Tentang Jaringan Blogger

Tidak lebih dari seminggu yang lalu, saya berbincang dengan Izul, rekan kerja saya, yang juga seorang blogger—situs blog yang ia kelola bernama Sharelist. Saat itu, kami membayangkan bagaimana rasanya membangun suatu jaringan pertemanan para penulis blog, yang di dalam jaringan itu, para blogger bisa saling dukung satu sama lain. Saya lantas menemukan hal menarik di website Maria Frani Ayu ketika, pada malam harinya—karena sudah tak ada pekerjaan lain yang perlu saya selesaikan—saya meninjau satu per satu akun blogger yang terpampang di daftar halaman Reader-nya WordPress. Blogwalking—aksi yang sudah lama tak saya lakukan (padahal 11 tahun lalu aksi ini adalah kegemaran saya)—malam itu membuat saya menyadari suatu pola: beberapa orang sudah saling kenal, terlihat dari bagaimana mereka berinteraksi melalui kolom komentar ataupun dari intensitas mereka memberi apresiasi berupa “Like” pada sejumlah terbitan para blogger yang saya ikuti. Saya pun jadi tahu, karenanya, bahwa ada komunitas blogger bernama Ikatan Kata.

Dengan gembira, segera saja saya mengirim alamat url blog itu via WhatsApp kepada Izul, mendorongnya untuk ikut bergabung. Namun, sepertinya, malam itu, Izul belum benar-benar tertarik dengan komunitas ini, selain juga karena—saya duga—perhatiannya sedang tersita penuh ke rencananya untuk mengadakan semacam giveaway dalam rangka merayakan 2 tahun aktifnya Sharelist. Tapi, justru karena saya tahu bahwa dia akan mengadakan giveaway itulah, saya pikir, penting baginya untuk bergabung ke Ikatan Kata. Komunitas ini berpotensi untuk membuka jaringan pertemanan bagi sesama penikmat musik.

Artikel ini sengaja saya buat dalam rangka menuntaskan tantangan bertajuk KETIK yang diberikan oleh pengurus Ikatan Kata kepada para Pengikat Kata (istilah bagi anggota komunitas tersebut). Tantangannya: membuat artikel ajakan bergabung ke komunitas ini. Nah, jadi wajarlah kemudian kalau misalnya di sini, Anda (para pembaca budiman sekalian) akan mendapati nama-nama seperti Maria (yang punya webblog juga di sini), Dhuha, Asti, Michan, Dimaz, Dini, Mika, Ade, dan Afifah, serta beberapa nama lain yang sempat saya kenal melalui WordPress: Ulan, Audhina, Ziza, Umi Sholikhah, dan Bang Ical. Semuanya sengaja saya tag dan beri hyperlink, semacam menjadi “notifikasi” untuk mereka, agar “terdampar” ke rumah Ikatan Kata dan tertarik untuk bergabung.

Saya kurang tahu juga, sebenarnya, apakah Ulan (yang lebih-kurang sebulan lalu saling merespon komentar dengan saya terkait ulasan esai yang ia tulis) dan Audhina, Ziza, Umi Sholikhah, serta Bang Ical (yang keempatnya pernah saya “colek” di artikel saya, berjudul “Enter Title Here“, gara-gara mereka me-“like” beberapa artikel di blog saya; kami pun berkomunikasi di kolom komentar) sudah bergabung di Ikatan Kata, atau belum. Saya sendiri belum melihat profil anggota komunitas ini satu per satu, jadi tidak tahu siapa-siapa saja yang sudah dan belum bergabung. Bagaimanapun situasinya, tidak ada salahnya, toh, jika saya menghubungkan mereka semua agar bisa saling berkorespondensi melalui artikel ini?

Saya pribadi penasaran, bagaimana komunitas blogger semacam Ikatan Kata ini akan berkembang dan beradaptasi di masa depan, ketika platform-platform media sosial semakin beragam dan canggih…? Di masa lalu, belum pernah kita menyaksikan frekuensi para blogger yang mendadak jadi superstar dan orang kaya baru semasif fenomena YouTuber hari ini, bukan? Ya…, memang ada yang menjadi superstar, sebutlah salah satu contohnya: si penulis Kambing Jantan itu—yang lawakannya tak lucu sama sekali di telinga saya (dan malah tidak sedikit banyolannya yang mengarah kepada perendahan kelompok tertentu)—yang sekarang juga menjadi salah satu YouTuber “papan atas” di Indonesia. Tapi, Raditya Dika hanya satu dari sedikit pegiat blog yang kala itu mendapat atensi publik luas dan berkesempatan melebarkan karirnya di industri hiburan. Dulu, kisah seperti penggagas SUCRD ini tidak banyak; kuantitasnya jauh lebih sedikit dibandingkan dengan banyaknya YouTuber terkenal di zaman menjelang akhir periode generasi langgas ini.

