batu permata ke batu kecapi

Tahu tidak?! Tadi malam, Ageung bercerita lagi kepada saya bahwa ada gosip baru yang berhubungan dengan surup-kesurupan… #asyek Hahaha! Saya cukup antusias mendengarnya meskipun sedikit kecewa karena bukan soal buruh laki-laki yang mati keselek cireng. Cerita kesurupan dari Parungkuda ini mulai beranjak ke persoalan mitos dan kisah misteri yang hidup di masyarakat Parungkuda melalui mulut ke mulut. Sebuh narasi kecil yang (bisa dibilang) tidak pernah diangkat oleh media arus utama.

Jadi, katanya, buruh perempuan di PT. Nina 1 yang lama, yang mati karena kesurupan setan pangeran dari kerajaan antah berantah itu, mirip dengan Teh Puput, teman Ageung sesama buruh di PT. Nina 1 yang sekarang. Kemiripan mereka berdua juga di-iya-kan oleh teman sesama buruh yang lain, yakni Munir, Teh Yulis dan Mak Een. Munir mengatakan bahwa si buruh perempuan itu menjadi wadal manusia (atau tumbal, lebih tepatnya). Sementara itu, Mak Een mengatakan bahwa si buruh perempuan tersebut mati kesurupan karena dikerjai atau diguna-guna oleh mantan kekasihnya.

Menurut cerita Ageung, yang ia dengar dari para buruh, dahulu di lokasi PT. Nina 1 yang lama (sekarang menjadi PT. Nina 2) ada sebuah pohon besar tempat bersarangnya para setan. Sekarang, pohon itu sudah tidak ada. “Udah ditebas, katanya,” jelas Ageung.[1]

Menurut saya, tentunya cerita ini sudah terdramatisasi sedemikian rupa karena selalu dibumbui dengan segala tambahan peristiwa khayal ketika diceritakan secara terus-menerus dari mulut ke mulut. Sangat mungkin bahwa si buruh perempuan yang mati kesurupan itu, sebenarnya, mengalami kematian yang wajar-wajar saja. Pengalaman-pengalaman tentang kesurupan itu membuat persepsi orang-orang di sekitarnya mencoba mengait-ngaitkan penyebab kematian dengan hal-hal gaib.

“Tapi, kalau menurut Munir, sih, perempuan itu matinya gak wajar,” kata Ageung. “Sebelum mati, kelihatan tanda-tanda serangan si setan, seperti air liur yang selalu menetes seperti anak kecil, dan sebelah matanya juling. Tapi itu katanya, ya…! Hahaha!”

Masih ada yang percaya bahwa para setan di PT. Nina 2 sekarang ini belum pergi dari pabrik itu. Ada kemungkinan akan terjadi peristiwa kesurupan lanjutan, bisa nanti, besok, minggu depan, bulan depan, atau kapan pun… kita tidak tahu.

“Kok bisa begitu?” tanya saya.

“Soalnya, kata Munir masih ada satu benda yang belum ditemukan,” jawab Ageung.

“Satu benda? Maksudnya?”

“Iya, satu benda misteri, semacam permata, yang jadi sarang si setan.”

“Oh, gitu…”

Mendengar cerita itu, saya jadi teringat novel Harry Potter. Musuh besar Harry, si Lord Voldemort, membagi jiwanya menjadi tujuh dan menyimpannya di tujuh benda keramat. Untuk memusnahkan Voldemort, Harry harus menghancurkan ke tujuh benda itu, yang oleh para penyihir disebut sebagai Horcrux.

Saya jadi tertawa ketika mendengar cerita Ageung. “Wah, berarti pohon besar itu horcrux si setan pangeran, dong?”

“Iya, bisa dibilang begitu! Hahaha!” ucap Ageung tertawa juga. “Ya, kalau bahasa kitanya, pohon besar atau permata itu seperti jimat gitu, deh…”

“Nah, omong-omong soal jimat, dulu ada orang di dekat rumah yang sering kesurupan juga,” lanjut Ageung. “Kira-kira waktu aku masih SMP, deh…”

“Gimana kesurupannya?” saya bertanya penasaran. (Dan saya masih berharap-harap cemas kalau jawabannya adalah kesurupan karena mati keselek cireng. Ini soal prinsip: cerita misteri tentang buruh laki-laki yang mati keselek cireng itu lebih menarik ketimbang acara reality show “dunia lain” di TV. #asyek)

 “Jadi, orang itu sering kesurupan gara-gara dirasuki oleh siluman ular,” jawab Ageung. (“Yaaaaaaaaaah…!!!” saya berseru kecewa di dalam hati).

