Buruh Orasi di Bojongkokosan

Pada artikel berjudul Akan Orasi di Bojongkokosan, saya sempat berjanji akan memuat artikel lanjutan mengenai demonstrasi buruh di Parungkuda, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Saya dan Ageung membuat sebuah tulisan mengenai peringatan Hari Buruh Internasional yang dilakukan di Bojongkokosan, dan dimuat di website akumassa dengan judul Sedikit Cerita tentang Serikat Buruh di Parungkuda, pada tanggal 2 Mei 2013.

Tulisan ini sedikit banyak adalah hasil buah pikir Ageung sementara saya menyumbangkan buah pikiran melalui diskusi dan saran-saran mengenai bentuk kerangka atau kemasan tulisan. Ageung juga memuat artikel ini di blognya.

Berikut saya post artikelnya. Silahkan dibaca, tanggapi, dan sebarkan! #asyek

—————-***—————-

Sabtu, 27 April 2013, ketika menuju kamar kecil, aku melihat ada banyak selebaran pengumuman ditempel di dinding-dinding bagian dalam gedung pabrik tempatku bekerja, di PT. Nina Venus Indonesia, Jalan Angkrong, Parungkuda, Kabupaten Sukabumi. Isinya adalah pemberitahuan tentang pergantian hari libur untuk buruh pabrik. Semua buruh di PT. Nina diwajibkan masuk kerja pada tanggal 9 Mei, yang merupakan hari libur nasional, sebagai pengganti hari tidak masuk kerja pada Hari Rabu, 1 Mei 2013. Bagi pihak perusahaan, May Day seharusnya bukan hari libur.

Spanduk-MAY-DAY-1

Tiga hari kemudian, temanku, Zikri, bertanya, “Gimana hasil obrolanmu dengan ketua serikat buruh di sana?”

“Tidak memuaskan,” jawabku. “Sepanjang obrolan, mereka selalu mempertanyakan status keanggotaanku di serikat, apa aku udah jadi anggota atau belum.”

Emangnya harus daftar dulu baru bisa tahu tentang serikat buruh itu?”

Gak tahu, deh! Pokoknya, setiap aku bertanya tentang serikat buruh itu, tentang struktur organisasinya, gimana kerjanya…, semuanya deh, obrolan selau diarahkan ke sana. Bahkan, waktu aku nyoba ngasih ide bikin blog untuk serikat buruh, mereka bilang aku harus jadi anggota dulu. ‘Kalau tidak begitu, statusnya gimana?’ katanya…”

Serikat buruh yang kami perbincangkan itu adalah Serikat Buruh Industri Plastik – Gabungan Serikat Buruh Independen, disingkat SBIP-GSBI, tetapi biasanya buruh-buruh di PT. Nina menyebutnya dengan ‘GSBI’ saja. Beberapa hari belakangan, aku tertarik dengan keberadaan serikat buruh ini, dan sempat terniat ingin bergabung ke dalamnya meskipun belum menyerahkan formulir pendaftaran yang aku dapatkan lebih dari sebulan yang lalu.

Baju-seragam-GSBI-yang-mengusung-prinsip-independen-militan-patriotik-dan-demokratis

Menurut Anton, ketua GSBI PT. Nina Venus Indonesia, yang sempat berbincang denganku dua hari yang lalu, buruh se-Parungkuda akan melakukan orasi di halaman taman Monumen Bojongkokosan, yang berjarak sekitar sepuluh menit menaiki angkot dari Stasiun Parungkuda ke arah Bogor.

Taman-Monumen-Bojongkokosan

Kemarin, pagi hari, 1 Mei 2013, Teh Asih, teman satu pabrik di PT. Nina Venus Indonesia yangngontrak kamar di rumahku sedang mengepel lantai. Sambil menikmati segelas kopi, Zikri bertanya padanya, “Gak ikutan demo ke Bojongkokosan, Teh?”

Nggak, ah! Takut rusuh!” jawab Teh Asih. “Belum demo aja, kemarin udah ada pabrik yangkebakar.”

“Oh, yang Hari Minggu kemarin itu, ya?” kata Zikri. Dia dan aku sempat melihat kepulan asap memenuhi langit di arah Bogor ketika menaiki angkot dari Parakansalak menuju Stasiun Parungkuda. “Itu di mana, Teh? Kenapa bisa terbakar?”

“Pabrik garmen, katanya. Menurut gosipnya, ada yang bilang karena puntung rokok, tapi ada juga yang bilang karena lampu listrik.”

“Udah kayak pertanda akan terjadi apa-apa ya, Teh?” kata Zikri bercanda sementara Teh Asih menanggapinya dengan tertawa.

Tapi, toh ternyata memang tidak terjadi kerusuhan atau malapetaka apa-apa di Bojongkokosan. Penyelenggaraan demonstrasi oleh para buruh yang dikawal ketat oleh satuan keamanan dari Polres Kabupaten Sukabumi dan TNI itu berlangsung biasa-biasa saja. Barisan massanya tidak seheboh di Bundaran HI ketika aku berkesempatan melihat acara peringatan May Day di Jakarta tahun lalu. Yang tidak biasa adalah justru kebingunganku dengan keberadaan Serikat Buruh di Parungkuda, khususnya GSBI di PT. Nina Venus Indonesia, sehubungan dengan kegunaan dan fungsinya bagi kesejahteraan para buruh di Parungkuda.

Yang aku bayangkan, seharusnya serikat buruh itu bertugas sebagai wakil buruh untuk pengantar pesan aspirasi buruh. Artinya, serikat buruh harus melakukan segala usaha untuk membantu semua buruh tanpa terkecuali. Menurut hasil diskusiku dengan Zikri, serikat buruh menjadi penting bagi penyelesaian masalah-masalah buruh, seperti masalah perampasan hak buruh akan aset-aset publik, masalah akses pendidikan bagi kaum buruh, masalah kesetaraan hak dan jaminan kesehatan, khususnya bagi kaum perempuan dan anak, serta masalah perlindungan kemanan dan kenyamanan kerja buruh, terutama bagi buruh migran di luar negeri.

