Zakat Fitrah di Masjid Ar-Rahim

“Dari mana?” seorang bapak berkemeja hijau bertanya kepada bapak yang mengenakan baju muslim berwarna oranye, seraya menunjuk saya, yang duduk di sebelahnya. Si bapak berbaju muslim, saya memanggilnya Pak Edy, melirik saya, kemudian menggeleng seakan mengisyaratkan kepada temannya itu bahwa saya bukanlah hal penting.

Masjid Ar-Rahim.
Masjid Ar-Rahim.

Saat itu, saya sedang duduk di antara bapak-bapak pengurus Masjid Ar-Rahim di RW 03, Kelurahan Jadirejo, Kecamatan Sukajadi, Pekanbaru, Riau. Pada malam terakhir Bulan Ramadhan 1434 H itu, tanggal 6 Agustus 2013, setelah sholat tarawih, di masjid tersebut sedang ada kegiatan pembagian zakat fitrah kepada warga RW 03.

Sebelumnya, Pak Edy menyuruh saya menunggu barang sebentar, menjelang dia selesai mengurus proses pemberian zakat fitrah dan menghitung uang sisa yang belum tersalurkan. Saya menduga-duga tebakannya tentang saya: mungkin mahasiswa, mungkin juga wartawan. Yang jelas, saya telah menerangkan padanya bahwa saya akan menulis cerita tentang kegiatan pemberian zakat fitrah di Masjid Ar-Rahim, dan akan memuatnya di sebuah media online.

IMG_1156

Saya memilih masjid itu karena kemudahan akses yang saya dapat dibandingkan dengan masjid-masjid lain di Kelurahan Jadirejo. Kedekatan saya dengan Masjid Ar-Rahim sudah terbangun sejak kecil. Ada banyak ritual keagamaan dan kegiatan sosial masyarakat setempat yang saya alami di masjid itu, mulai dari peringatan hari besar keagamaan, kerja bakti, pembangunan madrasah, hingga acara-acara perayaan, seperti khatam Al-Quran. Ketika saya duduk di bangku Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA) Ar-Rahim, setiap hari saya memasuki masjid, dan menyimak setiap perkembangan yang terjadi. Dulu, saya kenal dengan penjaga masjid. Pak Masrul, namanya, yang juga merupakan salah seorang guru di MDA Ar-Rahim. Penjaga masjid berganti beberapa kali, bahkan sekarang saya sudah tak kenal siapa penjaga masjidnya, apalagi sejak merantau ke Jakarta. Namun, penjaga masjid yang sekarang usianya tak jauh berbeda dengan saya, dan lebihnyambung diajak ngobrol. Imam masjid juga begitu, berganti-ganti. Kata ibu, ketika masih hidup, kakek saya adalah salah seorang imam Masjid Ar-Rahim terpandang, disegani, dan sering terlibat dalam kegiatan sosial-keagamaan yang diadakan oleh panitia masjid. Salah satunya, sebagai ketua panitia zakat fitrah di Bulan Ramadhan. Selain itu, ayah saya juga pernah menjabat bendahara RW 03, dan ketika masih aktif sebagai pemuda masjid, ayah pernah pula mengurus keuangan masjid selama Ramadhan.

Para jamaah masjid Ar-Rahim sedang bersiap-siap mendengar ceramah sholat tarawih.
Para jamaah masjid Ar-Rahim sedang bersiap-siap mendengar ceramah sholat tarawih.
Seorang ustadz memberikan santapan rohani kepada jamaah.
Seorang ustadz memberikan santapan rohani kepada jamaah.

Bibi saya mengatakan bahwa dulu, ketika ia masih remaja, pemberian zakat fitrah Masjid Ar-Rahim diadakan pada malam takbir. Tak ada yang tahu pasti di keluarga saya mengapa belakangan pemberian zakat fitrah berubah menjadi malam terakhir Bulan Ramadhan. Alasan yang paling logis datang dari sepupu saya, Sabil, “Mungkin, supaya yang menerima zakat fitrah juga punya waktu untuk belanja keperluan lebaran,” katanya berpendapat.

Sementara ayah saya, yang punya pengalaman menjadi pengurus RW dan masjid, mengatakan bahwa sistem kepanitiaan sudah banyak yang berubah, malah semakin berantakan, sejak para tokoh masyarakat yang dipercaya, salah satunya nenek saya yang dikenal sebagai Ibu Kepala MDA Ar-Rahim, tak terlibat lagi dalam banyak kegiatan, biasanya karena sudah terlalu tua atau meninggal. Kepengurusan yang sekarang dilakukan salamak paruikpanitia (seenak perut panitia), kalau istilah ayah saya, yang maksudnya adalah ‘sesuka hati para panitia’ tanpa mempertimbangkan dan mengutamakan kemaslahatan umat.

Tentu saja itu adalah pendapat subyektif ayah, dan belum tentu benar. Oleh sebab itu, gosip-gosip mengenai kebobrokan moral para pengurus masjid atau orang-orang yang terlibat dalam kegiatan pengurusan masjid, ingin saya buktikan sendiri. Zakat fitrah di bulan puasa, saya rasa cukup pas untuk meninjau hal ini.

Sesi pengumpulan infak dan sadakah setelah ceramah sholat tarawih.
Sesi pengumpulan infak dan sadakah setelah ceramah sholat tarawih.
Panitia masjid mengumpulkan infak dari jamaah.
Panitia masjid mengumpulkan infak dari jamaah.
Sholat tarawih.
Sholat tarawih.

