052 – Gajah Arang Punya Malsi

Dan……… Baiklah! Kita kembali ke berugaq itu, Sarah! Ah, ya, bukan berugaq itu, sebenarnya, yang ingin aku bilang! Maksudku, berugaq itu mengingatkanku lagi kepada Kelinti Capung.

“Wafda dan Lili sedang menggambar gajah di sana,” katamu, menyelaku.

“Ya, benar! Wafda masih menggambar gajah-gajahnya, Sayang! Aku bisa melihatnya dengan jelas. Wafda sedang memoles sayap salah seekor gajahnya, sekarang ini. Warna merah jambu! Ya, dia memberinya warna merah jambu! Ini sungguh menggembirakan! Kita tidak bisa memaksa Lili kalau memang dia sudah tidak tertarik dengan gambar gajah, kan? Dia lebih semangat melihat gambar gajah Wafda yang sudah semakin tampak. Aku tidak bisa menggambarkan betapa semangatnya orang-orang yang menyemuti berugaq itu. Mereka berdebar-debar, pastinya, sama halnya dengan perasaanku sekarang ini, melihat Wafda menggambar gajahnya. Gajah Wafda telah lahir dan semakin tegas, hidup di atas kertas itu.”

Kulihat matamu berbinar. Penuh semangat! Aku yakin kau pasti bisa menjadi sahabat Wafda yang baik, Sarah. Ingatlah, betapa besar jasanya dalam membantu kita mencari kemungkinan tentang ada atau tidaknya gajah-gajah ini!

“Ceritakan lagi kepadaku tentang gajah yang lain, Pakpang!” katamu.

“Oh, ya! Kau juga penasaran dengan gajah-gajah yang lain itu, rupanya…!?”

Di Kelinti Capung, ada seseorang yang hidup lebih seperti pengembara daripada sebagai orang yang berrumah, Sarah. Tapi, bukan berarti dia tidak punya rumah. Hanya saja, langkah-langkah si orang ini menunjukkan betapa dirinya menginginkan petualangan-petualangan yang menggetarkan. Langkah-langkahnya yang seperti itu, demikian tampak dari sapuan-sapuan arangnya. Ya, dia adalah ahli gambar! Namanya, Lutajjuh Malsi.

Suatu hari, aku dan Malsi pernah berjalan-jalan menelusuri semak dari dataran rendah di Tebango Bolot, menuju bukit, untuk mencapai puncak yang di sanalah Tugu Wasiat berbahan kayu pernah didirikan. Tugu itu dahulu digotong banyak orang saat diselenggarakannya sebuah pesta besar! Pesta rakyat yang tak akan pernah kami lupakan. Pesta itu mungkin tak semegah perayaan obor yang diampu Empat Pendendang Desa. Tapi, sebagai awal mula kebangkitan Desa Kelinti Capung, tugu itu menguak tabir yang selama berpuluh-puluh tahun telah menutupi intisari Kelinti Capung. Tugu itu menunjukkan betapa lautan yang begitu luas bersaudara dekat dengan pegunungan yang begitu tinggi.

Ada kejadian lucu, sebenarnya, sewaktu kami hampir tersesat di tengah-tengah semak belukar. Kala itu, hujan deras menerpa kami. Malsi, yang semestinya paham Kelinti Capung, malah terlihat sangat aneh. Aku tidak tahu, apa yang membuatnya bertingkah aneh. Pokoknya, dia tiba-tiba saja merebahkan diri ke tanah, berteriak histeris, dan menyambut derasnya hujan yang menghantam setiap jengkal bagian-bagian tubuh dan bajunya. Aku nyaris putus asa dan sempat mengira kami tak akan pernah kembali lagi ke ruang terbuka, ke ruang-ruang kota, dan akan tersesat selamanya di tengah-tengah semak belukar yang menyesakkan itu.

Namun, baru belakangan aku sadari, agaknya tingkah Malsi itu adalah pertanda, bahwa lokasi kami sudah dekat dengan Tugu Wasiat. Dan benar saja, ketika aku bersikeras ingin menerabas semak belukar lainnya yang ada di hadapan kami, aku melihat tugu yang sungguh sederhana itu. Kau tahu, semak-semak yang kuterabas itu bagaikan tirai, dan adegan yang kulakukan persis seperti saat kau membuka tirai kamarmu di senja hari.

Setelah kejadian di semak belukar, aku jadi tahu kalau Malsi mendapatkan kekuatan baru. Kekuatan yang lebih bijak dari waktu-waktu sebelumnya. Dia menggambar lebih banyak wajah orang-orang Kelinti Capung. Hingga akhirnya, sekitar dua tahun setelah pengalaman lucu itu, dia mengabarkan padaku bahwa dia telah membuat seekor gajah dari arang.

Gajah Arang punya Malsi tampak serupa dengan bayanganku tentang gajah terbang yang selama ini kita cari-cari, Sarah! Gajah Arang itu mengenakan ikat kepala. Otot belalainya terlihat kokoh sekali; tampak kuat, sekuat kaki-kakinya. Sayap gajah itu melekat dipunggung. Bukan sayap buatan, Sarah, juga bukan sayap mesin. Kedua sayap itu merupakan bagian dari tubuhnya, terbuat dari otot-otot dagingnya sendiri. Sementara, gadingnya yang tak terlalu besar membengkok dan menempel rapat ke belalainya.

Gajah Arang.

Mata gajah itu menatap teduh ke depan. Gajah Arang yang lusuh, mungkin, seperti Malsi yang kulihat merebahkan diri ke tanah di tengah-tengah semak belukar di Bukit Tebango. Tapi, tatapannya yang teduh justru menunjukkan kemurnian dirinya, Sarah. Seketika aku merasakan hawa yang demikian bersih terpancar dari tubuh gajah itu. (“Dan, ya, aku selalu merasakan hawa yang bersih di diri Malsi meskipun aku tahu, setiap harinya, dia tampil lusuh karena sering minum tuak.”) Aku lihat Gajah Arang itu terbang, Sarah! Terbang! Terbang dengan mantap sebagaimana yang sering kita bayangkan jikalau seekor gajah terbang dan mengudara dengan gembira.

Apakah dia bergerak menuju langit? Aku tidak tahu. Yang jelas, Gajah Arang yang dibuat Malsi mengajarkanku satu hal: kita bisa terbang menuju langit dengan kemurnian jiwa, terlepas dari penampilanmu sehari-hari yang mungkin sering kali tampak lusuh. Dan di saat aku sadar bahwa gajah itu sekarang bersembunyi di semak-semak belukar yang mengelilingi Tugu Wasiat, aku yakin bahwa apa yang dituliskan di atas lempengan kayu pusaka, yang di dalamnya kata-kata menjadi garis penghubung antara Tugu Wasiat dan Monumen Pintu (yang dibangun di ujung Dermaga Bangsal), adalah petunjuk lainnya yang bisa kita cerna. Paling tidak, untuk mendapatkan arti, mengapa Si Gajah ingin menemui langit. *

Gambar “Gajah Arang” dibuat oleh seorang seniman yang tinggal di Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara. Namanya, Hujjatul Islam. Gambar ini telah diakuisisi oleh Embaragram.