Aku pernah bertanya kepada Munir dan Teh Amira , temanku di pabrik, tentang alasan mereka mengapa bergabung ke serikat buruh. “Supaya punya tempat berlindung,” kata mereka.

Munir berkata, “Kita tidak tahu 5 tahun lagi, entah nanti pabrik bangkrut, terus kita di-PHK, jadi ada yang iniin kita lah… biar gak di-PHK.”

Sedangkan Teh Amira berkata, “Awal-awal kenaikan gaji buruh mengikuti UMR, banyak buruh yang ditekan dan gosipnya akan diancam keluar. Terus masuk ke serikat, biar ada tempat berlindung.”

Namun, aku bertanya-tanya di dalam hati, “Tempat berlindung yang seperti apa?” Bagaimana mungkin menjelaskan tempat berlindung itu hanya dengan menyebutnya sebagai suatu wadah yang bisa menjamin kenaikan gaji atau aman dari PHK saja. Tidak ada penjelasan yang lain? Kesan yang aku dapatkan adalah GSBI, atau serikat buruh umumnya di Parungkuda, dianggap ada kalau soal gaji saja, dan ketika gaji sudah memuaskan, ya sudah. Teh Puput pun, temanku yang lain, pernah bercanda waktu aku bertanya apakah dia akan ikut serta GSBI untuk demo atau tidak di Bojongkokosan, “Arek naon demo, pan geus naek gaji na?!” (“Ngapain demo, kan udah naik gajinya?”)

Di sisi lain, penjelasan Anton sebagai ketua Serikat Buruh GSBI PT. Nina juga tidak memuaskan. Ketika aku bertanya tentang apa contoh konkret yang bisa diperjuangkan oleh GSBI soal hak buruh, dia menjelaskan seperti ini:

“Kalau perempuan, kan punya hari libur karena mens dan hamil. Nah, dengan adanya serikat, hak bagi buruh laki-laki juga akan diperjuangkan, misalnya. Jadi semuanya adil.”

“Ha?!” itulah ekspresiku ketika mendengar jawabannya. Aku benar-benar bingung. Sebenarnya, adil yang diinginkan serikat buruh itu yang seperti apa, ya?

Awalnya Zikri kurang percaya dengan ceritaku itu. “Masa begitu, sih cara berpikirnya?” ucap Zikri. Namun, begitu, kebingungan ini tidak mengurungkan niat kami untuk menyaksikan bagaimana situasi demonstrasi yang akan dilangsungkan di Monumen Bojongkokosan pada hari May Day.

Kami tiba sekitar pukul setengah sembilan pagi di Monumen Bojongkokosan. Suasana masih sangat sepi, hanya ada beberapa polisi yang sedang berjaga-jaga.

Monumen-Bojongkokosan-masih-sepi-pada-pagi-hari

“Demonstrasinya mulai jam berapa, Pak?” tanya Zikri kepada salah seorang polisi.

“Seharusnya jam delapan, tapi gak tahu, deh. Belum ada laporan lagi. Ditunggu saja!” jawab polisi tersebut. “Dari mana?”

“Saya mahasiswa, Pak, mau nulis aja buat blog tentang demo buruh di Parungkuda pas Hari Buruh,” kata Zikri. “Kami ijin ambil-ambil gambar, ya, Pak?”

“Ya, silahkan!”

Di sepanjang pagar taman Monumen Bojongkokosan, dipampang berbagai spanduk, salah satunya Koalisi Buruh Sukabumi (KBS) dan GSBI. Pada spanduk itu tertulis: “Gerakan Buruh Indonesia Melawan Perampasan Upah, Tanah, Kerja & Union Busting”. Di depan kantor Badan Pembina Pelestarian Nilai-Nilai 45, yang terletak di sebelah taman Monumen Bojongkokosan, juga terpampang spanduk besar yang berisi ucapan selamat Hari Buruh Internasional dari Polres Sukabumi. Di sana juga ada mobil bertuliskan “Donor Sekarang” yang melayani para sukarelawan yang ingin mendonorkan darahnya.

Spanduk-MAY-DAY-2

“Lah, itu mereka pada ke mana?” seruku ketika melihat rombongan motor mengenakan baju warna biru-biru (seragam GSBI) melintas di depan taman Monumen Bojongkokosan, menyusuri Jalan Raya Parungkuda ke arah Cicurug. Hingga detik itu, kami tidak tahu bahwa ternyata barisan massa buruh berkumpul di Cicurug dan akan berjalan kaki menuju Bojongkokosan untuk berorasi. Kami baru mengetahuinya setelah jam makan siang, pukul 13:06 WIB, ketika rombongan massa gabungan buruh se-Parungkuda datang dengan iring-iringan mobil panggung berisi sound systemdan bendera-bendera serikat buruh. Menjelang siang itu, Bojongkokosan sepi, hanya ada beberapa buruh yang datang duluan, dan para petugas keamanan.

