannya.

“Ini delman memang sengaja buat ultah Jakarta atau gimana, Pak?”

“Ya…kalau sekarang iya. Tapi, tiap Sabtu, Minggu, biasanya juga ada.”

“Sabtu dan Minggu?”

“Iya, tapi baru sekarang. Kalau dulu gak boleh. Cuma boleh setiap Hari Sabtu dan Minggu, tapi di luar aja, gak boleh ke dalem sini. Baru sekarang ama Jokowi dikasih ijin masuk ke sini.”

“Dulu itu, maksudnya, kapan, Pak?” tanya saya lagi sembari mengeluarkan kamera yang baterainya sudah sekarat, mengambil beberapa foto, dan kemudian merekam pembicaraan kami.

“Waktu Fauzi Bowo,” jawabnya sambil melirik kamera saya. “Tapi, waktu Sutiyoso gak ada masalah… Fauzi Bowo aja…”

Pemandangan yang saya tangkap ketika menaiki delman Pak Yahya.

Cerita tentang nasib menyedihkan yang menimpa para kusir delman di Jakarta memang bukan kabar baru. Lebih kurang empat tahun terakhir, terutama sejak kebijakan pada masa Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, yakni Surat Keputusan Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Pusat, No 911/1.754, tanggal 15 Juni 2007, keberadaan delman di Jakarta semakin kembang kempis. Alasannya sederhana saja: delman mengganggu kebersihan, ketertiban dan kenyamanan masyarakat.

Hingga Bulan Maret 2013, di mata pemerintah Ibukota, delman masih dilihat sebagai transportasi terlarang. Akibat aturan itu, pasukan ‘pengusaha berkuda’ yang umumnya berasal dari Kemanggisan, Palmerah ini, mau tak mau harus main kucing-kucingan dengan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Kalau situasi sedang ‘aman’, masyarakat saat ini hanya menggunakan jasanya sebagai transportasi wisata atau wahana bermain ‘kuda-kudaan’ karena anak-anak kecil jaman sekarang sudah jarang melihat kuda menarik kereta di tengah kota.

“Kalau misalnya hari biasa, mangkal di mana, Pak?”

“Ya, keliling-keliling aja, bawa anak-anak yang mau naik, biasanya itu. Kadang juga di Pondok Kopi, Buaran, tapi jarang…”

Saya diam sebentar, kemudian Pak Yahya berkata lagi, “Sebenarnya, ya itu, waktu Fauzi Bowo dilarang, cuman bolehnya Hari Sabtu Minggu aja. Tapi di luar. Kalau sekarang, kayaknya udah dibolehin lagi,” ujarnya. “Kemarin kita dikasih modal sama Jokowi, buat ngebersihin.”

“Ngebersihin? Maksudnya?” tanya saya bingung.

“Ya, ini, buat cat, hiasan, biar rapi, jadi enak dilihat… ini, kan sebelumnya jelek, kotor…” jawab Pak Yahya sambil menunjuk delmannya yang berpenampilan baru. “Kita juga dikasih baju, seragam, biar sama.”

“Oh, gitu…”

“Tapi gak tahu, deh, besok-besok dibolehin lagi apa yak?”

Tampilan delman Pak Yahya pada hari ulang tahun DKI Jakarta ke-486.

Sepertinya, Gubernur DKI Jakarta saat ini, Joko Widodo, memang khusus mengeluarkan izin bagi para kusir supaya bisa beroperasi di dalam dan di luar kawasan Monumen Nasional untuk mendukung perayaan ulang tahun Jakarta saja. Sebab, belum ada peraturan resmi yang menyangkut nasib delman-delman tersebut. Jokowi sendiri mengakui bahwa dia belum membahas lebih jauh terkait keputusan yang menyangkut nasib transportasi bebas polusi asap itu. Dalam video yang diunggah ke YouTube, oleh akun GubernurJokowiAhok, tanggal 15 Juni 2013, Joko Widodo menuturkan bahwa pada dasarnya delman-delman Betawi dapat beroperasi di mana saja, asal tidak mengganggu kenyamanan dan kebersihan Kota Jakarta.

Baru saja saya salut dengan langkah bijak Pemda ini, saya dikejutkan oleh ekspresi Pak Yahya yang kaget ketika melihat beberapa petugas Satpol PP yang menghadang delmannya dan delman-delman lain yang melalui jalur yang sama. Salah seorang petugas memukul kuda delman yang berada di depan kami, lalu berteriak, “Kan sudah dibilang gak boleh ke sini!? Pergi! Pergi!” Kemudian, semua kusir yang melalui jalur itu memutar balik delmannya, menjauhi petugas Satpol PP.

“Loh, katanya udah boleh, Pak, tapi kok diusir lagi?” tanya saya beberapa detik kemudian.

“Gak tahu,” jawab Pak Yahya bingung. “Lewat sini saja, ya…?”

“Iya, Pak… saya berhenti di dekat rumput di ujung saja,” kata saya sambil menunjuk pohon-pohon yang ada di sekitaran area Monas, tepatnya di dekat panggung besar yang akan diisi acara pesta pada malam puncak. “Mungkin memang jalur yang itu dilarang, Pak.”

“Gak tahu juga. Tapi tadi boleh-boleh aja, sekarang dilarang,” kata Pak Yahya kesal.

Menjelang mencapai tempat berhenti yang saya tunjuk itu, perbincangan kami mengarah ke nasib-nasib para kusir yang masih eksis hingga sekarang. Mulai dari penghasilan yang sudah tak memuaskan– dulunya bisa mencapai lebih kurang lima ratus ribu rupiah sehari, merosot menjadi lebih kurang seratus lima puluh ribu rupiah—hingga ke usaha-usaha para kusir dalam bernegosiasi dengan para pejabat.

“Ada, namanya, Bang Hasan, yang datang ke Jokowi waktu itu,” kata Pak Yahya.

“Dia siapa, Pak? Kusir juga?”

“Iya, dia kusir,” jawab Pak Yahya. “Tapi, ya… dia yang mimpin kita-kita lah, yang ngurusin ngomong ke gubernur…”

Turun dari delman, saya kesal karena ternyata kamera saya mati dan tidak merekam semua kejadian. Setelah saya periksa, adegan Satpol PP menghalau delman tidak terekam. Bahkan, perbincangan kami juga terpotong.

Saya akhirnya memutuskan pulang. Saya menuju Stasiun Juanda dengan berjalan kaki. Di area luar Monas, saya melihat ada beberapa delman yang melintas, bahkan ada yang melawan arus macet Jakarta. Dandanan delman-delman itu sama dengan delman-delman yang ada di dalam area Monas. Sekali lagi sayang, saya tak bisa mengabadikannya karena kamera saya sudah tak bisa menyala.