Bab 053 >>

___
Cerita ini adalah bagian dari karangan panjang berjudul “Sejurus Pandang pada Sarah“. Bab-bab dari karangan ini lebih dulu terbit sebagai cerbung di akun Instagram @embaragram sejak tanggal 28 Agustus 2018 dan masih beroperasi hingga sekarang. Selain itu, repost dari karangan ini juga termuat di media Wattpad Embaragram.

051 – Sejenak, Bukan Gajah Terbang

Satu tahun setelah hari ke-550 itu, aku duduk ditemani kidung yang merayu lembut. Dayuannya menggoda dengan bayangan kisah Schubert yang sudah terlanjur dilamun-lamunkan oleh kamera delapan puluh delapan tahun silam. Saat fokus pendengaran kami bergeser ke bunyi gesekan biola dari percintaan kesebelasnya Dvořák, aku sadar bahwa aku sendiri juga harus memaparkan kepadamu isi katalog sederhana yang pernah kubuat; katalog yang memuat keterangan mengenai lebih banyak gajah terbang—informasi tentang gajah-gajah di dalam katalog itu dikumpulkan dari beberapa kenalan.

Tapi, Sarah, aku akan bercerita tentang beberapa gajah saja. Di antara sekian banyak gajah yang aku coba pahami, pasti ada beberapa yang bisa menggandakan ketertarikanmu terhadap saga ini. Dan mereka, yang akan kuceritakan, adalah pilihan terbaik yang kurasa layak memenuhi harapanmu. Semoga saja kau tidak kecewa!

Sebelum aku bercerita tentang gajah-gajah terbang di katalog itu, dan juga memaparkan bentuk gajah terbang yang digambar Wafda dan Lili di berugaq, aku ingin pula menceritakan kepadamu sebuah pengalaman menjengkelkan yang terjadi padaku di minggu-minggu penuh debar setelah aku mendapat kabar bahwa Si Rusa akan segera mendengar syair-syair yang akan membuahkan kegembiraan dan keberuntungan. Pengalaman itu terasa menjengkelkan hari ini karena gagal memenuhi harapanku untuk bisa menyelesaikan saga Si Gajah.

Pengalaman itu terjadi di minggu pertama bulan April, tiga hari setelah pembatasan sosial diresmikan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 21. Tanpa disengaja, aku melihat seekor gajah besar yang kakinya menapak hingga ke dasar… entah sungai, entah lautan. Kalau menerka dari warna airnya, mungkin genangan itu adalah lautan. Dan kalau memang benar itu lautan, berarti ukuran gajah itu sungguh sangat besar sekali. Aku sempat salah mengira kalau gajah itu Zunesha, karena, selain kakinya yang begitu panjang hingga bisa menapak dasar lautan, tampak di mataku kalau dia juga menggendong sesuatu. Tapi kau tahu, kan, kalau Zunesha menggendong pulau di punggungnya…? Sedangkan gajah hijau super besar yang kulihat waktu itu, dia menggendong gajah-gajah hitam yang berukuran lebih kecil—aku rasa mereka itu anak-anaknya.

Tampak si gajah raksasa itu tengah berjalan dan membuat riak dahsyat di air lautan. Dia berjalan ke arah yang berlawanan dengan arah tujuan makhluk-makhluk di bawah permukaan laut itu. Dari tempatku berdiri, aku bisa melihat ada ikan-ikan yang juga berukuran besar, tapi bentuknya seperti ikan piranha. Tampang ikan-ikan itu ganas. Bukan tidak mungkin kalau gigi-gigi mereka yang tajam bisa melukai kaki si gajah raksasa.

Lautan itu juga ditumbuhi pepohonan yang aneh: pohon-pohon yang begitu tinggi, setinggi si gajah dan—kalau gajah raksasa yang kuceritakan ini benar seukuran Zunesha—menjulang hingga ke langit angkasa. Tapi mereka hanya mempunyai beberapa helai daun saja. Daun yang begitu luas, nyaris seluas telinga si gajah. Aku melihat pepohonan itu melatari si gajah raksasa, dan daun-daun mereka yang begitu sedikit—setiap sebatang pohon mempunyai tak lebih dari tiga helai daun saja—juga sempat membuatku salah menduga kalau gajah hijau tersebut adalah sejenis gajah terbang.

Foto lukisan gajah di salah satu dinding di rumah sakit Panti Rapih, Yogyakarta. (Foto: Manshur Zikri, 3 April 2020).

Ya, aku memang salah duga. Saking salahnya, aku hampir meloncat girang saat melihatnya, mengira bahwa aku telah berhasil menemukan seekor gajah terbang, mengira bahwa gajah terbang itu bisa kutanya-tanyai segala hal yang berkaitan dengan terbang dan penerbangan (tentu saja hal ini harus kutanyakan jikalau kita tetap membutuhkan mesin sayap), dan berpikir pula bahwa jawabannya bisa kubawa pulang dan akan kuceritakan ulang kepadamu dan Si Gajah—gajah kita—supaya dia bisa terbang, sehingga saga ini dapat kita tuntaskan.

Tapi gajah hijau raksasa yang aku lihat waktu itu, nyatanya, bukan gajah terbang, Sarah. Dia hanyalah seekor gajah yang memanggil-manggil ingatan siapa saja yang merindu, terutama mereka yang merindu masa-masa ketika benih-benih sayuran ditanam di rumah-rumah bersama-sama dengan keyakinan. Gajah hijau itu, entah mengapa, memancing kerinduanku yang begitu besar akan penampakan rumahmu yang—masih kuingat jelas hingga detik ini—sempat kupandang beberapa detik sebelum kakiku memijak keset kaki di depan pintu rumahmu dan lantas terpelanting ke Kelinti Capung. Baru sekarang aku tersadar, gajah hijau itu agaknya lebih mirip dengan gajah ungu yang ada pada salah satu tembok di taman depan rumahmu. *


___
Cerita ini adalah bagian dari karangan panjang berjudul “Sejurus Pandang pada Sarah“. Bab-bab dari karangan ini lebih dulu terbit sebagai cerbung di akun Instagram @embaragram sejak tanggal 28 Agustus 2018 dan masih beroperasi hingga sekarang. Selain itu, repost dari karangan ini juga termuat di media Wattpad Embaragram.

050 – Kelahiran Para Gajah

Sejak dulu, lembaga-lembaga besar senang menyambut peristiwa-peristiwa besar masa depan. Berugaq, meskipun memiliki sejarah yang panjang, bukan dari jenis yang seperti itu. Kelasnya warung kopi.