Suasana di Monumen Bojongkokosan ketika para buruh yang-tiba terlebih dahulu di sana menunggu rombongan massa dari Cicurug

Suasana di Monumen Bojongkokosan ketika para buruh yang-tiba terlebih dahulu di sana menunggu rombongan massa dari Cicurug

Suasana-di-Monumen-Bojongkokosan-ketika-para-buruh-yang-tiba-terlebih-dahulu-di-sana-menunggu-rombongan-massa-dari-Cicurug-2

Beberapa-buruh-yang-menunggu-rombongan-massa-dari-Cicurug-juga-menyiapkan-bendera-serikatnya-masing-masing

Beberapa-buruh-sudah-tiba-di-Monumen-Bojongkokosan

Beberapa-buruh-dan-petugas-keamanan-mencari-tempat-berteduh-di-bawah-pohon

Suasana-makan-siang-petugas-keamanan-1

Saat rombongan buruh yang berjalan kaki itu tiba di Bojongkokosan, seorang orator yang merupakan Koordinator Koalisi Buruh Sukabumi (KBS), Bung Dadeng Nazarudin, menyapa para buruh.

Bung-Dadeng-Nazarudin-Koordinator-Koalisi-Buruh-Sukabumi-KBS

“Hidup buruh! Hidup buruh! Hidup buruh!”serunya. “Ayo temen-temen, semuanya bergabung ke tengah, jangan ada yang berteduh. Bagi buruh-buruh yang berteduh, kalau perempuan, saya sumpahi akan hitam keling, dan bagi buruh laki-laki, saya sumpahi tidak akan pernah bisa bersenggama dengan buruh perempuan itu!”

“Hidup buruh! Hidup buruh! Hidup Buruh!” serunya lagi. “Hidup… buruh… perempuan!” serunya diakhir.

Rombongan-massa-buruh-dari-Cicurug-mendekati-Monumen-Bojongkokosan-1

Rombongan-massa-buruh-dari-Cicurug-mendekati-Monumen-Bojongkokosan-2

Rombongan-massa-buruh-dari-Cicurug-mendekati-Monumen-Bojongkokosan-3

Rombongan-massa-buruh-dari-Cicurug-mendekati-Monumen-Bojongkokosan-4

Rombongan-massa-buruh-dari-Cicurug-mendekati-Monumen-Bojongkokosan-5

Bung Dadeng menyampaikan pidato politiknya, yang secara garis besar berisikan tentang sejarah Hari Buruh, di mana pada tahun 1890 merupakan momentum bagi kesejahteraan buruh karena ada kesepakatan dalam Konvensi ILO No. 01 tahun 1919 dan Konvensi Internasional No. 47 tahun 1935 yang menetapkan jam kerja buruh selama 8 jam sehari, mengganti ketetapan lama, yakni 18 jam sehari.

“Tapi, apa yang kawan-kawan rasakan di Sukabumi? Kita bekerja lebih dari 8 jam. Kita pulang hingga pukul 11!” teriaknya keras dan dilanjutkan dengan menyumpahi pejabat-pejabat yang ada di Komisi Perburuhan, tanpa mau menyebut fraksi partainya, karena buta dan tuli dengan tuntutan-tuntutan para buruh di Parungkuda selama ini.

Dalam pidato politiknya itu pula, Bung Dadeng menyampaikan 10 tuntutan buruh. Butir pertama, buruh menuntut penghapusan Kepmen No. 231 Tahun 2003 Tentang Tata Cara Penangguhan Upah Minimum, dan menuntut diberlakukannya Upah Minimum Nasional. “Harga bala-bala di Jakarta dan di Sukabumi sama, betul tidak kawan-kawan?! Harga indomie di Jakarta dan di Sukabumi sama, betul tidak kawan-kawan?!”

Spanduk-berisi-10-tuntutan-buruh-pada-May-Day-2013

Butir kedua, buruh menuntut penghentian pemberangusan serikat buruh. Butir ketiga, buruh menolak Undang-Undang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) dan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) serta menuntut jaminan sosial bagi kaum buruh dan seluruh rakyat Indonesia di mana kewajiban itu ditanggung oleh negara. Butir keempat, buruh menuntut dihapuskannya sistem kerja kontrak dan outsourcing. Butir kelima, buruh menolak privatisasi aset-aset negara. Butir keenam, buruh menuntut pemberlakuan Undang-Undang yang pro buruh. Butir ketujuh, buruh menuntut perlindungan sejati bagi buruh migran Indonesia sekaligus juga menuntut dicabutnya Undang-Undang Penempatan dan Perlindungan TKI Di Luar Negeri (PPTKILN) No. 39 Tahun 2004.

Butir kedelapan, buruh menuntut supaya tanggal 1 Mei dijadikan sebagai hari libur nasional. Aku dan Zikri sempat membaca berita terkait hal ini. Katanya, Presiden SBY telah menyetujui untuk menjadikan tanggal 1 Mei sebagai hari libur nasional meskipun baru akan berlaku tahun depan. “Jadi, tidak ada lagi hari libur nasional lain dijadikan hari kerja oleh perusahaan untuk mengganti tanggal 1 Mei!” seru Bung Dadeng.

Butir kesembilan, buruh menuntut supaya dihentikan liberalisasi perdagangan. Dan di butir kesepuluh, para buruh menuntut dihentikannya perampasan upah, tanah, dan kerja, serta menuntut dilaksanakannya land reform sejati bagi kaum buruh. Butir kesepuluh itu yang menjadi tema May Day di Parungkuda pada tahun ini.

Ke sepuluh butir tersebut dituliskan pada spanduk, tertanggal 1 Mei 2013 di Parungkuda, oleh gabungan serikat-serikat buruh, yakni  Gabungan Serikat Buruh Independen (GSBI), Organisasi Pekerja Seluruh Indonesia (OPSI), Serikat Pekerja Danone Aqua Group (SPDAG), Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI), Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI), dan Serikat Pekerja Nasional (SPN).

Pada sesi akhir pidato politiknya, Bung Dadeng menyebutkan bahwa demonstrasi hari itu juga didukung oleh pihak pemerintah setempat, yakni ajaran Muspida (Musyawara Pimpinan Daerah), seperti Ketua DPRD Kabupaten Sukabumi Badri Suhendi dan Kapolres Sukabumi AKBP M Firman, dan juga dihadiri oleh Wakil Bupati Kabupaten Sukabumi Akhmad Jajuli, dan Kepala Disnakertrans Aam Amarhalim.