Suasana siang hari di Monas pada hari ulang tahun DKI Jakarta.
Suasana para pengujung yang duduk ngaso di salah satu rerumputan di area Monas, menunggu acara panggung hiburan yang akan dimulai petang hari.
Suasana persiapan panggung untuk acara puncak ulang tahun DKI Jakarta di Monas.
Suasana siang hari di Monas, para pengunjung berjalan-jalan di sekitar tenda-tenda pameran/jualan.
Suasana siang hari di Monas, para pedagang kecil juga membuka lapak di area Monas pada hari ulang tahun Jakarta.

Apa sebenarnya yang harus manusiawi dari Jakarta? Sekali lagi saya bertanya, bahkan ketika menulis ini. Semakin hari, manusia Jakarta, mau tak mau, harus berkompromi untuk menjadi ‘tak manusiawi’ karena berhadapan dengan kepadatan Jakarta yang semakin tak ramah. Masalahnya, hal-hal yang dianggap bergerak lambat dilihat sebagai gangguan. Kita dapat menilainya mulai dari tingkah laku sebagian besar warga Jakarta yang mengabaikan jembatan penyeberangan, aksi masa bodoh para pedagang yang membuka lapak di sembarang tempat, hingga tanggapan pemerintah yang melakukan penggusuran warung-warung warga di pinggir jalan, dan pelarangan alat transportasi yang tidak menggunakan mesin/motor, seperti delman, contohnya. Masih banyak lagi hal-hal tak manusiawi yang terjadi di Jakarta, baik yang dilakukan oleh warganya maupun oleh pemerintahnya.

Khusus pada kasus delman di Jakarta, hanya karena alasan tahi kuda mengotori jalanan dan gerak jalannya yang lambat menyebabkan macet di jalanan, transportasi khas Betawi ini dilarang melalui surat keputusan pemerintah. Di mata masyarakat, kepopuleran delman tergerus oleh ‘kehebatan’ angkutan kendaraan bermotor. Padahal, kalau dipikir-pikir, kotoran mesin bermotor lebih berbahaya ketimbang kotoran delman. Macet Jakarta juga sebenarnya disebabkan oleh semakin tak manusiawi-nya perilaku konsumsi warga masyarakat terhadap barang tersier yang memberikan kepastian kelas dan citra (mobil dan sepeda motor pribadi). Menurut saya, penataan terhadap Jakarta, untuk membangun Ibukota yang lebih manusiawi, justru melupakan esensi kemanusiaan ketika ‘penertiban’ delman, atau kasus-kasus lainnya yang senada, menjadi agenda yang diutamakan.

Salah satu delman menunggu warga mangkal di area dalam Monas di hari ulang tahun Jakarta.

Pengalaman naik delman di hari ulang tahun Jakarta itu memunculkan kesan di dalam diri saya bahwa delman kembali dilirik hanya ketika dia dapat menjadi ikon kebanggaan Ibukota. “Warisan budaya masyarakat yang Jakarta (Betawi) banget!” biasanya orang-orang berujar. Sementara itu, hal yang paling ‘khas’ dari Jakarta itu sendiri, seakan dilupakan. Mengapa tak ‘memamerkan’ jalanan yang macet saja jika ingin menunjukkan karakter Jakarta yang sesungguhnya? *

Mengapa Jakarta

Tulisan ini sudah terbit lebih dulu di jurnal akumassa dengan judul yang sama pada tanggal 22 Juni 2011.

Dua tahun sudah aku memijakkan kaki di Jakarta. Alasanku berada di sini, tidak lain adalah untuk melanjutkan sekolah ke jenjang perguruan tinggi yang ada di Ibukota. Merantau memang sudah menjadi tradisi di dalam keluargaku. Saat ini, aku belum dapat menentukan apakah akan kembali lagi ke kampung halaman, di Pekanbaru, atau akan mengikuti jejak orang rantauan pada umumnya yang memilih untuk tinggal lama di Jakarta, atau bahkan mungkin untuk menetap selamanya. Karena menimbang-nimbang pilihan ini, aku lantas terpikirkan sebuah pertanyaan: mengapa orang-orang datang ke Jakarta dan bisa tinggal lama di sana?

484 tahun lamanya, dari dulu hingga sekarang, Jakarta menjadi kota pusat aktivitas, mobilisasi, pertumbuhan dan perkembangan masyarakat dan Negara Indonesia. Kita semua tahu bahwa sebagai Ibukota, Jakarta semakin hari semakin dipadati oleh penduduk, baik dari dalam maupun dari luar Kota Jakartanya sendiri. Bisa dikata, Jakarta menjadi tempat ‘kumpul’ dan membaurnya orang-orang se-Indonesia yang ingin mendapatkan sesuatu, yang mungkin, bagi orang-orang, hal itu tidak bisa didapatkan di luar Kota Jakarta.

Para perantau berdatangan dari berbagai daerah untuk melakukan satu dan banyak hal di Jakarta. Aku sangat yakin, pastinya ada alasan tertentu yang berbeda-beda, yang melatarbelakangi mereka untuk meninggalkan kampung halaman, dan kemudian memilih untuk menetap di Ibukota. Dan sebagai orang yang sekarang hadir dan beraktivitas di Jakarta, tentunya mereka juga memiliki pendapat atau pandangan sendiri tentang Jakarta. Hal inilah yang kemudian mendorongku untuk bertanya kepada beberapa teman atau kenalan yang merupakan orang rantauan, tentang alasan mereka berada di Jakarta. Beginilah kira-kira jawaban mereka:

Kapan dan mengapa kamu ke Jakarta, dan mengapa sampai sekarang masih tetap berada di sini?

Andan, dari Makassar, Sulawesi  Selatan. Seorang  periset, penulis  dan seorang mahasiswa.

Saya lahir di sebuah kota kecil di Sulawesi Selatan, 4 jam dari Makassar. Saya di Jakarta sejak tahun 2005. Mulai di Jakarta tahun 2005, meskipun sebelumnya pernah datang beberapa kali untuk kunjungan singkat, dan sejak tahun 2005 sampai sekarang  saya menetap di sini.  Dan kalau pertanyaannya kenapa sampai saat ini saya belum pulang dari Jakarta, karena sebagian banyak aktifitasnya itu di sini.  Sebagian besar aktifitas yang saya maksud adalah aktifitas yang menyangkut kebutuhan bertahan hidup atau aktifitas yang kebutuhan mengisi diri, dalam hal ini, saya masih sekolah di UI. Saya berfikir suatu saat saya harus kembali ke kampung halaman saya dan meninggalkan Jakarta, karena biar bagaimana pun setiap orang punya akarnya masing-masing.  Dan menurut saya akarnya ini perlu dibangun, tempat asalnya perlu dibangun. Mungkin suatu saat saya akan kembali, mungkin 2 atau 3 tahun lagi.

