Jadi Ahli Kartografi Itu Gampang!

Tulisan ini sudah lebih dulu terbit di jurnal Akumassa dengan judul yang sama pada tanggal 12 Juni 2012.

English | Indonesia

Dari kiri ke kanan, Mahardika Yudha, Bagasworo Aryaningtyas, Ricky Janitra dan Prilla Tania.

SAYA MEMANG KAGET, meskipun kekagetan ini seharusnya bukan satu hal yang baru, ketika menyadari bahwa apa yang selama ini kami kerjakan di akumassa itu bukan semata-mata kerja wartawan biasa alias mencari berita. Singkatnya, akumassa bersama sebelas komunitas dampingan di sepuluh kota serta warga-warga asli setempat yang berkontribusi dalam kegiatan ini seolah sedang menjadi salah satu Titan yang terkenal dalam mitologi Yunani, yakni Atlas.

Ya, mungkin itu sedikit hiperbolis. Intinya, pekerjaan yang dilakukan dalam program akumassa itu adalah bagaimana warga dapat ‘memindahkan kota’ ke dalam dokumen-dokumen yang dapat dibaca oleh masyarakat luas: akumassa sedang berusaha membuat peta. “Kalau bisa, kita harus lebih canggih dari google map!” ujar Otty, Koordinator Program akumassa, suatu hari saat memberikan workshop akumassa di Kota Serang.

Kekagetan sekaligus ketakjuban itu datang ketika saya memasuki ruang galeri sederhana di Tebet Timur, Jakarta Selatan. Malam hari, tanggal 7 Juni 2012, saya menyempatkan diri menghadiri acara pembukaan DRIFT: Pameran Seni Multimedia, yang digagas oleh ruangrupa Jakarta. Bagaimana tidak takjub? Hal sederhana berupa narasi kecil dapat dikemas menjadi sebuah wacana yang sangat luar biasa.

Lihat saja contohnya pada sebuah video berjudul Jejak Harian Keluarga Ina (2012) karya Prilla Tania! Pada video itu, kita akan melihat beberapa tangan sedang membuat serangkaian titik dan garis yang membentuk pola tertentu, dan di sudut kiri kita akan melihat kalimat-kalimat yang menegaskan bahwa titik dan garis itu adalah sebuah jejak dari individu-individu dalam anggota keluarga Ina, seperti ayah berangkat kerja, Ina berangkat sekolah, ibu pergi ke pasar, dan sebagainya. “Jejak-jejak interaksi anggota keluarga dengan ruang kota dalam sehari itu dinarasikan oleh Prilla Tania dalam pemetaan jalur-jalur yang memiliki legenda, dalam warna dan garis.” Demikian kutipan keterangan dalam katalog pameran DRIFT.

Tampilan instalasi dari karya Prilla Tania.

Saya teringat dengan kegiatan yang selalu ada dalam rangkaian workshop akumassa di setiap kota yang pernah disinggahi akumassa. Kegiatan yang mengasyikkan dan melibatkan tangan-tangan kreatif dari seluruh peserta workshop itu adalah menggambar peta. Dimulai dari satu titik, yang biasanya adalah lokasi markas komunitas dampingan yang mengikuti workshop, pensil atau pulpen kemudian ditarik untuk menghasilkan garis-garis jalan atau simbol-simbol bangunan yang sedikit demi sedikit memperlihatkan bentuk tata kota tempat berlangsungnya workshop. Jalan raya atau jalan setapak, jalur kereta api, alun-alun kota, sungai, atau bangunan-bangunan seperti warung kaki lima, supermarket, warung makan, dan sebagainya. Semua itu dipindahkan ke dalam kertas berukuran A3 yang disambung-sambung menjadi lembaran berukuran sedemikian luas untuk menampung ingatan-ingatan massa yang tersimpan dalam benak masing-masing peserta workshop.