Beberapa-pejabat-juga-turut-hadir-dalam-kegiatan-orasi-memperingati-Hari-Buruh-Internasional-di-Monumen-Bojongkokosan

Namun, yang membuat kami bingung, orasi ini semakin lama terasa seperti kampanye. Pada pidato itu disebutkan bahwa Pak Aam, Kepala Disnakertrans, berencana akan mencalonkan diri menjadi Bupati pada periode selanjutnya. “Kami para buruh yang tergabung dalam Koalisi Buruh Sukabumi, sangat mendukung beliau, karena beliau sangat dekat dan mau bekerjasama dengan kita,” kata Bung Dadeng. Dia bahkan memuji-muji para pejabat yang berdiri di atas panggung mobil karena rela berpanas-panas ikut mengiringi massa buruh yang berjalan kaki dari Cicurug menuju Bojongkokosan. Ketika nama Kepala Disnakertrans itu diteriakkan, “Hidup Aam!”, para buruh yang berkumpul di depan panggung turut berteriak, “Hidup!”

Suasana-ketika-orasi-di-Bojongkokosan-1

Suasana-ketika-orasi-di-Bojongkokosan-2

Setelah Bung Dadeng, satu per satu pejabat-pejabat tersebut juga memberi kata sambutan. Wakil Bupati sangat mengapresiasi kegiatan aksi damai yang berlangsung hari itu dan memuji-muji buruh yang begitu semangat bertahan di bawah panas terik matahari. Ketua DPRD Kabupaten Sukabumi juga demikian, dan sangat menghimbau para buruh untuk tidak segan-segan menyampaikan suaranya kepada jajaran dewan agar dapat dipertimbangkan dalam penentuan kebijakan mengenai buruh.

Wakil-Bupati-memberikan-sepatah-dua-patah-kata

Ketika giliran Kepala Disnakertrans, dia berseru sebagaimana Bung Dadeng sebelumnya, “Hidup Buruh! Hidup Buruh! Hidup Buruh!” setiap seruannya disambut oleh para buruh. Kemudian, dia berseru lagi, “Perempuan… buruh!” katanya pelan sambil menunjuk rombongan buruh perempuan yang berteduh di bawah pohon di depan mobil panggung, dan disambut dengan tertawa kecil oleh buruh laki-laki.

Kepala-Disnakertrans-memberikan-sepatah-dua-patah-kata1

Pada pidato Kepala Dianakertrans tersebut, disampaikan bahwa sudah ada Surat Keputusan (SK) Upah untuk sektor makan dan minuman. Menurut SK tersebut, UMR buruh di sektor makanan dan minuman meningkat dari 1,2 juta menjadi 1,4 juta. Kabar ini disambut dengan gembira, dan pada saat itu pula SK itu dibacakan secara lengkap di hadapan para buruh yang hadir.

Dirasa-rasa, seperti komentar Zikri kepadaku, demonstrasi KBS kemarin di Bojongkokosan lebih berbentuk acara seremonial untuk menyampaikan dukungan daripada menyampaikan protes. Selain menyampaikan 10 tuntutan dan pengumuman tentang SK baru mengenai UMR tersebut, acara ini juga diisi dengan pemberian cinderamata dari KBS kepada dua orang buruh berprestasi yang dianggap memiliki kontribusi besar dalam organisasi.

Akhirnya, sekitar pukul dua siang, aku dan Zikri memutuskan untuk pulang ke rumah karena acara orasi telah selesai dan ditutup dengan sujud syukur bersama, foto-foto, dan pertunjukkan kesenian oleh buruh-buruh yang masih bertahan di depan panggung hingga orasi selesai.

Buruh-melakukan-sujud-syukur-di-akhir-kegiatan-orasi1

Buruh-melakukan-foto-foto-diakhir-orasi

Di angkot, aku berkata pada Zikri, “Agak menyedihkan, ya…?! Demonya cuma begitu doang…”

“Ya, namanya juga serikat buruh, rentan oleh konflik kepentingan,” Zikri menanggapi. “Aneh, ya, aspirasi buruh perempuan kurang diangkat. Padahal, sebagian besar buruh di sini perempuan, kan?”

“Ya, gitu deh…!” kataku pelan.

————–***————–

Demikian tulisan tentang buruh di Parungkuda. Semoga lain waktu saya dan Ageung bisa menghasilkan tulisan-tulisan lainnya dari Parungkuda. #asyek

batu permata ke batu kecapi

Tahu tidak?! Tadi malam, Ageung bercerita lagi kepada saya bahwa ada gosip baru yang berhubungan dengan surup-kesurupan… #asyek Hahaha! Saya cukup antusias mendengarnya meskipun sedikit kecewa karena bukan soal buruh laki-laki yang mati keselek cireng. Cerita kesurupan dari Parungkuda ini mulai beranjak ke persoalan mitos dan kisah misteri yang hidup di masyarakat Parungkuda melalui mulut ke mulut. Sebuh narasi kecil yang (bisa dibilang) tidak pernah diangkat oleh media arus utama.

Jadi, katanya, buruh perempuan di PT. Nina 1 yang lama, yang mati karena kesurupan setan pangeran dari kerajaan antah berantah itu, mirip dengan Teh Puput, teman Ageung sesama buruh di PT. Nina 1 yang sekarang. Kemiripan mereka berdua juga di-iya-kan oleh teman sesama buruh yang lain, yakni Munir, Teh Yulis dan Mak Een. Munir mengatakan bahwa si buruh perempuan itu menjadi wadal manusia (atau tumbal, lebih tepatnya). Sementara itu, Mak Een mengatakan bahwa si buruh perempuan tersebut mati kesurupan karena dikerjai atau diguna-guna oleh mantan kekasihnya.