Saya tertawa kecil di dalam hati waktu melihat kekikukan para panitia masjid malam itu. Saya mengerti bahwa ada kekhawatiran yang muncul di wajah mereka ketika menyadari kamera di tangan saya. Saya mulai jepret sana jepret sini ketika ceramah sebelum sholat tarawih dimulai. Dan itu terus berlanjut hingga sesi pemberian zakat fitrah. Tanpa ragu, saya mengambil gambar aktivitas penghitungan uang infak, sadakah, dan uang zakat fitrah. Orang-orang yang menghitungnya pun saya abadikan. Maka maklum, ketika saya bertanya tentang sistem dan proses pembagian zakat fitrah itu, dengan tegas dan sikap membatasi diri, Pak Edy berkata, “Ini semua untuk warga yang membutuhkan. Kami tidak ada sedikit pun mengambil jatah, tidak ada hak. Jadi, kami tidak mengambil bagian, karena itu berdosa!”

“Iya, Pak!” kata saya. “Saya cuma pengen tahu, ada berapa kepala keluarga yang menerima zakat fitrah di RW kita?”

“Hitungannya per jiwa, bukan KK,” kata Pak Edy. Dia pun menunjukkan dokumen yang berisikan daftar para penerima zakat fitrah kepada saya. “Di RW 03 ini ada enam RT, 48 KK yang masuk kategori, ada 196 jiwa.”

Melalui pengumuman panitia, saya mengetahui bahwa dalam satu kepala keluarga yang berhak menerima zakat fitrah, hanya dianggap ada lima jiwa, dengan total uang zakat fitrah adalah Rp 480.000,- per kepala keluarganya.

“Jadi, kalau ada yang enam jiwa dalam satu KK, hanya mendapat delapan puluh ribu saja,” terang Pak Edy melalui pengeras suara.

Keramaian di pos penerimaan zakat.
Keramaian di pos penerimaan zakat.
Pak Edy (baju oranye), salah seorang panitia zakat, sedang memberikan santunan anak yatim dari hamba Allah.
Pak Edy (baju oranye), salah seorang panitia zakat, sedang memberikan santunan anak yatim dari hamba Allah.
Panitia sedang menghitung keuangan masjid.
Panitia sedang menghitung keuangan masjid.
IMG_1205

Sebelumnya, saya tak pernah melihat proses pemberian zakat fitrah. Dalam bayangan saya, para panitia akan berdiri di pintu masjid sementara di dekat mereka ada banyak sembako, lalu warga fakir dan miskin berbaris antri untuk menerima sekantong atau dua kantong sembako. Jujur saja, bayangan itu dipengaruhi oleh opera-opera sabun bernuansa islami di TV, yang biasanya menjamur di bulan puasa. Atau bayangan lainnya, pemberian zakat fitrah yang berujung ricuh karena warga berebutan. Hal itu seringkali menjadi pemberitaan di TV-TV, biasanya sehari atau dua hari setelah bulan puasa berakhir.

Panitia amil zakat memberikan zakat fitrah kepda warga yan berhak.
Panitia amil zakat memberikan zakat fitrah kepda warga yan berhak.
Warga sedang menunggu giliran menerima zakat fitrah.
Warga sedang menunggu giliran menerima zakat fitrah.
Warga sedang menunggu giliran menerima zakat fitrah.
Warga sedang menunggu giliran menerima zakat fitrah.

Di Masjid Ar-Rahim, warga fakir dan miskin—sejauh amatan saya, mayoritas yang mengambil hak zakat fitrah adalah perempuan—duduk dengan sabar di dalam masjid, sedangkan jamaah masjid yang bukan masuk dalam golongan penerima zakat sudah pulang ke rumah masing-masing. Panitia duduk di dekat mimbar, dan sambil menghitung uang dan mencatat data-data para penerima, mereka memanggil satu per satu nama jiwa yang berhak. Satu per satu para penerima maju ke depan, dan menerima amplop berisi uang. Peristiwa itu persis seperti pengumuman absen kehadiran siswa MDA ketika menerima rapor kenaikan kelas waktu saya masih sekolah mengaji dulu.

Salah seorang warga RW 03 sedang membayar zakat fitrah.
Salah seorang warga RW 03 sedang membayar zakat fitrah.
IMG_1184

Selama proses pemberian zakat itu, pos pembayaran zakat fitrah juga masih dibuka di depan pintu masuk masjid. Hingga malam itu, saya masih melihat ada banyak orang membayar zakat, ada yang dengan uang, ada juga yang langsung memberikan beras.

Yang saya pelajari sewaktu masih duduk di bangku MDA, dan juga melalui diskusi dengan ibu, zakat fitrah memiliki ketentuan, yakni pengeluaran wajib bagi umat muslim berupa sebagian harta berbentuk makanan pokok, tergantung dari makanan pokok apa yang dikonsumsi di wilayah lokal tertentu. Misalnya, di Indonesia yang umumnya mengkonsumsi makanan pokok berupa beras, orang-orang membayar zakat fitrah dengan beras atau uang sesuai bobot harga beras yang dikonsumsi. Bobot pengeluaran zakat fitrah adalah satu sha’ makanan pokok. Pada beberapa artikel di internet yang saya telusuri, mayoritas ulama di Indonesia menyepakati bahwa satu sha’beras untuk konteks Indonesia setara dengan 2,5 kilogram beras.

Formulir keterangan membayar zakat fitrah Masjid Ar-Rahim.
Formulir keterangan membayar zakat fitrah Masjid Ar-Rahim.

Pada kertas formulir keterangan pembayaran zakat fitrah Masjid Ar-Rahim, saya melihat ada tiga jenis beras yang umumnya dikonsumsi masyarakat. Beras pertama adalah beras ramos (IR 64), sering juga disebut Setra Ramos. Sebuah artikel di http://jagoanberas.blogspot.com/ menerangkan bahwa beras ini paling banyak ditemui di pasaran karena harganya yang terjangkau. Beras ini memiliki ciri lonjong (tidak bulat). Pada formulir itu, harga per kilogram beras ramos adalah Rp 11.000,- dan dengan kata lain, harga zakat fitrah yang harus dibayar adalah Rp 27.500,-.

