SD Pondok Cina

Tulisan ini sudah pernah dimuat di website akumassa, tertanggal 12 Mei, 2010

Warga Depok mana yang tidak tahu Margo City atau Depok Town Square (DETOS)? Semuanya tahu dua mall besar yang berdiri saling berhadapan.

SD Pondok Cina 1, dilihat dari seberang jalan.
SD Pondok Cina 1, dilihat dari seberang jalan.

Mall itu dihubungkan oleh jembatan penyeberangan yang selalu ramai oleh para pejalan kaki, mulai dari gelandangan, pengamen, pelajar, mahasiswa, ibu-ibu yang ingin berbelanja, hingga PNS (Pegawai Negeri Sipil) yang bolos dari jam kerja. Kedua mall besar tersebut dipisahkan oleh Jalan Margonda, yang menjadi arus utama kesibukan Kota Depok dan merupakan daerah yang dekat dengan perbatasan Depok-Jakarta.

Di dekat dua mall besar itu, terdapat sebuah kompleks sekolah, yang bernama SD Negeri Pondok Cina. Kompleks sekolah dasar tersebut terdiri dari empat sekolah, yaitu SDN Pondok Cina 1 hingga SDN Pondok Cina 4. Bangunan sekolah ini terletak di Jalan Margonda, Kelurahan Kemiri Muka, Kecamatan Beji, Depok. Jika kita menaiki angkutan umum dari Pasar Minggu menuju Depok, kita cukup mengatakan kata “pocin” (Pondok Cina) tepat setelah memasuki Jalan Margonda, setelah itu sang supir akan menurunkan kita di depan SD tersebut.

Gapura SD Pondok Cina 4 (yang berwarna hijau) tersesak oleh bangunan besar di sekitarnya.
Gapura SD Pondok Cina 4 (yang berwarna hijau) tersesak oleh bangunan besar di sekitarnya.

Berbeda dengan sekolah-sekolah lain yang memiliki fasilitas bagus, kompleks sekolah ini terlihat seperti bangunan yang tersesak di dalam keramaian dan naungan bangunan-bangunan besar yang ada di sekelilingnya. Selain itu, kemacetan juga sering terjadi di depan sekolah tersebut karena ramainya para siswa yang pada waktu jam istirahat berhamburan ke luar sekolah untuk menikmati jajanan dari para pedagang yang mendirikan tenda di pinggir jalan.

Beberapa warung jajanan di pinggir jalan SD Pondok Cina.
Beberapa warung jajanan di pinggir jalan SD Pondok Cina.

Sekolah yang berhadapan langsung dengan Jalan Margonda adalah SDN Pondok Cina 1, dan di depan sekolah itu terdapat zebra cross di mana sering para mahasiswa, pelajar, dan pejalan kaki lainnya yang menyeberang jalan, padahal di dekat sana terdapat jembatan penyeberangan yang menghubungkan Margo City dan Depok Town Square. Dan yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah tingkah para pengendara mobil dan kendaraan bermotor lainnya, terutama angkutan umum, yang terkadang tidak menghargai para pejalan kaki yang menyeberang jalan. Untung saja ada seorang bapak yang berprofesi sebagai satpam di kompleks sekolah tersebut yang apabila pada jam sekolah selalu membantu para pelajar yang ingin menyeberang untuk menghindari kecelakaan yang tidak diinginkan.

Jalan Raya Margonda dan Jembatan penyeberangan (dilihat dari depan SDN Pondok Cina).
Jalan Raya Margonda dan Jembatan penyeberangan (dilihat dari depan SDN Pondok Cina).

Saya sebagai seorang mahasiswa Kampus Depok sering berjalan-jalan di daerah itu, apakah itu pergi ke Gramedia atau pergi cuci mata ke Margo City. Dan aktivitas yang terjadi di depan sekolah dasar tersebut menjadi perhatian saya. Di dalam kepala saya timbul pertanyaan bagaimana situasi tersebut bisa terjadi? Ada kompleks sekolah di sana, di Jalan Margonda itu, yang mana secara tidak langsung menjadi penyebab kemacetan; ada dua mall besar berdiri di dekatnya yang terhubung oleh jembatan penyeberangan, namun masih banyak para pengguna jalan yang tidak memanfaatkannya, termasuk saya, kadang-kadang. Dari pikiran tersebut, timbul lagi pertanyaan di kepala saya, duluan mana, SD atau dua mall besar tersebut? Dan bagaimana keadaan empat sekolah itu pada awalnya?

