Dilarang Memotret e-ticketing

Artikel ini sudah terbit lebih dulu di jurnal akumassa dengan judul yang sama pada tanggal 10 Juni 2013.

SUATU HARI, TEMAN sekampus bercerita kepada saya. “Gue kena pentungan ama petugas gara-gara ngerekam penggusuran para pedagang di stasiun kereta!” keluhnya. Di lain kesempatan, teman saya yang lain, Ageung, juga pernah bercerita kepada saya bahwa dia sempat ditegur oleh petugas keamanan di dalam kereta gara-gara dia merekam suasana penumpang di dalam KRL (kereta rel listrik). Hal yang sama juga pernah terjadi pada saya sendiri, ketika mencoba mengambil gambar di Stasiun Universitas Indonesia. Sepertinya, ada semacam ketakutan bagi para petugas keamanan, atau mungkin juga pihak PT KAI, jika hal-hal yang berhubungan dengannya ditangkap oleh kamera. Dan sialnya, hal itu kembali terulang pada tanggal 10 Juni 2013, meskipun rekaman yang rencananya akan saya ambil hanyalah sebuah foto.

Stasiun Bogor.

Pagi, Hari Senin, adalah waktu yang benar-benar sibuk di Stasiun Bogor. Kerumunan massa berpacu dengan waktu agar tak ketinggalan kereta pertama. Sebelum memasuki Bulan Juni 2013, kesibukan ini sudah menjadi rutinitas yang dianggap wajar. Namun, ketika spanduk-spanduk yang mengumumkan tentang penggunaan tiket elektronik mulai dipajang di pagar-pagar stasiun kereta, Bulan Juni menjadi awal perubahan irama dan pola mobilisasi para pengguna jasa KRL.

Spanduk e-ticketing (Sumber foto: Wisnu Widiantoro, Kompas.com).

Fenomena e-ticketing KRL Commuter Jabodetabek bagi saya sudah menjadi sebuah masalah. Saya menangkap adanya ‘ketidaksiapan’ masyarakat, khususnya pengguna jasa KRL, terhadap kebijakan baru dari PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ). Buktinya, pada tanggal 1 Juni 2013, hari e-ticketing diberlakukan, ketika saya ingin keluar dari Stasiun Bogor—hari itu, pintu keluar-masuk utama Stasiun Bogor sudah dirombak dan dipindahkan ke tempat yang baru, yakni bukan lagi keluar menuju Pasar Anyar dan Taman Ade Irma Suryani (Taman Topi), tetapi langsung di pinggir Jalan Kapten Muslihat—terjadi sedikit kerusuhan di pintu masuk stasiun. Para penumpang yang hendak keluar stasiun secara serentak bersorak “Huuu!” karena para petugas menahan dan menyuruh mereka berbaris antri agar bisa menempelkan kartu e-ticketing di mesin-mesin yang sudah ditempatkan di pintu keluar-masuk itu. Seruan yang menyalahkan itu wajar terjadi karena memperlambat gerak para penumpang yang, mungkin saja, sedang buru-buru agar tiba di tempat tujuan tepat waktu. Puluhan penumpang akhirnya menerobos palang yang ada di mesin pembaca kartu e-ticketing tersebut, ada yang melewatinya dengan melompati palang, ada juga yang merunduk lewat di bawah palang. Intinya, kehadiran mesin dan kartu e-ticketing itu menjadi percuma.

Antrian panjang e-ticketing di Stasiun Depok Baru (Sumber foto: Nurfahmi Budi Prasetyo, PenaOne.com).

Tak jauh beda dengan hari itu, sekitar seminggu setelahnya, saya melihat hal yang sama. Kerumunan mengantri di depan tempat pemesanan tiket, lalu harus mengantri lagi di depan mesin, bersabar menunggu giliran menempel kartu. Keluhan-keluhan serupa masih terdengar meskipun tidak bersifat kolektif. Karena terusik dengan peristiwa massa itu, tangan saya terasa gatal lantas mengambil kamera untuk mengabadikan adegan para pengguna jasa KRL yang masih harus diajarkan oleh para petugas bagaimana menempatkan kartu e-ticketing dengan benar agar palangnya bisa terbuka.

Namun, saya ingat dengan pengalaman-pengalaman sebelumnya: PT KAI takut dengan kamera dan dokumentasi yang ‘disalahgunakan’. Atas dasar niat yang baik, saya pun menghampiri salah seorang petugas untuk meminta izin ingin mengambil gambar barang sejepret dua jepret dengan dalih tugas kuliah. Kira-kira begini percakapan saya dengan salah seorang petugas:

“Dosen saya ngasih tugas suruh menulis esai tentang e-ticketing, Pak. Ambil gambar, boleh, ya?!” kata saya dengan polosnya. Jawabannya, seperti yang sudah saya tebak sebelumnya, “Surat izinnya mana?”

Gak ada surat izin, Pak!” terang saya. “Soalnya, ini tugas kuliah biasa, bukan penelitian. Lagian juga ambil gambar dikit, Pak. Di sini doang, mau foto para penumpang make mesin e-ticketing-nya itu. Untuk bukti dokumentasi saja, Pak!” saya mencoba merayu.

“Ya, gak bisa. Harus ada izin dulu!”

“Emangnya ada larangan, ya, Pak kalau mau ambil gambar di stasiun?”

“Bukan begitu, Mas. Kita bukannya ngelarang!” jelas si petugas. “Tapi ini sudah prosedural, biar jelas. Kalau misalnya terjadi apa-apa, gimana? Kalau yang di atas marah, nantinya saya juga yang kena.”

“Ya, kan gak bakal diapa-apain juga, Pak. Buat tugas kuliah ini, kok!” saya masih mencoba merayu.

“Nanti kalau atasan saya tahu, terus kitanya dimarahin atau dipecat, situ mau tanggung jawab?”