Beras jenis kedua adalah beras pandan wangi yang dijual seharga Rp 10.000,- per kilogram. Artikel di website Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Jawa Barat, http://diperta.jabarprov.go.id, menyebutkan bahwa beras ini merupakan varietas padi lokal khas Cianjur, di daerah Kecamatan Cibeber (Desa Cisalak/Mayak), dan mulai popular di Jakarta sekitaran tahun 1980. Bentuk gabah beras ini bulat dengan tekstur nasi yang pulen. Sesuai perhitungan sha’, zakat fitrah bagi pengkonsumsi beras ini adalah Rp 25.000,-. Ibu mengatakan bahwa keluarga kami mengkonsumsi beras jenis ini.

Beras jenis ketiga adalah beras belida. Saya tak menemukan artikel yang menerangkan jenis beras ini. Katanya, beras ini berasal dari Palembang. Kalau menurut keterangan dari bibi, orang-orang menyebutnya beras belida karena pada bungkus beras dari pabriknya terdapat tulisan “Belida” dan ada gambar ikan belida. Pada formulir zakat fitrah, tertera harga per kilogram beras belida adalah Rp 9.600,- dan harga zakat fitrahnya menjadi Rp 24.000,-.

Panitia memberikan zakat fitrah kepada warga yang berhak. Terlihat dalam foto, Pak Edy sedang memandu proses pembagian zakat.
Panitia memberikan zakat fitrah kepada warga yang berhak. Terlihat dalam foto, Pak Edy sedang memandu proses pembagian zakat.

“Lalu, bagaimana cara menentukan orang-orang yang berhak menerima zakat fitrah, Pak?” Tanya saya lagi.

“Itu berdasarkan seleksi RT masing-masing,” jawab Pak Edy.

“Bukan, maksud saya, kategori untuk menentukan bahwa keluarga A masuk kategori penerima zakat, itu bagaimana cara menentukannya?”

“Ya, kalau di ajaran kita, kan ada delapan golongan yang berhak menerima zakat,” begitulah kira-kira penjelasan Pak Edy. “Tapi sebaiknya yang didahulukan adalah golongan fakir dan miskin. Kalau fakir itu, kan ndak punya penghasilan, ndak ada kerja. Kalau orang miskin itu, kadang ada, kadang ndakNdak tetap penghasilannya.”

Dalam ajaran Islam, delapan golongan yang dimaksud oleh Pak Edy itu disebut Mustahiq. Berdasarkan artikel di website Lembaga Amil Zakathttp://zakat.or.id/, delapan golongan itu adalah Fakir (orang yang tidak memiliki harta), Miskin (orang yang penghasilannya tidak mencukupi), Riqab (hamba sahaya atau budak), Gharim (orang yang memiliki banyak hutang),Mualaf (orang yang baru masuk Islam), Fisabilillah (pejuang di jalan Allah), Ibnu Sabil (musyafir dan para pelajar perantauan) dan Amil zakat (panitia penerima dan pengelola dana zakat).

“Tapi, Pak, bagaimana mengetahuinya, yang fakir dan miskin itu?”

“Ya, kalau awak kok kan alah samo-samo tahu. Jadi, berdasarkan pertimbangan, sia nan ka dapek atau indak, awak tantuan basamo-samo. Awak lah tau baa urangnyo, apo karajonyo, hiduiknyo…” (Ya, kalau kita sudah sama-sama tahu. Jadi, berdasarkan pertimbangan, siapa yang berhak mendapat atau tidak, kita tentukan bersama-sama. Kita sudah tahu bagaimana orangnya, pekerjaannya, hidupnya…)

Jawaban dari Pak Edy ini tidak memuaskan saya mengenai gambaran tentang tolak ukur siapa yang berhak. Penentuannya hanya berdasarkan pertimbangan sejauh mana mengenal dan memahami si warga. Pak Edy menjelaskan bahwa yang menjadi anggota panitia zakat fitrah haruslah orang yang memang benar-benar mengerti keadaan warga di lingkungan RW 03 tersebut. Akan tetapi, ketika saya konfirmasi ke ayah dan ibu, ternyata masing-masing RT melakukan seleksi berdasarkan catatan kependudukan setiap kepala keluarga.

“Di dalam catatan itu, terdapat keterangan mengenai seberapa besar penghasilan, apa jenis pekerjaan, berapa banyak tanggungan jiwa, dan semua hal terkait keadaan ekonomi KK yang bersangkutan,” terang ibu beberapa hari setelah saya mewawancarai Pak Edy.

Panitia amil zakat sedang menghitung uang zakat yang tersisa.
Panitia amil zakat sedang menghitung uang zakat yang tersisa.

“Semuanya kita kasih kepada yang berhak,” sekali lagi Pak Edy mengatakan, tepat di waktu ketika ia memberi sebuah amplop kepada seorang bapak yang saya lihat ikut menghitung uang selama proses pemberian zakat fitrah tersebut. “Tapi, sepuluh persen juga diberikan kepada para panitia, amil zakat, termasuk para RT juga kita kasih.”

“Para RT?”

“Iya, uang lelah, karena mereka ikut mendata dan menyeleksi warga yang berhak menerima. Selain itu juga, RT mendatangi rumah-rumah warga untuk meminta bayaran uang zakat fitrah.”

“Oh, jadi panitia gak cuma menunggu di masjid, Pak?”