Hafiz

Hafiz, dari Pekanbaru, Riau. Seorang seniman.

Saya sudah tinggal di Jakarta 21 tahun, dan kenapa saya tidak pulang ke kampung halaman karena ini mimpi, ini harapan, jadi harapan di kampung tidak ada, karena bidang yang saya dalami berbeda, mungkin kita bisa merubah kampung dari sini saja, jadi gak perlu langsung pulang ke kampung. Pertama kali ke sini ya karena itu, mimpi. Mimpi itu diwujudkan dengan kuliah, yaitu ke Jakarta. Keinginan untuk kembali ke kampung itu tentu ada, tetapi jika jika paradigmanya sudah berubah. Pasti akan berubah, ya daerahnya kalau sudah mulai berubah, paradigma sudah berubah, pasti juga berubah. Pasti kalau paradigma daerahnya sudah berubah, pasti orang yang berpendidikkan juga berfikir untuk kembali ke kampungnya.

Dian Komala

Dian Komala, dari Sukabumi, Jawa Barat. Seorang pekerja visual.

Alasan pertamanya karena di Sukabumi tidak ada penghasilan yang membuat saya tidak bisa maju.  Jadi saya berangkat ke Jakarta untuk bekerja dan belajar. Intinya saya tidak mau seperti keluarga-keluarga saya yang tetap ada di lingkaran setan. Maksudnya dari lingkaran setan itu, semua persoalan, terutama ekonomi itu selalu berangkat dari satu titik dan kembali lagi ke titik itu. Gali Lobang Tutup Lobang. Pinjam uang di sini, untuk menutupi utang di sini karena gajih yang ini tidak cukup. Pekerjaan pun di sana cuma sekedar pabrik dan jaga toko-toko, biasa lah.

Minah

Minah, dari Kebumen, Jawa Tengah. Seorang pedagang dan ibu rumah tangga.

Pertama menetap di Jakarta tahun 1995. Pulang ke kampung setahun sekali. Udah kumpul keluarga, terutama ada suami, anak juga sekolah di sini, ya betah jadinya. Di sini dagang, warung kecil-kecilan lah untuk menghidupi keluarga, kebutuhan. Habis, fasilitas di Kebumen susah sih untuk pencarian uang.

Lorry

Lorry, dari Salatiga, Jawa Tengah, seorang staf keuangan sebuah lembaga seni.

Alasan saya dulu ke Jakarta itu, salah satu kuliah karena waktu itu orangtua saya kedua-duanya sudah meninggal. Kakak saya berinisiatif  saya dibawa ke sini untuk tetap kuliah di sini. Jadi, ada yang mengawasi di sini. Itu alasan saya di Jakarta. Ada sih keinginan untuk pulang ke sana, kebetulan saya ada rumah di sana, paling untuk keperluan ke makam, kebetulan saya masih ada saudara di sana atau kalau ada acara natal dan tahun baru, itu baru kita kumpul keluarga besar di Salatiga. Mungkin kan di sini kesibukkannya udah yang bener-bener sama orang kerja jadi jarang ketemu. Ya, mungkin karena saya sudah bekerja di sini, ada sih keinginan membuka usaha di Salatiga. Tapi kan kalau kita mau buat usaha di sana, kita harus punya modal. Jadi untuk saat ini kita mencoba untuk mengumpulkan dulu, mengumpulkan uang atau apalah untuk modal, kalo misalnya kita sudah tidak… ya tinggal pulang. Usaha di sana, usaha apa saja, yang penting bisa menghidupi keluarga.

Yuniarti, dari Bukit Tinggi, Sumatera Barat. Seorang pedagang baju muslim.

Pertama kali ke Jakarta tahun 75, waktu itu ikut paman ke Jakarta untuk kuliah. Kemudian setelah ke Jakarta, tetap tinggal di sini karena semua aktivitas sudah dilakukan sejak lulus kuliah. Kemudian berkeluarga, punya anak, dan rumah juga di sini. Paling hanya beberapa kali pulang kampung untuk kumpul keluarga. Kalau di Jakarta, peluangnya lebih menjanjikan, berbeda dengan di kampung. Apa yang mau didapat di kampung, nggak mungkin kembali dan pergi ke sawah, nyangkul.

Kartini, dari Gunung Kidul, Yogyakarta. Seorang ibu rumah tangga dan pengusaha kecil.

Ke Jakarta, ya ikut kakak aja, pengen sekolah. Dulu kan dari lulus SMP.terus pindah ke Jakarta. Memilih tinggal di Jakarta karena Jakarta lebih menarik, lebih banyak peluang untuk maju dari pada kalau tinggal di kampung.

Reza Avisina, dari Bandung, Jawa Barat. Seorang pekerja seni.

Saya ke Jakarta tahun 1995 menuntuk kuliah di Institut Kesenian Jakarta, sinematografi. Selepas itu saya melakukan beberapa hal yang bersangkutan dengan pekerjaan.

Sebagai orang rantauan dan sudah lama tinggal di Jakarta, bagaimana pendapat kamu tentang Kota Jakarta itu sendiri?

Dian

Ya, itu sama seperti orang-orang ngeliatnya. Awalnya keluarga gue, terutama ibu, ngelarang gue buat ke Jakarta. Karena pandangan dia sama seperti orang-orang pada umumnya, di Jakarta kita bisa bebas, ya intinya bisa merusak… kan anak Sukabumi itu anak dusun terus pindah ke kota. Awalnya gue juga menganggap gitu, tapi sekarang, pokoknya Jakarta tempat bekerja gue dan tempat belajar gue.