Sementara, peristiwa-peristiwa besar hari ini menjadi manusiawi justru karena obrolan warung kopi. Bukankah begitu? Spekulasi di masa depan tidak jarang pula jadi semakin tajam ketika segelas kopi tumpah, pada suatu siang bolong, di dalam sebuah warung yang terletak di pinggir jalan raya. Berugaq memang bukan warung, tapi ada banyak juga berugaq yang di sampingnya berdiri warung yang ke situlah orang-orang penggemar berugaq tersebut bisa memesan segelas-dua gelas kopi untuk menemani mereka menghabiskan sisa waktu sebelum azan berkumandang.

Yang terjadi di berugaq adalah politik sehari-hari: politik kecil nan penting, bukan hanya karena mereka mewakili politik-politik besar yang di dalamnya lembaga-lembaga besar itu kerap terlibat memanipulasi kesadaran masyarakat, tetapi juga karena narasi-narasi mereka, keseringan, tidak dianggap dalam mata pelajaran sekolah.

“Apa…!?” seruku, menantangmu.

Para guru biasanya memerintahkan siswa-siswinya membuat karangan bebas tentang liburan; bocah yang menghabiskan waktu liburnya main game di berugaq saban hari pasti kewalahan karena tidak tahu mau menulis apa. Ya, wajar saja! Negeri asal berugaq dikenal sebagai negeri pariwisata. Jadi, ya, “Masa disuruh menulis tentang liburan ke pantai saja tidak bisa?!”

“Tuh! Begitu, kan…?! Main game tidak dianggap!” seruku, mencoba meyakinkanmu.

Nah, justru karena tidak dianggap itulah, mereka, pada akhirnya, jadi sangat penting. Orang-orang baru akan percaya bahwa pembatasan sosial itu menjengkelkan tatkala kesempatan untuk duduk di ruang-ruang sekelas warung kopi itu dibatasi. Lama-lama, kita penat dengan ruang-ruang yang lengang. Manusia rindu yang rapat-rapat, padahal mereka sudah rapat sepanjang hari di depan layar.

Generasi Ayam Kayang—yang sekarang hobi berlayar walaupun bukan permainan daring—mungkin tidak terlalu peduli karena mereka sudah terbiasa untuk merasakan keramaian di antara bilik-bilik kecil yang sekatnya hanya setinggi pinggang. Mereka berbeda dengan ayah dan ibu mereka yang, pastinya, sekarang sudah tertekan karena tidak bisa lagi ikut serta arisan. Barulah, ketika sudah begitu, mereka—para orang tua ayam kayang satu generasi ini—ingat betapa pentingnya kerapatan di ruang-ruang sekelas warung kopi, dan baru mereka ingat bahwa ruang-ruang tersebut sudah lama pula diokupasi—kalau bukan dikontaminasi—oleh layar-layar yang ditemukan ayah dan ibu mereka, kakek dan nenek ayam kayang satu generasi.

Tapi kegamangan terhadap wabah yang menyebabkan manusia menangis saat kehilangan ruang-ruang seperti berugaq, sebagaimana yang kuceritakan di atas, baru akan terjadi 549 hari lagi. Karena, sekarang ini, si sosok kecil masih fokus pada setiap tarikan garis Wafda dan Lili. Beberapa orang yang menyemuti berugaq mereka juga sama: terlalu fokus melihat interaksi mereka bertiga. Memang terlalu lama. Rusa saja sudah mau melahirkan anak. Konon—dan ini yang masih membuat si sosok kecil bingung—Denok pun akan berangkat ke negeri Timur yang demikian jauh, menerabas batasan-batasan yang disebabkan wabah korona. Mungkin saja dia sudah terlalu lama menunggu, dan menjadi tidak sabar seperti rusa yang mencuri kaca mata itu. Tidak ada yang mengerti, apakah ini semua benar atau tidak.

Sementara itu, pertunjukan tentang kelahiran gajah di rahim ingatan Wafda, ingatan yang sempat kabur beberapa malam sebelumnya, memang pertunjukkan yang melelahkan bagi orang-orang yang ingin segera menuntaskan saga gajah terbang. Wafda dan Lili mungkin tidak menyadari kelelahan mereka. Tidak seperti orang tua mereka. Namun, tidak ada pula sesuatu, apa pun, yang surut dari angan-angan masyarakat Kelinti Capung. Lelah bukanlah apa-apa. Auman Wafda di tengah hari kini sedang berganti menjadi goresan garis di atas kertas menjelang sore.

Tidak ada satu pun yang surut dari mereka. Yang surut adalah hal-hal luar yang menghampiri garis tepi tradisi. Politik-politik besar itu, peristiwa-peristiwa besar itu, lembaga-lembaga besar itu; mereka semualah yang surut. Cerita-cerita Kelinti Capung justru akan tampak tatkala mereka semua surut. Pada waktu itulah isin angsat mencuat, menjadi telanjang tanpa setitik air pun menutupi mereka.

549 hari lagi, akan muncul kejadian besar yang lain. Tapi aku yakin, sebagaimana kau juga mungkin sama meyakininya, kejadian yang besar itu nantinya juga akan sama surutnya, dan ruang-ruang sekelas warung kopi akan beradaptasi lagi—terutama dengan generasi ayam kayang yang bisa menghabiskan waktu berjam-jam duduk dengan kepala tertunduk memandang layar selebar telapak tangan mereka dan membiarkan jempol-jempol mereka menari-nari untuk mengontrol gerak avatar-avatar tanpa ekspresi—mengikuti kehendak zaman, menghasilkan narasi-narasi kecil yang semakin meyakinkan kita semua bahwa kejadian sehari-hari adalah politik yang lebih penting daripada apa yang digemari oleh lembaga-lembaga besar.

Pada hari ke-550, mungkin kita akan berpikir bahwa itulah saat-saat terakhir bagi kita untuk mengenal kekerabatan berugaq, dan kita tidak akan tahu kapan kita akan bertemu lagi dengan kerapatan-kerapatan itu, sekaligus juga dengan layar-layar yang mengontaminasi mereka, yang belum sempat berhasil kita bereskan di hari-hari sebelumnya. Tapi, siapa yang tahu? Bisa jadi, ini seperti peristiwa tidur sepuluh abad, dan generasi A akan menemukan jawabannya sendiri pada waktu ayam kayang satu generasi sudah menjadi kakek-nenek, pada saat anak-anak generasi A sudah bisa merasakan kerapatan-kerapatan yang lain. Benarkah demikian? Mungkinkah kita perlu melompat ke dalam kehampaan—sekaligus mengamini doktrin perairan—untuk menyentuh kemungkinan-kemungkinan semacam itu? Siapa yang tahu? Siapa yang tahu?!

Tapi berugaq selalu berpikir tentang hari ini, tidak memusingkan masa depan dan tidak terbebani masa lalu. Di berugaq, Yang Sehari-hari muncul dari generasi yang beragam.