“Bapak orang yang kesurupan itu memiliki sebuah batu yang bentuknya seperti telur ular,” Ageung melanjutkan penjelasannya tanpa mau mengerti kekecewaan saya. #hiks

“Batu apa?”

“Batu jimat gitu, deh… bentuknya seperti telur ular,” kata Ageung. “Nah, anaknya mengalami kesurupan karena, katanya, batu jimat itu dikasih ke orang lain. Silumannya marah sehingga merasuki tubuh si anak.”

“Hmm… gitu…!” saya berujar masa bodoh. “Gak ada cerita tentang orang yang kesurupan arwah gentayangan yang mati keselek cireng, yak?”

“Gak ada!” seru Ageung sedikit kesal, kemudian dia tertawa (mungkin membayangkan tampang kecewa saya yang bodoh. Hahaha!)

“Eh, ada lagi cerita yang lain,” kata Ageung.

“Keselek cireng, gak?”

“Bukaaaan!”

“Ya udah, ya udah… gimana ceritanya?”

“Cerita ini udah lama, waktu aku masih SD. Tentang setan Batu Kecapi.”

“Batu apa?”

“Kecapi…”

“Alat musik?”

“Iya, alat musik.”

“Oh, jadi setannya keluar dari alat musik?”

“Bukan, Batu Kecapi. Itu nama lokasi, daerahnya di wilayah bagian atas.[2] Di daerah itu ada batu yang bentuknya mirip kecapi.”

“Oh, terus…?”

“Nah, dulu aku punya saudara, waktu itu dia masih remaja, sering kesurupan juga.”

“Siapa namanya?”

“Aduh, aku lupa… Sebentar, aku tanya ibu dulu, ya!” di ponsel terdengar suara langkah Ageung berlari menuruni tangga kamar tidurnya. Saya menunggu sekitar sepuluh menit. Kemudian: “Ah, ibu juga lupa ceritanya. Hahaha!”

“Yeee, gimana dah?!”

“Seinget aku aja, ya?”

“Sok, lanjut…!”

“Jadi, saudara jauhku itu sering mengalami kesurupan. Dia sering dirasuki oleh setan yang merupakan nenek buyutnya sendiri. Nenek buyutnya itu dijadikan istri oleh Jin Pangeran yang berasal dari Batu Kecapi.”[3]

“Pangeran lagi…?!”

“Iya… Katanya, setelah sadar dari kesurupan, dia mengaku merasa sedang naik kuda emas, lengkap dengan iring-iringan kerajaan. Dulu, nenek buyutnya itu hilang secara tiba-tiba ketika masih remaja. Nah, kata orang, dia itu hilang karena dipersunting oleh si Jin Pangeran.”

“Batu Kecapi itu adanya di kecamatan apa?”

“Itu udah jadi nama daerah. Masih wilayah Parungkuda, kok, kalau aku gak salah. Sama halnya kalau kamu di Jakarta, orang kenal nama Lenteng, Proposal, atau di Depok ada Kutek dan sebagainya.”

“Oh…”

Ageung juga mengatakan bahwa Batu Kecapi itu[4] sudah sering dipindah-pindahkan, tetapi tanpa diketahui bagaimana kejadiannya, batu itu selalu berada lagi di lokasi tersebut.

“Katanya, pernah ada yang membawa batu itu ke Pelabuhan Ratu, eh nongol lagi nongol lagi…!” kata Ageung. “Bagi warga di sini, cerita tentang Batu Kecapi itu udah menjadi semacam mitos atau cerita rakyat gitu, deh…!”

“Lokasi tepatnya di mana, sih?” saya semakin penasaran.

“Kamu ingat jalan yang kita lalui waktu pergi berenang bersama Randi? Nah, angkot yang kita naiki melintas di depannya.”

“Hm…” saya menanggapi dengan santai (padahal di dalam kepala saya, jiwa petualang saya mulai muncul. Saya bahkan berniat untuk datang ke sana dan ingin melihat langsung. Semoga saja Batu Kecapi-nya masih ada di sana).

Hadeuh… mulai dari cerita kesurupan di pabrik, malah melebar ke cerita rakyat di lingkungan warga Parungkuda. Hahaha!