“Iya, supaya terdata semua, panitia juga mendatangi rumah-rumah warga untuk mengingatkan sekaligus menerima pembayaran zakat fitrah. Jadi, warga tidak perlu bersusah payah mendatangi pos pembayaran zakat.”

Ketika berbincang dengan Pak Edy, saya melihat beberapa pengurus masjid mulai beranjak pulang setelah menerima hak mereka sebagai amil zakat. Warga yang berhak menerima zakat juga sudah pulang semua. Di dalam masjid, hanya tinggal saya, Pak Edy, dan dua orang temannya. Saya mencatat semua keterangan Pak Edy sementara dia melanjutkan menghitung uang-uang yang masih ada di hadapan mereka.

Pak Edy sedang memeriksa daftar nama warga yang berhak menerima zakat fitrah.
Pak Edy sedang memeriksa daftar nama warga yang berhak menerima zakat fitrah.

“Semuanya sudah menerima, Pak?” tanya saya kemudian.

“Ada satu yang tidak datang mengambil, berhalangan, katanya,” jawab Pak Edy.

“Itu bagaimana nasibnya, Pak?”

“Ya, nanti kita antarkan ke rumahnya.”

“Nah, kalau yang uang zakat baru masuk malam ini, Pak, disalurkan kemana?”

“Pos zakat masih buka hingga besok, sampai sebelum sholat ied. Nanti, zakat yang masuk belakangan kita salurkan langsung ke tempat-tempat orang yang berhak, ke warga-warga sekitar yang terlihat. Biasanya, pagi-pagi ada banyak yang datang ke masjid, di luar daftar kita.”

“Kalau yang dalam bentuk beras itu, Pak?” kata saya seraya menunjuk tumpukan beras di dekat pintu.

“Ya, sama. Nanti akan kita salurkan juga.”

Pak Edy dan dua temannya masih terlihat sangat sibuk. Meskipun sudah sepi, dan uang sudah disimpan ke dalam amplop, mereka masih mencatat beberapa nama yang, menurut dugaan saya, masih perlu didata untuk menerima zakat fitrah.

Pak Edy sedang mencatat beberapa nama warga yang, saya duga, masih berhak menerima zakat.
Pak Edy sedang mencatat beberapa nama warga yang, saya duga, masih berhak menerima zakat.

Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, saya bertanya-tanya mengapa beberapa panitia (artinya; tidak semua) terlihat takut-takut menjawab pertanyaan saya, seolah tidak mau disalahkan bahwa mereka ‘memakan’ uang. Toh sesungguhnya mereka memang tidak akan disalahkan jika mengambil bagian, karena mereka termasuk golongan yang juga berhak menerima (amil zakat). Kepala saya tak pernah lepas dari ingatan mengenai ekspresi Pak Edy yang terlihat berusaha menampik dengan menekankan bahwa dia tidak ‘memakan’ uang.

Hal ini kemudian saya ceritakan kepada ayah, ibu, dan bibi. Khususnya ayah, yang tahu banyak hal krisis moral di lingkungan masjid, menjelaskan bahwa hal itu wajar-wajar saja terjadi. Sebab, kepercayaan dan optimisme masyarakat terhadap kejujuran para pengurus masjid sudah mulai berkurang. Ayah tak lupa pula menceritakan tentang kasus salah seorang penjaga Masjid Ar-Rahim yang dulu pernah melarikan uang infak dan sedekah. Ada juga cerita tentang keributan di antara para imam masjid yang sekarang ini. Mereka berpacu ingin menjadi imam Masjid Ar-Rahim karena ada janji honor untuk para imam yang rajin memimpin sholat. Belum lagi persoalan penghitungan uang pemasukan masjid yang tidak jelas juntrungannya digunakan untuk apa. Tidak ada laporan yang jelas dan transparan kepada warga masyarakat.

“Ada kesan kebanggaan jika mengumumkan kas masjid banyak,” kata ayah. “Padahal, seharusnya uang kas itu harus kosong, dalam artian jelas digunakan untuk apa, ya untuk kesejahteraan umat.”

Mendengar pernyataan ayah itu, saya jadi teringat artikel yang ditulis oleh Eddi Santosa di http://ramadan.detik.com, mengutip pernyataan Richo Wibowo, seorang mahasiswa program doktor ilmu hukum  di Utrecht, Belanda. Katanya, merujuk pada pemikiran Salim A. Fillah, “Mengumumkan kekayaan masjid sementara ada warga sekitar yang sedang membutuhkan adalah bentuk atas tragedi dalam berdakwah.”

IMG_1196

Yah, terlepas dari benar atau tidaknya cerita ayah, saya justru melihat dengan mata kepala sendiri keteraturan pengelolaan zakat di lingkungan Masjid Ar-Rahim, khususnya proses pembagian zakat fitrah di tahun ini yang berjalan dengan baik dan aman. Pendataan kelompok masyarakat yang berhak menerima zakat dilakukan melalui kerjasama para RT di lingkungan RW, tidak dibebankan kepada pengurus masjid saja. Paling tidak, pengalaman ini menunjukkan kepada saya kerjasama warga masyarakat RW 03 dalam menciptakan dan membangun kemaslahatan warga.Toh, bukankah itu esensi dari zakat fitrah itu sendiri, yakni berbagi kenikmatan bagi sesama umat sebagai bentuk syukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa.

— — —

Tulisan ini sudah dimuat di website akumassa, tertanggal 10 Agustus, 2013.

Ngobrol di Warung Teh Talua si Rozi

Artikel ini sudah terbit lebih dulu dengan judul yang sama, “Ngobrol di Warung Teh Talua si Rozi“, di jurnal akumassa pada tanggal 1 Agustus 2013.