Menurut cerita Ageung, yang ia dengar dari para buruh, dahulu di lokasi PT. Nina 1 yang lama (sekarang menjadi PT. Nina 2) ada sebuah pohon besar tempat bersarangnya para setan. Sekarang, pohon itu sudah tidak ada. “Udah ditebas, katanya,” jelas Ageung.[1]

Menurut saya, tentunya cerita ini sudah terdramatisasi sedemikian rupa karena selalu dibumbui dengan segala tambahan peristiwa khayal ketika diceritakan secara terus-menerus dari mulut ke mulut. Sangat mungkin bahwa si buruh perempuan yang mati kesurupan itu, sebenarnya, mengalami kematian yang wajar-wajar saja. Pengalaman-pengalaman tentang kesurupan itu membuat persepsi orang-orang di sekitarnya mencoba mengait-ngaitkan penyebab kematian dengan hal-hal gaib.

“Tapi, kalau menurut Munir, sih, perempuan itu matinya gak wajar,” kata Ageung. “Sebelum mati, kelihatan tanda-tanda serangan si setan, seperti air liur yang selalu menetes seperti anak kecil, dan sebelah matanya juling. Tapi itu katanya, ya…! Hahaha!”

Masih ada yang percaya bahwa para setan di PT. Nina 2 sekarang ini belum pergi dari pabrik itu. Ada kemungkinan akan terjadi peristiwa kesurupan lanjutan, bisa nanti, besok, minggu depan, bulan depan, atau kapan pun… kita tidak tahu.

“Kok bisa begitu?” tanya saya.

“Soalnya, kata Munir masih ada satu benda yang belum ditemukan,” jawab Ageung.

“Satu benda? Maksudnya?”

“Iya, satu benda misteri, semacam permata, yang jadi sarang si setan.”

“Oh, gitu…”

Mendengar cerita itu, saya jadi teringat novel Harry Potter. Musuh besar Harry, si Lord Voldemort, membagi jiwanya menjadi tujuh dan menyimpannya di tujuh benda keramat. Untuk memusnahkan Voldemort, Harry harus menghancurkan ke tujuh benda itu, yang oleh para penyihir disebut sebagai Horcrux.

Saya jadi tertawa ketika mendengar cerita Ageung. “Wah, berarti pohon besar itu horcrux si setan pangeran, dong?”

“Iya, bisa dibilang begitu! Hahaha!” ucap Ageung tertawa juga. “Ya, kalau bahasa kitanya, pohon besar atau permata itu seperti jimat gitu, deh…”

“Nah, omong-omong soal jimat, dulu ada orang di dekat rumah yang sering kesurupan juga,” lanjut Ageung. “Kira-kira waktu aku masih SMP, deh…”

“Gimana kesurupannya?” saya bertanya penasaran. (Dan saya masih berharap-harap cemas kalau jawabannya adalah kesurupan karena mati keselek cireng. Ini soal prinsip: cerita misteri tentang buruh laki-laki yang mati keselek cireng itu lebih menarik ketimbang acara reality show “dunia lain” di TV. #asyek)

 “Jadi, orang itu sering kesurupan gara-gara dirasuki oleh siluman ular,” jawab Ageung. (“Yaaaaaaaaaah…!!!” saya berseru kecewa di dalam hati).

“Bapak orang yang kesurupan itu memiliki sebuah batu yang bentuknya seperti telur ular,” Ageung melanjutkan penjelasannya tanpa mau mengerti kekecewaan saya. #hiks

“Batu apa?”

“Batu jimat gitu, deh… bentuknya seperti telur ular,” kata Ageung. “Nah, anaknya mengalami kesurupan karena, katanya, batu jimat itu dikasih ke orang lain. Silumannya marah sehingga merasuki tubuh si anak.”

“Hmm… gitu…!” saya berujar masa bodoh. “Gak ada cerita tentang orang yang kesurupan arwah gentayangan yang mati keselek cireng, yak?”

“Gak ada!” seru Ageung sedikit kesal, kemudian dia tertawa (mungkin membayangkan tampang kecewa saya yang bodoh. Hahaha!)

“Eh, ada lagi cerita yang lain,” kata Ageung.

“Keselek cireng, gak?”

“Bukaaaan!”

“Ya udah, ya udah… gimana ceritanya?”

“Cerita ini udah lama, waktu aku masih SD. Tentang setan Batu Kecapi.”

“Batu apa?”

“Kecapi…”

“Alat musik?”

“Iya, alat musik.”

“Oh, jadi setannya keluar dari alat musik?”

“Bukan, Batu Kecapi. Itu nama lokasi, daerahnya di wilayah bagian atas.[2] Di daerah itu ada batu yang bentuknya mirip kecapi.”

“Oh, terus…?”

“Nah, dulu aku punya saudara, waktu itu dia masih remaja, sering kesurupan juga.”

“Siapa namanya?”

“Aduh, aku lupa… Sebentar, aku tanya ibu dulu, ya!” di ponsel terdengar suara langkah Ageung berlari menuruni tangga kamar tidurnya. Saya menunggu sekitar sepuluh menit. Kemudian: “Ah, ibu juga lupa ceritanya. Hahaha!”

“Yeee, gimana dah?!”

“Seinget aku aja, ya?”

“Sok, lanjut…!”

“Jadi, saudara jauhku itu sering mengalami kesurupan. Dia sering dirasuki oleh setan yang merupakan nenek buyutnya sendiri. Nenek buyutnya itu dijadikan istri oleh Jin Pangeran yang berasal dari Batu Kecapi.”[3]

“Pangeran lagi…?!”

