Membalik Arus Balik

Guru tua itu marah-marah
ke warga yang, mungkin,
menjadi muridnya.
Dia berkeluh kesah
soal kejayaan raja-raja lampau
tentang kerajaan masa lalu
yang mengajarkan cara bertani
hingga kita tak perlu membayar upeti
tapi itu sudah lewat
semuanya
dan kisah guru tua itu pun
barangkali tak pernah terjadi
atau juga sudah berlalu
ratusan tahun lalu
sebelum arus utara merajai
masyarakat selatan

Hari ini, arus yang berbalik menjadi mitos
di tangan para pujangga, seniman, dan ilmuwan
berandai-andai jika arus berbalik lagi
ke utara

masalahnya,
corona dan perubahan gerak Merkurius
membuat semuanya hilang arah
kami pun dipaksa
menjadi manusia
absurd

Akan ke mana arus bergerak,
arus balik pun tak pernah meramalkan ini
apa perlu kubilang ke orang-orang,
“Kita harus merayakannya, mengakuinya,
bukan demi nilai-nilai, tapi agar bisa bahagia
sedikit saja!”

Amaq Dahrun di Lombok Utara
kerap menyapaku dengan ujaran ringkas:
“Jangan lupa berbahagia!” serunya
sambil tersenyum, memilin kumisnya
yang panjang itu, seriak arus
yang belum lagi pernah berbalik
ke mana pun.

Masalah manusia, rupanya,
cuma satu belaka: gagal menaklukan pola
hidup

Hingga kematian jadi menggiurkan
banyak yang bunuh diri
seakan mereka pernah melihat dunia
yang ada di sebelah sana,
mengira dunia itu jawaban

Tapi, bunuh diri dianggap
cara untuk dapat diakui
meski raga tak lagi berada
di hadapan mata-mata
sanak-keluarga yang bertanya

Namun kematian
memustahilkan
kemustahilan
kita

Mati bukan jawaban
bunuh diri hanya pelarian

Sedangkan pencarian nilai
hanyalah kematian filosofis

Kemustahilan mengandaikan
penerimaan kegagalan
perayaan kaos
penjagaan proses

Kematian adalah pengakhiran
olah raga

sedangkan hidup
hanya akan berbahagia
selama raga tetap bergerak

Gerak tubuh menentukan gerak arus
ke mana pun arahnya
entah berbalik,
entah berputar
selama arus bergejolak
kita tahu, kehidupan masih ada.

Manshur Zikri
Yogyakarta, 24 Februari 2021

Pencuri Cerita

Nol nol lebih satu menit
15 Februari 2021
aku baca di layar desktop
pada 09:38 PM
di Hari Valentine
Cik Prim nge-tweet:
ada yang mencuri banyak
kata dan cerita
milik para pengarang
ternama hari-hari ini.

Punya Dea, punya Ea;
cerita Nanda di Tempo,
Sungging Raga di Kompas;
semua dicurinya.

Sejumlah kontributor
juga me-retweet
menghujat si pencuri
cerita-cerita itu.

Pujangga yang tak suci
mengopi untuk dicaci-maki.

Manshur Zikri
Yogyakarta, 15 Februari 2021

Menodong Pujangga

Lantas, haruskah kita bimbang
mencemburui yang akan datang
sementara senandung tentang
nostalgia masa depan yang terbayang
memutuskan kakinya hengkang?

Anugrah mengungkai bakat menggonggong
Tukan meramu malam merongrong
Pujangga hari ini ditodong
dengan moncong yang sombong
lewat kata-kata yang bohong

Penodongan itu dilindungi dalih
berupa hasrat menjadi sembrono
dengan hujat-hujat mbeling
tampil seakan ramping
tak sadar terjebak sinting
di masa yang kian genting
seolah itu semua adalah kredo
di ruang-ruang baru yang mereka tak fasih

Kami pun sungsang
di alam terkini yang merimpang
pada bayang-bayang
utas-utas yang 24 jam melanglang.

Manshur Zikri
Yogyakarta, 8 Februari 2021

Takhayul Puisi

Jejak Ka diburu oleh Pamuk;
lewat prosa.
Pencarian buku catatan
bersampul hijau.
Dalam perburuan itu,
orang-orang tampil abu-abu.

Kecemburuan akan masa lalu
begitu menyakitkan;
Kecemburuan akan cerita
yang diungkai sendiri,
begitu menggelikan.