Begitulah! Aku memandang lekat jari-jari tangan kiri Wafda, kotor oleh warna pastel. Wajahnya juga sudah cemong. Tangan kirinya itu mengibas rambut setiap beberapa detik. Kutebak bahwa dia sadar kalau orang-orang sedang melihat aksinya.

Lili lebih malu-malu, tapi tidak peduli dengan orang lain. Dia hanya ingin ayahnya memandang dirinya.

Untunglah tidak ada bebek makan kue dalam pertunjukan ini.

Perlahan-lahan, aku melihat kemunculan gajah terbang dari tangan mereka. Perlahan-lahan…

Salah, kalau misalnya kau mengira bahwa sayap milik gajah-gajah mereka tampak seperti sayap naga. Keliru sekali. Di mataku, sayap pada salah seekor gajah terlihat seperti perut cacing. Rupanya, imajinasi bocah ini lebih dekat dengan kendaraan terbang semacam pesawat dan helikopter daripada makhluk jadi-jadian sebagaimana yang sering kita lihat pada cerita-cerita rakyat.

Dari sudut pandang yang lain, gajah-gajah mereka juga terlihat seperti kura-kura. Mungkin sifat mereka juga sama: bergerak pelan, tapi pasti, menuju ke ujung kisah yang belum tentu merupakan akhir dari perjalanan mereka.

Perlahan-lahan, Sarah, kulihat perlahan tangan-tangan Wafda dan Lili. Gajah terbang yang kita nanti-nanti tampak semakin jelas!

Aku berdebar sekarang! Debaran ini sama persis dengan penantianku dan Si Rusa akan kedatangan syair-syair lelangkah dari arah barat laut. Lelangkah yang mungkin belum akan menuntaskan perjalanannya melintasi kolam-kolam keinginan, dan masih jauh untuk meneguk air ketuban. Namun, kita tidak bisa bersembunyi dari kegembiraan dalam menyambut suatu kidung yang manis, Sarah, yang dalam beberapa waktu ke depan, akan menemani kita menyelesaikan saga gajah terbang ini.

Sampai di sini, aku penasaran, apa benar Denok itu adalah jelmaan langit?

“Bisakah kau ceritakan padaku bagaimana wajah Gajah Terbang yang lahir dari goresan kapur-kapur minyak Wafda dan Lili?” tanyamu tiba-tiba, setelah begitu lama diam dan hanya mendengarkan ceritaku.

Mau tak mau memang harus kujawab pertanyaanmu itu, setelah ini. *


_______
Cerita ini adalah bagian dari karangan panjang berjudul “Sejurus Pandang pada Sarah“. Bab-bab dari karangan ini lebih dulu terbit sebagai cerbung di akun Instagram @embaragram sejak tanggal 28 Agustus 2018 dan masih beroperasi hingga sekarang. Selain itu, repost dari karangan ini juga termuat di media Wattpad Embaragram.

049 – Yaitu Interlud

Adegannya sekarang—tapi sebenarnya adegan seperti ini sudah berlangsung jauh sebelum si sosok kecil dilompatkan oleh ingatannya sendiri ke Kelinti Capung, bahkan mungkin lebih jauh dari waktu ketika langkah-langkah si Sarah mungil yang berlari-lari kecil di Suwon terekam ke dalam layarku—adalah anjing menggonggong kafilah berlalu. Sebagai deretan sandi algoritmis, kata-kata tetap berusaha keras mencoba menyalak, tapi ada banyak kontingen yang suka menciak di waktu-waktu senggang—(semakin ke sini kegiatan itu kian menjadi agenda utama mereka)—atau yang gemar membagi riwayat bahkan lakon pribadi ke dalam durasi yang dipecah-pecah di lingkup waktu ketahanan otot jemarimu—(paling sering terjadi di saat cahaya temaram menepis pinggiran bingkai-bingkai jendela mobil-mobil kota yang sering keruh kacanya)—memilih untuk menggulir layar mereka. Menggulung lembaran imajiner, mereka itu…! Lembaran dengan isi yang jelas nyata, tapi tak akan pernah bisa disentuh langsung oleh kulitmu sampai kapan pun; meskipun, untuk mengoperasikannya, isi-isi itu memang perlu disentuh.

Pada saat rusa belajar bagaimana menjadi tidak peduli keluhan sayur-sayur busuk, yang bersamaan dengan periode semasa Denok giat berlari dari ketidakpercayaan diri tanpa henti yang melandanya setiap malam, Polla menerima kabar dari pengagum Teater Mustahil bahwa tiga menara yang masing-masing berasal dari tiga kota berbeda—yang setiap dua tahun menyaring para penenun metafora—telah mengumumkan sebuah pembatasan terhadap imajinasi-rintis (jenis imajinasi yang juga tak jarang dipicu Semut Rangrang) yang sampai hari ini masih terus diceritaulangkan oleh keempat pendendang desa. Bukan mereka saja yang dibatasi, sebenarnya, tapi hampir semua penenun. Sebagian masih bisa merayakan pembatasan itu (dan mereka perlahan akan menjadi semakin tidak sadar bahwa mereka sedang dibatasi), sedangkan yang lain sudah marah karena dipaksa berada di luar batas.

Waktu itu bulan Mei…, masa kami harus menerbitkan Mei Hitam…?! Lewat saluran yang sedang kami masalahkan pula…?! Itu gila, Sarah!

Oh, betapa malang! Kelinti Capung—kini warga pemuja gerimis pun pelan-pelan mulai mengeluhkan hal yang sama—menyadari bahwa kegamangan terhadap tembok-tembok rumah tidak berhenti setelah Bumi meredakan tegangan ototnya. Kegamangan itu rupanya juga muncul hari ini, di kala toa-toa rumah ibadah menambah kuota penggunaan listrik mereka untuk menyalakan mikrofon lebih dari lima kali sehari. Orang-orang dihimbau masuk ke rumah, tapi karena perintah itulah, ternyata, dinding-dinding kamar mulai dikeluhkan dan dituduh membosankan. Bagi mereka yang menyangkal keluhan itu, pelarian yang paling menggiurkan untuk menghentikan pidato-pidato semacam ini adalah pemandangan di balik jendela-jendela maya yang lebarnya, kebanyakan, tak lebih dari seluas telapak tangan.