“Iya… Katanya, setelah sadar dari kesurupan, dia mengaku merasa sedang naik kuda emas, lengkap dengan iring-iringan kerajaan. Dulu, nenek buyutnya itu hilang secara tiba-tiba ketika masih remaja. Nah, kata orang, dia itu hilang karena dipersunting oleh si Jin Pangeran.”

“Batu Kecapi itu adanya di kecamatan apa?”

“Itu udah jadi nama daerah. Masih wilayah Parungkuda, kok, kalau aku gak salah. Sama halnya kalau kamu di Jakarta, orang kenal nama Lenteng, Proposal, atau di Depok ada Kutek dan sebagainya.”

“Oh…”

Ageung juga mengatakan bahwa Batu Kecapi itu[4] sudah sering dipindah-pindahkan, tetapi tanpa diketahui bagaimana kejadiannya, batu itu selalu berada lagi di lokasi tersebut.

“Katanya, pernah ada yang membawa batu itu ke Pelabuhan Ratu, eh nongol lagi nongol lagi…!” kata Ageung. “Bagi warga di sini, cerita tentang Batu Kecapi itu udah menjadi semacam mitos atau cerita rakyat gitu, deh…!”

“Lokasi tepatnya di mana, sih?” saya semakin penasaran.

“Kamu ingat jalan yang kita lalui waktu pergi berenang bersama Randi? Nah, angkot yang kita naiki melintas di depannya.”

“Hm…” saya menanggapi dengan santai (padahal di dalam kepala saya, jiwa petualang saya mulai muncul. Saya bahkan berniat untuk datang ke sana dan ingin melihat langsung. Semoga saja Batu Kecapi-nya masih ada di sana).

Hadeuh… mulai dari cerita kesurupan di pabrik, malah melebar ke cerita rakyat di lingkungan warga Parungkuda. Hahaha!


[1] Tenang, Ageung bercerita dengan santai, kok! Tidak seperti orang yang hobi cerita serem-serem, yang menunjukkan ekspresi menegangkan demi menakut-nakuti orang yang mendengarkan cerita. Lagipula, Ageung, kan cakep! #preeet

[2] Maksudnya, daerah yang kalau kita melalui jalanan aspal, kita akan melalui jalanan yang mendaki.

[3] Okeh, ceritanya mulai aneh. Padahal, hantu keselek cireng tidak akan se-absurd ini. Saya percaya itu.

[4] Saya mulai membayangkan sebuah batu besar yang bentuknya mirip kecapi. Ceritanya jadi mirip legenda Batu Malinkundang. Hahaha! Tapi saya rada-rada lupa. Kalau tidak salah, tadi malam itu Ageung mengatakan bahwa batu-batu di sana mirip kecapi (berarti batunya banyak). Nah kalau begitu, saya membayangkan sebuah lokasi yang isinya banyak batu, dan batunya mirip kecapi. Atau… au ah! Hahaha!

Dulu, ada kesurupan juga…

Seminggu yang lalu, Ageung menceritakan lanjutan gosip tentang kesurupan massal yang terjadi di PT Nina. Katanya, belakangan gosip tentang kesurupan massal itu mulai mendramatisasi ke sebuah kisah yang terjadi di masa lampau. Saya menyambut cerita ini dengan semangat. Sebab, seperti yang saya tulis di “Dari Parungkuda; Kesurupan Massal”, kisah tentang kesurupan massal akan terasa lengkap jika dibumbui oleh kisah-kisah misteri yang ‘katanya’ pernah terjadi di lokasi yang bersangkutan.

Perusahaan wig milik orang Korea tempat Ageung bekerja itu terdiri dari tiga cabang perusahaan di Parungkuda: PT Nina 1, 2, dan 3. PT Nina 1 terletak di sebuah daerah yang oleh masyarakat Parungkuda disebut Angkrong. Kalau saya tidak salah ingat, PT Nina 2 terletak di daerah yang lebih dekat dengan Bojongkokosan, sedangkan PT Nina 3 di daerah Cibadak.[1]

Menurut cerita Ageung, PT Nina 2 itu dulunya adalah PT Nina 1. Katanya, dulu di PT Nina tersebut juga pernah terjadi peristiwa kesurupan meskipun bukan kesurupan massal. Korban kesurupan waktu itu adalah seorang buruh perempuan. Si buruh perempuan mengalami kesurupan selama berhari-hari. Karena tidak sembuh-sembuh, keluarga si korban memutuskan untuk membawanya berobat ke Banten. Seorang dukun di Banten yang mengobatinya mengatakan bahwa makhluk halus yang merasuki tubuh si buruh perempuan adalah seorang pangeran (tidak jelas pangeran dari kerajaan apa) yang jatuh cinta kepadanya. Kesurupan yang dialami oleh si buruh perempuan tersebut adalah bukti cinta sang pangeran. Dia menolak untuk keluar dari tubuh si perempuan. Akhirnya, kesurupan yang dialami si buruh perempuan malah menyebabkan dirinya mati. Matinya gantung diri.

Dari gosip yang beredar di kalangan buruh, peristiwa kesurupan massal yang terjadi di PT Nina 1 yang sekarang itu dikait-kaitkan dengan cerita kesurupan seorang buruh perempuan tersebut. “Dan kalau dipikir-pikir, semua buruh yang kesurupan waktu itu juga semuanya perempuan,” kata Ageung.

Cerita tentang kesurupan ini juga melompat atau dikait-kaitkan ke kisah misteri yang terjadi di perusahaan lain, yaitu PT Cosmo.[2] Salah seorang teman Ageung, yang dipanggil Teh Puput, pernah menjadi buruh di perusahaan tersebut, dan mengalami kesurupan. “Kesurupannya juga berhari-hari,” kata Ageung menjelaskan. Teh Puput juga berobat ke Banten, dan dari usaha pengobatan tersebut, diketahui bahwa ada tujuh makhluk halus yang merasuki tubuh Teh Puput. “Mendengar cerita itu, aku jadi inget film Mirrors,” kata Ageung sambil tertawa.