Puisi mendatangi Ka
selalu tanpa duga.
Katanya, puisi-puisi itu berbicara
dengan sendirinya.
Bagiku, itu takhayul.

Takhayul yang tinggi,
setinggi daya supranatural
manusia
yang banyak dipercaya
di dalam kata-kata.

Manshur Zikri
Yogyakarta, 8 Februari 2021

Goncangan

Rasa itu bius beraroma
Hasrat itu pisau tumpul
Darma itu apa?

Detik ini aku menjadi Ka dan terheran-heran menerima bukti bahwa puisi bisa mampir ke pikiranku sungguh sangat sebentar saja. Ia pergi seketika bahkan sebelum benar-benar menunjukkan kata-katanya padaku.

Manshur Zikri
Yogyakarta, 11 Desember 2020

Setapak Sufistik

Setapak sufistik mesti kami tempuh
walau itu proyek mustahil
tapi kemestian menjadikannya ada
mendorong kami tetap mengada

Hilangnya batas bukanlah tujuan
melainkan menghancurkan keterbatasan
dengan menyisakan keping-keping
pembatas
hingga kami tetap mengingat
bahwa dahulu ada masa
ketika pikiran kami terbatas
tertutup
sempit

Kami harus membuka semuanya
membuka pikiran dan jiwa
seterbuka-terbukanya
dengan batas-batas yang telah hancur tanpa lebur
menjadi puing yang tetap tampak
lantas terus membuat kami ingat
bahwa batas-batas itu dulu ada
sehingga kami dapat tetap mengada
dengan apa yang akan dibuka
agar menjadi terbuka
sepenuhnya

Setapak sufistik harus kita tempuh
dan keharusan itu mengingatkan kita
tentang batas-batas yang harus kita
lompati bersama
dengan pikiran terbuka

Manshur Zikri
Yogyakarta, 24 November 2020

Tentang Tindakan Jatuh

Tindakan jatuh kini menjadi gaya ungkap
untuk menelaah bagaimana kekerasan budaya
bekerja pada tubuh-tubuh terberi.
Pada limit ultimanya, pose jatuh
memberikan artikulasi paling polemis
sekompleks tebaran maneken pascakejadian
katastropis Sulawesi Tengah

Pada tindakan jatuh, kita mungkin akan
melihat apa yang dilihat Angelus Novus.
Itu mungkin, meski belum tentu lebih.

Ia melihat kerusakan terbentang
di bawah kakinya yang melayang
dengan tatapan dingin seakan tanpa jiwa,
namun melontarkan imajinasimu
ke tepi jurang kewajaran duniawi
yang bertetangga dengan alam mental
jelmaan ruang super-representasi

Tapi Angelus Novus, agaknya,
tak pernah kita ketahui pernah jatuh
ke relung terdalam jurang itu, atau ke lekuk pangkuanmu
Walaupun katastrop universal nan abstrak:
sejarah,
adalah apa yang berhadapan dengannya.
Hanya kita, manusia, yang menyelam haru
ke sana.

Tindakan jatuh adalah narasi baru
yang barang kali lain sama sekali
karena kejatuhan bukan hanya milik orang-orang
semacam Nicolae Ceaușescu di akhir kerusuhan sipil
pada penghujung dekade pertama periode-periode
kelahiran generasi milenial.
Jatuh adalah cara baru untuk berada,
di linimasa yang merayakan virtualitas massa,
atau siasat untuk mengindahkan jeda jari
pada layar-layar berdurasi lima belas detik
yang menjadi etalase cerita-cerita warga
sebagaimana tindakan Polla, seniman yang sedang mengkaji itu.

Manshur Zikri
Jakarta, 30 Juni 2019

Tentang Tai

Sebagaimana politik tai kerap dikutip-kutip serampangan,
kita juga menebar terbitan tai secara sembarangan
dengan kegembiraan yang melampaui
perayaan atas seribu slogan
di media sosial yang, hingga kini, kerap terabaikan
sifat dasariahnya dalam menentukan
aksi-reaksi manusia.

Tai tak lagi hanya soal teknis, bukan?
Urusan duburku dan duburmu juga
bukan hanya bagian dari cemoohan klise
para pelaku intimidasi keseharian yang dibingkai TV
Tai adalah urusan politik juga, kata akademisi.
Tai menemukan jati dirinya yang, mungkin, sejati (?)