Margo City
Margo City.
Depok Town Square.
Depok Town Square (DETOS).

Pada tanggal 30 Maret 2010, pagi hari sekitar pukul sembilan, saya dan Ageung datang ke sana untuk mencari informasi dari orang-orang di sekitar sekolah, berharap mendapat gambaran atau sejarah singkat, kalau perlu mendetil, tentang SD Negeri Pondok Cina yang terletak di sisi Jalan Margonda itu.  Kami berangkat dari Lenteng Agung dengan angkutan umum jurusan Depok-Pasar Minggu, yang berwarna cokelat dan bernomor 04 ke arah Margonda. Dan seperti yang saya katakan tadi, sesaat setelah melewati perbatasan kota Depok-Jakarta, saya hanya menyebutkan kata “pocin” dan kami berhenti hampir tepat di depan sekolah tersebut.

Kompleks SDN Pondok Cina dilihat dari atas jembatan penyeberangan yang menghubungkan Margo City dan DETOS.
Kompleks SDN Pondok Cina dilihat dari atas jembatan penyeberangan yang menghubungkan Margo City dan DETOS.

Setibanya di sana, kami terlebih dahulu menuju jembatan penyeberangan, mencoba mengambil gambar kompleks sekolah tersebut dari atas jembatan. Pada saat itu jembatan belum ramai dilalui oleh para pejalan kaki, mungkin karena waktu itu masih pagi hari. Benar saja! Seperti yang saya ungkapkan bahwa sekolah itu seakan tersesak di antara bangunan-bangunan besar di sekitarnya, dari atas jembatan kita hanya bisa melihat atap sekolah (SDN Pondok Cina 1) yang berwarna hijau. Bahkan kalau kita tidak tahu bahwa bangunan hijau itu adalah sekolah, mungkin kita akan mengiranya sebagai salah satu rumah penduduk. Selanjutnya kami turun dari jembatan dan mencoba mengambil gambar sekolah dari sisi seberang jalan. Yang bisa kita lihat dari sisi ini hanyalah SDN Pondok Cina 1, yang berhadapan langsung dengan Jalan Margonda, sementara sekolah yang lain tidak terlihat karena berada di sisi belakangnya.

Saat kami mengambil beberapa gambar tersebut, kami melihat ada suatu aktivitas yang aneh di depan DETOS. Entah mengapa petugas lalu lintas berjejer di depan mall tersebut dan memeriksa setiap kendaraan yang lewat di depan mereka. Karena rasa penasaran, saya bertanya kepada salah seorang pejalan kaki yang juga memperhatikan hal tersebut, sama penasarannya dengan saya. Si pejalan kaki itu mengatakan bahwa ada razia.

“Razia apa, Bang?” tanya saya. Akan tetapi Si Abang tersebut hanya mengangkat bahu kemudian berlalu. Karena masih penasaran, akhirnya Ageung memberanikan diri untuk bertanya kepada petugas lalu lintas yang sedang berbicara dengan alat komunikasi genggamnya. Dan setelah itu, Ageung mengatakan kepadaku bahwa saat itu sedang diadakan razia PNS yang bolos kerja. “Wah, parah!” seru saya dalam hati.

Petugas lalu lintas di depan DETOS sedang merazia PNS yang mangkir dari jam kerja.
Petugas lalu lintas di depan DETOS sedang merazia PNS yang mangkir dari jam kerja.

Kemudian kami melanjutkan misi kami, yaitu mencari informasi tentang sekolah yang kami tuju. Sementara berjalan menuju sekolah, bolak-balik dari satu sisi jalan ke sisi lainnya yang di seberang, saya menyempatkan diri untuk mengambil beberapa gambar dengan kamera yang saya bawa. Dan saat itu saya menyadari beberapa mata dari para pedagang, siswa, bahkan satpam sekolah memperhatikan kami berdua. Dan dari tatapannya, sepertinya mereka merasa terganggu dengan kegiatan kami berdua.

“Kita mau nanya ke siapa, nih?” tanyaku kepada Ageung.