“Kalau begitu, cara ngurus izinnya gimana, Pak?”

“Silahkan datang ke bagian informasi, tanya di sana. Atau langsung temui Kepala Stasiun saja!”

Akhirnya saya mengikuti saran si petugas. Saya mendatangi kantor bagian informasi untuk meminta izin. Hal ini saya lakukan agar saya bisa benar-benar leluasa mengambil gambar tanpa ditegur.

“Wah, itu harus ada surat izinnya dulu! Urusnya ke (Stasiun) Kota!” kata petugas yang ada di kantor bagian informasi.

Mendengar syarat itu, saya langsung hilang harap. Hanya untuk mengambil gambar sepintas saja, saya harus ke Stasiun Kota untuk meminta izin, tentu itu bukan langkah yang efisien. Akhirnya, saya mendatangi lagi petugas keamanan yang saya mintai izin lebih dulu, dan mengatakan bahwa saya tidak mendapat izin dari kantor bagian informasi. Saya mencoba merayu sekali lagi si petugas keamanan, agar saya bisa mengambil, paling tidak, satu foto saja.

Gak bisa, Mas! Ini udah aturannya,” katanya.

Emang ada aturannya, gitu, Pak?” saya bertanya dengan penuh keraguan. Lagi-lagi, jawabannya hanya: “Ya, prosedur-nya memang begitu, Mas! Kemarin juga ada mahasiswa, tapi pake surat, kita kasih izin.”

“Tapi maksud saya, ini, kan, ruang untuk publik, Pak!” saya mencoba melawan argumentasinya dengan sedikit emosi. “Di mana-mana, yang namanya stasiun itu adalah fasilitas untuk publik. Tapi kenapa orang dilarang foto-foto. Lagian, saya juga minta izin dulu, kan, Pak? Tapi, kok harus pake surat dan harus ke Kota dulu? Ribet, Pak!”

“Ya, kalau Mas bersikeras, langsung ke Kepala Stasiun saja, biar percaya!” katanya. Dan saya tahu, mengikuti saran itu pun akan sia-sia saja. Ujung-ujungnya pasti minta surat izin lagi.

Penggunaan mesin e-ticketing di Stasiun Tanah Abang (Sumber foto: Hyo-Heru Haryono, Okezone.com).

Apakah saya yang terlalu naïf karena meminta izin dulu sebelum mengambil gambar, padahal sebenarnya bisa saja mengambil gambar sembari membeli tiket dan berjalan menuju kereta (sebagaimana kata salah seorang petugas muda yang berbisik kepada saya: “Kenapa gak ngambil seperti biasa saja sambil beli tiket, sih?” katanya ketika mengantarkan saya menuju kantor bagian informasi)? Apa jangan-jangan saya kualat karena mengatakan tugas kuliah sebagai dalih untuk mengambil gambar?

Aksi itu saya lakukan bukan tanpa motif. Selain untuk tak mengulang pengalaman ditegur oleh petugas karena mengambil gambar sembarangan, saya juga ingin memastikan apakah memang ada aturan tegas tertulis dari PT KAI tentang penggunaan kamera bagi masyarakat umum yang ingin mengambil foto atau video di dalam kawasan stasiun kereta. Jika memang ada, saya ingin menerimanya langsung dari pihak PT KAI. Sebab, sejauh pengamatan saya, tidak ada rambu-rambu larangan memotret seperti rambu-rambu dilarang merokok.

Namun, ternyata hari itu pejabat yang berwenang tidak berada di tempat sehingga saya tak memiliki kesempatan bertanya lebih jauh. Selain itu, karena sudah terlanjur menjadi perhatian petugas, saya tak sempat membuka kamera dan mengambil gambar. Saya baru bisa leluasa mengambil gambar ketika berada di dalam kereta di tengah-tengah kepadatan penumpang, di mana kecil kemungkinan bagi petugas untuk menghampiri saya. Itu pun bukan foto peristiwa penumpang yang menggunakan mesin e-ticketing, tetapi hanya suasana ramainya pengguna kereta menunggu Commuter Line menuju Jakarta.

***

KEMBALI KE MASALAH e-ticketing, masalah ini ternyata bukan saya saja yang merasakannya. Beberapa teman saya di kampus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universita Indonesia, juga berpendapat yang hampir serupa. Berikut saya cantumkan tanggapan beberapa teman mahasiswa yang sehari-harinya menggunakan KRL tentang program e-ticketing:

Bagaimana tanggapan Anda tentang e-ticketing?

Olla, pengguna KRL dari Stasiun Tebet ke Stasiun UI.

“Menurut gue, e-ticketing ngerepotin. Apalagi kalau di Stasiun Tebet, ngubah sistem banget. Bikin tambah ribet karena dibuat satu jalur semua, jalur masuk dan jalur keluar, bikin tambah penuh…Nggak terlalu efisien, karena bisa juga banyak penyimpangan juga. Orang bisa bawa kartunya pulang tanpa ketahuan. Terus, orang gak bisa nuker kartu secara mudah, karena, taunya, (KRL) Ekonomi duluan yang dateng…segala macem, ribet, udah gak bisa dituker. Malah nyusahin.”
Olla, pengguna KRL dari Stasiun Tebet ke Stasiun UI.

Irfan, pengguna KRL dari Stasiun Tebet ke Stasiun UI.

“E-ticketing itu sama aja, sih, kayak karcis. Cuman bedanya, kita diperiksa dari awal, dan pas masuk ke dalam keretanya sendiri, gak diperiksa lagi. Diperiksnya lagi setelah kita keluar. Dan itu cuma masukin…Kalau karcis, pemeriksaannya di tengah.”
Irfan, pengguna KRL dari Stasiun Tebet ke Stasiun UI.

Ayu, pengguna KRL dari Stasiun Bekasi  ke Stasiun Manggarai, dan ke Stasiun Depok.