Di satu sisi, hari ini, peluang untuk menapak kisah seperti si pengarang Kambing Jantan itu sudah semakin terbuka lebar, tetapi kondisi ini beriringan pula dengan semakin tingginya tingkat persaingan di antara para penulis-penulis baru. Terlepas dari politik “arus utama vs alternatif” di dunia industri buku/sastra, saya sering kali merenung: bagaimana kemudian kita memikirkan dan mengupayakan wacana tekstual (di ranah webblog) yang bisa bersaing, dari segi kontennya, dengan wacana audiovisual (dari ranah platform-platform pengumpul video dan image, semacam TikTok, Instagram, dan YouTube itu)? Sebenarnya, ide seperti Sharelist yang dikerjakan Izul itu menarik, dan berpeluang besar untuk membangun ruang yang kritis. Tapi mungkin kita butuh gerakan yang bisa saling dukung. Ini semua, tentu saja, dalam upaya untuk lebih menghidupkan budaya literasi dan tulis-menulis, daripada sekadar latah menjadi orator-orator kelas karbitan yang gandrung beropini secara lisan di YouTube tapi kurang memiliki kedalaman.

Maria (istri saya) beserta teman-temannya (Asti, Dini, Mika, Ade, dan Afifah), sudah pasti, belum bergabung ke komunitas blogger Ikatan Kata. Saya tahu itu. Mereka semua seniman, kecuali Ade dan Afifah, yang bekerja sebagai petani (tapi pernah juga mengerjakan sebuah proyek yang terkait dengan seni berbasis masyarakat). Mereka ini orang-orang yang produktif dan juga mengerti wacana-wacana budaya tulisan, tapi kurang punya intensitas yang tinggi untuk mengurus website mereka (mungkin karena kesibukan mereka—dan saya paham betul kesibukannya). Dimaz dan Michan lebih rajin menerbitkan post baru karena, memang, isi dari website mereka berkaitan erat dengan profesi mereka sekarang ini. Saya kira, jika mereka semua bersedia bergabung dengan Ikatan Kata, maka pertemanan di antara pegiat blog ini akan menjadi lebih menarik. Saya yakin itu.

Alasan lain yang “mengganggu” kepala saya adalah, ketakjuban saya secara personal kepada seorang seniman, Gretchen Andrew. Ia dikenal sebagai “search engine artist”, yang dengan sadar menjadikan strategi SEO sebagai medium artistiknya. Menurut saya, si seniman ini berhasil menunjukkan bagaimana seni bisa selalu relevan: dia mengelabui teknologi (mengelabui Google, dalam hal ini) tanpa “meninggalkan” dunia literasi kata dan kepiawaian tekstual, dan mampu mendemonstrasikan kemungkinan-kemungkinan lain dari dunia per-media-sosial-an hari ini. Bukankah proyek-proyeknya terasa begitu inspiratif? Kau bisa melihat salah satu proyeknya yang berjudul Frieze Los Angeles itu, kalau tidak percaya!

Saya rasa, Ikatan Kata—dan komunitas blogger lainnya yang sudah lebih dulu aktif—dan korespondensi semacam ini, bisa menjadi salah satu peluang untuk melangkah lebih dekat ke cita-cita tersebut. Mungkin, ini bisa menjadi jawaban untuk rasa penasaran Izul tentang “jaringan para blogger” yang kami obrolkan beberapa hari lalu.

Ya, salam kenal, teman-teman semua yang sudah saya tag di artikel ini! Hahaha!

Si Piano Kecil Biru

Tulisan ini adalah teks yang saya buat dalam rangka kegiatan kelas “Roman Picisan” tanggal 26 Maret 2019. Kelas “Roman Picisan” adalah kegiatan reguler di Forum Lenteng, yang difasilitasi oleh Otty Widasari.

Si Piano Kecil Biru datang kesekian kalinya ke rumah Saidi untuk menyapa memori Sang Penari. Ia sebenarnya sudah berpindah tangan dari Sang Burung Kecil—begitulah aku sering mendengar Bodas memangil ibunya—ke tangan Si Bibi Kecil, bibi dari seorang bocah yang dipuja oleh Sang Penari sebagai burung kecil pula, Bohdana. Tapi itu hanyalah perpindahan tangan yang sementara saja. Dan di masa perpindahannya itulah, Si Piano Kecil Biru lebih sering menggoda Sang Penari, membisikkan rayuan kepada perempuan yang pernah memiliki piano kecil merah—dulu. Sebab, si burung kecil Bohdana, konon, tak begitu peka akan kehadirannya.

“Bawalah aku, hei, Sang Penari, ke rumahmu!” seru Si Piano Kecil Biru itu. “Nanti akan kubawa kau ke masa kecilmu!”

Tampaknya, Sang Penari lumayan tergoda. Barangkali ia diam-diam telah mengumpulkan niat untuk membangun istana piano-piano, seperti The Small Instruments, istana milik seorang penenun bunyi yang aku kenal di Polandia.

Sementara itu, seminggu terakhir ini, aku tengah terbius bunyi-bunyi dari Pemenang, dan tadi pagi kudengar Si Piano Kecil Biru itu mendendangkannya pula. Aku pun tergoda. Aku rasa aku harus bergerak cepat agar Si Piano Kecil Biru lebih memilihku daripasa Sang Penari. Aku membutuhkannya. Sebab, aku juga ingin bisa terbang ke alam memori, seperti ke dunia Sang Burung Kecil, alamnya puisi-puisi.