Terhadap lanskap di dalam bingkai jendela yang memancar itu, akan kaulihat, alih-alih kaubaca, susunan yang secara ketubuhan tidak lagi engkau kenali sama sekali meski pikiranmu yang terkini mengiyakan apa siarannya setiap dini hari. Jendela itu memancarkan cahaya dari depan; mereka bukan jendela yang berada di belakang punggungmu, yang biasanya memaparkan cahaya ke atas dinding di depan hidungmu. Hanya kaudengar suara “tik” dan “klik” di kala matamu mencoba memindai kata-kata, bukan lagi “krrrrk” yang konstan seperti yang dahulu kaualami saat menyimak perpindahan gambar dari angka 9 ke angka 8 lalu ke angka 7 terus ke 6, ke 5, 4, 3, dan ke 2, terus hingga yang terakhir, ke angka 1, sebelum akhirnya kaulihat hanya peristiwa tumpahnya kerumunan buruh dari dalam pagar sebuah pabrik, kerumunan itu bubar dengan cepat, dan yang menyusul kemudian bukanlah sepi, melainkan diam yang benar-benar puitik akibat rerapuhan kimiawi yang menjadi sangat romantis di ujaran dan di jempol anak-anak ayam kayang satu generasi.

Tidak, tidak, tidak! Kautidak akan terperanjat kaget sehisteris teriakan orang-orang yang berlindung ke balik kursi karena takut ditabrak kereta pada sebuah peristiwa yang hampir serupa mukjizat di masa lalu itu. Barangkali, tokoh yang—menurut cerpenis Jerome Bixby—telah disalahpujakan oleh orang-orang ribuan tahun pun akan sama kagetnya dengan orang-orang biasa jika dia juga berada pada peristiwa yang sama. Tapi aku yakin, sebagaimana dirimu sekarang ini, tokoh yang lahir dalam perenungan nyeleneh Jerome pun akan bereaksi sedatar mungkin. Tidak, tidak, tidak! Paling-paling kita hanya akan beseru, “Anjing!”, atau “Taik!”, kalau-kalau ada kepala buntung melayang-layang, membelah area jendela yang luasnya tidak lebih dari telapak tanganmu.

Suatu hari nanti, bersiap-siaplah, Sarah, jika engkau mengalami apa yang selalu orang bilang “sepi di tengah keramaian”. Tapi, kauperlu juga mengerti bahwa yang kami alami hari ini justru kebalikannya: kami ramai di tengah kenyataan sedang sendiri di dalam kamar, ruang TV, ruang tamu, toilet, dapur, dan pinggir jalan. Anehnya, di saat Bumi mengabulkan hasrat semacam itu dengan meledakkan wabah kiwari lebih cepat daripada lelehan es di utara, kami justru merengek, merindukan sentuhan-sentuhan fisik, sembari meratapi nasib diri yang semakin hari semakin didekati sebuah gejala paling aneh: selalu merasa nyaris berhasil menjawab sebuah ketidakmungkinan. Bagaimana hal yang tidak mungkin sebaiknya diimajinasikan sebagai hal yang punya kemungkinan untuk dimungkinkan pada situasi-situasi yang tidak memungkinkan sekarang ini…? Apakah benar kebaruan itu adalah satu-satunya jalan bagi dunia kita hari ini, Sarah? Tidakkah kaupikir, masa lalu, sebenarnya, tidak pernah benar-benar mengalami kenormalan…?!

Lama-lama, kami, orang-orang yang suka menciak di waktu-waktu temaram, akan menjadi fasik terhadap alam pengetahuan yang sejatinya. Tapi anjing menggonggong, kafilah berlalu. Kata-kata akan terbenam begitu saja jika lebih dari satu jam kemudian kaugagal mendapatkan lebih dari sepuluh jantung. Firma-firma besar memang bisa mengubah hitungan-hitungan orang kiri, asal kautahu! Mereka tidak pandang bulu, firma-firma itu. Ya, di satu sisi, ya, mereka tidak pandang bulu, karena mereka memang memukul rata kerja data-data mereka atas semua orang. Tapi, mereka itu juga punya sisi yang lain: mereka ada pandang bulunya juga, nggak, sih, sepertinya…?! Mereka pandang bulu di saat tidak memandang bulu. Dan nyatanya, mereka memandang bulu maka hampir setiap orang kini merasa selalu dipantau. Sebagiannya—mungkin sebagian besar—suka dengan sikon itu, sebagiannya lagi tidak—pasti selalu saja ada antonimnya dan memang akan selalu begitu. Tapi, toh, kami semua sudah terlanjur mendaftarkan kesukarelaan untuk mengungkap dan diungkap dengan dan oleh mesin-mesin firma itu.

Kata-kata berusaha keras menyalak, tapi kontingen yang suka menciak di waktu-waktu senggang memilih untuk menggulir layar mereka. *


_______
Cerita ini adalah bagian dari karangan panjang berjudul “Sejurus Pandang pada Sarah“. Bab-bab dari karangan ini lebih dulu terbit sebagai cerbung di akun Instagram @embaragram sejak tanggal 28 Agustus 2018 dan masih beroperasi hingga sekarang. Selain itu, repost dari karangan ini juga termuat di media Wattpad Embaragram.

048 – Gugus Konsonan yang Muncul di antara Vokal

Zaman sekarang, daya cermin-diri bekerja lebih kuat pada kata-kata singkat yang bergulir otomatis di halaman umpan berita. Suatu hari nanti, Sarah, anak-anakmu mungkin tidak lagi mengenal jam tayang utama. Bagaimana tidak? Sekarang saja sudah banyak teman-temanku yang, tanpa kenal waktu, menayangkan tubuh dan memperdengarkan kata dari bilik-bilik pribadi rumah mereka sendiri pada jam-jam yang melewati batas-batas wajar dari kemampuan mata dan telinga manusia yang sesungguhnya. Dan di waktu-waktu yang menegangkan seperti minggu-minggu pembatasan sosial (yang baru benar-benar dilakukan 122 hari setelah COVID-19 pertama berjangkit di Wuhan), gejalanya meningkat dan terasa semakin aneh.

Sementara pemutusan hak kerja melanda mereka yang sulit mengakses beragam kemungkinan pemenuhan kebutuhan sehari-hari, orang-orang malas yang kebetulan kreatif dan terdidik membanjiri ruang pengalaman virtual kita dengan impresi-impresi romantik atas tubuh. Sudah lewat dua puluh tahun sejak Krishna Sen mewanti-wanti kita terkait sengkarut akibat operasi firma-firma yang, dengan media yang mereka kuasai, menyetak dan menyiarkan kabar apa pun selain pemandangan tanah-tanah yang sudah mereka bobol selama puluhan tahun. Namun hari ini, yang buram juga muncul dari kehendak orang-orang untuk mengungkap apa-apa yang sebelumnya enggan diungkap; daya-pandang dan daya-cerap kita pun kembali kepada situasi yang dikisahkan dalam alegori goa.

Adakah salah kiranya jika kubilang bahwa kita sedang memasuki era penyelewengan fungsi yang membius…? Salah…? Benar, kan…? Iya, kan…? Hei…?!