Aku tidak tahu, kalau urusan tai
mengemban sejarah emansipasi
dan meneror
ketersempitan hubungan-hubungan komunikasi.
Tapi adakah terbitan tai juga demikian, dan
setai puisi-puisi gampangan yang memviral kini?
Yang dengan teknis desain sederhana,
ribuan buku kumpulan puisi diterbitkan
untuk membelai nafsu-nafsu kita yang menggerogot
demikian halus, membicarakan ke-aku-an
yang dipenting-pentingkan,
yang diharga-hargakan…?

Lebih tai-nya lagi, tai menjadi bumbu dakwah
sederas dakwah menaikan dirinya sendiri
di hadapan kita yang belum juga usai
berurusan dengan teknis membuang tai,
apalagi mendiskusikannya sebagai disiplin filsafat
yang “harus ketimuran!” seru temanku, pongah.
Dia memang tai.

Seandainya tai bisa ditelan,
mungkinkah ia suatu saat nanti
menjadi valuta baru yang paling kekinian
dan diperdalam oleh para filsuf dadakan
yang bergerilya di media kita hari ini…?
Tai! Betapa kacaunya.

Manshur Zikri
Jakarta, 29 Juni 2019

Tentang Merah Jambu

Ia bentangkan kain merah luas
ketika segaris cahaya kecil
tumpah dari langit ruangan besar.
Puluhan mata melihat, bertanya-tanya;
baginya, kain itu merah jambu,
tapi tidak bagi kami.

Badannya beringsut pelan usai para dayang
melepas sudut-sudut kain pada penghujung
sentuhan segaris cahaya ramping
yang menegaskan: bagaimana ruang kosong
perlahan terjajah tubuh yang tak kerempeng.
Baginya, kain itu merah jambu,
tapi tidak bagi kami.

Tubuhnya diam di bawah kemerahjambuan
kain yang ia sematkan sebuah konsep
performativitas Judith Butler.
Geming lekuknya merupakan tekstur pekat
Yang menerjang mata kami yang menganggap
kain itu merah menjerat
tubuh kami untuk menetap di tempat.
Baginya, kain itu merah jambu,
tapi tidak bagi kami.

Tatkala tekstur sirah itu bergerak perlahan,
Kami bertanya: menangiskah, ia?
Lantas langgam biomorfis itu
mencari formasi tertentu
tiba-tiba menjadi figur yang kaku.
Kami bertanya: tertawakah, ia?

Merah jambu menari-nari di alam kebisuan kami
yang merinding dan tercengang oleh pertanyaan
tentang apa yang selama ini kita ingkari

dari protes-protes yang diungkap demi kesetaraan

Di ujung ekstasis puitik yang meneror itu,
Merah jambu berteriak kencang menjadi ambigu,
antara tawa dan tangis; antara kuasa dan dikuasai.
Baginya, kain itu merah jambu,
tapi tidak bagi kami.

Manshur Zikri
Jakarta, 28 Juni 2019

Tentang Samar yang Menerabas

Bosan membuat langkah kaki
orang-orang bergerak dari kursi
menjauhi deretan biru itu sembari
pura-pura batuk berkali-kali
menggoda samar yang berdiri
di pagar balkon yang tinggi
dan di antara penonton yang gerogi
oleh kelam yang mengingkari sunyi.

Bunyi kanan menyahuti bunyi di kiri
sedang langkah sepatu mengimbangi
kebingungan mata yang mencari
sumber suara yang bersembunyi
di dalam kegelapan akustik dan indrawi,
menggelisahkan naluri
hati-hati yang membenci
bosan dan distorsi,
bukan sepi…

seketika cahaya saling membalas arah,
meluaskan cakupan tempat duduk yang terbelah,
menerangi raut muka hadirin yang terperangah,
kesadaranku melompat dari kerlingan patah
menuju sudut ambilan mata yang tersumpah;

sumpah pada gambar bergerak yang diperluas
dengan usaha menghadapi gelap yang diterabas.
Batas-batas yang dipuja itu kini terganggu
oleh rupa bosan baru
untuk memicu
reaksi dan gerutu
dari mereka yang mencintai kesakitan dan sendu
sebagai bahan baku
untuk membangun disiplin-tampil berbasis waktu
yang selalu begitu.                                                        

Manshur Zikri
Jakarta, 27 Juni 2019