All posts tagged: Otty Widasari

Si Piano Kecil Biru

Tulisan ini adalah teks yang saya buat dalam rangka kegiatan kelas “Roman Picisan” tanggal 26 Maret 2019. Kelas “Roman Picisan” adalah kegiatan reguler di Forum Lenteng, yang difasilitasi oleh Otty Widasari. Si Piano Kecil Biru datang kesekian kalinya ke rumah Saidi untuk menyapa memori Sang Penari. Ia sebenarnya sudah berpindah tangan dari Sang Burung Kecil—begitulah aku sering mendengar Bodas memangil ibunya—ke tangan Si Bibi Kecil, bibi dari seorang bocah yang dipuja oleh Sang Penari sebagai burung kecil pula, Bohdana. Tapi itu hanyalah perpindahan tangan yang sementara saja. Dan di masa perpindahannya itulah, Si Piano Kecil Biru lebih sering menggoda Sang Penari, membisikkan rayuan kepada perempuan yang pernah memiliki piano kecil merah—dulu. Sebab, si burung kecil Bohdana, konon, tak begitu peka akan kehadirannya. “Bawalah aku, hei, Sang Penari, ke rumahmu!” seru Si Piano Kecil Biru itu. “Nanti akan kubawa kau ke masa kecilmu!” Tampaknya, Sang Penari lumayan tergoda. Barangkali ia diam-diam telah mengumpulkan niat untuk membangun istana piano-piano, seperti The Small Instruments, istana milik seorang penenun bunyi yang aku kenal di Polandia. Sementara itu, seminggu terakhir …

Carangan atas Carangan

“Kalau Afrizal bilang ‘penempatan’, saya ‘pengasingan’, itu sebetulnya dua model yang beda. ‘Pengasingan’ itu ‘takdir seni’; ‘penempatan’ itu ‘kerja ragawi’…!” kata Ugeng T. Moetidjo, lantas dia tertawa, bersamaan dengan tawa hadirin yang mendengarkan diskusi itu. Ini adalah tulisan yang dibuat sekadar untuk mengingat-ingat kembali pengalaman saya menghadiri dan mendengarkan diskusi kemarin sore, setelah cukup lama tidak hadir di sebuah acara diskusi yang menjungkir-balikkan isi kepala saya. Ugeng T. Moetidjo, 2012 ruang dalam ruang luar cat akrilik dan objek temuan pada kertas 60 x 40 cm. (Foto: Manshur Zikri). “Akhir-akhir ini,” Ugeng melanjutkan. “sebetulnya, kata ‘pengasingan’ itu hampir tidak digunakan karena dia membuat modus seni terasa seperti terjangkiti fungsi-fungsi laten kita. Jadi, seni-seni yang begitu ingin disebut seni tapi melakukan proses penelitian itu yang ingin, sebetulnya, meniadakan takdir seni. Mereka ingin membunuh apa yang disebut sebagai ‘tuhan seni’ meskipun sebetulnya ‘tuhan seni’ sudah tidak ada. “Perbedaan antara—kita bisa singkirkan ini—cara kita melihat sekarang, sebetulnya—bahkan di karya-karya yang menolak ‘seni pengasingan’ itu—adalah kenyataan bahwa mereka tidak mengubah kata ‘penciptaan’, ‘pencipta’, menjadi ‘produser’ dan ‘pembuat’. Padahal, seharusnya, pada …