Bukan fungsinya, Sarah, tapi penyelewengannyalah yang membiusi kita! Sedemikian hingga—begitulah Yumni sering kali berseru di depanku, lewat teks-teksnya, di saat kami sampai pada titik untuk harus menyimpulkan beberapa hal kecil—layar-layar yang kita lihat sehari-hari di hari ini adalah candu, dan efek buruk kehadirannya memang tak kurang dari itu. Dan jangan kaubuka lebar-lebar matamu hanya untuk menguatkan ekspresi terkejutmu itu, Sayang, kalau suatu hari nanti kukatakan padamu bahwa, pada suatu waktu di masa lalu, argumen-argumen superfisial pernah menggantikan kewajiban orang-orang untuk menegakkan pandangan mereka lebih lama. Sekali lagi, jangan engkau terkejut karena aku—yang kaubaca ini—pun berasal dari apa yang disebut olehnya sebagai candu. Dan asal kau tahu, yang di masa lalu itu terjadi berulang kali sampai sekarang meskipun selalu dalam fase dan iringan fenomena yang berbeda.

Dahulu, kami hanya diterpa kata-kata. Sekarang, jauh berbeda. Fungsi kami telah terselewengkan lewat muatan-muatan di atas layar yang kami yakini telah kami buat dengan sungguh-sungguh sebagai bentuk sumbangsih terhadap krisis-krisis yang tengah berlangsung. Tapi kenyataan fisik tidak berkata demikian. Adakah kaupikir bahwa aku—yang kaubaca ini—adalah mantra-mantra yang akan mengubahmu menjadi sesuatu yang akan mengubah tinggi tanaman di teras depan rumahmu? Adakah kauduga bahwa aku adalah sebuah performativitas yang akan membuatmu semakin bergembira menjalani euforia layar ini…?

Semua hal yang membius itu—penyelewengan, atas fungsi yang semestinya—yang menjadikan kita sekarang ini benda-benda yang tunduk pada hukum alam artifisial, yang sedang diam dalam delusi “yang bergerak” dan “tentang pergerakan”, yang meracau di balik ilusi-ilusi puitik, ya… semua yang membiusi kita itu, semuanya sama saja, Sarah. Mereka berulang lagi hari ini. Mereka sesungguhnya sama dalam suatu kemungkinan kata yang merasuk dalam lapis-lapis kepembedaan yang sangat memungkinkan segi-segi paling mencolok dari dasar-dasar ketidakmungkinan. Bahwa, penyelewengan fungsi yang melekat padaku, bisa jadi, memang performatif justru karena kami sedang menyatakan ketidakfungsian kata-kata di atas layar genggammu.

Tapi, dia juga sedang berpikir bahwa kami, suatu hari nanti, akan diperbanyak menggunakan mesin-mesin yang akan mencetak berliter-liter tinta ke atas ratusan lembar kertas. Wujud kami, katanya, akan hadir sebagai deretan rupa yang dibentuk oleh tinta-tinta itu. Ya, tinta-tinta itu akan mewakili kami untuk menyapa matamu, seiring dengan aroma khas buku-buku yang menyinggung penciumanmu yang sangat bersifat pemilih itu. Jangan-jangan, kau yang sekarang adalah orang yang sudah pernah melihat kami dalam wujud cacahan layar; kau yang sekarang adalah orang yang akan melihat tinta-tinta perwakilan kami.

Kalau memang begitu, Sarah, selamat datang di dunia kejahilan situasionis yang baru—bukan, orang-orang sekarang menyebutnya “normal baru”. Lucu! *


_______
Cerita ini adalah bagian dari karangan panjang berjudul “Sejurus Pandang pada Sarah“. Bab-bab dari karangan ini lebih dulu terbit sebagai cerbung di akun Instagram @embaragram sejak tanggal 28 Agustus 2018 dan masih beroperasi hingga sekarang. Selain itu, repost dari karangan ini juga termuat di media Wattpad Embaragram.

047 – Peribahasa untuk Garis pada Berugaq

Ada gula, ada semut. Begitulah peribahasa berkata tentang tempat yang bisa mendatangkan banyak rezeki dan kesenangan bagi banyak orang.

Peribahasa; adakah mungkin bahasa memiliki roh dengan gender tertentu, sebagaimana makhluk-makhluk berindra (dari yang jumlahnya hanya lima, enam, tujuh, delapan, hingga sembilan) juga konon terbagi-bagi ke dalam banyak jenis bangsa, yang satu di antaranya disebut peri dan dipercaya lebih unggul dalam hal tradisi, kekuatan gaib, pengetahuan alam, dan kebijakan-kebijakan sosial…? Ataukah lirik-lirik ringkas padat berupa ungkapan subtil berkandung ajaran tentang prinsip-prinsip hidup terkait dasar-dasar bermasyarakat semacam itu hanyalah hal ihwal terlupakan dalam bahasa…?

Bagaimanapun, berugaq yang sedang kita bicarakan ini telah menjadi bukan hanya titik kumpul bagi sebagian orang-orang Kelinti Capung yang tidak mau kalah oleh rasa takut. (“Mereka tidak menyangkal rasa takut dan trauma yang muncul pascabencana,” tulis si sosok kecil suatu hari di buku hariannya. “Tapi mereka belum pernah berhenti berjuang untuk memastikan bahwa rasa takut di diri mereka itu tidak akan mengalahkan diri mereka sendiri.”) Berugaq ini sedang menjadi medan kelakar. Dan medan kelakar memang tidak perlu besar-besar, asalkan hangat, akrab, dan segar. Beberapa orang percaya, seperti kakak-beradik Sang Dahrun dan Sang Badai, bahwa kelakar-kelakar yang menjadi kebiasaan di Kelinti Capung adalah sebuah harapan, kalau bukan jawaban hari ini, sehingga orang-orang bisa tetap lega bahwa waktu untuk bercanda dan bersenang-senang belum lagi sirna.

Nah, begitulah dramaturginya! Penuh ketelitian, si sosok kecil sedang mengamati alur tarikan garis-garis Wafda dan Lili. Dan bagaikan butiran gula yang dikerumuni semut-semut, mereka sedang dikelilingi banyak orang. Si sosok kecil insyaf bahwa dirinya sama saja dengan sang perintis asal Prancis ataupun sang dramawan Jerman, ataupun—tokoh yang ketiga—sang alderman asal Brazil itu. Ia sama dalam hal ketidaktahuan mereka mengenai arti luhur peristiwa-peristiwa kelakar, dan kelakar-kelakar peristiwa, yang jadi rutinitas desa ini.

Seperti yang sudah kusebut berulang-ulang di babak-babak yang telah lewat, bahwa, menurut si sosok kecil, sumber informasi mengenai mesin sayap untuk Si Gajah bisa ditemukan di Kelinti Capung. Bukan karena dia percaya maka dia kembali ke desa ini. Ingatannyalah yang telah membawanya tanpa diminta, seolah-olah ingatan-ingatan itu sendiri yang menginginkan inang tempat mereka memarasit berpindah ke waktu-waktu yang mereka sukai.