Mereka sedang merekam dan menuliskan cerita massa yang mereka miliki sendiri sebagai warga asli setempat. Hasilnya, google map versi manual ala warga yang tak kalah menarik dengan tampilan di layar komputer yang tersambung dengan kecanggihan teknologi internet. Bahkan mungkin, peta hasil kerjasama peserta di waktu senggang itu memiliki informasi yang lebih lengkap dan lebih detail. Ketika si google hanya mampu memberikan data tentang tempat-tempat yang terkenal, seperti Museum ini dan Gedung itu, atau Kantor ini dan Perpustakaan itu, peta versi warga ini memiliki informasi tentang warung Mbak ini dan Sate Pak De itu, atau Bengkel Tambal Ban si anu dan tempat nongkrong Geng itu, dan sebagainya. Bukan hanya jalan raya dan tempat-tempat elit, peta manual itu juga memuat jalan tikus dan tempat-tempat unik yang tidak tertangkap dan mampu diterjemahkan oleh satelit.

Lagi-lagi, saya tidak bisa menafikan bahwa pemeran DRIFT memiliki wacana yang sama dengan apa yang sedang diperjuangkan oleh akumassa tentang kota (atau desa atau kampung) besertaan dengan individu-individu yang mencair dalam massa sebagai anggota masyarakat di dalamnya. Karya interaktif dari Prilla Tania—sebuah karya yang mengundang pengunjung pameran untuk menggambarkan peta versi mereka masing-masing di sebuah dinding, dengan patokan titik lampu merah yang dianggap sebagai pusat Jakarta, yaitu Monumen Nasional (Monas)—sejatinya memiliki attitude yang sama dengan aksi menggambar peta dalam workshop akumassa.

Pengunjung membuat peta dalam karya Prilla Tania.

Sedikit berbeda dengan Prilla Tania, Bagasworo Aryaningtyas memiliki cara sendiri untuk ‘memindahkan kota’ ke dalam sajian karya seni multimedia-nya. Seniman ini mengemas sebuah karya seni yang memiliki ide tentang pemetaan jalan-jalan tikus atau jalur-jalur alternatif yang dilaluinya sehari-hari ketika mengendarai motor RX King miliknya. Melalui pemanfaatan medium video yang disinkronkan dengan tampilan layar berupa representasi kartografis daerah Jakarta dan sekitarnya, menurut saya, Chomenk (begitu sapaan akrab dari Bagasworo Aryaningtyas) dengan karyanya yang bernama Skala (2012) sedang mencoba menghadirkan tandingan atas google map yang mungkin lupa untuk menganggap bahwa jalan tikus itu penting untuk konteks-konteks tertentu, terutama bagi kebutuhan warga. Sebagaimana akumassa, karya itu sedang melawan kehebatan wacana mainstream yang selama ini dimanfaatkan oleh para pengguna social media atau fasilitas internet lainnya.

Karya Bagasworo Aryaningtyas.

Nah, dari ketiga seniman yang terlibat dalam pameran yang dikuratori oleh Mahardika Yudha itu, karya Ricky Janitra sedikit membuat saya ‘menjungkirbalikkan’ kepala karena bingung. Karya bernama Anti Difraksi (2012) yang dihadirkan Ricky itu, menurut keterangan di katalog pameran, mencoba menghadirkan pemetaan kota melalui bunyi. Berikut kutipan dari keterangan tentang karya itu:

…bunyi, terutama di Jakarta, memiliki karakteristik tersendiri yang mampu menjadi penanda identik yang khas dan memiliki kecenderungan mengintervensi ruang dan publik secara diam-diam. Dalam proyek seni ini, Ricky Janitra memetakan jejak-jejak intervensi bunyi di jalanan…Karya ini bermain pada benturan-benturan kode gambar dan bunyi yang seringkali terjadi di Jakarta yang dikembangkan dari karakteristik itu sendiri.

“Keren juga, ya!” kata saya dalam hati. “Menggambar peta pun ternyata bisa seaneh ini…?!”

Karya Ricky Janitra.

Karena saya sendiri masih gagap dengan teknologi yang berkaitan dengan kode-kode komputer dan sejenisnya, saya tidak bisa membayangkan teknologi seperti apa yang bisa menerjemahkan bunyi menjadi sebuah peta. Bagaimana pun, menurut pameran DRIFT yang dilangsungkan dari tanggal 8 hingga 16 Juni 2012, hal itu sudah hadir dalam karya Ricky meskipun saya tidak bisa melihat secara jelas tampilan visual dari gambar petanya selain video tutorial untuk pengunjung pameran tentang bagaimana ‘menggambar peta’—atau lebih tepatnya, bagaimana cara untuk berinteraksi dengan karya tersebut. Video tutorial itu dipajang di dekat karya instalasinya.