Andan

Menurut saya Jakarta bagi orang yang rantauan seperti saya tetap dengan ilusinya. Jakarta penuh dengan ilusi, bahwa Jakarta adalah segalanya, Jakarta adalah tempat mengadu nasib dan dengan begitu tidak pernah kan kita lihat orang berhenti datang ke Jakarta. Setiap tahun pemerintahan Jakarta yang mengeluarkan peraturan mengenai kependudukkan dengan adanya operasi prostitusi, tetapi orang tetap saja datang dengan segala resikonya masing-masing.  Ya orang-orang pada tahu bahwa kalau kamu ke Jakarta tanpa ada skill yang bisa dipakai untuk bertarung di kota besar ini, orang tetap datang. Dan orang-orang yang juga sudar dari awal sadar bahwa dia sudah punya skill tertentu, berlebih untuk orang seperti itu dia akan tetap datang ke Jakarta untuk mengadu nasib. Menurut saya Jakarta adalah salah satu tempat yang tepat untuk bertarung bertahan hidup karena tidak bisa dipungkiri, misalnya kota ini adalah kota pusat percaturan baik ekonomi maupun politik. Dan dengan seperti itu banyak orang yang datang ke sini untuk mengambi…(ada orang datang)… Jadi begitu ya orang tidak pernah berhenti datang ke sini karena menganggap ini adalah kota yang menyimpan harapan. Banyak orang yang menggantungkan harapannya di sini. Karena itu tadi dia (Jakarta) pusat percaturan ekonomi maupun politik. Dan kan menurut saya ada tiga hal pendapat orang tentang mengenai kota, termasuk mengenai Jakarta lah, pendapat pertama selalu bilang bahwa kota seperti Jakarta adalah kota yang penuh dengan hiruk pikuk, tempat kemaksiatan terjadi tapi di tempat lain juga kemaksiatan terjadi tidak mesti  di Jakarta, tempat dengan penuh kemacetan, penuh dengan haru birunya sendiri dan pendapat pertama ini selalu bilang bahwa  ‘jangan datang ke Jakarta deh, lu akan sengsara kalau datang ke sana’. Ya terus yang ke dua, pendapat ke dua ini selalu berkata Jakarta adalah kota segalanya, lu bisa mengadu nasib dan nyaman lah kota ini.  Mereka mengesampingkan segala hal-hal yang negative mengenai Jakarta, cuek lah dengan bahwa Jakarta penuh macet, hiruk pikuk, penuh orang-orang dengan niat yang berkomunikasi bila ada kepentingan, menurut saya di tempat lai juga banyak yang kayak gitu, bukan hanya di Jakarta. Dan kelompok ke dua ini nyaman dengan kota ini dan terus tinggal mencari keuntungan sebesar-besarnya dari kota ini dan menganggap bahwa Jakarta adalah segalanya. Nah pendapat ke tiga ini, pendapat yang menggambungkan, dia hibridasi dari pendapat yang tadi disebutkan tetap melihat Jakarta dengan hiruk pikuk, penuh dengan kemacetan, kemaksiatan apalah segala macam, tapi tetap merasa bahwa kota ini nyaman untuk dipakai untuk mengadu nasib. Ya kita tahu lah ada beberapa pernyataan tentang Jakarta baik melalui film, atau lagu, atau mungkin melalui karya sastra. Dulu tuh ada film Badut-badut Kota yang main Dede Yusuf dan Ayu Azhari, itu adalah salah satu film yang menurut gue oke banget, kalau di lagu kita tahulah ada kalimat di lagu ‘siapa suruh datang ke jakarta’.  Atau misalnya di pribahasa ada kalimat ‘sekejam-kejamnya ibu tiri lebih kejam ibu kota’. Nah menurut gue, itu kesan orang-orang tentang Jakarta yang di formulasikan dalam budaya pop film, lagu dan kalau sastra mungkin ini ya, apa yah yang pernah gue baca dan menarik banget, oh kumpulan cerita pendeknya Pram, Cerita Dari Jakarta. Itu Jakarta tempo dulu ya bukan Jakarta yang sekarang. Kalau yang sekarang kayaknya belum nemu penulis yang menggambarkan Jakarta sebaik Pram.

Lorry

Untuk Jakarta saat ini, mungkin orang umum juga sudah tahu ya, keadaan Jakarta tuh sekarang, macet, itu yang ke satu, masalah juga dengan transportasi, menurut saya juga masalah ini belum terpecahkan. Sampai saat ini.  Walaupun program ini sudah lama berjalan, walaupun sudah ada busway, ata apa itu juga, kemajuannya juga belum terlalu, masih saja macet. Apalagi dengan banyaknya akhir-akhir ini tawuran warga, itu marasa kita tidak terlalu aman.  Masalah keamanan juga, banyak penodongan, banyak perampokkan sekarang, mungkin orang berfikir, orang pindah ke Jakarta tuh harus  bisa merubah nasib, dan terkadang di sini lowongan pekerjaan juga susah, seseorang berfikir mereka bisa cepat langsung bisa, ya itu jalan satu-satunya orang yang berfikiran pendek ya, dengan jalan merampok, menyopet apapun dilakukan untuk mereka bisa bertahan hidup. Saya harap sih untuk ulang tahun Jakarta yang ke 484 ya, berharapnya Jakarta, bisa berubah lebih baik untuk semua golongan masyarakat di sini.

Reza

Tentang Jakarta, sejauh ini, yang saya lihat adalah Jakarta merupakan sebuah tempat atau bia dibilang kota besar, karena memang masyarakat yang datang ke sini cukup banyak, dan perkembangannya juga cukup besar. Kalau dibandingkan dengan kota kelahiran saya, di Bandung, tempat tinggal saya sampai SMA waktu itu, tidak banyak hal yang berarti juga. Dibandingkan dengan beberapa isu yang mungkin di Jakarta jauh lebih fresh disbanding di daerah. Karena permasalahan di Jakarta sendiri adalah ketidakkompakan warganya dalam hal melihat situs Kota Jakarta itu sendiri. Dan ini tidak hanya bisa dilihat dari sekedar pembangunan atau hal-hal yang melemahkan Kota Jakarta, tapi menurut saya, mungkin kesadaran orang yang datang ke Jakarta, kaum-kaum urban ini, pendatang yang membangun Kota Jakarta, kemudian kembali ke daerahnya, karena nggak kompak. Satu merusak, yang lain ikut merusak. Satu membangun, yang lain mungkin cuma ikut-ikutan. Tidak pernah ada satu keselarasan. Dan gue rasa, Jakarta tidak bisa hanya dilihat sebagai kota yang membangun saja, tapi Jakarta itu juga bisa dilihat sama dengan kota lainnya yang mempunyai daya bertahan hidup. Sebetulnya sama saja, sih porsinya, tidak ada yang istimewa juga dengan Jakarta selain kalau kita melihat Jakarta sebagai kota besar, kota urban, atau sebagai Ibukota Negara. Tapi kalau saya lihat, sebagian besar warga yang hadir di Kota Jakarta, yang tinggal, bekerja, dan berkehidupan di Kota Jakarta itu, yang masih kurang adalah kekompakan, bukan soal kekeluargaan aja, tapi kompak.

Kartini

Melihat Jakarta, ya penuh dengan carut marut. Sebagai ibukota negara, Jakarta itu kan seharusnya bersih. Soal kebersihan itu kan memang seharusnya menjadi tanggung jawab masing-masing warga, gitu. Sekarang kan kesadaran itu nggak ada. Ya contoh kecilnya, kalau pedagang-pedagang di pinggir jalan, kalau nyapu, masuknya ke got. Terus soal kemacetan, kriminalitas juga tinggi. Harapan saya ya lebih ditertibkan lagi, baik itu tata kotanya, difungsingkan sebagaimana fungsinya, penghijauan diperbanyak. Jangan hanya penambahan gedung-gedung bertingkat aja, tapi penyerapannya nggak ada. Kalau misalnya suatu saat hancur Jakarta karena banjir, ya jangan disalahkan yang lain-lain, kan gitu.