[1] Tenang, Ageung bercerita dengan santai, kok! Tidak seperti orang yang hobi cerita serem-serem, yang menunjukkan ekspresi menegangkan demi menakut-nakuti orang yang mendengarkan cerita. Lagipula, Ageung, kan cakep! #preeet

[2] Maksudnya, daerah yang kalau kita melalui jalanan aspal, kita akan melalui jalanan yang mendaki.

[3] Okeh, ceritanya mulai aneh. Padahal, hantu keselek cireng tidak akan se-absurd ini. Saya percaya itu.

[4] Saya mulai membayangkan sebuah batu besar yang bentuknya mirip kecapi. Ceritanya jadi mirip legenda Batu Malinkundang. Hahaha! Tapi saya rada-rada lupa. Kalau tidak salah, tadi malam itu Ageung mengatakan bahwa batu-batu di sana mirip kecapi (berarti batunya banyak). Nah kalau begitu, saya membayangkan sebuah lokasi yang isinya banyak batu, dan batunya mirip kecapi. Atau… au ah! Hahaha!

akan orasi di Bojongkokosan

Siang, Hari Kamis, 25 April 2013, melalui ponsel Ageung bercerita kepada saya tentang kabar terbaru dari pabrik PT. Nina 1 di Jl. Angkrong, Parungkuda. Katanya, tanggal 1 Mei tidak masuk kerja karena para buruh akan memperingati Hari Buruh Sedunia.

“Kami akan berkumpul di Monumen,” kata Ageung. “Kamu ingat taman yang pernah kita kunjungi bersama Fajar dulu itu, kan?”

“Oh, iya… aku ingat!” jawabku. “Buruh-buruhnya akan berorasi di sana?”

“Iya, kalau kamu bisa datang ke Parungkuda, kita ke sana, yuk?! Kita bisa tulis peristiwa itu.”

“Boleh juga, tuh! Lumayan cari isu tentang May Day yang baru, gak melulu di Jakarta.”

Lokasi yang dimaksud Ageung adalah Monumen di Bojongkokosan, sebuah desa di Kecamatan Parungkuda, Kabupaten Sukabumi. Di taman tersebut, kalau saya tidak salah ingat, terdapat dua monumen. Monumen pertama adalah 5 patung pejuang yang disebut Monumen Palagan. Pada sebuah artikel di blog bernama pecintawisata, dijelaskan tentang monumen tersebut:

“Di Monumen Palagan, terdapat 5 patung pejuang. Tepat di tengah-tengah, patung pejuang yang dengan bangganya memegang sang saka merah putih. Di sebelah kiri, patung pejuang yang menyerbu dengan menggunakan senapan. Di belakangnya, pejuang yang sedang menyabetkan parang. Di sebelah kiri paling depan, pejuang dalam posisi siap melempar bom Molotov. Dan di belakangnya, patung pejuang wanita dilihat dari kotak P3 K nya merupakan anggota palang merah yang, sayang, patung tersebut patah.”[1]

Pada monumen itu, ada ukiran bertuliskan: “BAGI PEJUANG TAK ADA SUATU KEPUASAN KECUALI HASIL PERJUANGANNYA DITERUSKAN OLEH GENERASI SELANJUTNYA”. Berdasarkan foto di artikel yang saya kutip, diketahui bahwa Monumen Palagan diresmikan oleh Gubernur Jawa Barat, H.R.Moh.Yogie S.M, pada Bulan November 1992.

Sedangkan monumen yang kedua adalah sebuah tank, dan di monumen tersebut tertulis “Palagan Perjuangan, 1945, Bojong Kokosan”.[2]

Saya seringkali menoleh ke taman Monumen Bojongkokosan ini ketika bus yang saya tumpangi melintasi Jalan Raya Parungkuda. Lokasi rumah Ageung, di dekat Stasiun Parkungkuda, berjarak sekitar lima belas menit dari sana. Apalagi kalau Hari Sabtu (malam minggu), saya sering melihat banyak muda-mudi nongkrong di sana. Ada yang beramai-ramai atau berdua-duaan. Atau kalau bus yang saya tumpangi melintasinya di sore hari, saya juga sering melihat buruh-buruh pabrik (umumnya perempuan) melintas di depan taman itu. Rombongan buruh yang keluar dari pabrik itu merupakan sebuah pemandangan yang langka di tempat saya tinggal, di Depok.