“Keren, ya, garisnya…? Ya, kan, Heib…?!” Sang Dahrun berseru, menepuk betis Onyong yang sedang berdiri sejauh satu hasta dari gundukan batu yang ia duduki.

Belum sempat Onyong—yang tersenyum lebar sembari menahan sakit akibat tepukan di kakinya—menanggapi seruan Sang Dahrun, si sosok kecil sudah mendelik saja ke arah mereka. “Ah, Sang Dahrun!” gerutu si sosok kecil dalam hati, menyalahkan seruan itu karena dia benar-benar khawatir komentar-komentar begitu hanya akan mengganggu fokus Wafda yang sedang menggambar. Dan si sosok kecil seakan-akan telah melupakan jasa ayah si bocah itu yang tadi sudah menolongnya memenangkan perdebatan tentang objek apa yang perlu digambar. Si sosok kecil lupa, kalau bukan karena Sang Dahrun, mungkin sekarang ini dia sudah kebingungan menerjemahkan bebek-bebek makan kue. (“Oh, iya…?! Aku pernah menyebut itik, ya…? Ya…, tapi kukira itu sama saja. Kupikir Wafda juga berpendapat demikian…”)

“Ck! Diam dulu, Jali…!” kata Sang Badai, menegur saudaranya.

Fokus pandangan orang-orang yang mengelilingi berugaq itu teralihkan sebentar ke arah Sang Dahrun. Sedetik kemudian setelah Sang Badai memprotes tingkah kakaknya, tatapan orang-orang kembali lekat ke peristiwa yang terjadi di atas berugaq. Si ahli tani tersenyum-senyum girang. Suara mulut Imran yang mengunyah gerupuk-opak terdengar konstan, asap rokok Onyong mengepul pekat. Oil pastel yang digariskan Wafda dan Lili, anehnya, terdengar simultan dan halus. Bagaimana, ya, bunyinya, kalau boleh aku kiaskan…? Terdengar ramah, mungkin…?

Lah, tidak sedikit hasil goresan tinta orang-orang besar, yang jadi, tampak berisik; seperti meracau. Wafda punya potensi begitu, seperti halnya garis-garis si sosok kecil di buku harian. Sementara si sosok kecil pernah merekam bunyi pensil warna ke dalam layar genggam berwarna hitam selama lima belas detik, bunyi-bunyi goresan yang dihasilkan Wafda—walaupun tidak semenggebu-gebu itu—terdengar dan terasa lebih meyakinkan.

Sedikit demi sedikit, gajah terbang Wafda dan Lili pun mulai kelihatan. *


_______
Cerita ini adalah bagian dari karangan panjang berjudul “Sejurus Pandang pada Sarah“. Bab-bab dari karangan ini lebih dulu terbit sebagai cerbung di akun Instagram @embaragram sejak tanggal 28 Agustus 2018 dan masih beroperasi hingga sekarang. Selain itu, repost dari karangan ini juga termuat di media Wattpad Embaragram.

046 – Benang Segara-Gunung

Inilah Desa Kelinti Capung! Sudah barang tentu, Boal—yang katanya bergerak atas nama para tertindih—belum kenal seekor pun capung desa ini. Apa mau dituturkan…?! Lagipula, tidak ada yang tahu pasti mengapa suara sari pati segara-gunung menghilang dari negeri yang dahulu penuh bebunyian ini. Beberapa orang mengira kalau sinyal telepon seluler, sebagaimana dampak dramatisnya terhadap lebah, adalah cerita utama yang melatari peristiwa Hijrah Tanpa Arah yang menimpa ribuan kawanan capung.

Ada banyak nelayan muda desa ini—yang semakin hari semakin tergoda untuk menjadi anak pantai saja daripada pergi melaut mencari ikan—mempercayai cerita itu. Suatu tuturan dapat berpindah dari mulut satu orang ke mulut orang lain—kalau sebagai catatan virtual, kisah itu mem-viral dari satu akun ke akun yang lain. Tuturan pun seakan-akan melewati jutaan lapis saringan sehingga bagian-bagian penting yang membangun cerita utuh tentang capung, sebetulnya, telah mengalami seleksi alam yang ekstrem. Cerita pun menjadi menyimpang, bahkan “beranak-pinak”, melahirkan puluhan versi.

Pelajar yang nyaris setiap minggu hilir mudik berpindah pulau atau keluar-masuk area pinggiran di utara dan ibu kota justru meyakini bahwa cerita tentang capung dan sinyal telepon seluler adalah versi terkonyol. “Versi catatan Facebook!” kata mereka. Tapi, di kalangan intelektual (yang juga) muda, kelompok yang percaya kutukan lebah bisa dibilang tidak sedikit meskipun mereka bergaul dengan hal-hal rasional.

Konon, terhitung sejak kehidupan serangga-serangga di dunia ini dimulai, sudah ditakdirkan bahwa Temokan Pengetahuan dijaga oleh lebah, dan Temokan itu diwariskan turun-temurun menurut tradisi buruh-buruh madu. Namun, pada suatu masa, muncul kekalapan di diri para capung. Sebagai salah satu jenis pemangsa lebah yang, sebenarnya, tidak terlalu signifikan (awalnya), capung bisa makan hingga lima puluh ekor nyamuk dalam sehari. Itu rutinitas yang sangat biasa. Tapi, ketika mereka menyadari bahwa setiap lebah dilengkapi Temokan—karenanya mereka sangat terampil menghasilkan madu—para capung mulai tergoda; mereka ingin menguasai Temokan itu.

Mereka pun menyerang dan memangsa lebah lebih sering; mereka berubah menjadi predator yang seratus kali lebih ganas dan bengis. Mereka suka menindih serangga yang lebih lemah. Capung haus kekuasaan.

Perang antara dua jenis serangga ini pun pecah. Perang yang cukup menghebohkan jagat, katanya. Dengan kekuatan Temokan Pengetahuan, demi mengakhiri perang itu, lebah lantas merapalkan kutukan yang sangat menakutkan; mereka menyumpahi capung, predator mereka, menjadi raja-raja berumur pendek. Jadilah mereka raja berumur pendek. Sekarang kaupaham, kan, kenapa capung suka kawin…? Ya, mereka harus melawan seleksi alam dengan menggenjot reproduksi. Karena capung dewasa tahu bagaimana sulitnya hidup dalam usia pendek, mereka pun menjadi penyayang anak-anak mereka yang memiliki rentang usia kehidupan lebih lama. Mereka pun mulai belajar menghargai kehidupan.

Situasi akibat kutukan itu berhasil meredakan kekalapan capung, juga meredakan ketamakan mereka. Tobat para capung dihargai dewa-dewa dengan sebuah kedudukan: capung menjadi kaum penanda kelestarian. Sejak saat itu, bangsa capung mendapatkan Temokan mereka sendiri Temokan Air Kehidupan. Dari capung-capunglah kita akan mengetahui letak sumber-sumber air bersih, dan dari capung-capunglah kita akan menyadari bahwa anak-anak manusia masih akan punya pengalaman sosial yang seimbang antara di dalam dan di luar rumah.