Hampir semua dari orang yang aku tanyai alasan dan pendapatnya tentang Jakarta, jawabannya memiliki kemiripan yang sama. Jakarta menjadi kota tujuan dengan harapan untuk dapat mengakses lebih kesempatan-kesempatan yang ada di Jakarta dibandingkan dengan kota lain. Bahkan, seorang temanku, yang dahulunya lahir dan tinggal di Jakarta, dan kemudian sempat pergi meninggalkan Jakarta selama 10 tahun, memilih kembali ke Jakarta dengan alasan yang sama. Begitu juga dengan pandangannya tentang Kota Jakarta, yang tidak mengalami perubahan terlalu signifikan selain persoalan sosial masyarakatnya.

Akbar Yumi, dari Jakarta. Seorang periset dan pengurus sebuah perpustakaan.

Gue lahir tahun 75 sampe SMA kelas 3… tahun 92-an lah. Ya udah gue ke Malang, kuliah. 10 tahun lebih, nggak lulus lagi. Balik ke Jakarta, karena gue lama nggak pulang. Yang kedua, di sini banyak fasilitas, mau belajar juga banyak buku, banyak perpustakaan, banyak bahan-bahan berkaitan dengan kebudayaan. Kalau di daerah, kan masih minim yang gitu-gitu. Ya itu mungkin alasan yang lebay, gitu deh! Oh, yang ketiga, alasan formal. Gue ditelepon oleh salah seorang untuk bantu pengarsipan di perpustakaan, waktu itu. gue nggak nyari pengalaman di Jakarta, justru gue terdidik di lokal, ya, di daerah. Maksud gue, iklimnya, masih belum profesi orientit. Gue pikir semua sejarah kepahlawanan itu, juga besarnya di lokal. Gue justru lebih cari banyak pengalaman di daerah. Jakarta itu udah aplikasi, menurut gue. Kalau urusannya survival, ya udah praktif. Jakarta, tetap aja, nggak ada yang berubah. Waktu gue kecil, begitu aja. Kalau fisik pastilah, nggak usah diomongin, kulturnya juga tetap sama. Cuma sekarang, karena gue dulu kecil, gue nongkrongnya sama anak-anak yang di Jakarta. Kalau sekarang, banyak orang daerah di Jakarta, jadi mungkin secara sosial pasti bergeser. Balik ke Jakarta, gue udah agak lebih tua. Jadi hubungan sosialnya juga udah beda. Mungkin yang membedakan, bukan soal kota. Maksud gue yang membedakan tuh karena umur gue, relasi sosialnya bergeser aja. Kalau kota di mana-mana, gue pikir, sama aja, di Jakarta atau di daerah. Tapi ya itu tadi, maksud gue bedanya, dulu gue waktu sekolah nggak punya beban, nggak butuh orang lain, mau bandel seenaknya. Sekarang gue balik ke Jakarta udah tua, jadinya beda. Maksud gue, beban-beban… beban yang didapat dari pengetahuan, gitu loh! Kalau orang yang tidak berpengetahuan, kan sebenarnya tidak punya beban.

* * *

Kenyataannya, persoalan yang melingkungi Jakarta semakin kompleks saja. Jawaban-jawaban dari orang-orang yang aku tanyai itu sudah mencerminkan hal itu, mulai dari soal ketangguhan untuk bertahan hidup, mencari pekerjaan, hubungan antar individu di dalam mayarakat, hingga ke persoalan instrumen-isntrumen kota yang belum begitu terasa manfaatnya bagi warga masyarkat Kota Jakarta. Kita seolah hidup di lingkungan yang begitu memaksa: memaksa untuk bertahan, memaksa untuk berkompromi. Kalau boleh aku mengutip sebuah tulisan, berjudul Ikan Asin, karya Otty Widasari, jika ingin tetap melanjutkan hidup di Jakarta ini, “jutaan warga masyarakat yang ada di Jakarta pun tetap bertahan mencari penghidupan di Jakarta, terus merajut mimpinya, dengan cara berkompromi dengan sistim yang terbentuk dengan deras, mengemas, membungkus, tanpa kompromi”.

Orang-orang rantau yang memilih untuk tetap tinggal di Jakarta pastinya harus dan sudah melakukan itu, dari pada berkompromi dengan takdir atau nasib yang tak ada indah-indahnya jika kembali ke kampung halaman yang belum banyak memberikan kesempatan yang lebih. Lebih baik berjuang untuk meraih mimpi. “Karena mimpi itu yang membuat kita bergerak berdiri.” ***

Cerita Kami di Kota Tua

Artikel ini ditulis oleh Dian Komala dan Manshur Zikri, sebelumnya telah dimuat di Jurnal akumassa. Silakan lihat di link ini

Kota Tua dan Atraksi Kuda Lumping

Hari itu, aku dan temanku, Zikri, berencana menuju Kota Tua. Aku penasaran akan Kota Tua, karena aku pernah melihat foto salah satu temanku dulu waktu masih duduk di bangku SMP. Dalam foto itu dia dan teman lelakinya yang memakai topi rotan jaman dulu sedang menaiki Sepeda Ontel dengan latar belakang bangunan-bangunan tua. Kota Tua terletak di Jakarta Kota. Jika kita naik kereta menuju Jakarta, Kota Tua berada di stasiun terakhir, yaitu Jakarta Kota. Akhirnya, berangkatlah aku dan Zikri ke Kota Tua dengan penasaran bersama.

Kota Tua

Di Stasiun Universitas Indonesia (UI) kami menunggu kereta ekonomi yang akan membawa kami menuju Jakarta. Tidak lama kami menunggu, kereta pun datang dan kami langsung menaikinya. Ternyata kereta cukup padat hari itu.

Di kereta, aku banyak melihat anak-anak di bawah umur tanpa orang tua. Kuperhatikan, anak-anak itu naik-turun dari beberapa stasiun, berjalan mondar-mandir dari gerbong satu ke gerbong lainnya. Ada satu anak yang duduk di pinggir pintu yang aku beri perhatian lebih. Setelah aku ajak berkenalan, dia mengaku bernama Dewi. Awalnya aku mengira dia adalah seorang anak laki-laki, tetapi dugaanku salah, ternyata dia adalah seorang anak perempuan. Dewi adalah seorang tukang sapu di kereta, ia berumur 14 tahun. Penampilannya sangat lusuh. Dia tinggal bersama ibunya, sedangkan ayahnya tidak tahu ke mana. Saat itu dia sedang beristirahat menikmati pemandangan di luar kereta setelah lelah menyapu setiap gerbong dari pagi.
Setelah aku amati saat beberapa hari ini aku naik turun kereta, anak-anak yang mencari nafkah di kereta adalah mereka yang punya masalah di keluarganya. Mungkin selain untuk mencari uang, kehidupan di kereta juga bisa membuat mereka sedikit terbebaskan dari masalah di keluarga mereka.

