All posts tagged: parungkuda

Ageung

Padahal baru satu minggu. “Udah berasa satu bulan tau!” keluh Ageung. Suaranya dari seberang sana melalui piranti komunikasi ini benar-benar membuat saya tak berdaya menahan keinginan untuk segera berjumpa. Hahaha! Tak sabar, rasanya, saya ingin segera bermain dan bergembira lagi, terutama keliling warung mi ayam buat mengumpulkan narasi-narasi kecil warga tentang peristiwa dari rasa di lidah ke hasrat berbagi cerita; dari si penjual hingga para pembeli. Ah, ada banyak project dan ide-ide yang seru dan menarik, deh, yang menanti di Parungkuda. Tapi, tentunya yang paling membuat rasa rindu ini semakin tak tertahan ialah tak lain Ageung-nya sendiri. Hahaha! Ah, cantik dan manisnya…! I love her sooo much! Hahaha!

Proyek [cetak]dariwarga

fokus saya lebih banyak menekankan pada ritual-ritual yang menjadi kenangan dalam keluarga Ageung, seperti acara selamatan keluarga, santai sore hari di rumah tetangga (yang sebenarnya juga anggota keluarga Ageung), pengalaman-pengalaman bermain-main di sekitar rumah, serta kenangan-kenangan manis lainnya di keluarga Ageung.

Membaca Gus Dur di Rumah Parungkuda

Wah, nyaman sekali menikmati pagi seperti ini. Hari ini adalah sebuah prestasi. Tadi malam, saya berhasil untuk tidak larut malam. Pukul sembilan lebih sedikit, saya sudah terlelap. Saya bangun pagi pukul enam. #asyek Pagi ini saya di rumah Ageung. Di rumahnya, ada sebuah kamar kecil di atas loteng, dan di sanalah saya tidur jika menginap di rumah Ageung. Ibu Ageung (dan Ageung sendiri, tentunya) biasanya menganjurkan saya untuk menginap barang semalam dua malam di rumahnya jika datang bersilaturahmi. Udara di Parungkuda jelas berbeda dengan Depok, dan bangun pagi di Kampung Sawah itu lebih nikmat dibanding Kutek. Sementara Ageung diomelin oleh ibunya karena gagal membantu membuat kue karena sudah terlanjur ketiduran di dalam kamarnya sendiri, tadi malam itu saya sibuk membaca buku kumpulan tulisan Gus Dur. Saya tertidur ketika selesai membaca sebuah tulisan yang berjudul “Kerudung dan Kesadaran Beragama”. Tulisan itu benar-benar mencerahkan. Ia menjawab pertanyaan-pertanyaan saya tentang pro-kontra kerudung yang semakin hari semakin ruwet dan sikut-sikutan antara yang mengkampanyekan hijab dan yang sinis terhadap hijab. Gus Dur, tokoh intelektual pecinta damai ini memaparkan pandangan obyektif …

Buruh Orasi di Bojongkokosan

Pada artikel berjudul Akan Orasi di Bojongkokosan, saya sempat berjanji akan memuat artikel lanjutan mengenai demonstrasi buruh di Parungkuda, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Saya dan Ageung membuat sebuah tulisan mengenai peringatan Hari Buruh Internasional yang dilakukan di Bojongkokosan, dan dimuat di website akumassa dengan judul Sedikit Cerita tentang Serikat Buruh di Parungkuda, pada tanggal 2 Mei 2013. Tulisan ini sedikit banyak adalah hasil buah pikir Ageung sementara saya menyumbangkan buah pikiran melalui diskusi dan saran-saran mengenai bentuk kerangka atau kemasan tulisan. Ageung juga memuat artikel ini di blognya. Berikut saya post artikelnya. Silahkan dibaca, tanggapi, dan sebarkan! #asyek —————-***—————- Sabtu, 27 April 2013, ketika menuju kamar kecil, aku melihat ada banyak selebaran pengumuman ditempel di dinding-dinding bagian dalam gedung pabrik tempatku bekerja, di PT. Nina Venus Indonesia, Jalan Angkrong, Parungkuda, Kabupaten Sukabumi. Isinya adalah pemberitahuan tentang pergantian hari libur untuk buruh pabrik. Semua buruh di PT. Nina diwajibkan masuk kerja pada tanggal 9 Mei, yang merupakan hari libur nasional, sebagai pengganti hari tidak masuk kerja pada Hari Rabu, 1 Mei 2013. Bagi pihak perusahaan, May Day seharusnya bukan …