Salah seorang pengunjung berinteraksi dengan karya milik Ricky Janitra.

Mungkin saya tidak bisa berbicara banyak tentang karya Ricky tersebut. Akan tetapi, sebagai salah satu partisipan akumassa yang sudah mempelajari tentang pentingnya hal-hal yang berkaitan dengan ruang (kota) dan aspek-aspek yang dekat pada warga dan massa, saya menyadari bahwa gagasan Ricky tentang bunyi itu juga keren. Sumber-sumber audio dan visual yang tersebar begitu banyak di lingkungan sekitar kita itu merupakan unsur-unsur penting untuk menggambarkan masyarakat: bagaimanakah ruang tempat kita tinggal sebenarnya, dan bagaimanakah interaksi-interaksi manusia yang ada di dalamnya terbentuk.

Pada jaman yang demikian canggih ini, tentu saja kegiatan membuat peta tidak lagi menggunakan cara-cara konvensional yang rumit sebagaimana seorang ahli kartografi jaman dulu membuat peta. Teknologi menjadi kunci utama. Akan tetapi, bukan berarti kita, masyarakat awam, tidak bisa membuat peta, toh?! Hal itu diutarakan Mahardika Yudha dalam tulisan Pengantar Kuratorial DRIFT:

Pemahaman atas peta ini tidak berhenti pada representasi geografis di sebuah gambar yang menunjukkan letak tanah, laut, sungai, gunung dan bentuk fisik lainnya; atau pun representasi suatu daerah yang menyatakan batas atau sifat permukaan daerah tersebut, tetapi juga pemahaman seseorang dalam memetakan karakteristik kota tempatnya tinggal dari berbagai sudut pandang…

Mahardika Yudha sebagai Kurator Pameran Drift.

Saya menangkap bahwa, dengan kata lain, setiap manusia itu pasti membuat peta mereka masing-masing tentang ruang dan gerak aktivitas mereka sehari-hari. Paling tidak, hal itu dilakukan melalui ingatan terhadap tanda-tanda yang mereka lihat dan dengar. Lebih jauh, Mahardika dalam tulisannya itu berkata, “…selain dengan cara terjun langsung di lapangan, masyarakat kini semakin dipermudah dengan kehadiran Internet yang mampu menciptakan ruang simulasi maya untuk melakukan pemetaan…”. Nah, dengan begitu, peta tidak lagi menjadi domain para pakar yang mengerti geografi atau kartografi, tetapi peta menjadi sesuatu yang lebih fungsional karena dia hadir sebagai hal yang dapat dimanfaatkan masyarakat sesuai kebutuhannya.

Untuk memperjelas hal itu, saya sedikit berbelok ke sebuah cerita yang lain. Saya ingat beberapa hari yang lalu, pada pagi hari ketika saya membuka situs jejaring sosial twitter, seorang teman saya menulis twit “Jalan Juanda macet para breh!!!!!!!” lengkap dengan informasi lokasi tempat dia nge-twit yang disediakan oleh situs jejaring sosial tersebut. Kemudian twit itu ditanggapi oleh teman yang lain, “Ciyaaan,, haha.. di sini asik ngadem sambil makan mi rebus. Ujan euy… RT Jalan Juanda macet para breh!!!!!!!” Teman saya yang satu lagi itu tinggal di Kota Bogor.

Dari ilustrasi itu, saya dapat mengatakan bahwa sebenarnya teman-teman saya itu sedang ‘membuat peta’, dan saya yang membaca twit-nya adalah orang yang sedang ‘membaca peta’. Hal itu menjadi lebih efektif ketimbang membuka lembaran peta kota yang menginformasikan tentang arus sirkulasi kendaraan umum di Depok atau info cuaca di Bogor. Aksi membuat peta yang seperti itu, sebagaimana kata Mahardika, “…tak selalu untuk memastikan kebenaran informasi itu, termasuk posisi geografisnya, tetapi lebih pada memastikan sejauh mana kebutuhannya atas informasi bisa terpenuhi.” Mungkin, hal itu lah yang menjadi gagasan utama yang dikonsep dalam pemeran DRIFT tersebut. Sederhana, tapi menurut saya itu luar biasa.