Ada juga ibu-ibu yang dengan sengaja membawa anaknya yang masih balita untuk mengemis di jalanan raya, terutama di lampu merah dan menyapu di kereta. Aku jadi ingat sebuah kisah teman dari kakakku. Mereka memperkerjakan seorang pengasuh untuk menjaga anaknya di rumah yang masih balita. Diperhatikan, si anak itu dari hari ke hari fisiknya berubah, kulitnya menghitam, badannya kurus dan lebih pendiam. Semuanya terjawab, ketika salah satu teman mereka melihat anak  itu sedang mengemis di dekat sebuah lampu lalu lintas. Ternyata anak itu disewakan untuk menjadi pengemis kepada preman-preman di sana.

Anak-anak di kereta ekonomi

Tragis memang. Bukankan itu akan merusak pola pemikiran mereka ke depan. Yang mereka tahu, demi mendapatkan uang, mereka harus membuat penampilan mereka selusuh mungkin, sehingga orang-orang iba melihat mereka dan akhirnya tergugah untuk memberi uang.

Sesampainya aku dan Zikri di Kota Tua, kami langsung menuju ke suatu kerumunan. Terdengar olehku suara-suara lecutan cambuk di Lapangan Fatahillah. Ternyata ada atraksi Kuda Lumping. Lagi-lagi kulihat anak-anak di antara pemain atraksi Kuda Lumping. Seorang anak dibungkus menyerupai pocong, diikat dan dimasukkan ke dalam sebuah tenda kain berwarna hitam. Sambil menunggu kejutan dari dalam tenda, pemain lain melakukan atraksi menyembur-nyemburkan api lalu memakannya. Tak lama, tenda kain hitam tadi terbuka, terdapat si anak tadi yang dibungkus dan diikat telah terlepas bebas. Sesekali ada kru dari Kuda Lumping tersebut berjalan membawa sebuah baskom untuk meminta sumbangan dari para penonton.

Salah satu rangkaian atraksi kuda lumping

Atraksi dilanjutkan dengan percakapan konyol antara pawang Kuda Lumping dan seorang anak lain yang lebih kecil (berumur sekitar 4-5tahun). Dari percakapan mereka aku ketahui anak itu bernama Bogel. Dalam percakapan itu, sesekali Bogel terlihat dicambuk. Anehnya, setiap Si Pawang mencambuk Si Bogel, penonton malah tertawa (terkecuali aku). Aku bertanya pada Zikri, yang ikut tertawa juga “Apa lucunya, Zik?” Zikri hanya melanjutkan tawanya.

Atraksi si Pawang dan si Bogel

Para pemain saling menyemburkan api dari mulut mereka lalu memakannya. Tiba-tiba ada dua orang lelaki pingsan, yang satu masih anak-anak dan yang satu lagi sudah dewasa. Si pawang langsung mendekati dan berkomat-kamit melafalkan sesuatu. Kedua lelaki tadi terbangun dan kesurupan, seklaigus menjadi inti atraksinya. Mereka diberi kuda-kudaan. Ya, ini adalah atraksi Kuda Lumpingnya. Mereka menari-menari di lapangan dan memakan pecahan lampu. Dengan didampingi salah satu kru wanita yang tidak kesurupan, mereka meminta uang kepada penonton.

Pandanganku teralihkan kepada seorang anak berusia sekitar 3 tahun. Dia mendekati sekelompok remaja yang sedang asyik melihat atraksi Kuda Lumping. Dia memelototi para remaja itu, sebagian remaja merasa takut (mungkin mereka mengira, anak ini salah satu yang kesurupan juga).  Dia terus mendekati dan memelototi remaja-remaja itu. Ketika salah satu remaja tersebut memberi uang seribu, si anak tadi menerimanya dan langsung pergi. Tak lama, aku lihat anak itu, sedang menaiki odong-odong.

“Oh ternyata tadi melotot minta uang itu buat naik odong-odong,” kata Zikri kepadaku sambil tertawa.

Di Kota Tua, aku melihat juga para The Jakmania (pendukung klub sepak bola PERSIJA). Hampir 90% dari mereka adalah anak-anak. Mereka berjoged dan bernyanyi bersama di tengah jalan, sehingga cukup menghambat lalu lintas.

Malam pun tiba, aku menikmati malam hari di Kota Tua dengan ditemani tiga pengamen yang menyanyikan lagu Kota II dari Iwan Fals yang berlirik:

Kota yang kutinggali
Kini tak ramah lagi
Orang-orang yang lewat
Beri senyumpun enggan
……
Kota yang kudambakan
Tawarkan kekerasan
Nyeri merobek hati
Tak dapat kuhindari
Hari ke hari
Waktu ke waktu
Semakin muak dengar celotehmu
Durjana
…..
Hari ke hari
Waktu ke waktu
Aku menggapai
Menjerit lunglai
Otakku yang kini bisik
Akan sirik menggila
Bisakah aku tinggalkan?
Entah

Dian Komala


Kota Tua, Kotanya Anak Muda

“Kalau waang nio pai jalan-jalan, ancak pai ka Kota Tua lai, tampeknyo mantap, untuk foto-foto!” (Kalau kau ingin pergi jalan-jalan, lebih baik pergi ke Kota Tua, tempatnya bagus, untuk foto-foto!)

Itulah kalimat yang diucapkan oleh seorang teman serantauan, Ananto Budiarto, saat saya masih menjalani semester pertama di salah satu Universitas Negeri di Depok. Dia sudah pernah ke tempat yang dimaksud beberapa kali untuk mengisi waktu di akhir pekan. Dan hal itu terbukti dari foto-foto yang dimuatnya dalam akun situs jejaring sosial, facebook, yang dia miliki.

Sepeda Ontel di Kota Tua

Dalam bayangan saya, yang sebelumnya tidak pernah menginjakkan kaki di pusat kota, Kota Tua itu adalah suatu daerah yang bangunan-bangunannya merupakan bangunan bersejarah, orang-orang berlalu-lalang sambil berfoto-foto dan menikmati jajanan yang juga merupakan jajanan tempo dulu. Saat itu saya meyakini bahwa daerah Kota Tua yang dimaksud adalah sebuah kawasan yang ramah lingkungan, di mana tidak ada kendaraan bermotor yang boleh masuk ke wilayah itu. Keyakinan saya itu juga disebabkan oleh cerita yang saya dengar dari teman saya tersebut.

“Tampeknyo langang, ndak padek do. Apo lai kalau sore hari, mantap lah, pokoknyo!” ujar teman saya waktu itu. (“Tempatnya lengang, tidak padat. Apalagi kalau sore hari, bagus deh, pokoknya!”) begitu tuturnya.