“Nggak efisien, menurut gue. Karena, dari pengalaman gue itu, gue bisa beli tiket hanya ke (Stasiun) Jakarta Kota, tapi gue bisa langsung ke (Stasiun) Depok tanpa harus beli tiket terusan, karena pas di pintu keluar Stasiun UI itu gak diperiksa lagi. Kalau karcis, kan ketahuan, tiket terusan itu dari (Stasiun) Bekasi ke (Stasiun) Depok itu ada tulisannya, Bekasi-Depok, sedangkan kartu yang e-ticketing itu sama semua. Kita gak bisa bedain itu tiket ke Depok atau ke Jakarta Kota.”
Ayu, pengguna KRL dari Stasiun Bekasi  ke Stasiun Manggarai, dan ke Stasiun Depok.

Ridha, pengguna KRL dari Stasiun Tangerang ke Stasiun Pasar Minggu Baru, dan ke Stasiun UI

“Sebenarnya, pertama mungkin bingung. Cuman karena pernah gunain waktu di Singapur, ada tiket kayak gitu juga, itu berjalan mungkin karena disana udah teratur. Kalau di sini, mah agak susah karena gak terlalu ngaruh juga. Soalnya, jalur masuknya bisa mana aja, gak harus e-ticketing, bisa dari samping.”
Ridha, pengguna KRL dari Stasiun Tangerang ke Stasiun Pasar Minggu Baru, dan ke Stasiun UI.

Taufan, pengguna KRL dari Stasiun Bogor ke Stasiun Jakarta.

“Belum efisien. Pertama, di alat cek-nya. Teknologi untuk ngecek tiketnya tujuan kemananya, gak jelas. Kedua, cara pembayarannya. Cara pembayaran itu sangat lama. Pas lu bayar, ada struk dulu, itu memakan waktu. Karena orang naik kereta buru-buru. Jadi orang ujung-ujungnya gak beli tiket. Jadinya kejahatan.”
Taufan, pengguna KRL dari Stasiun Bogor ke Stasiun Jakarta.

Akbar, pengguna KRL dari Stasiun Bogor ke Stasiun Depok.

“E-ticketing menurut gue penerapannya masih dini, ya…banyak masyarakat yang belum siap. Jadi, bukannya efisien malah gak efisien sama sekali. Gak efisiennya, ya itu, pertama masyarakat masih belum ngerti banget gimana cara makenya. Pas dia mau masuk, nih bingung gimana cara tapping, terus antriannya jadi panjang. Terutama lagi, pas keluar. Misalkan, kita udah bener masukinnya, tapi ternyata, kayak macet, gitu. Terus, ada juga beberapa kayak, ‘Loh, ini masukinnya ke arah mana, sih?’ Karena di kartunya sendiri gak dijelasin cara masukinnya ke arahnya gimana.”
Akbar, pengguna KRL dari Stasiun Bogor ke Stasiun Depok.

Fiana, pengguna KRL dari Stasiun Cikini ke Stasiun UI.

“Bermanfaat, sih! Soalnya kalau yang kertas itu kadang-kadang suka hilang. Kalau e-ticketing, karena bentuknya keras, orang lebih ngeh dan aware bahwa dia megang tiket untuk naik kereta. Secara pribadi, manfaatnya, lebih rapi aja, sih. Lebih berasa berteknologi lah, gak primitif pake kertas gitu di cekrek-cekrek.”
Fiana, pengguna KRL dari Stasiun Cikini ke Stasiun UI.

Endah, pengguna KRL dari Stasiun Manggarai ke Stasiun UI.

“E-ticketing… ngerepotin, bikin macet pas belinya, bikin macet pas get in-nya, terus pas get out-nya pun macet. Karena cuma ada dua mesin gitu…mesinnya terbatas. Kadang-kadang ada kartunya gak kebaca gitu.”
Endah, pengguna KRL dari Stasiun Manggarai ke Stasiun UI.

Adit, pengguna KRL dari Stasiun Manggarai ke Stasiun UI.

“Gue pernah pake, jadi yang di-tap, dia gak berfungsi dengan baik. Malah gue jadi di suruh lewat yang pinggir, lewat di jalan yang biasa lagi. Kalau menurut gue, e-ticketing itu cuma kayak buat formalitas pengen kayak di … ya begitu lah, kayak mengikuti kemajuan jaman. Tapi sebenarnya gak terlalu itu, sih… sama aja.”
Adit, pengguna KRL dari Stasiun Manggarai ke Stasiun UI.

Rahis, pengguna KRL dari Stasiun Cawang ke Stasiun UI.

“E-ticketing jadi lebih mudah, sih, tinggal dipencet doang, udah, selesai. Tapi, sama aja, sih sebenarnya, cuma beda itunya doang. Waktunya, sama aja kayak cekrek. Soalnya, pas ituin kartunya juga lama juga nungguinnya.”
Rahis, pengguna KRL dari Stasiun Cawang ke Stasiun UI.

Ayas, pengguna KRL dari Stasiun Tanah Abang ke Stasiun Depok.

“Sebenarnya memang Indonesia penting banget punya e-ticketing. Maksudnya, kalau melihat negara-negara lain yang sudah maju, seharusnya kita mengikuti prosedur di sana, gitu. Tapi, kendalanya di sini adalah kita belum siap, belum semuanya menggunakan. Dan ternyata, itu juga menggunakan…ada struknya, dan itu harus diberikan. kebanyakan, stasiung-stasiun yang saya datangi, mereka hanya ngasih kartunya aja, tapi gak kasih struknya.”
Ayas, pengguna KRL dari Stasiun Tanah Abang ke Stasiun Depok.

Dara, pengguna KRL dari Stasiun Bogor ke Stasiun Jakarta Kota.