AKU BARU MENYADARI kehadirannya beberapa detik kemudian ketika dia mulai mendekat sambil tersenyum. Aku masih ingat dan kenal betul pemuda yang lantas mengambil posisi duduk di depanku seraya menyulut rokoknya.

Kubalas senyumnya, dan sambil berusaha keras menarik sebuah nama dari ingatan yang teronggok dan tak tersentuh lebih dari tiga tahun, aku bertanya tanpa rasa canggung, “Baa kaba ang?” (Bagaimana kabarmu?).

Dia jawab pelan, “Elok-elok se…” (Baik-baik saja…).

Warung Teh Talua si Rozi.

Suaranya tak jauh berubah. Meskipun rambutnya sekarang lebih panjang, pemuda itu tetap saja Romel yang kukenal waktu masih sekolah mengaji dulu. Pagi hari, kami bersekolah di Sekolah Dasar (SD) yang berbeda, tetapi siangnya pergi mengaji ke sekolah yang sama, yakni Madrasah Diniyah Awaliah (MDA) Ar-Rahim.

Sejak tamat MDA, aku sangat jarang bertemu dengannya. Bahkan, bukan hanya dengannya. Bisa dibilang, aku memang sangat jarang berinteraksi dengan teman-teman sepermainan di sekitar rumahku di Kota Pekanbaru, Riau, yang beralamat Jalan Pepaya No. 66, Kecamatan Sukajadi. Terutama sekali sejak aku duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Waktu aku masih SD, bersama abang-abangku, anak-anak di sekitar rumah sering bermain sepakbola di lapangan upacara milik kantor yang berada tepat di depan rumah kami—dulu, kantor itu bernama Kantor Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi, lalu berganti fungsi menjadi Kantor Poltabes Pekanbaru, berganti lagi menjadi Kantor Palang Merah Indonesia Riau, dan sekarang menjadi Kantor Badan Narkotika Nasional Provinsi Riau. Kegiatan ekstrakurikuler yang padat menyebabkan aku lebih banyak menghabiskan waktu di SMA Negeri 8—beralamat di Jalan Abdul Muis No. 14, Kecamatan Sail—hingga sore hari. Bermain bola ala kadar, tanpa alas kaki, di lantai batu, dengan batas gawang menggunakan sandal jepit, dan pembagian tim-nya berdasarkan hompimpah, berganti pola menjadi pertandingan sepakbola antar kelas atau antar sekolah, menggunakan seragam lengkap, di lapangan bola bergawang besi milik sekolah, dan ditambah kehadiran teman-teman perempuan sekelas yang berteriak-teriak menjadi supporter dadakan.

Kantor BNN Riau yang berada di depan rumahku.

Intinya, intensitas bercengkrama antara aku dan Romel, dan juga dengan pemuda-pemuda sepantaran di dekat rumah, memang terbilang rendah. Namun, bukan berarti kami tak saling kenal. Sering kami bertemu di jalan dan bertegur sapa sambil berseru, “Hoi! Nio kama ang?” (Hei! Mau kemana kau?), atau sekedar menaikkan alis mata, tanda bahwa satu sama lain masih saling kenal. Aku tahu dia warga asli di sekitar rumah—aku warga RW 3 sementara dia warga RW 1 (sekarang konon berubah jadi RW 4)—begitu pun dia mengenalku. Dan memang, setahuku, begitulah cara interaksi warga di lingkungan tetangga tempatku tinggal itu terbangun: keakraban yang wajar dan tak dilebih-lebihkan, saling tahu satu sama lain sebagai sesama warga; tak bertemu dalam waktu yang lama, tak serta merta sebabkan sikap kikuk atau pangling.

Romel. Di belakangnya, para pemuda Gang Tanjung sedang duduk-duduk menikmati teh talua.

“Waktu itu, terakhir kali bertemu, dia seperti tak kenal…pangling!” kata Romel, menjawab pertanyaanku mengenai kabar beberapa teman yang juga merantau ke Jakarta, sama sepertiku. Orang yang disebutnya pangling itu bernama Riyan, temanku di MDA Ar-rahim juga, anak pemilik jasa percetakan yang sempat jadi langgananku di jaman-jaman aku sibuk membeli perlengkapan sekolah. UD Citra Karya, nama tokonya.

“Oh, ya!?” seruku tak percaya. Sebab, keterangan itu bertentangan dengan keakraban wajar yang selama ini aku pahami sebagai karakter penduduk di sekitar rumah. “Kok bisa sampai gak kenal?” tanyaku dalam hati.

Berangkat dari keganjilan itulah aku dan Romel mulai bercakap-cakap lebih jauh mengenai apa-apa saja yang berubah dan tak berubah dari pola gaya hidup teman-teman sepermainan yang, secara umur, kini telah sah menjadi pemuda lokal, usia produktif, di kawasan Jalan Pepaya, Kelurahan Jadirejo.

***

SUDAH LAMA AKU ingin menulis cerita tentang sebuah warung tenda di pinggir Jalan Pepaya, tempat di mana aku berbincang-bincang dengan Romel pada malam ke-25 Bulan Ramadhan 1434 H/2013 M itu. Ketika liburan semester Bulan Januari lalu, aku tak sempat menulisnya. Liburan semester kali ini, tentu aku tak ingin mengabaikan narasi-narasi kecil yang menumpuk di meja-meja warung itu. Satu hal yang menarik perhatianku adalah tampang orang-orang yang kukenal sebagai pemuda Gang Tanjung, sebuah gang kecil tempat MDA dan Masjid Ar-rahim berada, terlihat duduk-duduk di sana hingga larut malam bermain domino. Dan menurutku, keadaan itu contoh dari sesuatu yang telah berubah: pemuda Gang Tanjung yang dulunya nongkrong di sekitaran masjid, sekarang beralih nongkrong di warung tenda itu.