Saya pun berpikir kalau suatu hari saya memiliki waktu luang, saya akan mendatangi Kota Tua tersebut. Saya ingin membuktikan apakah cerita teman saya itu benar adanya.

Suatu hari, atas ajakan dari salah seorang teman saya yang bernama Dian (Ageunk), saya pergi ke Kota Tua. Ageunk berasal dari Sukabumi, ia juga belum pernah menginjakkan kaki di Kota Tua. Saya berharap cerita Ananto itu bukan sekadar bualan. Karena mungkin saja dia melebih-lebihkan cerita agar orang tertarik untuk mendengar ceritanya. Selain itu, saya juga ingin mengambil beberapa foto yang bisa saya pamerkan kepada teman-teman saya di Riau melalui facebook.

Kami berangkat menggunakan kereta ekonomi dari Stasiun UI menuju Stasiun Jakarta Kota. Tibalah kami di Kota Tua.

Nama Kota Tua sendiri menjadi pertanyaan dalam kepala saya. Saya ingat ketika Bibi saya mengatakan bahwa dulu daerah Kota Tua bukanlah nama resmi dari tempat ini, melainkan masyarakatlah yang menyebutnya demikian karena suasana daerah tersebut memang bernuansa kota tempo dulu. Setelah saya mencari berbagai informasi di media online, ternyata Kota Tua baru diresmikan oleh Pemerintah Kota Jakarta Barat pada bulan Juni 2009 lalu, setelah sebelumnya direvitalisasi oleh Mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso pada bulan September 2007.

Ketika saya menginjakkan kaki di Kota Tua, hal yang saya temukan adalah suasana yang berbeda dengan bayangan saya. Memang benar bahwa kota tua memiliki banyak bangunan tua dan suasana yang akrab dengan suasana tempo dulu (saya mengatakan hal demikian karena pernah melihat foto-foto Kota Jakarta tempo dulu di sebuah forum online Kaskus). Saya juga banyak melihat orang-orang mengendarai sepeda ontel, yang menjadi atribut suasana masyarakat jaman perjuangan, juga melihat berbagai jajanan tradisional. Akan tetapi atribut-atribut tempo dulu itu diselingi oleh berbagai atribut-atribut modern, seperti tenda-tenda warung yang memiliki sponsor produk Coca-cola yang berjejer di sepanjang Jalan Bank sehingga menutupi gedung-gedung tua yang seharusnya, menurut pendapat saya, menjadi objek penarik masyarakat untuk datang ke daerah itu; pedagang pernak-pernik yang menjual barang-barang fashion jaman sekarang; dan berbagai aktivitas muda-mudi yang melakukan kegiatan anak-anak jaman sekarang pula, seperti bermain skateboard dan kegiatan fotografi. Selain itu, keyakinan saya tentang Kota Tua yang ramah lingkungan itu dirusak oleh padatnya sepeda motor yang parkir tak beraturan serta banyaknya sampah, seperti bungkus plastik, kertas bungkus nasi georeng atau sate dan botol-botol kemasan yang berserakan di sepanjang jalan. Itulah suasana Kota Tua yang saya temui saat pertama kali mengunjungi tempat itu, jauh berbeda dari bayangan saya.

Parkiran motor yang semrawut

Yang menarik perhatian saya terhadap bangunan-bangunan tua itu antara lain adalah Museum Bank Mandiri dan Bank Indonesia, Museum Wayang, Museum Fatahillah, Gedung Post Indonesia, dan Gedung Gouverneur Kantoor. Yang ada dalam pikiran saya, sebagai orang yang baru pertama kali datang ke Kota Tua, Museum Bank Mandiri dan Bank Indonesia adalah bank jaman dulu yang kini diubah menjadi bank modern jaman sekarang. Museum Wayang adalah museum yang menyimpan barang-barang antik, contohnya wayang, yang merupakan warisan budaya asli Indonesia. Museum Fatahillah, karena namanya berasal dari nama salah seorang tokoh pejuang kemerdekaan di negeri ini, saya membayangkan bahwa musum itu adalah museum yang menyimpan barang-barang atau alat-alat perjuangan seperti bambu atau meriam dan senapan para tentara Belanda. Sementara Gedung Post Indonesia adalah kantor post jaman dulu yang tidak digunakan lagi dan sekarang dijadikan objek wisata di Kota Tua. Gedung Gouverneur Kantoor saya bayangkan mungkin itu adalah kantor gubernurnya orang Belanda waktu masa perjuangan dulu, yang sekarang tidak digunakan lagi dan juga dijadikan objek wisata. Di teras Gedung Gouverneur Kantoor ini lah saya melihat para anak muda bermain skateboard dan para fotografer amatiran (barangkali ada juga yang profesional) mengambil gambar-gambar mereka serta gambar-gambar suasana Kota Tua. Sekali lagi saya katakan, mengenai penjabaran saya tentang gedung-gedung tersebut, itu hanyalah bayangan saya yang belum tahu apa-apa tentang Kota Tua. Suatu bayangan yang konyol, memang.

Di antara Gedung Pos Indonesia dan Gedung Gouverneur Kantoor ada sebuah lapangan yang cukup luas, dan dari mulut seorang penjaga sepeda ontel di lapangan itu, saya ketahui bahwa lapangan itu bernama Lapangan Fatahillah, mungkin karena di dekat sana juga ada Museum Fatahillah. Lapangan ini adalah daerah yang paling ramai, mulai dari para pengunjung, pedagang, pengamen dan pengemis, orang-orang yang menjaga sepeda ontel di pinggir lapangan, dan juga para pemain atraksi Kuda Lumping yang paling menarik minat pengunjung untuk menontonnya, memenuhi lapangan tersebut. Di lapangan itu juga banyak muda-mudi, ada juga bapak-ibu, yang asyik mengendarai Sepeda Ontel. Sepeda itu disewakan oleh beberapa orang di pinggir lapangan, untuk berkeliling Kota Tua.