“E-ticketing, bagus, cuma ribet. Maksudnya, kayak misalnya gue dikasih e-ticketing dari (Stasiun) Tebet, tapi karena gue ke (Stasiun) UI, gue cuma ngasih ke abangnya. Jadi belum ada alatnya gitu. Menurut gue, ngapain harus pake kartu kalau misalnya gak dimasukin… itu ribet menurut gue, mendingan karcis.”
Dara, pengguna KRL dari Stasiun Bogor ke Stasiun Jakarta Kota.

Apa kesan yang Anda rasakan terkait perbedaan mendasar dan esensial antara e-ticketing dan karcis biasa?

“Cuman mudah geseknya doang. Tapi ujung-ujungnya karena di (Stasiun) UI belum ada, sama aja, ngasih kartu juga. Dan sama aja bikin lebih repot, sebenarnya.”
Olla, pengguna KRL dari Stasiun Tebet ke Stasiun UI.

“Kalau dari segi manfaat, sih… segi efektivitas… ya manfaatan e-ticketing. Namun, kalau efektivitas itu, lebih ke karcis, sih. Kalau karcis, kan kita megang itu dari awal… pokoknya dari siklus awal itu, kan kita bisa… ‘Mana karcisnya?’ dan di dalam kereta itu kan juga diperiksa karcisnya, dan sampai keluar diperiksa karcisnya. Dan menurut saya itu efektif dari orang-orang yang tidak diinginkan.”
Irfan, pengguna KRL dari Stasiun Tebet ke Stasiun UI.

“Bedanya, cuman lebih keren doang…Kalau di Singapur mungkin kayak e-toll. Jadinya, setiap orang, pengguna langganan, tuh bisa pake, udah ada saldonya., dan itu emang dipake terus-terusan. Kalau sekarang, dia make sekali, udah balikin, sama kayak karcis aja.”
Ridha, pengguna KRL dari Stasiun Tangerang ke Stasiun Pasar Minggu Baru, dan ke Stasiun UI.

Izma, pengguna KRL dari Stasiun Kota ke Stasiun Depok.

“E-ticketing, sebenarnya bagus, ya. Bikin lebih murah dan lebih adil, dalam hal penilaian harga tiket, kan itu dihitungnya per stasiun lagi. Jadi, gak membebanin orang lah, tergantung trek yang mereka tempuh. Tapi kekurangannya, sosialisasinya memang harus terus berlanjut, sih. Biar masyarakat lebih terbiasa gunain e-ticketing.”
Izma, pengguna KRL dari Stasiun Kota ke Stasiun Depok.

Rasyel, pengguna KRL dari Stasiun Bogor ke Stasiun UI.

“Kesan gue, gue bingung pertama kali. Soalnya, pas gue mau masuk pintu masuk itu, kata mbaknya, disuruh taruh e-ticketing di bawahnya. Pas gue taruh, ternyata (palangnya) gak bisa keputer gitu, gue belum bisa masuk. Kata mbaknya, ‘Lamaan dikit, Mbak!’ Nah, itu gue hampir ketinggalan kereta gara-gara itu doang.”
Rasyel, pengguna KRL dari Stasiun Bogor ke Stasiun UI.

Yuriko, pengguna KRL dari Stasiun Bogor ke Stasiun UI.

“E-ticketing itu hanya memperlambat aja. Soalnya, waktu gue pake karcis itu lebih cepet dari pada pake e-ticketing. Terus, antrian, tuh panjang banget cuma gara-gara buat ngantri itu doang. Kalau pake karcis, cepet.”
Yuriko, pengguna KRL dari Stasiun Bogor ke Stasiun UI.

“Gak begitu kentara sih perbedaannya, cuman pas get-in get-out aja. Karena tadinya, kan itu buat tarif progresif yang per stasiun itu, kan? Tapi karena belum diberlakukan, jadi sampai sekarang ya sama aja kayak tiket kertas kayaknya.”
Endah, pengguna KRL dari Stasiun Manggarai ke Stasiun UI.

“Bedanya, ya, cuman gak ada sampah aja. Kalau pake yang seperti biasa, kan mesti dibolongin, kan? Bakalan ada sampah. Tapi yang ini gak. Cuman itu doang, sih.”
Ayas, pengguna KRL dari Stasiun Tanah Abang ke Stasiun Depok.

Bagaimana pendapat Anda tentang efek dari e-ticketing terhadap suasana di stasiun kereta?

“Ganggu. Ibaratnya, (di Stasiun Bogor) kan ada dua, ya, pintu utama dan pintu belakang. Kalau lu naik di sini (pintu utama) itu angkot harus muter dulu. Sementara di sini (pintu belakang) itu ada pos polisi, ada juga tempat perbelanjaan. Artinya, macet. Ibaratnya, kalau lu mau masuk, tuh, susah banget.”
Taufan, pengguna KRL dari Stasiun Bogor ke Stasiun Jakarta.

“Sebenarnya, untuk bentuk stasiunnya jadi terlihat lebih agak sedikit rapi dan lebih terkontrol. Tapi, ya, e-ticketingnya itu, sih yang agak ganggu. Soalnya, jadi bikin rame, jatuhnya jadi ngedesek, gitu.”
Rasyel, pengguna KRL dari Stasiun Bogor ke Stasiun UI.

“Kalau di dalam stasiunnya sendiri, lebih menyusahkan. Soalnya, kan orang-orang masih belum pada ngerti, ya. Jadi kayak pas mau masuk, pada ngantri.”
Fiana, pengguna KRL dari Stasiun Cikini ke Stasiun UI.

“Untuk beberapa stasiun, misalnya saya dari (Stasiun) Cawang ke (Stasiun) UI, UI belum ada e-ticketing, kan? Jadi, orang tuh bisa lolos gitu aja.”
Ayas, pengguna KRL dari Stasiun Tanah Abang ke Stasiun Depok.

Ika, pengguna KRL dari Stasiun Tebet ke Stasiun UI.