Maka, berkebetulan dengan jadwal mati listrik di rumah sehingga aku terpaksa menghentikan aktivitas ngenet, aku melangkah ke luar rumah, menuju warung tenda itu untuk memesan segelas teh talua (teh telor)—minuman khas orang Minang, berupa seduhan teh manis panas pekat dicampur dengan dua butir kuning telur ayam kampung yang dikocok sampai putih berbusa, dan rasanya seperti capucino panas. Teh talua sering diminum untuk menguatkan stamina tubuh. Bagi para pemuda setempat yang kebagian tugas ronda, teh talua jadi menu favorit.

Ketika pesanan teh talua-ku jadi, aku bertanya kepada Romel mengenai tongkrongan pemuda Gang Tanjung itu.

“Baru-baru ko, ko, pado nongkrong siko,” ujar Romel. “Biasonyo kan dakek masajik, tuh nyo! Dek bahutang…namonyo juo wak bedagang, kan?” (Baru belakangan ini nongkrong di sini. Biasanya di dekat mesjid. Karena hutang…namanya juga berdagang, kan?)

Sebagai mahasiswa yang juga hobi ngutang, aku mengerti sekali alasan-alasan yang menyebabkan orang-orang berpindah tongkrongan warung. Dan mendengar kata Romel itu, aku lantas tertawa.

Pak Jon sedang mengeringkan nasi yang baru dimasak agar mudah dibuat menjadi nasi goreng.

Warung tenda teh talua ini milik seseorang yang oleh Ayahku sering dipanggil si Jon, tak tahu Jon apa nama lengkapnya. Yang jelas, anaknya, Rozi, yang membantunya berdagang teh talua, adalah temanku juga di waktu MDA dulu. Abangnya, si Jepri—aku biasa memanggilnya “Jepri tok“–merupakan teman sekelasku di MDA. Kami semua teman sepermainan di lingkungan sekolah mengaji di dekat rumah. Sebenarnya, warung tenda teh talua si Rozi ini sudah lama ada. Ayahku mengatakan bahwa pemuda setempat sering nongkrong di sana. Akan tetapi, pemuda yang seumuranku, atau tiga hingga lima tahun lebih tua dariku, memang baru-baru ini nongkrong di sana.

Ruko-ruko di pinggir Jalan Pepaya, di sebelah rumahku. Di bulan puasa ini, ruko-ruko ini lebih sering tutup.

Tetangga rumahku banyak yang membangun rumah toko (ruko), dan umumnya jadi usaha rumah makan atau jasa percetakan. Riyan adalah salah satu pemilik ruko percetakan di Jalan Pepaya. Dulu, Riyan memang terkenal sebagai anak berprestasi di MDA, tetapi juga orang rumahan. Aku akrab dengannya, tetapi dia tak akrab dengan anak-anak lain di Jalan Pepaya dan Gang Tanjung.

Ruko Citra Karya, toko percetakan milik ayah Riyan.

Sama sepertiku, ketika merantau ke Jakarta, Riyan juga jarang pulang ke Pekanbaru dan membaur dengan pemuda-pemuda sepantarannya. Begitulah keterangan yang diutarakan oleh Romel.

“Si Rozi saja yang sering jualan di sini yang bertemu Riyan,” kata Romel. “Aku jarang.”

Jika malam hari, ruko mereka tutup, dan di halaman parkir di depannya orang lain membuka warung tenda nasi goreng atau teh talua. Jadi, hingga lewat tengah malam pun, mudah sekali mencari makanan karena di kanan-kiri rumahku ada banyak warung tenda. Dan warung tenda teh talua si Rozi ini adalah salah satu yang jadi favorit ayahku, sejak ia dan ayahnya membuka usaha tersebut.

Bahkan, ibuku yang sangat ketat memilih-milih makanan, pernah berujar, “Kalau warung si Rozi, tuh lamak. Ndak samo jo nan di sabalahko. Itu a, tuh!? Pecin jo sado rasonyo!” (Warung si Rozi itu, enak. Tidak sama dengan yang di sebelah itu. Apa itu!?Vetsin-nya saja yang terasa!).

Suasana malam hari di ruko-ruko sebelah rumahku.
Suasana malam hari di ruko-ruko sebelah rumahku.
Salah satu warung nasi goreng yang buka pada malam hari ketika ruko-ruko di sebelah rumahku tutup.

Di tengah tawaku itu, si Rozi datang dan duduk di sebelah Romel. Dia baru saja tiba seusai mengambil dan membawa air seember dengan motor, dari tempat yang aku tak tahu di mana (mungkin saja rumahnya). Tak jauh beda dengan Romel, dia menanyakan kabarku, kabar saudara sulungku yang sudah di Korea, kabar sepupuku yang dulu juga masuk rombongan teman-teman sepermainan di MDA, kabar adikku, bagaimana aktivitas kuliahku, pekerjaanku, dan pertanyaan-pertanyaan standar lainnya yang ditanyakan seseorang jika memulai perbincangan dengan orang yang sudah lama tak dilihatnya.

Rozi tertarik dengan cerita dan pengalamanku di Jakarta. Dia bahkan bertanya dengan antusias, “Berarti lah banyak jumpo artis di situ ndak, Bang?” (Berarti kau sudah banyak bertemu artis di situ ya, Bang?).

Yo ado beberapo, ado namo tampek nongkrong artis-artis, tuh, ruangrupa namonyo kalau di Jakarta, tuh!” (Ya, ada beberapa. Ada nama tempat nongkrong artis-artis di Jakarta ruangrupa namanya!)