Para pemuda bermain skateboard di Kota Tua

Berbicara mengenai Sepeda Ontel, saya teringat sebuah artikel di internet yang saya baca tentang sejarah Sepeda Ontel beberapa hari yang lalu. Sepeda ini namanya adalah Sepeda Lawas, tetapi kebanyakan masyarakat menyebutnya sepeda ontel (diontel atau dikayuh) atau sepeda jengki (berasal dari kata Jingke, Bahasa Betawi, artinya berjinjit). Disebut demikian karena sepeda itu harus dinaiki dengan cara berjinjit. Sepeda lawas pertama kali diciptakan di Inggris sekitar tahun 1790 dan diberi nama Hobby Horses dan Celeriferes. Dua sepeda ini belum memiliki mekanisme seperti sepeda jaman sekarang, hanya berupa dua rangka roda dari kayu. Kemudian oleh Karl Von Drais, seorang mahasiswa matematik dan mekanik di Heidelberg, Jerman, dilakukan modifikasi dengan memberikan sistem kemudi pada roda depan. Sepeda yang telah dimodifikasi ini diberi nama Draisienne, dan kepopuleran sepeda tersebut dimuat di sebuah surat kabar lokal Jerman pada tahun 1817. Pada perkembangan selanjutnya, sepeda ini terus dimodifikasi oleh para ahli, seperti Kirkpatrick Macmillan (1839) yang menambahkan batang penggerak yang menghubungkan antara roda belakang dengan ban depan Draisienne. Kemudian James Starley (1870) dan keponakannya John Kemp Starley melakukan modifikasi lain dengan menambahkan rantai pada sepeda untuk menggerakkan roda belakang dan ukuran kedua rodanya sama sehingga sepeda lebih nyaman dan aman untuk dinaiki siapa saja pada tahun 1886. Penemuan penting juga dilakukan oleh John Boyd Dunlop pada tahun 1888, yaitu teknologi ban sepeda yang bisa diisi dengan angin (pneumatic tire). Setelah itu, perkembangan sepeda bergerak dengan sangat pesat dan berbagai bentuk sepeda mulai diciptakan.

Di Indonesia sendiri, kepopuleran sepeda di bawa oleh orang-orang Belanda. Sejak kedatangan sepeda dari Belanda, sepeda menjadi kendaraan elit pada masa itu. Orang-orang, terutama orang yang bukan pribumi, sengaja bersepeda untuk menikmati keindahan alam di Indonesia. Lambat laun, karena kemajuan teknologi, kepopuleran sepeda menjadi hilang sejak ditemukannya kendaraan bermotor. Akan tetapi bukan berarti keberadaan dan penggunaan sepeda hilang sama sekali. Bahkan pada saat ini, bersepeda menjadi salah satu pilihan gaya hidup masyarakat.

Kata bibi saya, ojek sepeda ontel itu sudah ada sejak dulu ketika dia masih menjadi seorang mahasiswi. Para tukang ojek memberikan jasa sepeda layaknya para tukang ojek sepeda motor sekarang. Akan tetapi, keberadaan ojek sepeda di Kota Tua, yang secara resmi, baru ada sekitar dua tahun yang lalu. Informasi itu saya dapatkan dari salah seorang tukang ojek sepeda yang saya tanyai.

Saya dan Ageunk sempat berniat untuk menyewa salah satu sepeda supaya bisa berkeliling Kota Tua dengan tidak jalan kaki. Namun niat itu diurungkan ketika kami mengetahui harga sewanya adalah Rp 20.000,- per jam untuk berkeliling di Lapangan Fatahillah dan Rp 30.000,- untuk berkeliling ke lima wilayah wisata Kota Tua dengan seorang pemandu. Mengingat kami hanya membawa uang pas-pasan, kami tidak jadi menyewa sepeda.

Saya dan Ageunk kemudian hanya menonton atraksi Kuda Lumping hingga malam tiba dan setelahnya kami kembali pulang ke Lenteng Agung.

Kota Tua adalah kotanya anak muda. Menurut saya, itu kalimat yang cocok untuk kawasan wisata malam tersebut. Saya ingat cerita paman saya yang mengatakan bahwa sejak dulu Kota Tua memang menjadi tempat berkumpulnya anak-anak muda.

Pengunjung Kota Tua semakin ramai di malam hari

“Dulu, pulang dari kampus, kami sering berkumpul di sana sambil makan-makan atau sekadar ngobrol ringan sampai malam tiba. Anak-anak muda banyak yang ke sana, rata-rata mahasiswa dan pelajar SMA dan SMP,” kata paman saya.

Tentunya, suasana dulu dan sekarang pasti berbeda. Meskipun saya orang yang baru pertama kali datang ke sana, saya bisa membayangkan hal itu. Apabila dahulu orang-orang datang dan meramaikan Kota Tua dengan berkumpul dan bercanda tawa, hal yang serupa juga dilakukan oleh orang-orang jaman sekarang. Akan tetapi dengan suasana yang berbeda, yaitu Kota Tua sebagai kawasan wisata malam yang resmi serta diselingi dengan berbagai atribut-atribut modern. Karena Kota Tua adalah kawasan wisata malam, adalah suatu hal yang wajar ketika saya terpana melihat kenyataan bahwa semakin hari larut, suasana Kota Tua semakin ramai oleh anak-anak muda.

“Memang kotanya anak muda  nih Kota Tua!” kata saya kepada diri sendiri.

Manshur Zikri

Pasar Malam di Taman Lenteng, Lenteng Agung

Atas udangan teman saya, Dian Komala, yang berniat untuk mengambil gambar keramaian di Pasar Malam, Taman Lenteng, Jalan Lenteng Agung, saya menyempatkan diri pula untuk mengambil beberapa gambar dengan kamera di handphone saya sendiri. Berikut gambar-gambarnya.

Pasar Malam di Taman Lenteng Agung

Gang di sebelah lapangan voli di Taman Lenteng, penuh dengan para pedagan

Kemunculan pasar malam ini sama halnya dengan pasar kaget. Pada siang hari, Taman Lenteng hanyalah sebuah taman yang ramai dengan orang-orang yang beraktivitas berolahraga atau duduk mengaso. Akan tetapi setiap malam Jumat, taman ini berubah menjadi pasar malam, kecuali kalau hari hujan. Dan katanya, aktivitas ini sudah berlangsung lama, “Udah bertahun-tahun!” begitu ujar Dian.

Tukang jual obat yang berbohong dengan segala bualannnya.

Dan beginiliah suasana di tengah-tengah Pasar Malam itu, memang seperti pasar pada umumnya. 🙂

Mumpung saat ini saya sedang menjalani libur semester, jadi tulisan kali ini cukup yang ringan-ringan saja, tetapi tidak lepas dari peristiwa sosial masyarakat. Saya menuliskan ini karena terinspirasi dengan akumassa dari Komunitas Froum Lenteng Jakarta.

Pasar malam, menurut pendapat saya, adalah salah satu hiburan massa yang hadir di tengah-tengah masyarakat. Pada saat ini pula kebanyakan anak muda-mudi juga berjalan-jalan bersama pasangan mereka, atau bocah-bocah bermain berkejar-kejaran, atau juga menikmati berbagai pertunjukan, seperti aksi si tukang obat. Atau bermain menikmati kereta-keretaan di Pasar Malam tersebut. Saya sempat merekam kereta para bocah itu dengan handphone saya berdurasi 13 detik. Pembaca bisa melihatnya di mobile blog saya.

Dan ini lah teman saya, Dian Komala, yang sibuk mengambil gambar untuk bahan risetnya di akumassa.

Dian Komala, teman saya, sedang mengambil gambar Pasar Malam di Taman Lenteng, Lenteng Agung.