“Kita coba tanya abang pedagang kaki lima itu aja dulu!” jawab Ageung seraya menghampiri pedagang yang dimaksud, yang ada di balik tembok SDN Pondok Cina 1 bagian luar, di pinggir jalan.

Pada saat itu, saya berdiri di bawah gapura yang bertuliskan SDN Pondok Cina 4. Dari sana, saya melihat ada plang yang bertuliskan Dinas Pendidikan. Saya mengeritkan kening. “Dinas Pendidikan?” kata saya pelan. Kalau memang benar apa yang saya lihat itu adalah plang Kantor Dinas Pendidikan, yang biasanya memang selalu ada di setiap sekolah, terutama kompleks sekolah, berarti bangunan di belakang plang itu tentunya adalah kantor dinas tersebut. “Kecil sekali untuk ukuran kantor dinas,” kata saya dalam hati. Dengan spontan saya segera merekam gambar plang tersebut dengan kamera saya. Dan sekali lagi, orang-orang melihat saya dengan tatapan ingin tahu, risih, atau tidak senang.

Kantor Dinas Pendidikan yang berada di dalam kompleks SDN Pondok Cina.
Kantor Dinas Pendidikan yang berada di dalam kompleks SDN Pondok Cina.

Ageung membeli air minum dan bertanya sesuatu kepada si abang penjual. Saya tidak tahu apa yang dia tanyakan. Setelah membeli air minum, tampak dari wajah Ageung bahwa dia tidak merasa puas dengan jawaban yang  “Gimana?” tanya saya.

“Tadi gue tanyain ke abang-nya tentang sekolah, eh, dia malah bilang nggak tau!” jawab Ageung kesal.

Saya rasa ada kesalahan di sini. Seharusnya kami tidak mengambil gambar terlebih dahulu sebelum mendapatkan informasi yang kami inginkan. Karena kesalahan itu, kami mendapatkan masalah untuk mencari narasumber yang bisa ditanyai tentang sekolah itu.

Kemudian kami berjalan menuju SD N Pondok Cina 4, yang berada di belakang SD N Pondok Cina 1. Namun kami hanya bisa sampai di depan gerbang, karena pagar menuju ke dalam sekolah tersebut ditutup sehingga kami tidak bisa masuk ke dalam. Jalan menuju pagar sekolah ini hanya beberapa meter dan penuh dengan pasir bangunan, sepertinya sedang ada renovasi atau semacam pembangunan sesuatu, saya tidak tahu. Dan yang membuat saya kesal adalah saya tidak menemukan orang yang bisa ditanya tentang renovasi bangunan tersebut. Kami pun hanya berdiri di dekat plang sambil celingak-celinguk memperhatikan para pegawai Dinas Pendidikan yang berlalu-lalang.

Pintu masuk SDN Pondok Cina 4.
Pintu masuk SDN Pondok Cina 4.

Dari tempat kami berdiri itu, saya melihat sesuatu yang dapat memicu pertanyaan dari jiwa kritis saya. Bagaimana mungkin sebuah sekolah hanya memiliki lapangan upacara yang begitu kecil? Akan tetapi mungkin saja dugaan saya salah. Mungkin saja ada lapangan upacara yang lebih besar di dalam pekarangan sekolah, di balik pagar yang ditutup itu. Sayang kami tidak bisa masuk ke dalam untuk memastikannya.

Lapangan tempat melaksanakan Upacara Bendera.
Lapangan tempat melaksanakan Upacara Bendera.

Tidak tahan berlama-lama berdiri di bawah plang, Ageung pun memberanikan diri untuk masuk ke salah satu ruangan yang sedari tadi beberapa pegawai keluar masuk ruangan tersebut. Setelah mengobrol sebentar dengan orang di dalam, Ageung memanggil saya untuk ikut masuk ke dalam ruangan. Yang ada di dalam ruangan tersebut adalah tiga orang bapak, mereka mengenakan pakaian dinas PNS sedang membaca koran sambil merokok.
“Kalian ada perlu apa nanya-nanya?” tanya salah seorang di antaranya.

“Buat tugas kuliah, sih, Pak!” jawab saya.

“Jadi kita ingin tahu tentang sekolah ini aja buat bahan kuliah.”

“Tanya Kepala Sekolah aja, noh!” kata yang lain. “Kita nggak tahu apa-apa, takutnya ntar informasinya salah.”