Film Mirrors karya Alexandre Aja (2008) yang disebut Ageung itu adalah sebuah film horor supernatural yang berkisah tentang seorang laki-laki yang berusaha menyelamatkan keluarganya dari serangan hantu-hantu yang muncul di cermin-cermin. Dalam rangkaian ceritanya, akan diketahui nanti bahwa hantu-hantu itu terkurung di dalam cermin karena, secara tidak langsung, dipaksa keluar dari tubuh seorang perempuan yang sebelumnya menjadi semacam tempat bersemayam para hantu. Awalnya, kesurupan yang dialami oleh si perempuan dianggap oleh para ahli kesehatan sebagai gangguan mental. Untuk menyembuhkannya, sebuah terapi cermin diterapkan pada si perempuan. Namun, terapi itu justru memancing para hantu untuk keluar dari tubuhnya dan terjebak di dalam cermin. Sementara itu, para dokter yang menangani kasus tersebut tidak tahu-menahu tentang keberadaan hantu yang mendiami tubuh si perempuan. Setelah lama berselang, para hantu itu menuntut untuk dipertemukan kembali dengan si perempuan. Caranya, mereka meneror orang dengan serangan-serangan yang menelan korban jiwa, dan orang yang diteror tersebut dituntun untuk mencari seorang perempuan bernama Esseker yang ternyata adalah mantan pasien rumah sakit jiwa sekaligus juga perempuan yang dulunya menjadi wadah tempat bersemayamnya para hantu. Di akhir cerita film tersebut, tokoh bernama Anna Esseker yang telah menjadi biarawati itu mengorbankan dirinya untuk dirasuki kembali oleh para hantu demi menyelamatkan keluarga Ben Carson, si tokoh laki-laki yang menjadi korban teror para hantu.

“Mirip, sih… tapi, kan kalau di Mirrors hantunya banyak banget,” saya menanggapi Ageung.

“Hahaha, ya sama aja, yang penting hantunya lebih dari satu!” ujar Ageung.

Setelah mendengar gosip dari PT Cosmo itu, saya belum mendengar lagi kabar terbaru dari Ageung tentang kesurupan di PT Nina. Mungkin isunya sudah tidak semenarik ketika perisitwa kesurupan massal itu terjadi, atau mungkin karena buruh-buruh di PT Nina 1 sedang sibuk dengan tenggat waktu ekspor perusahaan sehingga kekurangan waktu untuk bergosip.

Yang membuat saya sedih adalah hingga sekarang saya tidak mendengar ada kisah misteri tentang buruh laki-laki yang mati keselek cireng. Padahal, cerita itu pasti lebih menarik untuk dikait-kaitkan dengan peristiwa kesurupan massal. Hahaha!


[1] Saya akan mencoba memastikannya nanti kepada Ageung.

[2] Ageung tidak menyebutkan letak PT Cosmo tersebut. Akan tetapi setelah menelusurinya di google, kemungkinan PT Cosmo yang dimaksud adalah perusahaan elektrik yang terletak di daerah Cibadak, Sukabumi.

Dari Parungkuda; Kesurupan Massal

“Dari Parungkuda” adalah kategori atau rubrik baru di dalam blog ini. Dalam rangka mengalihkan kepenatan menghadapi skripsi yang gak kelar-kelar, saya mengganti tema blog ini menjadi lebih sederhana, tetapi justru dengan tampilannya yang sederhana itu saya menambahkan beberapa kategori/rubrik, salah satunya rubrik ini (sekaligus ngerayu Ageung supaya keselnya ilang… #eaaa).

Ageung

Ageung

Bagi saya sendiri, rubrik ini pastinya akan menjadi istimewa dan unik di antara rubrik yang lain karena saya akan menyajikan tulisan-tulisan khusus tentang Ageung dan cerita-ceritanya di Parungkuda, sebuah desa yang terletak di perbatasan antara Bogor dan Sukabumi. Ageung, yang sekarang bekerja sebagai buruh pabrik wig milik perusahaan Korea, belakangan ini memiliki cerita-cerita yang menarik. Saya masih menanti-nanti tulisan terbaru di blognya, dariwarga.wordpress.com, tentang “perdagangan gelap gorengan oleh buruh” yang sering ia ceritakan dengan begitu semangat. Saya juga tidak sabar menunggu foto-foto coretan dinding toilet perempuan di pabrik PT. Nina, yang kata Ageung penuh berisi percakapan para buruh tentang pasangan lesbi. Itu dua di antara sekian banyak cerita Ageung tentang Parungkuda, tentang pabrik, tentang lingkungan tetangga rumahnya, tentang hobi Si Abah yang suka mancing, tentang kebiasaan Indah (si bungsu) menghabiskan waktu berjam-jam mendengarkan lagu Pop Korea, tentang si Aa Randi yang badungnya setengah mati, atau kepiawaian ibunya dalam mebuat kue bolu berloyang-loyang, dan masih banyak lagi. Masalahnya, selain karena durasi jam kerjanya dari pukul delapan pagi hingga enam sore di pabrik sehingga menyita waktunya untuk menulis, Ageung sering kali juga malas untuk mulai menulis kalau tidak saya desak. Dia bercerita hari ini, nulisnya nanti-nati atau besok-besok, lama kelamaan dia sendiri lupa pernah bercerita apa saja (yah, begitulah Ageung… Hahaha!). Oleh sebab itu, saya berinisiatif untuk menulis sendiri cerita-cerita dari Ageung di rubrik ini. Setiap dua atau tiga minggu sekali saya datang ke Parungkuda mengunjungi Ageung, atau setiap malam saya berbincang dengannya melalui ponsel. Jadi, saya memiliki banyak cara untuk mendapatkan cerita-cerita baru. Saya yakin, ceritanya pasti menarik untuk dibaca oleh orang banyak.