batu permata ke batu kecapi

Tahu tidak?! Tadi malam, Ageung bercerita lagi kepada saya bahwa ada gosip baru yang berhubungan dengan surup-kesurupan… #asyek Hahaha! Saya cukup antusias mendengarnya meskipun sedikit kecewa karena bukan soal buruh laki-laki yang mati keselek cireng. Cerita kesurupan dari Parungkuda ini mulai beranjak ke persoalan mitos dan kisah misteri yang hidup di masyarakat Parungkuda melalui mulut ke mulut. Sebuh narasi kecil yang (bisa dibilang) tidak pernah diangkat oleh media arus utama. Jadi, katanya, buruh perempuan di PT. Nina 1 yang lama, yang mati karena kesurupan setan pangeran dari kerajaan antah berantah itu, mirip dengan Teh Puput, teman Ageung sesama buruh di PT. Nina 1 yang sekarang. Kemiripan mereka berdua juga di-iya-kan oleh teman sesama buruh yang lain, yakni Munir, Teh Yulis dan Mak Een. Munir mengatakan bahwa si buruh perempuan itu menjadi wadal manusia (atau tumbal, lebih tepatnya). Sementara itu, Mak Een mengatakan bahwa si buruh perempuan tersebut mati kesurupan karena dikerjai atau diguna-guna oleh mantan kekasihnya. Menurut cerita Ageung, yang ia dengar dari para buruh, dahulu di lokasi PT. Nina 1 yang lama (sekarang menjadi …

akan orasi di Bojongkokosan

Siang, Hari Kamis, 25 April 2013, melalui ponsel Ageung bercerita kepada saya tentang kabar terbaru dari pabrik PT. Nina 1 di Jl. Angkrong, Parungkuda. Katanya, tanggal 1 Mei tidak masuk kerja karena para buruh akan memperingati Hari Buruh Sedunia. “Kami akan berkumpul di Monumen,” kata Ageung. “Kamu ingat taman yang pernah kita kunjungi bersama Fajar dulu itu, kan?” “Oh, iya… aku ingat!” jawabku. “Buruh-buruhnya akan berorasi di sana?” “Iya, kalau kamu bisa datang ke Parungkuda, kita ke sana, yuk?! Kita bisa tulis peristiwa itu.” “Boleh juga, tuh! Lumayan cari isu tentang May Day yang baru, gak melulu di Jakarta.” Lokasi yang dimaksud Ageung adalah Monumen di Bojongkokosan, sebuah desa di Kecamatan Parungkuda, Kabupaten Sukabumi. Di taman tersebut, kalau saya tidak salah ingat, terdapat dua monumen. Monumen pertama adalah 5 patung pejuang yang disebut Monumen Palagan. Pada sebuah artikel di blog bernama pecintawisata, dijelaskan tentang monumen tersebut: “Di Monumen Palagan, terdapat 5 patung pejuang. Tepat di tengah-tengah, patung pejuang yang dengan bangganya memegang sang saka merah putih. Di sebelah kiri, patung pejuang yang menyerbu dengan menggunakan …

Dulu, ada kesurupan juga…

Seminggu yang lalu, Ageung menceritakan lanjutan gosip tentang kesurupan massal yang terjadi di PT Nina. Katanya, belakangan gosip tentang kesurupan massal itu mulai mendramatisasi ke sebuah kisah yang terjadi di masa lampau. Saya menyambut cerita ini dengan semangat. Sebab, seperti yang saya tulis di “Dari Parungkuda; Kesurupan Massal”, kisah tentang kesurupan massal akan terasa lengkap jika dibumbui oleh kisah-kisah misteri yang ‘katanya’ pernah terjadi di lokasi yang bersangkutan. Perusahaan wig milik orang Korea tempat Ageung bekerja itu terdiri dari tiga cabang perusahaan di Parungkuda: PT Nina 1, 2, dan 3. PT Nina 1 terletak di sebuah daerah yang oleh masyarakat Parungkuda disebut Angkrong. Kalau saya tidak salah ingat, PT Nina 2 terletak di daerah yang lebih dekat dengan Bojongkokosan, sedangkan PT Nina 3 di daerah Cibadak.[1] Menurut cerita Ageung, PT Nina 2 itu dulunya adalah PT Nina 1. Katanya, dulu di PT Nina tersebut juga pernah terjadi peristiwa kesurupan meskipun bukan kesurupan massal. Korban kesurupan waktu itu adalah seorang buruh perempuan. Si buruh perempuan mengalami kesurupan selama berhari-hari. Karena tidak sembuh-sembuh, keluarga si korban memutuskan …