Aku menjelaskan kepada mereka bahwa di Jakarta, ada banyak organisasi atau komunitas-komunitas tempat berkumpul para seniman, peneliti, akademisi, sastrawan dan budayawan, serta artis-artis.

Tapi artis nan rancak yo! Kalau nan buruak macam Kangen Band, atau yang di tivi-tivi, tuh, ndak tau den do!” (Tapi artis yang bagus, ya! Kalau yang seperti Kangen Band atau yang di TV itu, aku tidak tahu!) ujarku menjelaskan.

Begitu juga dengan Romel, yang tertarik dengan obrolan perkuliahan. Dia mengatakan bahwa dia juga sedang menempuh bangku kuliah, di Muhammadiyah Pekanbaru, jurusan komunikasi, semester tiga.

“Wah, rancak, tuh ma! A peminatan ka ang nio ambiak, beko?” (Wah, bagus itu! Peminatan apa yang akan kau ambil nanti?) tanyaku.

“Jurnalistik,” jawabnya.

Aku kemudian menceritakan bahwa selain kuliah, di Jakarta aku juga bekerja sebagai penulis di sebuah jurnal online bernama akumassa. Dengan singkat padat aku jelaskan padanya hal-hal apa yang aku jadikan bahan tulisan.

“Iko warung si Rozi ko ni ka den tulis mah rencanonyo!” (Warung si Rozi ini akan kutulis, rencananya!) seruku. Disambut tawa gembira si Rozi, aku berseru lagi, “Tampek nongkrong nak-nak mudo Jalan Pepaya!” (Tempat nongkrong pemuda di Jalan Pepaya!)

Rozi, baju hitam, pemilik warung teh talua.

Aku kemudian bertanya tentang isu geng motor di Pekanbaru. Tba-tiba saja isu itu terlintas di kepalaku sebab kabar terbaru yang aku simak di media massa nasional tentang Kota Pekanbaru adalah fenomena geng motor yang mulai marak di Kota Bertuah ini.

“Di siko sarang alternatifnyo mah!” (Di sini, kan jalur alternatifnya!) kata Rozi.

Makasuiknyo?” (Maksudnya?) tanyaku dengan kening berkerut.

“Kalau bacakak, dikaja polisi, larinyo lewat jalan ko, ka balakang pasa, taruih ka Panam!” (Kalau berkelahi, dikejar polisi, larinya lewat jalan ini, ke belakang pasar, terus ke Panam!) jelas si Rozi.

Panam adalah sebutan untuk sebuah kawasan di Pekanbaru, tepatnya kawasan Jalan Hr. Subrantas, Kecamatan Tampan. Berdasarkan laporan dari Riau Pos, Mei 2013, peta mayoritas geng motor di Pekanbaru terbagi menjadi dua kubu yang selalu bersiteru. Geng motor kubu Panam adalah wilayah kekuasaan si Klewang, residivis yang memang terkenal karena track record tindak kriminalnya. Klewang membawahi banyak geng motor, antara lain XTC, Laser, Sinchan, Keparat, BMR (Benteng Merah), B2R (Black Baron) dan Atit Abang.

Sedangkan kubu Kota, terdiri dari kelompok geng motor bernama Ghost Night, L2N (Lajang-Lajang Nekat), Astec, dan Opsi. Rozi dan Romel menjelaskan kepadaku bahwa penguasa di kubu Kota bernama Wen (atau begitulah orang-orang memanggilnya). Geng motor Ghost Night dan Astec adalah yang terkuat di Kota, sedangkan geng motor terkuat di Panam adalah XTC (milik Klewang). Tertangkapnya Klewang pada Bulan Mei 2013 lalu, ternyata tidak mengurangi tingkat keberadaan dan keonaran geng motor. Penjelasan dari Rozi dan Romel—aku percaya mereka sangat mengerti hal-hal begitu karena pergaulan mereka cukup luas sebagai akamsi (anak kampung sini) di dekat rumahku—menyebutkan bahwa anggota-anggota geng motor yang belum tertangkap masih sering buat onar.

“Panglima-panglima geng si Klewang masih ado tuh yang ndak tatangkok…” (Panglima-panglima geng si Klewang masih ada, tuh yang belum tertangkap…) kata mereka. Pemimpin geng motor di bawah Klewang terkenal dengan sebutan Panglima.

Pak Jon sedang melayani pelanggan yang sedang membayar.

Rozi kemudian melanjutkan, “Kalo lah malam hari, tuh, ijan lei, Bang! Banyak kejadian, trutamo dakek SMA 8, tuh ha! Kan banyak anak-anak nongkrong depan sekolah, tuh, kan? Abis sadonyo kanai bantai geng-geng motor tuh.” (Kalau sudah malam, jangan deh, Bang! Banyak kejadian, terutama dekat SMA 8 itu! Banyak anak-anak nongkrong di depan sekolah itu, kan? Semuanya habis dihajar geng-geng motor itu).

“Samo tu nyoh!” (Sama juga!) Romel menimpali cerita Rozi. “Kalau di kampus tuh, di kelas jo dosen, caliak jam, lah jam sambilan malam, ‘Yuk, kita pulang, yuk!’ kecek dosennyo!” (Kalau di kampus, di kelas dosen melihat jam, pas jam sembilan malam, ‘Yuk, kita pulang, yuk!’ kata dosennya!)

Menurut mereka berdua, ketika heboh-hebohnya, geng motor di Pekanbaru memang benar-benar memengaruhi kenyamanan warga. Kerusuhan yang ditimbulkan oleh geng-geng motor itu tidak tanggung-tanggung, mulai dari merampok warnet (warung internet) hingga memperkosa dan pesta sex. Cerita mereka itu sama dengan berita-berita yang kubaca pada artikel-artikel di internet.