“Untuk dari (Stasiun) UI ke (Stasiun) Tebet itu masih kurang berguna. Karena dari UI, tiketnya masih kertas, di Tebet tiketnya bentuk e-ticketing. Jadi, agak gak nyambung gitu.”
Ika, pengguna KRL dari Stasiun Tebet ke Stasiun UI.

Irda, pengguna KRL dari Stasiun Tebet ke Stasiun UI.

“Belum semua stasiun yang memberlakukan e-ticketing. Ada beberapa stasiun bahkan selain lu ngasih kartunya yang kayak ATM itu, lu harus ngasih kayak struknya. Kan, kalau namanya e-ticketing, lu gak harus ngasih kayak gituan lagi, kan? Terus kayak di beberapa stasiun, kayak di Stasiun Tebet, tuh mesinnya ada lima, tapi yang kepake cuma satu. Dan itu, kalau kadang-kadang lagi banyak orang, bikin kayak penumpukan gitu.”
Irda, pengguna KRL dari Stasiun Tebet ke Stasiun UI.

***

Kalau berbicara tentang ruang dan hak masyarakat, memang jelas bahwa stasiun kereta bukanlah ruang publik, tetapi ruang untuk publik. PT KAI (Persero) adalah pemilik stasiun kereta yang selama ini kita gunakan sebagai tempat menunggu kedatangan transportasi umum KRL.

Saya sempat bertanya kepada Ugeng T. Moetidjo, seorang periset di Forum Lenteng. Menurutnya, fasilitas untuk publik semacam stasiun kereta api bukan ruang publik, melainkan “ruang negara”. Dengan kata lain, negara atau pihak pengelola memiliki wewenang untuk menetapkan kebijakan tertentu terhadap ruang yang difasilitasi untuk publik tersebut. Konsep “ruang untuk publik” berbeda dengan “ruang publik”, seperti taman kota atau warung kopi, yang oleh Jurgen Habermas, ditandai berdasarkan sifat ruangnya yang demokratis (dapat diakses oleh siapa saja). Stasiun kereta, pada dasarnya, tidak dapat diakses oleh publik yang tidak membeli tiket (membayar masuk).

Namun, yang menjadi pokok kebingungan—dan juga ketidakterimaan—saya adalah peraturan tentang dilarang memotret yang tidak sampai ke masyarakat umum secara luas. Selama ini, saya tidak pernah melihat aturan itu, baik di area stasiun maupun di dalam gerbong kereta, sebagaimana larangan duduk di atap kereta, berdiri di depan pintu, melompat melintasi rel di luar area yang diperbolehkan, atau merokok di area-area tertentu.

Hal ini, terkait dengan pengalaman saya, akan menjadi kendala ketika pada suatu waktu ada peristiwa tertentu yang perlu diabadikan dan dibagikan ke masyarakat luas sebagai bagian dari informasi publik. Arus informasi menjadi tidak dapat berjalan dengan baik dan seimbang.

(Sumber foto: MI/Ramdani/ip, metronews.com)

Contohnya, fenomena hadirnya e-ticketing tersebut. Saya melihat ada wartawan media massa MNC TV yang meliput perkembangan program e-ticketing. Petugas keamanan stasiun berkata bahwa mereka yang wartawan pun sudah meminta izin terlebih dahulu sebelum meliput. Jelas saja, kerja profesional yang demikian akan tertata oleh etika dan tanggung jawab profesi serta dukungan dari lembaga atau instansi si wartawan. Akan tetapi hal ini menjadi rumit bagi masyarakat biasa. Tidak ada lembaga resmi yang melatarbelakangi warga biasa terkait hal itu sehingga peluang warga biasa untuk mengabadikan sebuah peristiwa menjadi bingkaian informasi pun terbatasi. Dengan kata lain, arus informasi yang berasal dari perspektif warga biasa (jurnalisme warga) menjadi terhambat oleh aturan, yang pada kenyataannya, tidak tersosialisasikan dengan baik. Jika sosialisasi soal ketertiban umum berjalan dengan baik, warga biasa akan lebih siap dengan segala kemungkinan, termasuk kendala-kendala seperti yang saya alami.

Program e-ticketing, seperti yang telah saya telusuri pendapat para pengguna KRL dari kalangan mahasiswa, sejauh ini masih menjadi masalah, baik dari segi kesiapan sarana dan prasarananya sendiri maupun dari kesiapan masyarakat terhadap teknologi komputerisasi tersebut. Menurut saya, masalah ini harus disebarluaskan untuk mengundang tanggapan publik terhadap kebijakan yang dikeluarkan PT KAI demi tercapainya kemaslahatan bagi semua pihak. Fotografi adalah salah satu medium yang paling efektif untuk menyebarluaskan informasi seperti ini. Peraturan pembatasan penggunaan kamera bagi warga biasa, atau ketidakjelasan dari PT KAI mengenai tata aturan mengenai hal itu, menambah masalah yang memangkas hak-hak masyarakat. Ini menjadi PR tersendiri bagi kita semua.

KRL, oh KRL! Sudahlah PT KAI sering membuat program yang kurang memuaskan, ditambah pula dengan aturan ketertiban umum yang lumayan membingungkan. Seharusnya, jika memang KRL adalah fasilitas untuk publik, melayani publik, tak ada alasan untuk takut menerima kritikan dari publik, apalagi takut oleh aktivitas potret memotret dari warga yang simpatik. *

Para Pengamen di Kereta Terakhir

Tulisan ini sudah terbit di website akumassa, tertanggal 19 April, 2010. Hasil kolaborasi bersama Dian Komala.