Namun, ada sedikit yang mengganjal di kepala saya waktu itu. Dalam publikasinya, dikatakan bahwa pameran ini merupakan salah satu usaha bagaimana memperlihatkan perkembangan para seniman dalam mendayagunakan teknologi-teknologi canggih dalam mengemas karya seni multimedia, terutama keterkaitannya dengan fenomena social media. Ketika saya hadir di tengah-tengah ruang galeri itu, saya melihat bahwa ketiga seniman masih berkutat pada medium audio-visual saja, dan kurang mengeksplorasi lebih jauh tentang pemanfaatan social media itu sendiri. Menurut saya, social media itu sifatnya bukan audio-visual yang representatif semata, tetapi lebih luas pada persoalan tentang keterhubungan individu yang satu dengan individu yang lain dalam rentang jarak tertentu, dan dapat dikatakan hampir secara langsung terhubung. Mungkin hal itu dapat terwakili oleh karya Chomenk, dengan kehadiran simulasi petanya, tetapi apa yang sebenarnya saya harapkan adalah presentasi yang lebih konkret tentang pemanfaat social media semacam facebook atau twitter sebagai karya seni yang menciptakan peta tentang kota dan masyarakatnya.

Yah, mungkin itu saja dulu sedikit pengalaman saya bertemu dengan wacana peta-pemetaan. Kesimpulannya, semua suara atau bunyi, gambar, tulisan, dan segala macam yang ada pada warga masyarakat adalah elemen-elemen penting untuk membuat peta. Dan peta itu sendiri sudah tersimpan di dalam kepala. Tinggal bagaimana kita mentransformasikannya ke dalam sebuah karya yang dapat menjadi narasi untuk dibaca oleh orang lain. Kira-kira, tulisan saya ini bisa disebut ‘peta’ juga gak, ya? *

The Loss of The Real

Artikel ini sudah pernah terbit lebih dulu di situs web akumassa dengan judul yang sama pada tanggal 21 Juli 2010.

Ketika baru tiba kembali di Jakarta sepulang dari Bandung, saya langsung membuka komputer dan mengakses situs jejaring sosial facebook untuk melihat apakah ada notification baru.

Pembukaan pameran seni The Loss of The Real.

Ketergantungan saya dengan dunia maya sudah berada dalam tahap akut. Selain itu, hari-hari saya akan terasa kurang apabila telepon genggam tidak ada di tangan saya. Karena walaupun hanya sekali sehari, berbalas pesan lewat SMS juga sudah menjadi santapan sehari-hari yang tidak bisa dihilangkan.

Begitulah, saya yang merupakan ‘aku’ bagian dari ‘massa’, terutama massa di jaman yang serba canggih ini, tidak bisa melepaskan diri dari teknologi dan dunia digital. Perkembangan teknologi tidak bisa dihambat. Perusahaan-perusahaan besar terus menghasilkan produk-produk mutakhir dengan berbagai inovasi demi memenuhi tuntutan dan kenyamanan konsumen. Segala aktivitas manusia kini terbantu dengan kehebatan teknologi-teknologi tersebut, yang kemudian menjadikan permasalahan waktu dan jarak bukan lagi sebagai suatu kendala yang perlu dikhawatirkan. Perkembangan teknologi memberikan andil yang besar dalam permasalahan komunikasi, informasi, dan interaksi. Seseorang bisa merasa dekat dengan orang yang lain meskipun mereka berada di tempat yang saling berjauhan satu sama lain, disebabkan oleh teknologi yang serba canggih saat ini.

Namun, kemajuan teknologi yang begitu pesat sepertinya membawa masalah baru. Meskipun teknologi sangat membantu komunikasi, tetapi dia memberikan kenyataan bahwa semakin berkurangnya interaksi yang terjadi antara manusia yang satu dengan manusia lain secara langsung, yang kemudian mengurangi pula proses sosialisasi di antara mereka. Teknologi mutakhir seolah-olah mengantarkan kita ke dalam dunia yang tidak nyata, atau kita sebut saja sebagai ‘kenyataan yang berbeda’. Dengan keberadaan teknologi ini, yang sebagian besar menyajikan kecanggihan akan dunia digital atau dunia cyber, realitas kehidupan yang dimiliki manusia serasa hilang dan menjadi tidak penting. Manusia menjadi terbuai dengan teknologi.