Karena mendapatkan sambutan yang kurang hangat, ditambah tatapan curiga dari ketiga bapak tersebut, kami pun memutuskan untuk cepat-cepat keluar dari ruangan itu. Setelah menanyakan di mana lokasi kantor kepala sekolah SD N Pondok Cina 4, kami keluar dari ruangan tersebut. Namun kami tidak pergi ke kantor kepala sekolah (karena pagarnya ditutup), melainkan kembali ke luar wilayah menuju pinggir Jalan Margonda lagi.

“Gimana mau maju? Kerjanya nongkrong nggak jelas gitu!” gerutu Ageung dengan kesal ketika kami berjalan menuju gapura yang tadi.

Saat itu kami benar-benar kehabisan akal untuk mencari siapa yang bisa dijadikan target untuk menjawab pertanyaan kami, yaitu tentang sejarah sekolah tersebut. Ketika melihat Pak Satpam yang sedang sibuk membantu siswa-siswa menyeberang jalan, saya akhirnya berinisiatif untuk bertanya kepadanya. Meskipun sebelumnya Ageung sudah mencoba bertanya kepada Pak Satpam tersebut, namun jawaban yang dia berikan masih kurang memuaskan. Jadi kami harus bertanya sekali lagi kepadanya. Kami pun menunggu sampai bapak itu duduk di bangku, di sebelah warung kaki lima di pinggir Jalan Margonda, di depan SD N Pondok Cina 1. Saat momen itu tiba, saya melancarkan pertanyaan.

Misi, Pak, kalau boleh tahu Jalan Kober yang mana, ya, Pak?” tanya saya pura-pura tidak tahu.

“Oh, Kober di sana, masih jauh, beberpa meter lagi lah dari sini!” jawabnya dengan enggan menunjuk arah Kober yang ada jauh di belakang saya.

“Oh, di sana, ya?” kata saya manggut-manggut.

“Kalau SD itu cuma yang ini aja, ya, Pak? Kalau SD kober itu bukan yang ini, ya?”

“Bukan, ini SD Pondok Cina.”

Saya manggut-manggut lagi. Setelah diam beberapa saat, saya bertanya lagi kepada Pak Satpam tersebut, “Bapak udah berapa lama bekerja sebagai Satpam, Pak?”
“Wah, udah lama, Dik! Dari dulu.”

“Kalau boleh tahu, duluan mana, sekolah ini atau Margo City, Pak?” tanya Ageung.

“Ya jelas duluan ada sekolah ini, dong, Mbak!” kata Pak Satpam itu, yang dari bajunya dapat diketahui bahwa namanya adalah Ahmad. “Margo City, mah, masih baru. Tahun… 2005-an kalau tidak salah. Duluan sekolah ini, dulu itu Margo City itu cuma kompleks perumahan dan kebon.”

“Kebon? Kebon apa, Pak?”

“Ya macem-macem, Mbak!”

“O, gitu, ya!?” kata saya. “Kalau sekolah ini sudah sejak kapan adanya, Pak?”

“Udah lama, sekitar 50 tahunan,” kata bapak itu sambil merentangkan kelima jari tangan kanannya. “Dulu sekolah ini cuma satu, SD Pondok Cina 1. Yang 2, 3, dan 4 waktu itu belum ada. Sekarang, ya, sudah jadi kompleks persekolahan. Ada empat SD, tapi satu naungan gitu. Dan bangunannya kayak gini aja dari dulu, nggak berubah, palingan hanya renovasi dikit.

“Oh, iya, yang itu SD 4, ya? Kalau SD 2 dan 3-nya mana, Pak?” tanya Ageung lagi.

“Ada di belakang sana,” jawab si bapak dengan asal. Terlihat sekali dia sangat enggan menjawab pertanyaan kami. Kemudian tanpa ada basa-basi, si bapak pergi masuk ke dalam SD N Pondok Cina 1 meninggalkan kami. Kami hanya bisa melihatnya pergi dengan perasaan kecewa.

Pintu masuk SDN Pondok Cina 1.
Pintu masuk SDN Pondok Cina 1.