Domino adalah sebuah permainan kartu generik (dimainkan oleh semua kalangan). Domino tertua dibuat sekitar tahun 1120 Masehi di Negara-negara Barat, tetapi menurut sejarahnya permainan ini kemungkinan besar berasal dari Cina. Awalnya Domino hanya terdiri dari 21 kartu (atau 21 batu Domino), yang mana angka-angka tersebut (contohnya 2-3, 2-6,3-6 dan sebagainya) merupakan hasil dari pelemparan dua dadu. Domino khas Cina ini umurnya lebih lama daripada domino orang-orang Eropa. Selanjutnya, permainan domino Cina ini berkembang menjadi permainan Mah Jong, yang menjadi populer di Amerika Serikat pada pertengahan tahun 1920-an.  Permainan Domino mulai dikenal di Eropa pada awal abad ke-18, yang pertama kali dimainkan di Italia. Berbeda dengan Domino Cina, Domino Eropa memiliki tambahan tujuh kartu, yaitu enam kartu yang terdiri dari kombinasi angka single die, seperti 0-1, 0-2, 0-3, dan seterusnya dan satu kartu 0-0.

domino1-470x700

Domino ini pun menjamah Indonesia, kemungkinan besar dibawa oleh para penjelajah dari Eropa yang singgah di kepulauan Indonesia. Sebagian besar di Indonesia, terutama di Jawa, permainan Domino lebih dikenal dengan nama Gaple. Kombinasi angka pada Gaple sama dengan Domino, namun bentuk fisiknya bukan batu, melainkan kartu kertas. Aturan permainan dan jumlah kartunya sama halnya dengan Domino di Eropa.

Berbicara tentang Gaple, aku pernah mendengar cerita dari temanku, Dani. Dia pernah melihat sekelompok orang bermain Gaple di kereta ekonomi dari Jakarta menuju Bogor. Menurut ceritanya, waktu itu dia sedang berada di dalam kereta menuju pulang ke Lenteng Agung. Dia melihat kerumunan orang-orang di satu titik, lalu dia mendekati kerumunan itu. Ternyata di sana sedang terjadi sebuah pertandingan Gaple, yang dimainkan oleh empat orang laki-laki. Keempat orang itu berdiri, dan ada seorang wanita yang duduk. Paha wanita tersebut dilapisi kain, dimana itu dijadikan meja untuk menyusun kartu. Setelah mendengar cerita dari Dani, aku menjadi penasaran. Akhirnya aku memutuskan untuk membuktikan cerita Dani.

suasana-di-dalam-stasiun-lenteng-agung1-470x352

Sabtu, 10 April 2010, aku, Dani dan Zikri, berangkat dari Forum Lenteng ke Stasiun Lenteng Agung dengan berjalan kaki. Tujuan utama kami ke stasiun itu adalah para pemain Gaple, yang sering bermain di kereta ekonomi saat jam kerja dan penjual uang kuno di Stasiun Lenteng Agung. Waktu menunjukkan pukul 16.00 WIB sehingga jalan raya cukup ramai disebabkan oleh arus para pengguna jalan dari Jakarta Kota menuju Depok saat jam pulang kerja. Sesampainya di Stasiun, kami langsung membeli tiket menuju Jakarta, karena kami ingin berangkat menuju Stasiun Cikini.

orang-orang-sedang-menunggu-kereta-ke-arah-jakarta-470x352

Sementara menunggu kereta ekonomi yang menuju Jakarta datang, kami mendekati kios jual-beli uang kuno. Pada saat itu, pemilik kios uang kuno itu tidak terlihat di kiosnya. Cukup lama kami mencari si pemilik kios, namun si pemilik kios tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Akhirnya kami bertanya kepada anak-anak yang sedang asyik bermain kelereng di depan kios tersebut. mereka mengatakan bahwa orang yang jaga adalah abang yang sedang berdiri di depan kios buku yang berjarak dua kios dari kios jual-beli uang kuno itu. Mereka pun memanggil abang tersebut, dan saat kami menanyakan perihal si pemilik kios, yang bernama Mardiyanto (kami mengetahui namanya dari kartu nama yang didapat oleh Zikri dari si pemilik toko sendiri, saat dua hari sebelumnya dia sempat mengobrol dengan Pak Mardiyanto). Dan menurut keterangan si abang penjaga  kios buku (yang tidak sempat kami tanya siapa namanya), Pak Mardiyanto sedang ada urusan di tempat lain sehingga kios itu dititipkan kepadanya. Karena gagal bertemu dengan Pak Mardiyanto, akhirnya Zikri dan Dani hanya bertanya tentang harga-harga uang kuno yang dipajang di sekililing dinding kios.

kios-jual-beli-uang-kuno-470x352
uang-uang-kuno-yang-dipajang-di-dinding-kios21-470x352

Kereta ekonomi yang kami tunggu akhirnya datang juga. Kami langsung naik ke kereta itu. Kereta tersebut cukup padat, mungkin karena jam pulang kerja. Saat di dalam kereta, tidak ada hal menarik yang kami temui, apalagi orang-orang yang bermain Gaple. Sekitar pukul setengah tujuh, kami tiba di Stasiun Cikini. Kami sempat bingung apa yang akan kami lakukan di stasiun tersebut. Menurut rencana awal, kami akan bertemu dengan teman kami, Sabil, yang ingin ikut serta mencari orang-orang yang bermain Gaple. Akan tetapi si Sabil tidak kunjung terlihat. Akhirnya kami sepakat untuk kembali ke Stasiun Lenteng Agung, ingin mencoba sekali lagi memperhatikan suasana di dalam kereta, berharap akan menjumpai orang-orang yang bermain Gaple. Pergilah Dani membeli tiket menuju Lenteng Agung.

stasiun-cikini1-470x352

Cukup lama kami menunggu kereta menuju Lenteng Agung itu. Sekitar pukul tujuh, kereta ekonomi tersebut datang, kami pun segera naik dan langsung menuju gerbong paling belakang. Ternyata, semakin ke belakang gerbong semakin padat oleh penumpang sehingga kami tidak bisa bergerak sama sekali.  Harapan kami pupus sudah untuk menemukan para pemain Gaple, kami hanya bisa berdiri dengan hati kecewa menanti kereta berhenti di Stasiun Lenteng Agung.