Rozi dan Romel juga menceritakan perkembangan aktivitas para pemuda setempat bahwa perkelahian antar daerah pun, seperti anak-anak Gang Tanjung tawuran dengan anak-anak Jalan Panger, sudah jarang terjadi. Dulu, biasanya bulan puasa adalah ajang tawuran di subuh hari. Seusai sholat subuh, pemuda-pemuda setempat di dekat rumahku berjalan-jalan subuh dari Jalan Pepaya, menuju Jalan Sudirman, kemudian berkelahi dengan rombongan pemuda yang datang dari Jalan Panger.

Aku bertanya, “Apa karena geng motor?”

Romel menjelaskan bahwa geng motor itu sebenarnya sudah ada sejak lama, dan tidak berpengaruh banyak ke aktivitas pemuda setempat.

“Pemuda di sini yang bergabung juga ada, bahkan ada juga yang tertangkap!” kata Romel. “Tapi yang mengurangi tawuran itu justru karena warnet, game online.”

“Kalau geng motor, tuh, kini labiah banyak balap, urang, Bang!” (Kalau geng motor itu, sekarang lebih banyak balap motor) si Rozi menimpali.

“Apo lai pas marak karajo jadi operator, tuh kan? Musim bana tuh warnet-warnet, pado nongkrong mahabiahan waktu di situ anak-anak siko.” (Apalagi waktu marak pekerjaan jadi operator itu. Musim warnet, pada nongkrong menghabiskan waktu di sana, anak-anak sekitar sini).

“Dari dulu pai kini, bantuak-bantuak iko se nyo, Zik… ndak ado nan barubah labiah elok do… Nongkrong, main domino, judi, ndak banyak berubah pemudanyo doh…” (Dari dulu hingga sekarang, begini-begini saja, Zik. Tidak ada yang berubah lebih baik. Nongkrong, main domino, judi, tidak banyak yang berubah pemudanya). Romel mengatakannya kepadaku dengan nada sedikit sedih dan terkesan sedang menyayangkan situasi yang terjadi di lingkungan tempat tinggal kami.

Obrolan dengan Romel dan Rozi menyadarkanku betapa posisi kaum pemuda sungguh rentan. Hingga saat ini, aku sendiri mengakui bahwa daerah tempat tinggalku di Pekanbaru ini tidak mengalami kemajuan yang berarti, selain pembangunan ruko-ruko yang semakin banyak. Para pemudanya umumnya tak punya pekerjaan yang jelas. Kalau pun punya pekerjaan tetap, bukan pekerjaan dalam artian dapat meningkatkan kualitas hidup. Kalau tidak dengan perkelahian, pemudanya menghabiskan waktu dengan bermalas-malasan, nongkrong di warnet, atau main judi. Hanya terbilang sedikit pemuda yang seperti Romel, yang mau kuliah untuk menambah wawasannya, atau seperti Rozi yang dengan kemampuan seadanya memperbaiki perekonomian keluarga dengan berdagang teh talua dan setiap hari bersabar menghadapi hutang-hutang para pelanggan.

Perbincangan kami kemudian mengarah ke aktivitas-aktivitas yang seharusnya bisa dilakukan anak muda, seperti musik (Romel sangat antusias ketika aku bercerita tentang perkembangan wacana musik di kampusku, Universitas Indonesia), kegiatan-kegiatan mahasiswa di kampus-kampus, lalu pekerjaan-pekerjaan sosial-masyarakat seperti yang dilakukan oleh akumassa. Romel berbagi cerita tentang bagaimana orang-orang di daerah, teman-temannya yang juga pelaku seni, sulit mendapat dukungan dari pemerintah daerah. Dia berpikir bahwa tentu di Ibukota peluang itu lebih tinggi karena akses untuk mendapatkannya lebih banyak.

Hal itu kemudian mendorongku untuk menjelaskan padanya lebih jauh mengenai Forum Lenteng, salah satu organisasi nirlaba di bidang sosial-kebudayaan di Jakarta, tempatku belajar dan bekerja sebagai penulis. Mengulangi penjelasanku mengenai ruangrupa Jakarta tadi,aku menjelaskan padanya tentang bagaimana Forum Lenteng, yang didirikan oleh periset, mahasiswa, dan seniman, membangun jaringannya melalui kerja kolaborasi, produksi karya, mendokumentasi, untuk memperkuat posisi tawar sehingga mampu menarik perhatian pemerintah setempat, bahkan mampu mempengaruhi kebijakan.

“Di Jakarta, Jogja dan Bandung, ada banyak komunitas dan organisasi seperti itu,” kataku. “Tempat berkumpul para seniman, budayawan, akademisi, dan lainnya, dan biasanya mahasiswa-mahasiswa yang tidak aktif di kampus juga turut berkumpul di sana. Belajar, dan kadang juga kerja sambilan. Kami menulis, mengkaji film, belajar bersama, mengadakan festival dan pameran, memperluas jaringan kerja dengan komunitas-komunitas di daerah lain, saling berbagi pengalaman dan pengetahuan.”

Romel sedang membuka website http://www.akumassa.org melalui ponselnya.

Aku lantas menunjukkan padanya alamat website www.akumassa.org, dan Romel membaca beberapa tulisan yang dimuat di dalamnya.

Obrolanku dengan Rozi dan Romel pun berakhir ketika kumandang sahur dari masjid berbunyi. Sekitar pukul setengah empat, aku memutuskan pulang dan sahur di rumah, begitu juga dengan Romel. Sedangkan Rozi, masih harus menjaga tokonya hingga azan subuh nanti.

“Seandainya akses bagi setiap pemuda sama rata, obrolanku malam ini dengan mereka pasti akan jauh berbeda,” kataku dalam hati seraya berjalan menuju rumah. *