Meskipun demikian, informasi yang kami dapat dari Pak Satpam itu cukup memberikan gambaran bahwa dahulunya kompleks sekolah Pondok Cina yang berada di dekat dua mall besar ini hanyalah satu sekolah, yaitu SD N Pondok Cina 1. Sekolah itu sudah berdiri selama 50 tahunan, namun tidak ada perubahan yang signifikan pada sekolah tersebut. Sungguh berbanding terbalik dengan kemegahan dua mall besar yang ada di sana. Karena perbandingan ini, saya jadi teringat ketika mengikuti kuliah di Forum Lenteng tentang fenomena kota ‘abu-abu’. Di kota yang dianggap sebagai daerah abu-abu, tidak terdapat resistensi dari masyarakat dalam hal pembangunan. Khususnya untuk kasus di Jalan Margonda ini. Kota Depok yang termasuk sebagai daerah abu-abu terus melakukan pembangunan yang kurang tersistem dengan baik. Dua mall besar dibangun di dekat Sekolah Dasar atau daerah di mana institusi pendidikan banyak berdiri. Dan hal ini tidak mendapatkan protes dari warga masyarakatnya. Tidak ada resistensi dari wilayah tersebut untuk menyaring perubahan dan pembangunan.

Tentunya kita tahu bahwa untuk membangun suatu rumah atau toko, apalagi sebuah mall, harus mendapatkan izin dari pemerintah setempat. Dan logikanya, kalau mall sebesar Margo City dan DETOS sudah berdiri, berarti Pemerintah Daerah Depok memberikan izin kepada pengusaha yang berniat membangunnya. Hal ini menjadi suatu isu yang perlu dikritik. Sudah semestinya pemerintah memperhitungkan pembangunan kota. Menurut saya, tidak pantas apabila dua mall besar didirikan di dekat sebuah sekolah, bahkan sekolah itu tidak memiliki kemajuan dari segi fasilitas (bangunan, pekarangan, dan sebagainya). Terjadi kesenjangan di sini. Selain itu, mungkin saja para siswa Sekolah Dasar secara tidak langsung akan menganggap bahwa adalah hal yang biasa apabila pulang sekolah langsung pergi jalan-alan ke mall, karena jarak mall yang dekat dari sekolah. Siapa tahu?!

Karena sepertinya sudah tidak ada lagi orang yang bisa kami tanya tentang sekolah itu, akhirnya kami berdua memutuskan untuk menyudahi kegiatan tersebut. Kami pun berjalan, menyeberang menuju Kober untuk membeli makanan di Warung Es Pocong. *

Es Pocong

Tulisan ini sudah terbit di website akumassa, tertanggal 14 April, 2010.

Hantu pocong menjadi fenomena tersendiri dalam masyarakat Indonesia. Hampir di seluruh wilayah Nusantara tahu betul bagaimana rupa hantu tersebut, meskipun dengan beragam versi cerita yang berbeda dari masyarakat yang satu dengan masyarakat lain di daerah yang berbeda pula. Bahkan cerita tentang hantu pocong semakin populer ketika diangkat oleh berbagai media dan ceritanya pun juga menjadi inspirasi para sutradara lokal untuk membuat filem-filem horor.

Warung Es Pocong.
Warung Es Pocong.

Jujur saja saya merasa tidak terlalu peduli dengan cerita-cerita hantu, seperti cerita hantu pocong, karena sampai sekarang saya belum pernah mengalami (dan saya harap hal itu tidak akan pernah terjadi pada diri saya) apa yang dinamakan dengan istilah melihat ‘penampakan’, kesurupan dan sebagainya. Bahkan pernah di sekolah saya yang dulu, saat saya masih di kota Pekanbaru, terjadi persitiwa yang menggemparkan ketika ada seorang guru yang selama seminggu tak henti-hentinya mengalami kesurupan, namun saya tidak peduli dengan peristiwa tersebut. Malahan dugaan saya yang menganggap bahwa guru itu mungkin saja hanya berpura-pura merupakan suatu kebenaran, dan hal ini menjadi faktor tambahan bagi saya untuk menganggap bahwa hal-hal yang berbau horor bukanlah sesuatu yang menarik dan merupakan suatu fenomena yang dilebih-lebihkan oleh masyarakat.