Tanpa sengaja, saya menemukan sebuah sajak pada sebuah blog. Sajak tersebut, sedikit banyak, menggambarkan sifat dari lokasi itu. Berikut adalah sajak yang di-post oleh Pyan Sopyan Solehudin tertanggal Cicurug, 20 Desember 2009 tersebut:

“gadis-gadis mekar

tumpah padah

mengitari pabrik-pabrik

mengantri masa depan

bojongkokosan

saksi para pejuang

monumen diruntuhkan

dalam upacara kematian

muda-mudi bergiliran

mojok bercinta-duaan

membekas darah perjuangan”[3]

Membayangkan suasana demonstrasi atau orasi yang akan dihelatkan oleh para buruh se-PT. Nina, se-Parungkuda atau se-Kabupaten Sukabumi di sana, saya menjadi semangat. Momen itu pasti menjadi sebuah pemandangan tentang peristiwa massa yang sangat menarik. Bagi saya, mungkin, yang bukan orang Parungkuda, hal itu menjadi eksotis. Bagi orang-orang Parungkuda, seperti Ageung, atau para buruh-buruh pabrik, itu sudah menjadi kegiatan tahunan yang biasa, tetapi penting.

Kalau dipikir-pikir, sepertinya taman itu memang satu-satunya tempat yang pas untuk melakukan orasi karena di depan taman itu, seingat saya, ada sebuah tanah lapang yang cukup pas untuk menampung massa. Selain benda sejarah yang ada di taman itu juga berkaitan dengan peristiwa di masa lalu yang esensinya memiliki kesamaan, yakni perjuangan, lokasi itu juga merupakan lokasi yang akrab bagi warga yang tinggal di sekitaran Jalan Raya Parungkuda. Katanya, lokasi itu menjadi salah satu kebanggaan warga lokal di sana.

Pada tulisan ini, saya tidak memiliki dokumentasi fotonya. Semoga saja pada tanggal 1 Mei nanti, saya bisa hadir di sana dan berkesempatan mengabadikan peristiwa demonstrasi para buruh. Saya berjanji, jika kesempatan itu jadi kenyataan, saya akan memuatnya di blog ini. #asyek

Jika teman-teman ingin membaca informasi tentang lokasi tersebut, bisa disimak di blog pecintawisata, atau di sebuah artikel di akumassa yang berjudul “Kenangan Kepahlawanan dalam Seremoni 10 Nopember”.


[1] Diakses dari “Melihat Sejarah di Monumen Bojongkokosan”, http://pecintawisata.wordpress.com/2011/09/26/melihat-sejarah-di-monumen-bojongkokosan/, 25 April 2013, 03:50 PM. Ejaan disesuaikan oleh penulis.

[2] Ibid.

[3] Diakses dari “Monumen Bojongkoksan”, http://asi7.wordpress.com/2009/08/13/monumen-bojongkokosan/#comment-382, 25 April 2013, 04:02 PM.

Dulu, ada kesurupan juga…

Seminggu yang lalu, Ageung menceritakan lanjutan gosip tentang kesurupan massal yang terjadi di PT Nina. Katanya, belakangan gosip tentang kesurupan massal itu mulai mendramatisasi ke sebuah kisah yang terjadi di masa lampau. Saya menyambut cerita ini dengan semangat. Sebab, seperti yang saya tulis di “Dari Parungkuda; Kesurupan Massal”, kisah tentang kesurupan massal akan terasa lengkap jika dibumbui oleh kisah-kisah misteri yang ‘katanya’ pernah terjadi di lokasi yang bersangkutan.

Perusahaan wig milik orang Korea tempat Ageung bekerja itu terdiri dari tiga cabang perusahaan di Parungkuda: PT Nina 1, 2, dan 3. PT Nina 1 terletak di sebuah daerah yang oleh masyarakat Parungkuda disebut Angkrong. Kalau saya tidak salah ingat, PT Nina 2 terletak di daerah yang lebih dekat dengan Bojongkokosan, sedangkan PT Nina 3 di daerah Cibadak.[1]