Beberapa pengunjung pameran sedang melihat karya video Forum Lenteng.

Saya rasa seperti itulah rangkuman pemikiran yang dapat saya tangkap dari pernyataan Agung Hujatnikajennong, Kurator Selasar Sunaryo Art Space, yang sempat saya temui di Bandung saat menghadiri pembukaan pameran di Selasar Sunaryo. Dan mungkin juga Pameran Seni The Loss of  The Real ini dihelatkan karena kesadaran yang dimiliki oleh Sang Kurator akan dampak dari kemajuan teknologi, yang apabila tidak kita sadari, akan memberikan masalah baru yang cukup serius dan membutuhkan perhatian dari kita semua.

Dari tulisan di website Selasar Sunaryo saya mengetahui bahwa Pameran Seni The Loss of The Real adalah salah satu rangkaian acara yang ada di Selasar Sunaryo Art Space, yang diadakan pada tanggal 19 Juli hingga 1 Agustus 2010, dan pembukaan pada hari  Minggu, 18 Juli 2010. Dalam acara pameran ini, Kurator Selasar Sunaryo Art Space, Agung Hujatnikajenong, mengetengahkan tema kuratorial The Loss of The Real yang mengangkat fenomena tentang kehilangan yang nyata akibat dari kemajuan teknologi dan perkembangan dunia digital. Lebih jauh lagi, pameran ini pada dasarnya merupakan suatu provokasi, yang mencoba menyadarkan khalayak akan permasalahan yang sedang terjadi di masyarakat.

Pameran ini mencerminkan situasi di abad informasi yang membuat dunia semakin terkoneksi namun menjadi kian transparan. Kenyataan di abad 21 telah mengalami suatu pergeseran dari kenyataan yang selama ini dikenal oleh manusia ke suatu kenyataan lingkungan yang dimediasi oleh teknologi dan media global, yaitu televisi, internet, dan budaya digital. Media menghubungkan kita sangat dekat, tetapi akhirnya memisahkan kita dari ‘yang sebenarnya’.

Pameran The Loss of The Real menampilkan karya-karya dari para seniman yang berasal dari Indonesia, Jepang, Perancis, dan Pakistan. Pameran ini bertujuan untuk membahas seni masa kini, sebagai daerah yang bebas dari linear dan progresifitas sejarah dari aspek teknologi. Pameran ini bukan berfokus pada pentingnya penggunaan suatu teknologi, melainkan menekankan perantaraan pesan, yang berhubungan dengan keindahan seni dan pendekatan sosial terhadap yang ‘nyata’ dan yang ‘khayal’.

Peserta yang berpartisipasi dalam acara ini antara lain adalah Daito Manabe (Jepang); Takao Minami (Jepang); Romain Osi (Perancis); Benjamin L. Amant (Perancis); Amar Mahboob (Pakistan); Agan Harahap (Indonesia); Forum Lenteng (akumassa dan Jurnal Footage) (Indonesia); Bandung Oral History (Indonesia); Deden Hendan Durahman (Indonesia); Dimas Arif Nugroho (Indonesia); Jompet (Indonesia); Prilla Tania (Indonesia); Venzha/House of Natural Fiber (Indonesia); dan Widianto Nugroho (Indonesia).

Saya sendiri yang ikut aktif dalam program akumassa milik Forum Lenteng, mendapatkan kesempatan untuk mengikuti kegiatan display, sehari sebelum pembukaan pameran. Yang diutus dari Forum Lenteng untuk menghadiri pembukaan adalah saya, Rio, Bagasworo Aryaningtyas, dan Tienatalia Sitorus.

Saat display di Selasar Sunaryo Art Space.

Hari itu, kami berempat bekerja penuh selama satu hari menempel berbagai sketsa dan coretan-coretan tangan para aktivis akumassa dari berbagai workshop di dinding ruangan pameran dengan lem kayu, persis seperti Antonio Ricci yang menempel poster di dinding gedung-gedung kota dalam filem The Bicycle Thief. Pada malam harinya, kami diizinkan menginap di penginapan yang telah disediakan oleh pihak Selasar Sunaryo. Keesokan harinya, pada pagi hari sebelum kembali bekerja di ruangan pameran untuk finishing terakhir, kami berempat menikmati sajian kopi hangat sambil menikmati pemandangan yang terbentang di depan penginapan. Pikiran saya pun melayang kepada kebiasaan Danny dan teman-temannya yang menikmati pagi hari sebangun dari tidur sambil menikmati anggur dalam cerita Dataran Tortilla.