Namun dalam beberapa hari ini, kata ‘pocong’ menjadi sesuatu yang menarik bagi saya. Hal ini disebabkan oleh sebuah warung yang berlokasi di simpang Jalan Sawo, di bagian sisi kanan Jalan Margonda, Depok, jika kita berjalan dari arah Pasar Minggu menuju Terminal Depok. Lokasi warung ini berada tepat di depan Jalan Kober. Hampir rata-rata semua mahasiswa di Universitas Indonesia, Gunadarma dan pelajar-pelajar lain yang selalu melewati Jalan Sawo tahu tentang warung tersebut. Yang membuat warung itu menjadi mudah untuk dikenal dan diingat adalah namanya, yaitu Warung Es Pocong.

Mungkin bagi sebagian orang yang belum mengetahui tentang Es Pocong, pasti akan mengernyitkan keningnya. “Es Pocong? Pocong jadi es? Atau Es berbentuk hantu pocong?” Pertanyaan-pertanyaan itu yang keluar dari mulut saya ketika baru mengetahui warung tersebut. Saya bahkan pernah berpikir bahwa Es Pocong itu mungkin saja merupakan minuman ice cream yang sengaja dibentuk menyerupai pocong, yaitu berupa adonan cream yang berwarna putih, diberi saus cokelat untuk mengidentifikasi tanah (karena  pocong selalu identik dengan tanah yang kotor di seluruh kain kafannya), lalu dilengkapi saus stroberi berwarna merah untuk melengkapi tampilan pocong yang penuh dengan darah. Coba saja Anda bayangkan, apakah anda akan memiliki selera untuk memakan atau meminum sajian yang tampilannya bisa membuat Anda muntah? Akan tetapi pikiran saya sepertinya salah sama sekali. Meskipun nama yang disandang oleh warung itu begitu ‘menyeramkan’, warung itu selalu penuh dengan para pembeli yang datang untuk menikmati sajian yang ada di sana. Dan pastinya, yang menjadi menu favorit pembeli adalah Es Pocong itu sendiri.

Para pengunjung Es Pocong.
Para pengunjung Es Pocong.

Warung Es Pocong selalu penuh dengan para pembeli, baik yang menyantap sajian di warung tersebut atau yang sengaja membeli dalam paket bungkusan untuk di bawa pulang. Rata-rata para pelanggan setia yang selalu menikmati sajian warung Es Pocong adalah para mahasiswa. Para pengamen pun terkadang memanfaatkan keramaian di warung tersebut untuk meraup rezeki. Namun begitu, dalam pengamatan saya, keramaian di depan warung ini menjadi masalah baru. Karena saking ramainya, lokasi Warung Es Pocong dan simpang Jalan Sawo menjadi salah satu titik kemacetan di Jalan Margonda. Terlebih lagi banyaknya angkutan umum yang sering memberhentikan angkutan mereka di situ, menunggu hingga angkutannya penuh dengan penumpang. Lebar sisi jalan yang berada tepat di depan warung tersebut bisa dikatakan sangatlah kurang. Sungguh berbeda dengan sisi jalan yang satunya, yang tepat berada di depan Jalan Kober, yang telah mengalami pelebaran jalan.

Suatu hari saya menyempatkan diri untuk mampir ke warung tersebut. Saya dan teman saya, Ageung, singgah sejenak di warung tersebut untuk mengisi perut dan mencoba mencicipi menu andalan mereka, yaitu Es Pocong. Memang saat itu, saya masih penasaran dengan rupa Es Pocong yang selalu dibilang orang sangat lezat. Selain itu, sajian lain yang menjadi favorit adalah goreng Tempe Mendoan yang disantap dengan kuah kecap pedas. Dua menu ini menjadi faktor utama yang menyebabkan saya mengajak Ageung untuk makan di Warung Es Pocong itu.

Daftar menu di Warung Es Pocong.
Daftar menu di Warung Es Pocong.

Saat kami duduk di warung tersebut dan melihat kertas menu yang terletak di atas meja, kening saya berkerut. Ternyata bukan hanya nama Es Pocong saja yang menjadi keanehan dan keunikan warung yang saya singgahi itu, tetapi hampir semua menu yang ada di warung tersebut memiliki nama yang ada unsur horornya, seperti Lontong Setan, Nasi Uduk Tuyul, dan minuman Kuntilanak, Vodoo, Black Magic, Es Kolor Ijo dan sebagainya. Bayangan saya akan rupa makanan di warung itu semakin aneh saja melihat deretan nama yang ‘menyeramkan’. “Ini makanan yang akan saya makan?” ujar saya dalam hati. Kemudian saya memperhatikan kesibukan para pegawai warung, melihat-lihat bahan-bahan makanan yang akan mereka sajikan, serta melirik makanan yang sedang dimakan oleh pengunjung lain di meja di depan kami. Saya mengangkat bahu dan sadar bahwa warung ini adalah warung milik manusia, bukan setan.