Menurut cerita Ageung, PT Nina 2 itu dulunya adalah PT Nina 1. Katanya, dulu di PT Nina tersebut juga pernah terjadi peristiwa kesurupan meskipun bukan kesurupan massal. Korban kesurupan waktu itu adalah seorang buruh perempuan. Si buruh perempuan mengalami kesurupan selama berhari-hari. Karena tidak sembuh-sembuh, keluarga si korban memutuskan untuk membawanya berobat ke Banten. Seorang dukun di Banten yang mengobatinya mengatakan bahwa makhluk halus yang merasuki tubuh si buruh perempuan adalah seorang pangeran (tidak jelas pangeran dari kerajaan apa) yang jatuh cinta kepadanya. Kesurupan yang dialami oleh si buruh perempuan tersebut adalah bukti cinta sang pangeran. Dia menolak untuk keluar dari tubuh si perempuan. Akhirnya, kesurupan yang dialami si buruh perempuan malah menyebabkan dirinya mati. Matinya gantung diri.

Dari gosip yang beredar di kalangan buruh, peristiwa kesurupan massal yang terjadi di PT Nina 1 yang sekarang itu dikait-kaitkan dengan cerita kesurupan seorang buruh perempuan tersebut. “Dan kalau dipikir-pikir, semua buruh yang kesurupan waktu itu juga semuanya perempuan,” kata Ageung.

Cerita tentang kesurupan ini juga melompat atau dikait-kaitkan ke kisah misteri yang terjadi di perusahaan lain, yaitu PT Cosmo.[2] Salah seorang teman Ageung, yang dipanggil Teh Puput, pernah menjadi buruh di perusahaan tersebut, dan mengalami kesurupan. “Kesurupannya juga berhari-hari,” kata Ageung menjelaskan. Teh Puput juga berobat ke Banten, dan dari usaha pengobatan tersebut, diketahui bahwa ada tujuh makhluk halus yang merasuki tubuh Teh Puput. “Mendengar cerita itu, aku jadi inget film Mirrors,” kata Ageung sambil tertawa.

Film Mirrors karya Alexandre Aja (2008) yang disebut Ageung itu adalah sebuah film horor supernatural yang berkisah tentang seorang laki-laki yang berusaha menyelamatkan keluarganya dari serangan hantu-hantu yang muncul di cermin-cermin. Dalam rangkaian ceritanya, akan diketahui nanti bahwa hantu-hantu itu terkurung di dalam cermin karena, secara tidak langsung, dipaksa keluar dari tubuh seorang perempuan yang sebelumnya menjadi semacam tempat bersemayam para hantu. Awalnya, kesurupan yang dialami oleh si perempuan dianggap oleh para ahli kesehatan sebagai gangguan mental. Untuk menyembuhkannya, sebuah terapi cermin diterapkan pada si perempuan. Namun, terapi itu justru memancing para hantu untuk keluar dari tubuhnya dan terjebak di dalam cermin. Sementara itu, para dokter yang menangani kasus tersebut tidak tahu-menahu tentang keberadaan hantu yang mendiami tubuh si perempuan. Setelah lama berselang, para hantu itu menuntut untuk dipertemukan kembali dengan si perempuan. Caranya, mereka meneror orang dengan serangan-serangan yang menelan korban jiwa, dan orang yang diteror tersebut dituntun untuk mencari seorang perempuan bernama Esseker yang ternyata adalah mantan pasien rumah sakit jiwa sekaligus juga perempuan yang dulunya menjadi wadah tempat bersemayamnya para hantu. Di akhir cerita film tersebut, tokoh bernama Anna Esseker yang telah menjadi biarawati itu mengorbankan dirinya untuk dirasuki kembali oleh para hantu demi menyelamatkan keluarga Ben Carson, si tokoh laki-laki yang menjadi korban teror para hantu.

“Mirip, sih… tapi, kan kalau di Mirrors hantunya banyak banget,” saya menanggapi Ageung.

“Hahaha, ya sama aja, yang penting hantunya lebih dari satu!” ujar Ageung.

Setelah mendengar gosip dari PT Cosmo itu, saya belum mendengar lagi kabar terbaru dari Ageung tentang kesurupan di PT Nina. Mungkin isunya sudah tidak semenarik ketika perisitwa kesurupan massal itu terjadi, atau mungkin karena buruh-buruh di PT Nina 1 sedang sibuk dengan tenggat waktu ekspor perusahaan sehingga kekurangan waktu untuk bergosip.

Yang membuat saya sedih adalah hingga sekarang saya tidak mendengar ada kisah misteri tentang buruh laki-laki yang mati keselek cireng. Padahal, cerita itu pasti lebih menarik untuk dikait-kaitkan dengan peristiwa kesurupan massal. Hahaha!