Dokumen-Tooftolenk_Dian-Ageung-Komala-02

Tentunya, rubrik ini tidak akan menjadi lahan masturbasi: menjadi kategori tulisan yang berisi curhatan sampah mengenai kami berdua (#uhuk!). Sama sekali tidak! Justru, saya berpikir tulisan-tulisan yang akan saya kumpulkan ini menjadi semacam pilot project untuk memetakan Parungkuda. Jikalau dariwarga adalah blog tentang Parungkuda yang berasal dari perspektif warga lokal Parungkuda (Ageung dan orang-orang di sekitarnya), rubrik saya ini bisa dibilang menjadi wadah yang menampung catatan-catatan tambahan yang ditangkap oleh orang luar Parungkuda, yaitu saya sendiri. Semuanya murni berasal dari cerita Ageung kepada saya mengenai peristiwa-peristiwa yang ia alami, atau berasal dari amatan saya mengenai peristiwa-peristiwa yang saya alami di Parungkuda, atau cerita tentang Ageung-nya sendiri sebagai akumedium yang bersirkulasi di lokasi tersebut. Pokoknya, tulisan-tulisan ini bukan tulisan arogan yang mengobyektifikasi Parungkuda, melainkan cerita yang cair dengan peristiwa massa, massa-nya sendiri, dan lokasi tempat mereka berada.

***

Dua hari yang lalu, Ageung bercerita bahwa sekitar empat puluh orang buruh di PT. Nina sempat mengalami kesurupan. (“Kayak yang di tivi tivi, nih!” kata saya dalam hati).

“Aku gak tahu cerita awalnya, tapi katanya, sih satu persatu pada pingsan, terus jerit-jerit. Pertamanya 8 orang, nambah terus sampe yang aku denger terakhir 40 orang,” Ageung menjelaskan.

Ageung belum pernah bercerita kalau di PT. Nina ada narasi atau gosip tentang keberadaan setan. Tentunya peristiwa kesurupan itu akan cocok skenarionya jikalau memang misalnya di pabrik tersebut ada semacam legenda urban di kalangan buruh mengenai hantu atau setan penunggu gedung pabrik. Saya mulai membayangkan sebuah kisah misteri tentang seorang buruh perempuan pabrik yang mati gantung diri karena ditinggal kekasihnya (#dubrak!). Memang, sih, Ageung adalah pegawai baru di pabrik itu, dan mungkin teman-temannya belum sempat bercerita tentang misteri-misteri seputar pabrik yang angker.

Akan tetapi, ada kemungkinan lain: bisa jadi aksi kesurupan massal itu hanyalah sebuah pertunjukkan dari para buruh untuk melakukan semacam protes. Saya teirngat cerita saudara saya, Hauza, tentang aksi kesurupan massal siswa-siswi di sebuah SMA tempatnya bekerja sebagai pembimbing ekstrakurikuler Rohani Islam (Rohis). Hauza mengatakan bahwa siswa-siswi itu tidak benar-benar kesurupan. “Mereka hanya berpura-pura untuk mencari perhatian, umumnya didorong oleh latarbelakang masalah pribadi. Itu wajar di kalangan remaja, mereka masih labil dan sedang mencari jati diri,” jelas Hauza ketika menceritakan aksi bijaknya dalam menangani kasus tersebut. Nah, tidak menutup kemungkinan motif yang sama juga terjadi di kalangan buruh PT. Nina, kan?

Lebih dari satu minggu yang lalu, Ageung menulis tentang gaji buruh pabirk PT. Nina yang jumlahnya lebih kecil dibandingkan dengan UMR Jakarta. Meskipun dalam tulisan itu Ageung tidak menceritakan soal keluhan para buruh pabrik secara eksplisit, saya tetap berspekulasi bahwa persoalan gaji mungkin ada hubungannya dengan peristiwa kesurupan massal tersebut. Kesejahteraan buruh yang dipotong habis-habisan oleh para penguasa pabrik bukanlah masalah yang baru. Dengan berpura-pura kesurupan, buruh bisa mengekspresikan protes mereka kepada atasan (semacam inovasi dari mogok kerja, barangkali?! #asyek).

Ageung sendiri berpendapat bahwa aksi kesurupan yang melibatkan puluhan buruh itu dapat terjadi karena rasa empati yang ada pada masing-masing buruh satu sama lain. Ia masa bodoh dengan penyebab “kesurupannya”, dan lebih tertarik untuk menganalisa mengapa aksi itu bisa terjadi secara massal.

“Karena ada rasa empati itu, orang yang ada di dekatnya akan merasakan hal yang sama,” kata Ageung. “Kesurupan itu sendiri, kan dipicu bukan karena adanya hal yang bersifat magis. Hahaha! Sotoy, nih bahasanya!”

Hm… cukup rasional, sih…

Yah, begitulah… mudah-mudahan nanti Ageung punya kabar terbaru tentang buruh yang kesurupan (sekarang saya tertarik dengan kisah misteri seorang buruh laki-laki yang mati karena keselek cireng. #takjedes … Kita tunggu saja ceritanya!).

***

Sekian dulu cerita pertama Dari Parungkuda. Nantikan cerita-cerita menarik lainnya. #asyek

NB: Seharusnya di dalam tulisan ini saya mencantumkan foto-foto yang relevan dengan kisah kesurupan massal di pabrik. Berhubung saya tidak punya data fotonya, ya kenalan sama Ageung saja dulu… Noh, potonya udah gue pajang! Hahaha!