(Dari kiri ke kanan) Martabak Montok dan Tempe Mendoan.
(Dari kiri ke kanan) Martabak Montok dan Tempe Mendoan.

Setelah beberapa lama, saya memesan Martabak Montok sementara Ageung memesan Tempe Mendoan. Untuk minumannya, kami sama-sama memesan Es Pocong. Martabak Montok yang saya pesan itu adalah martabak seperti umunya, tidak ada yang istimewa. Sedangkan Tempe Mendoan yang dipesan oleh Ageung, bisa saya katakan sebagai menu makanan yang sangat sederhana, hanya sepotong tempe yang dipotong tipis namun lebar dan digoreng dengan tepung. Saya masih ingat kalau ibu saya di Pekanbaru sering membuat tempe itu untuk lauk saat makan siang, namun dalam ukuran yang lebih kecil. Namun kenyataannya, seperti yang saya lihat saat itu, para pembeli banyak yang memesan Tempe Mendoan tersebut. Untuk Es Pocong, ternyata sajiannya berupa bubur sum-sum yang dicampur dengan es, potongan pisang rebus (kalau saya tidak salah), moci, dan berbagai isi yang lain (yang tidak bisa saya ingat karena saya langsung melahap bubur itu dengan cepat tanpa memperhatikan isinya), dan kemudian bubur itu disiram dengan sirup berwarna merah. Jikalau kita makan bubur sum-sum yang disiram dengan cairan gula aren akan terasa manis, Es Pocong lebih terasa manis keasam-asaman.

Saat menyantap makanan, tiba-tiba datang tiga orang pengamen yang memainkan alat musik gitar, biola, dan clarinet. Lagu yang mereka mainkan hanya berupa lagu instrumental berirama jazz ballads yang saya tidak tahu judulnya (dan saya pun lupa untuk menanyakan kepada para pengamen tersebut). Lagu yang mereka mainkan sangat menghibur kami, bahkan saya meminta mereka untuk memainkan lagu yang lain ketika mereka selesai mamainkan lagu yang pertama. Permintaan saya disambut dengan senyum dari ketiga pengamen, kemudian mereka memainkan lagu lain dengan irama yang sama, dan saya juga tidak tahu judulnya, tetapi tetap menghibur hati. Dan saat mereka menyodorkan kantong (meminta duit), Ageung tanpa segan-segan memberikan uang 5.000 Rupiah kepada tiga pengamen tersebut.

Pengamen yang memainkan lagu instrumental berirama jazz ballads.
Pengamen yang memainkan lagu instrumental berirama jazz ballads.

Saat  itu hari sore menjelang maghrib. Ageung sempat bertanya-tanya kepada salah seorang penjaga warung tentang warung itu sendiri, tetapi pertanyaannya hanya dijawab asal-asalan. Karena tidak ada lagi yang kami lakukan, akhirnya kami memutuskan untuk pulang ke rumah kos masing-masing. Akan tetapi rasa penasaran saya terhadap warung Es Pocong tersebut masih mengganjal.

Beberapa hari kemudian, saya dan Ageung mampir lagi ke warung tersebut. Kali ini kami memang bermaksud untuk mencari informasi tentang Warung Es Pocong. Saya ingin mengetahui apa alasan di balik nama ‘es pocong’ tersebut.

Pada kunjungan kami yang ke dua itu, kami memesan Tempe Mendoan. Untuk minumannya, saya memesan Black Magic (susu soda rasa mocha) sementara Ageung memesan Hantu Laut (susu soda rasa buah sirsak). Sambil menikmati tempe goreng itu lalu saya mendekati salah seorang pegawai warung yang sedang menghancurkan bongkahan es untuk minuman. Nama abang yang saya dekati itu adalah Bronky.

Bang Bronky sedang melayani pembeli.
Bang Bronky sedang melayani pembeli.