Suasana bilik pameran Forum Lenteng ketika proses men-display karya.

Acara pembukaan Pameran Seni The Loss of The Real dimulai pada pukul tujuh malam. Jadwal itu adalah jadwal yang tertera di katalognya, tetapi seingat saya, acara baru dimulai kira-kira setengah jam setelah adzan Isya berkumandang. Sang Kurator, Agung Hujatnikajennong memberikan kata sambutan dalam Bahasa Inggris, di mana isinya lagi-lagi menekankan tentang pentingnya kesadaran kita akan fungsi dari teknologi dan media yang sesungguhnya sehingga kita tidak terbuai dalam kenyataan yang berbeda itu.

Beberapa saat setelah acara pembukaan, saya menyempatkan diri untuk mengobrol, yang sebenarnya lebih terkesan seperti wawancara, dengan Mas Agung (begitulah saya menyapanya) sekadar untuk mengetahui kesan dan pesannya tentang pameran yang ia kuratori. Percakapan saya dengan Mas Agung sempat saya rekam di handphone saya.

Saya : Ini kan, udah selesai pembukaan. Pertama sekali pengen tahu perasaan Mas Agung setelah acara pembukaan ini?

Agung : Ya, seneng aja, ya, udah dibuka. Tujuannya kan emang supaya bisa dilihat banyak orang, jadi ngelihat antusias semua orang yang ke pameran ini, jumlah orang kayaknya lebih dari dua ratus, ya, itu saya pikir udah tanda bagus lah untuk pameran ini. Mungkin untuk hari-hari selanjutnya akan tambah banyak lagi.

Saya : Mengenai The Loss of The Real sendiri, itu konsepnya bisa Mas Agung jabarkan, nggak?

Agung : Ya konsepnya sebenarnya, judulnya sendiri itu kayak provokasi gitu, ya. Provokasi bahwa, ng… apa yang selama ini kita sebut sebagai kenyataan itu sudah hilang, gitu lho! Sudah hilang karena, ng… mungkin udah sepuluh dua puluh tahun belakangan, kan, kehidupan masyarakat, gitu, terutama, sudah tidak bisa terpisahkan lagi dengan media, gitu, dan media… yang sangat dominan sekarang ini adalah digital media, gitu kan? Digital media itu, ya, memang dulu dia diciptakan untuk, ng… membuat komunikasi menjadi lancar, tapi di sisi lain juga dia memisahkan interaksi langsung, ng… fisikal, misalnya orang sekarang lebih pengen ngomong lewat handphone atau lewat internet, gitu, daripada ketemu langsung. Jadi, yang dulu kita sebut nyata, misalnya saya ketemu kamu sekarang, itu sekarang udah tergantikan lah oleh kebudayaan baru. Jadi itu, ng… latar belakangnya kenapa judul itu, gitu. Nah, pameran itu sendiri justru pengen menawarkan sesuatu yang, ng… apa namanya, melawan provokasi itu sendiri, gitu. Jadi, makanya karya-karya yang ditampilkan justru tidak semuanya digital, gitu, dan tidak semuanya, ng… juga, berbicara soal… cuma berbicara soal teknologi, gitu, teknologi media, tapi ada pendekatan sosial, seperti Forum Lenteng, kemudian ada yang sangat analog, karya-karya yang kinetik, analog, gitu, juga karya-karya yang menggunakan programming yang sangat advanced, gitu lho! Itu saya campur aja, dulu kan ada pembagian antara ‘media lama’ dan ‘media baru’, nah, sekarang itu saya pikir, juga untuk melawan provokasi yang tadi itu, ya. Saya pikir, sebenarnya kenyataannya nggak gitu juga, bahwa sebenarnya yang analog, yang kinetik dan tradisional gitu, ya, juga sebenarnya masih bisa berbicara sebagai medium artistik.