Otty Widasari: Yang Melihat Media

Lukisan, dalam konteks pameran tunggal Otty di Ark Galerie […] memainkan peran untuk mengembalikan sisi kemanusiaan […] Mengimplementasikan aksi literasi media dan mendadar mekanisme kerja media massa. Tulisan ini merupakan esai kuratorial yang saya buat untuk Pameran Tunggal Otty Widasari, Ones Who Looked at the Presence, yang berlangsung dari tanggal 10 September hingga 15 Oktober 2015 di Ark Galerie, Yogyakarta. Selain sebagai dokumentasi, esai kuratorial, berjudul “Otty Widasari: Yang Melihat Media” saya muat di blog ini dengan tujuan agar dapat dibaca oleh khalayak yang lebih luas. Foto-foto yang diikutsertakan diambil oleh Hafiz Rancajale. (Silakan lihat Pernyataan Kuratorial). I. Lukisan dan Sinema Ada tiga hal yang pertama sekali ingin saya utarakan dalam kuratorial ini, sehubungan dengan usaha untuk meletakkan pondasi dan kerangka dalam membangun nilai-nilai pemahaman terhadap aksi bermedia yang dilakukan oleh Otty Widasari—sengaja saya garisbawahi kata “bermedia”, karena itulah satu kata yang cukup mendeskripsikan sang seniman ini secara menyeluruh. Pertama, jawaban sederhananya atas pertanyaan yang dulu pernah saya ungkapkan, “Mengapa selalu mencatat di buku harian?”, padahal kini, ia—sebagaimana orang kebanyakan—telah akrab dengan teknologi tanpa-tulis-tangan. Jawabannya biasa saja: “Agar …

Ones Who Looked at the Presence

Pameran Tunggal Otty Widasari Ones Who Looked at the Presence Kurator: Manshur Zikri di Ark Galerie, 10 September – 15 Oktober, 2015. Pernyataan Kuratorial Di era termutakhir saat ini, teknologi reproduksi otomatis milik aparatus-aparatus cyborgian tampaknya menghilangkan batas antara yang nyata dan khayali, mengaburkan batas-batas kebenaran. Bagi bangsa kita, kondisi itu beriringan dengan tidak siapnya sarana dan prasarana, merintangi kita mengakses materi-materi historisis original, terutama arsip. Kita pun semakin berjarak dengan masa lalu, berjarak dengan sejarah kita sendiri. Tapi ini justru tantangan bagi kita untuk mencari lokus-lokus bahasa baru. Aneka eksperimen melalui kerangka berpikir media, adalah hal yang paling mungkin dilakukan. Bahkan, terhadap/dengan lukisan. Pasca hingar-bingar gambar bergerak, tindakan melukis layak menjadi adat jeda dalam memahami bagaimana aparatus cyborgian itu mengkonstruk sejarah dan kenyataan kita. Ones Who Looked at the Presence, oleh Otty Widasari, lebih dari studi tentang mesin reproduksi: tak hanya menganalisa gesture subjek-subjek yang terepresentasi dalam arsip-arsip filem—yang kini hanya versi digitalnya yang bisa kita akses—tapi juga merangsang spekulasi baru dalam mengungkap selubung misteri dari interseksi antara lokasi, kehadiran, dan fungsi medium/materi/tubuh dan …

Catatan Dari SeMA: Tentang Cermin Tradisi yang Kita Punya

Seoul Museum of Art, tempat diselenggarakannya SeMA Biennale MEDIACITY SEOUL 2014. Pak Kuwu, seorang teman dari Jatiwangi Art Factory, bercerita kepada saya bahwa ketika berada di Fukuoka, Jepang, untuk mengunjungi sebuah acara seni di sana, dia dan teman-temannya berkeliling hingga ke pelosok kota hanya untuk menemukan sesuatu yang salah. Pak Kuwu (Kepala Desa) dan warga desanya sering menyelenggarakan kegiatan pemberdayaan masyarakat berbasis seni, dan kunjungannya ke Jepang saat itu untuk melakukan semacam studi banding di bidang pemberdayaan masyarakat tersebut. “Tapi gak nemu sama sekali,” ujarnya, sembari menyetir mobil. Saat itu dia mengantar kami dari Jatiwangi menuju Stasiun Cirebon karena kami harus pulang ke Jakarta. “Semuanya tertata dengan baik.” Kita tahu, Jepang adalah salah satu negara yang tatanan masyarakatnya sudah demikian tertib dan dianggap sebagai masyarakat yang maju dengan etos kerja yang tinggi. Namun, baru-baru ini, media massa memberitakan bahwa pemerintah Jepang menerbitkan peraturan untuk “memaksa” para pekerja agar mau berlibur dalam rangka meningkatkan keseimbangan antara kehidupan dan pekerjaan warga negaranya.[1] Situasi ini cukup ironis mengingat cita-cita akan tatanan masyarakat madani, di satu sisi, justru menimbulkan …