[1] Saya akan mencoba memastikannya nanti kepada Ageung.

[2] Ageung tidak menyebutkan letak PT Cosmo tersebut. Akan tetapi setelah menelusurinya di google, kemungkinan PT Cosmo yang dimaksud adalah perusahaan elektrik yang terletak di daerah Cibadak, Sukabumi.

Dari Parungkuda; Kesurupan Massal

“Dari Parungkuda” adalah kategori atau rubrik baru di dalam blog ini. Dalam rangka mengalihkan kepenatan menghadapi skripsi yang gak kelar-kelar, saya mengganti tema blog ini menjadi lebih sederhana, tetapi justru dengan tampilannya yang sederhana itu saya menambahkan beberapa kategori/rubrik, salah satunya rubrik ini (sekaligus ngerayu Ageung supaya keselnya ilang… #eaaa).

Ageung

Ageung

Bagi saya sendiri, rubrik ini pastinya akan menjadi istimewa dan unik di antara rubrik yang lain karena saya akan menyajikan tulisan-tulisan khusus tentang Ageung dan cerita-ceritanya di Parungkuda, sebuah desa yang terletak di perbatasan antara Bogor dan Sukabumi. Ageung, yang sekarang bekerja sebagai buruh pabrik wig milik perusahaan Korea, belakangan ini memiliki cerita-cerita yang menarik. Saya masih menanti-nanti tulisan terbaru di blognya, dariwarga.wordpress.com, tentang “perdagangan gelap gorengan oleh buruh” yang sering ia ceritakan dengan begitu semangat. Saya juga tidak sabar menunggu foto-foto coretan dinding toilet perempuan di pabrik PT. Nina, yang kata Ageung penuh berisi percakapan para buruh tentang pasangan lesbi. Itu dua di antara sekian banyak cerita Ageung tentang Parungkuda, tentang pabrik, tentang lingkungan tetangga rumahnya, tentang hobi Si Abah yang suka mancing, tentang kebiasaan Indah (si bungsu) menghabiskan waktu berjam-jam mendengarkan lagu Pop Korea, tentang si Aa Randi yang badungnya setengah mati, atau kepiawaian ibunya dalam mebuat kue bolu berloyang-loyang, dan masih banyak lagi. Masalahnya, selain karena durasi jam kerjanya dari pukul delapan pagi hingga enam sore di pabrik sehingga menyita waktunya untuk menulis, Ageung sering kali juga malas untuk mulai menulis kalau tidak saya desak. Dia bercerita hari ini, nulisnya nanti-nati atau besok-besok, lama kelamaan dia sendiri lupa pernah bercerita apa saja (yah, begitulah Ageung… Hahaha!). Oleh sebab itu, saya berinisiatif untuk menulis sendiri cerita-cerita dari Ageung di rubrik ini. Setiap dua atau tiga minggu sekali saya datang ke Parungkuda mengunjungi Ageung, atau setiap malam saya berbincang dengannya melalui ponsel. Jadi, saya memiliki banyak cara untuk mendapatkan cerita-cerita baru. Saya yakin, ceritanya pasti menarik untuk dibaca oleh orang banyak.

Dokumen-Tooftolenk_Dian-Ageung-Komala-02

Tentunya, rubrik ini tidak akan menjadi lahan masturbasi: menjadi kategori tulisan yang berisi curhatan sampah mengenai kami berdua (#uhuk!). Sama sekali tidak! Justru, saya berpikir tulisan-tulisan yang akan saya kumpulkan ini menjadi semacam pilot project untuk memetakan Parungkuda. Jikalau dariwarga adalah blog tentang Parungkuda yang berasal dari perspektif warga lokal Parungkuda (Ageung dan orang-orang di sekitarnya), rubrik saya ini bisa dibilang menjadi wadah yang menampung catatan-catatan tambahan yang ditangkap oleh orang luar Parungkuda, yaitu saya sendiri. Semuanya murni berasal dari cerita Ageung kepada saya mengenai peristiwa-peristiwa yang ia alami, atau berasal dari amatan saya mengenai peristiwa-peristiwa yang saya alami di Parungkuda, atau cerita tentang Ageung-nya sendiri sebagai akumedium yang bersirkulasi di lokasi tersebut. Pokoknya, tulisan-tulisan ini bukan tulisan arogan yang mengobyektifikasi Parungkuda, melainkan cerita yang cair dengan peristiwa massa, massa-nya sendiri, dan lokasi tempat mereka berada.