Sesampainya di Stasiun Lenteng Agung, rasa penasaranku sama sekali belum terobati. Akhirnya aku dan Zikri memutuskan untuk  kembali menaiki kereta menuju Stasiun Jakarta Kota, dengan harapan kami akan menemukan para pemain Gaple tersebut, sedangkan Dani pulang ke Forum Lenteng. Akan tetapi aku dan Zikri tidak membeli tiket baru, karena tiket kami yang sebelumnya masih utuh, sepertinya masih bisa digunakan, karena penjaga tiket tidak memeriksa (merobek) tiket kami.

Datanglah kereta ekonomi menuju Jakarta, dan ternyata kereta ekonomi yang kami naiki tersebut adalah kereta ekonomi terakhir pada hari itu. Kereta masih cukup padat, tetapi tidak sepadat kereta sebelumnya, kami masih bisa leluasa bergerak. Di dalam kereta, banyak aktivitas yang terjadi. Para pedagang, seperti pedagang jeruk, pedagang aksesoris, minuman, tahu, dan sebagainya mondar-mandir dari gerbong ke gerbong menjajakan barang dagangan mereka.

mahasiswa-yang-cekakak-cekikik-di-dalam-kereta-470x626

Di dalam gerbong yang kami naiki itu, terdapat beberapa mahasiswa yang cekakik-cekikik menyerukan kata-kata orasi (pidato formal atau komunikasi oral formal yang disampaikan kepada orang banyak), seperti orang-orang sedang melakukan aksi demo. Menurutku, sepertinya mereka memang habis berdemo, tetapi entah di mana mereka melakukan aksinya. Namun, Zikri malah mengatakan mereka adalah salah satu contoh alay Kota Jakarta. Alay adalah istilah atau singkatan dari anak lebay, yaitu remaja yang berekspresi, berbicara, bertingkah dan bergaya (berpakaian) secara berlebihan. Dan memang, dari penampilan dan gelagatnya, wajar saja Zikri berpendapat seperti itu. Salah satu laki-laki dari mahasiswa itu, mencoba menggoda salah satu penumpang wanita berumur sekitar 17-19 tahunan. Laki-laki itu meminta nomor telepon dan memotret wanita itu secara (menurutku) paksa. Akan tetapi, sepertinya wanita itu memberikan nomor teleponnya kepada laki-laki itu. sesaat kemudian wanita itu turun, entah di stasiun mana.

Dapet cewek lagi nih gue,” kata laki-laki itu ketika wanita itu turun dari kereta.

“Norak banget, sih, cowok itu,” kataku dalam hati sementara Zikri hanya tertawa memperhatikan mereka.

Karena keasyikan memperhatikan para mahasiswa tersebut, aku lupa dengan tujuan utama mengapa kami menaiki kereta ekonomi terkahir itu, yaitu mencari orang-orang yang bermain Gaple. Lagipula pada saat itu rasa penasaranku terhadap para pemain Gaple yang diceritakan oleh Dani teralihkan ketika aku mendengar suara musik dangdut dari gerbong sebelah. Bukan hanya aku, rata-rata para penumpang yang ada di gerbong tempat aku berdiri menjulurkan lehernya mencari asal suara musik dangdut itu. Seketika Zikri berseru,

Eh, ada dangdutan di kereta! Wah, akumassa banget nih! Ke sana, yuk!”

“Tunggu aja deh, entar juga ke sini!” kataku.

para-musisi-dangdut-sedang-beraksi-di-dalam-kereta-470x352

Benar saja, beberapa saat kemudian, saat musik itu berhenti, beberapa orang dari gerbong sebelah berjalan menuju gerbong kami dengan membawa peralatan musik, seperti gitar, gendang, organ, dan (yang membuat aku kaget tidak percaya) speaker serta accu yang berfungsi sebagai pemasok listrik untuk menyalakan alat musik listrik mereka. Kami segera mengeluarkan kamera dari dalam tas, bermaksud untuk memotret aktivitas mereka yang, menurut pendapatku pribadi, aktivitas tersebut adalah sesuatu yang unik. Sementara Zikri masih sibuk dengan kameranya, aku segera berjalan mengikuti mereka ke tengah gerbong dan langsung duduk di bangku, di depan organ mereka.

accu-yang-digunakan-oleh-para-pengamen-dangdut-470x626

Kenapa aku mengatakan dangdut yang saat itu aku saksikan adalah hal yang unik? Aku sering mendengar lagu dangdut, baik itu di angkot atau di tempat-tempat umum seperti stasiun, pasar, atau di dalam kereta. Akan tetapi yang sering aku saksikan adalah dangdut yang dinyanyikan oleh para pengamen dengan alat gitar biasa (kayu) atau ukulele. Atau kalau pun memang dengan alat listrik, palingan hanya pengamen yang membawa tape dengan pengeras suara (microphone), kemudian bernyanyi diiringi musik tanpa lirik, persis seperti orang karaokean. Sementara pada malam itu, aku mendengar lagu dangdut di dalam kereta yang dimainkan dengan alat-alat listrik yang sering digunakan di atas panggung (gitar listrik, bass, gendang, organ, bahkan ada mixer pengaturnya). Apalagi si pengamen sampe membawa accu yang pastinya berat untuk dibawa ke mana-mana. Oleh karena itu, aku menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang unik. Demi mencari uang, orang mau repot-repot membawa perlengkapan sebanyak itu. Dan yang lebih membuat aku tertarik adalah mereka memainkan lagu dangdut, kenapa tidak lagu rock atau jazz saja?

wanita-yang-menjadi-penyanyi-dangdut-470x352

Memang, lagu dangdut adalah lagu yang sangat erat dengan masyarakat umumya. Ada yang bilang bahwa dangdut adalah lagu rakyat (Zikri yang mengatakannya kepadaku, aku tidak tahu dia mendapat informasi dari mana). Pernyataan dari Zikri itu mendorongku untuk mencari informasi tentang dangdut itu sendiri di media online, beberapa saat sebelum aku menulis tulisan ini.