Saya : Ya, dari pengutaraan Mas Agung tadi, berkaitan dengan tulisan yang Mas bikin di sana itu, ya, yang katanya digital itu bukan segalanya, bahwa sesungguhnya interaksi di masyarakat itu masih bisa ada. Nah, sekarang yang pengen saya pribadi, pengen tahu, pendapat Mas gimana, karena perkembangan teknologi jaman sekarang nggak bisa dihambat. Itu bagaimana? Interaksi semakin berkurang, teknologi semakin maju…?

Agung : Makanya sebenarnya dengan beragam media ini, dengan memasukan lagi media-media analog, ya, sebenarnya ya media digital memang akan semakin dominan, gitu ya, dalam kehidupan masyarakat, tapi yang penting adalah bagaimana refleksi kita terhadap media itu sendiri, bahwa dia itu cuman sebagai… apa ya, sebagai, ng… perangkat lah, bukan sesuatu yang… seharusnya… merubah kebudayaan kita, gitu lho! Justru yang, ng… apa namanya… diharapkan melalui pameran ini, tuh, kita punya sikap-sikap reflektif, gitu ya, reflektif terhadap media, punya jaraklah, gitu. Punya jarak kritis juga, tidak semerta-merta hanya menjadi user yang… yang pasif, gitu ya, tapi punya… sadar media, gitu! Punya jaraklah, sikap reflektif itu, saya pikir penting, itu.

Saya : Terus mengenai konsep pamerannya sendiri, ini kan mengenai digital, terus kenapa Mas Agung menyajikannya dengan, kalau Mas Agung kemarin istilahkan, ‘ribut’ gitu. Kenapa harus disajikan dengan art yang seperti itu?

Agung :  Karena sebenarnya seni media sendiri kan sebuah disiplin yang lahir dari teknologi media itu, dan, ng… apa namanya… saya pikir perkembangan artistik, ya, pokoknya perkembangan seni media ini sebenarnya merefleksikan apa yang terjadi, gitu. Yang terjadi itu sebetulnya, ya, yang… yang digital itu bukan yang paling semuanya lah, bukan yang segalanya itu, yang saya bilang. Justru dengan menghadirkan karya-karya yang analog, yang mungkin yang ‘ribut’ tadi, ada yang pake chemical, ada yang pake… yang kaya Forum Lenteng persentasinya lebih kepada metode, bagaimana Forum Lenteng membuat proyek-proyeknya, gitu ya, itu kan sisi-sisi yang menunjukkan bahwa seniman-seniman itu justru punya jarak kritis terhadap media, jadi media cuman sekadar perangkat aja, gitu. Yang lebih penting adalah mungkin pesan sosialnya yang bisa memancing refleksi itu.

Saya : Pendapat pribadi Mas Agung sendiri terhadap akumassa milik Forum Lenteng, bagaimana?

Agung : Saya suka banget, ya. Sama proyek-proyeknya saya suka banget. Ng… dan itu saya pikir bentuk proyek, ya, bentuk inisiatif Forum Lenteng, akumassa itu bentuk inisiatif yang cocok di negara-negara dunia ketiga, saya pikir. Jadi justru media itu harus diberdayakan, bukan jadi sebagai alat panutan, gitu.

Saya : Terus, terakhir, harapan Mas Agung kedepannya terhadap pameran ini gimana?

Agung : Ya pameran itu, kan, pada dasarnya harus ada… kalau dibilang hasil mungkin… paling tidak itu, ng… ada kesadaran lah yang timbul, gitu, di penonton pameran, gitu ya. Ng… ya untuk bisa lebih, lebih punya jarak aja pada media.

Demikianlah percakapan singkat saya dengan Sang Kurator Selasar Sunaryo Art Space selepas acara pembukaan Pameran Seni The Loss of The Real. Pesan yang paling penting adalah bagaimana kita bisa menimbulkan kesadaran kita terhadap media, bahwa teknologi bukan segalanya, dan bahwa sesungguhnya media bisa menjadi alat yang memiliki fungsi luar biasa apabila kita bisa memanfaatkannya dengan tepat. Hal itu juga selalu ditekankan oleh para fasilitator kepada saya sewaktu mengikuti workshop akumassa di Forum Lenteng.

Pengalaman mengikuti pameran seni di Bandung itu banyak memberikan bahan pembelajaran kepada saya. Pengalaman itu tidak akan terlupakan, apalagi cuaca dingin yang selama satu hari membuat badan saya menggigil, terutama pada saat malam pembukaan pameran. ***