***

Dua hari yang lalu, Ageung bercerita bahwa sekitar empat puluh orang buruh di PT. Nina sempat mengalami kesurupan. (“Kayak yang di tivi tivi, nih!” kata saya dalam hati).

“Aku gak tahu cerita awalnya, tapi katanya, sih satu persatu pada pingsan, terus jerit-jerit. Pertamanya 8 orang, nambah terus sampe yang aku denger terakhir 40 orang,” Ageung menjelaskan.

Ageung belum pernah bercerita kalau di PT. Nina ada narasi atau gosip tentang keberadaan setan. Tentunya peristiwa kesurupan itu akan cocok skenarionya jikalau memang misalnya di pabrik tersebut ada semacam legenda urban di kalangan buruh mengenai hantu atau setan penunggu gedung pabrik. Saya mulai membayangkan sebuah kisah misteri tentang seorang buruh perempuan pabrik yang mati gantung diri karena ditinggal kekasihnya (#dubrak!). Memang, sih, Ageung adalah pegawai baru di pabrik itu, dan mungkin teman-temannya belum sempat bercerita tentang misteri-misteri seputar pabrik yang angker.

Akan tetapi, ada kemungkinan lain: bisa jadi aksi kesurupan massal itu hanyalah sebuah pertunjukkan dari para buruh untuk melakukan semacam protes. Saya teirngat cerita saudara saya, Hauza, tentang aksi kesurupan massal siswa-siswi di sebuah SMA tempatnya bekerja sebagai pembimbing ekstrakurikuler Rohani Islam (Rohis). Hauza mengatakan bahwa siswa-siswi itu tidak benar-benar kesurupan. “Mereka hanya berpura-pura untuk mencari perhatian, umumnya didorong oleh latarbelakang masalah pribadi. Itu wajar di kalangan remaja, mereka masih labil dan sedang mencari jati diri,” jelas Hauza ketika menceritakan aksi bijaknya dalam menangani kasus tersebut. Nah, tidak menutup kemungkinan motif yang sama juga terjadi di kalangan buruh PT. Nina, kan?

Lebih dari satu minggu yang lalu, Ageung menulis tentang gaji buruh pabirk PT. Nina yang jumlahnya lebih kecil dibandingkan dengan UMR Jakarta. Meskipun dalam tulisan itu Ageung tidak menceritakan soal keluhan para buruh pabrik secara eksplisit, saya tetap berspekulasi bahwa persoalan gaji mungkin ada hubungannya dengan peristiwa kesurupan massal tersebut. Kesejahteraan buruh yang dipotong habis-habisan oleh para penguasa pabrik bukanlah masalah yang baru. Dengan berpura-pura kesurupan, buruh bisa mengekspresikan protes mereka kepada atasan (semacam inovasi dari mogok kerja, barangkali?! #asyek).

Ageung sendiri berpendapat bahwa aksi kesurupan yang melibatkan puluhan buruh itu dapat terjadi karena rasa empati yang ada pada masing-masing buruh satu sama lain. Ia masa bodoh dengan penyebab “kesurupannya”, dan lebih tertarik untuk menganalisa mengapa aksi itu bisa terjadi secara massal.

“Karena ada rasa empati itu, orang yang ada di dekatnya akan merasakan hal yang sama,” kata Ageung. “Kesurupan itu sendiri, kan dipicu bukan karena adanya hal yang bersifat magis. Hahaha! Sotoy, nih bahasanya!”

Hm… cukup rasional, sih…

Yah, begitulah… mudah-mudahan nanti Ageung punya kabar terbaru tentang buruh yang kesurupan (sekarang saya tertarik dengan kisah misteri seorang buruh laki-laki yang mati karena keselek cireng. #takjedes … Kita tunggu saja ceritanya!).

***

Sekian dulu cerita pertama Dari Parungkuda. Nantikan cerita-cerita menarik lainnya. #asyek

NB: Seharusnya di dalam tulisan ini saya mencantumkan foto-foto yang relevan dengan kisah kesurupan massal di pabrik. Berhubung saya tidak punya data fotonya, ya kenalan sama Ageung saja dulu… Noh, potonya udah gue pajang! Hahaha!