Dari informasi yang aku dapat, dijelaskan bahwa dangdut merupakan salah satu seni musik yang berkembang di Indonesia. Musik dangdut ini merupakan turunan dari musik melayu pada tahun 1940-an. Dalam evolusi menuju bentuk kontemporer sekarang masuk pengaruh unsur-unsur musik India (terutama dari penggunaan tabla) dan Arab (pada cengkok dan harmonisasi). Penyebutan nama ‘dangdut’ merupakan onomatope (menirukan bunyi) dari suara permainan tabla (dalam dunia dangdut disebut gendang saja) yang khas dan didominasi oleh bunyi dang dan ndut. Dibandingkan dengan musik lainnya, musik dangdut sifatnya lebih merakyat, karena dinikmati oleh semua kalangan. Selain itu, aku juga pernah mendengar bahwa lagu dangdut adalah suatu bentuk perlawanan, oleh Rhoma Irama, terhadap gaya hidup saat itu. Dia menganggap bahwa, bukan hanya kelas elit saja yang bisa menikmati musik, masyarakat kelas bawah juga bisa. Saat musik rock ‘n roll melanda Indonesia, dia bertekad dalam hati, “Elvis bisa menjadi raja dengan gitarnya, saya juga bisa dengan gitar saya (dengan lagu dangdut, tentunya!)” Suatu tekad yang mulia, menurut pendapatku.

Kembali kita kepada para pengamen dangdut tadi. Pada saat para musisi dangdut itu mulai menyanyikan lagu mereka, Zikri mengabadikannya dengan kamera. Ternyata bukan hanya Zikri, beberapa dari penumpang lain juga ikut mengabadikan momen tersebut denga kamera handphone yang mereka miliki. Saat aku bertanya kepada mereka, ternyata kelompok musisi dangdut tersebut juga sering manggung di acara-acara pesta (pernikahan dan khitanan). Akan tetapi mereka terkadang ngamen di kereta saat tidak ada jadwal manggung, itung-itung buat cari penghasilan tambahan. Antusias para penumpang menyaksikan aksi para musisi dangdut di dalam kereta itu lumayan besar. Malahan ada di antara mereka yang ikut berjoget mengikuti irama lagu. Para pemain musik, seperti gitar dan organ, juga sangat mahir memainkan musik dangdut yang mereka bawakan, sementara ‘primadona’ atau si penyanyi menyanyikan lagu dengan baik, namun tidak terlalu serius.

Di sebelah kiriku, ada dua anak laki-laki berumur sekitar 15-17an, salah satunya memegang gitar kecil (ukulele). Ketika aku sedang memotret para pengamen dangdut, anak yang memegang ukulele yang akhirnya kuketahui bernama Adi, bertanya,

Buat apaan, Mbak? Wartawan, ya?”

Enggak buat apa-apa, pengen aja. Emangnya mesti wartawan, ya, yang boleh foto?” jawabku. Adi dan temannya bernama Rizki tertawa. Akhirnya aku dan kedua anak itu mengobrol banyak dengan iringan lagu dangdut berjudul ‘Perpisahan’.

pengamen-ukulele-rizki-bertopi-dan-adi-memegang-ukulele1-470x352

Ternyata kedua anak itu juga pengamen. Bedanya, mereka berdua biasa ngamen di angkot-angkot. Mereka berada di kereta itu bukan untuk mengamen, hanya untuk menghibur diri, karena seharian ini mereka mendapatkan hasil ngamen yang sedikit. Adi adalah seorang anak yang ayahnya sudah meninggal, dia hanya lulusan SD. Sedangkan Rizki adalah seorang anak dari keluarga bermasalah atau biasa disebut brokenhome, dan dia sudah lama tidak pulang ke rumah. Mereka berdua menetap di Pasar Minggu. Mereka pun sempat bertanya apakah aku adalah orang yang pernah menanya-nanyai tentang rumah singgah. Aku menjawab bukan.

“Emang ditawarin masuk ke rumah singgah sama orang itu?” tanyaku.

Enggak, kemaren Si Mbak itu cuma nanya-nanya aja,” jawab Adi.

Pengamen dangdut telah selesai mendendangkan lagu mereka. Mereka langsung membenahi alat-alat ngamen dan kemudian turun di Stasiun Gondangdia. Aku dan Zikri tidak sempat berbincang dengan para pengamen dangdut itu.

Saking asyiknya dengan para pengamen, aku dan Zikri lupa tentang para pemain Gaple yang kami cari. Tanpa sadar kami sampai di Stasiun terakhir, yaitu Stasiun Jakarta Kota. Kami pun berpisah dengan ke dua pengamen ukulele itu, yang akan melanjutkan perjalanan menuju Pasar Minggu, tempat tinggal mereka kini. Saat kami turun di Stasiun Jakarta Kota, rasa penasaranku terhadap fenomena permainan Gaple di dalam kereta, sesungguhnya, masih ada, tetapi saat itu rasa penasaran itu sedikit terobati dengan pengalaman melihat dangdutan di dalam kereta dan perbincangan ringan dengan dua orang pengamen ukulele. Aku pun berpikir, kalau malam itu aku tidak bertemu dengan orang-orang yang bermain Gaple, mungkin lain  waktu aku akan menjumpai mereka.

“Terus, kita mau ngapain, nih?” tanyaku seketika.

“Ngapain, ya?” Zikri menggaruk-garuk kepala.

“Ke Kota Tua aja, yuk! Kali aja di sana kita bisa ketemu sesuatu yang menarik!”

Kami pun melanjutkan perjalanan ke Kota Tua, melihat suasana Kota Tua di malam hari. *