“Bang, kalau misalnya warung ini saya jadikan tulisan di blog saya, boleh nggak, Bang?” tanya saya memulai percakapan.

“Ya, boleh-boleh aja, sih!” jawabnya tersenyum.

Mendapat sambutan baik seperti itu, saya pun melancarkan berbagai pertanyaan tentang segala ha yang berkaitan dengan warung tersebut.

“Nama warungnya, kok, ‘Es Pocong’, sih, Bang?”

“Ya, itu supaya jadi menarik aja, biar banyak yang beli.”

“Tapi kenapa ‘es pocong’?”

“Kan, lokasinya dekat Kober,” Si Bronky menjelaskan. “Kober itu kata lain dari kuburan, jadi supaya sesuai aja dengan lokasinya. Karena itu dikasih nama ‘es pocong’!”

“Yang punya warung ini, Abang, ya?”

“Bukan, ada yang punya, saya, mah, cuman pegawai, bantu-bantu aja.”

“Yang punya siapa, Bang?” tanya saya sambil memperhatikan kesibukan di dalam warung, berusaha menerka siapa kira-kira yang memiliki hak milik terhadap warung unik itu. “Ada di sini orangnya, Bang?”

“Nggak, dia lagi nggak ada. Namanya Rahma.”

“Rahmat… siapa namanya, Bang? Nama lengkapnya?”

“Bukan Rahmat, tapi Rahma,  Ramadhani,” jawab si Bronky sambil memecah bongkahan es yang ada di dalam ember di depannya.

“Kalau nama Abang siapa, Bang?”

“Kalau saya Bronky,” katanya tersenyum.

Saya mengangguk-anggukkan kepala seraya memperhatikan keadaan warung. Mata saya kemudian terhenti pada spanduk iklan warung Es Pocong tersebut, dan yang menarik perhatian saya adalah alamat yang tertera di spanduk itu, yaitu espocong.blogspot.com. Saya tertawa dalam hati, ternyata warung ini juga mempromosikan usahanya di dunia maya.

Spanduk Warung Es Pocong yang memiliki alamat web.
Spanduk Warung Es Pocong yang memiliki alamat web.

“Es Pocong ini cuma satu ini aja, ya, Bang?” tanya saya lagi.

“Ada lagi, Mas! Ini yang aslinya, tapi ada lagi cabangnya di Pondok Labu.

“Warung ini sejak kapan adanya, Bang?”

“Sejak tahun 2006-an, deh, kayaknya!”

“Oh!” saya mengangguk-angguk lagi.

Bang Bronky (memakai topi).
Bang Bronky (memakai topi).

Di sebelah kanan warung ini (menghadap ke Jalan Margonda), banyak kendaraan motor yang diparkir. Saya menerka bahwa motor-motor ini adalah kendaraan milik para pengunjung warung atau para pengunjung rental buku yang berada di sebalah warung tersebut. Wilayah parkir yang kecil ini juga menjadi penyebab macet di daerah itu, apalagi pada saat-saat salah satu motor yang ingin keluar dari arena parkiran.

Parkiran motor di samping Warung Es Pocong.
Parkiran motor di samping Warung Es Pocong.

Setelah mengambil beberapa gambar yang kami perlukan, saya dan Ageung kembali pulang ke rumah kost masing-masing.

Apabila pada awalnya saya penasaran dengan bentuk dan rupa ‘es pocong’ yang menjadi menu utama warung tersebut, sepulang dari warung, yang mengganjal dalam pikiran saya adalah masalah kemacetan di depan warung yang baru saja tinggalkan di belakang. Jalan Margonda memang telah mengalami pelebaran jalan, tetapi baru di satu sisi, di seberang Warung Es Pocong sementara sisi yang berada tepat di depan warung belum ada sama sekali. Lokasi warung sangat dekat dengan perbatasan antara Depok dan Jakarta Selatan sehingga lokasi tersebut (Jalan Margonda) menjadi jalur mobilisasi semua orang. Demi meraih keuntungan besar, otak dari kecerdasan manusia selalu mencari celah untuk menarik perhatian agar dagangan mereka laku. Salah satunya warung tersebut. Kata ‘pocong’ menjadi senjata utama. Hasilnya, warung menjadi sangat laris, tetapi menimbulkan masalah lain berupa kemacetan jalan. Siapa yang patut disalahkan? *