Delapan Jam Adalah Delapan Hari

Delapan jamlah yang ditentukan sebagai waktu
bagi kita kini untuk mendapatkan apa pun
ada banyak pertarungan
demi delapan jam
pula protes tak sudah-sudah
yang semakin suram
dengan saling sengkarut nan sekarang

Idola muda masa lalu
konon bersenandung:
“kepedulian, genggaman, dan percintaan
tak pernah cukup dalam delapan hari
dalam seminggu.”

Delapan jam untuk bersungut-sungut
dalam gerak konstan
sembari menanti gerbang pulang
terbuka dengan semilir angina sore
yang segar dalam kekeringan

Delapan hari untuk bermimpi
apa yang melampaui akal dan budi
memesan kata pada virual, kini
bersamaan pagar-pagar mini
yang tercipta serumit bahasa
dalam vortex yang menakutkan
Tapi agaknya pengandaian
masih bisa membuat senyum
tersungging, lantas malu suka

Pada mereka yang mendamba cerita berbeda
menerima apa yang didesakkan oleh iba,
bertemu marah, bahkan duka
bermula pada sedih
dapat berakhir pada kebencian

Karena cintanya tak lebih dari sungut-sungut delapan jam yang tak mampu mengimpikan lenaan delapan hari.

Nyatakah sakit itu adalah pembelajaran akan apa saja?

Manshur Zikri
Jakarta, 19 Desember 2017