Dengan Temokan Air Kehidupan, dikisahkan juga bahwa bangsa-bangsa capung kemudian berbondong-bondong membawa kantung-kantung berisi energi dari Gunung Rinjani. Sampai sekarang, tidak ada yang tahu pasti apa sebenarnya energi yang mereka bawa itu. Yang jelas, dengan energi tersebut, orang-orang bisa tertawa senang dan bahagia.

Energi itu, rupanya, seperti benang, yang bisa dipakai untuk mengikat erat gunung dan lautan menjadi satu-kesatuan. Tapi tentu saja capung tidak akan pernah berhasil menjadi bangsa sepintar lebah, karena hanya lebah yang memegang Temokan Pengetahuan, apalagi membangun sarang yang bisa menyimpan madu berliter-liter. Hanya karena kegigihan mereka untuk bersyukur kepada dewa-dewa atas hadiah Temokan Air Kehidupan-lah, capung-capung ini memintal benang yang mereka bawa, semampu yang mereka bisa dan mereka tahu. Mereka memintal Benang Energi dari ujung lautan ke ujung gunung. Mereka terus memintal hingga terbentang tali-temali yang kemudian saling menganyam, lalu membentuk suatu bidang serupa kain. Orang-orang di sini percaya bahwa kain itu adalah Desa Kelinti Capung.

Tapi sepertinya, kutukan lebah tidak berakhir begitu saja. Atau mungkin, kutukan tersebut, entah bagaimana, tetap berlaku dan berjalan dengan sendirinya, beroperasi di luar kehendak bangsa lebah yang mengeluarkannya. Dan memang begitulah, sebagaimana beberapa bukti menunjukkan, bahwa Pengetahuan bisa menjadi hal yang bergerak atas namanya sendiri dan balik menguasai para penemu dan praktisi. Ramalan tentang apokalips-apokalips yang paling kurang mungkin di antara yang rasanya tak mungkin—seperti gejala demam bumi di tengah laku buruk para pengemban amanah yang terlempar dari langit—kini bukan lagi semata ramalan.

Sementara mereka sedang sengsara dan kehilangan arah gara-gara menara telekomunikasi yang semakin ramai mengisi ladang-ladang, bangsa lebah juga tidak bisa berkomentar apa-apa saat melihat beton-beton pencakar langit menyebabkan bangsa capung, predator yang dulu mereka kutuk, menjadi kehilangan arah pula. Dalam rentang periode yang sangat lama, serangga telah mengalami (dan masih akan mengalami) apa yang tadi kita sebut Hijrah Tanpa Arah. Namun begitu, tetap saja belum ada alasan yang jelas mengapa capung-capung akhirnya bermigrasi meninggalkan Kelinti Capung. Kisah-kisah mereka pun kini tinggal semata dongeng saja, sebuah legenda yang ujung-ujungnya disimpangsiurkan banyak wartawan.

Mereka memang punya banyak kisah tentang Benda Temokan, tetapi orang-orang Kelinti Capung tidak mewarisi agitasi Artaud mengenai sandiwara angkara. Desa ini sama halnya dengan Gerimis Sepanjang Tahun, sebuah negeri yang terletak seribu kilometer lebih ke arah barat. Seorang Kuwu di sana, bersama saudara laki-lakinya yang, katanya, punya otak sejenius Brecht, membangun Museum Kiat-kiat yang di dalamnya bisa kita pelajari cara menghidupkan bara api epos-epos kampung. Tidak epik seperti yang kauduga, memang, tapi mereka punya bukti berakrab-akrab dengan tanah liat dan sudah membangun tungku besar serta membakar keramik secara berjamaah setiap sebelas Oktober. Mereka, warga Gerimis Sepanjang Tahun, juga tidak pernah pusing dengan tembok keempat.

Begitu juga dengan Kelinti Capung yang menyimpan benang segara-gunung. Artaud, Brecht, dan Boal tidak pernah bertemu Wafda dan Lili, juga kedua orang tua mereka dan teman-teman orang tua mereka. Artaud, Brecht, dan Boal agaknya tidak pernah tahu bahwa Kelinti Capung—terbangun lewat sejarah lokal dan lisannya sendiri—juga punya kata yang sepadan untuk kedisiplinan, pergolakan, keganasan, kekejaman, kemustahilan, angkara, saga, dialektika, konflik, gerak-gerik, isyarat, ketertindihan, pelaku mata, citra, pematungan, dan ketidakmungkinan (yang menjadi kemungkinan): isin angsat—kelakar warga biasa. *


_______
Cerita ini adalah bagian dari karangan panjang berjudul “Sejurus Pandang pada Sarah“. Bab-bab dari karangan ini lebih dulu terbit sebagai cerbung di akun Instagram @embaragram sejak tanggal 28 Agustus 2018 dan masih beroperasi hingga sekarang. Selain itu, repost dari karangan ini juga termuat di media Wattpad Embaragram.

045 – Adakah Berugaq Menjadi Gula?

Pesan-pesan subtil tidak melulu harus dimainkan dengan metafora yang memang sebanding secara visual. Toh, pada penampakan yang bertolak belakang dalam hal kesesuaian logika rupa pun, kesubtilan itu selalu mungkin. Yang keras bisa jadi adalah gagasan yang lembut, dan sebaliknya. Maka, yang kau duga selama ini lemah barangkali merupakan sebuah baju zirah yang berarti untuk mencegah, atau menyiasati, kelemahan-kelemahan yang lain.

Lili menggoreskan oil pastel warna merahnya—yang tak sama warnanya dengan oil pastel merah Wafda itu—ke atas kertas untuk yang pertama kali; bertepatan dengan kotesan kedelapan ayahnya pada bagian gerupuk-opak besar yang digenggam tangan kekar sawo matang. Sementara itu, di atas kertas Wafda yang baru saja mengibas poni tipis tak rapinya tepat ketika kau menyimak kalimat ini (bersamaan dengan serdawa Sang Dahrun, setelah ia menuntaskan kepala ikan di piringnya dengan sekali suap), garis-garis merah—yang tak sama warnanya dengan oil pastel merah Lili itu—sudah berisik dari tadi. Tarikan garis Wafda ke sana ke mari, tegas-tegas, menyesuaikan suasana hati yang tercermin di wajahnya yang berusaha tampak serius. (Tapi tentu saja kau tidak akan bergidik melihat keseriusan wajah anak-anak, kan…?! Justru kau akan tersenyum senang.) Beberapa detik kemudian, kita bisa melihat betapa kedua bocah itu memang punya karakter yang bertolak belakang. Alih-alih berisik, garis-garis Lili mengalir lebih tenang dan halus, persis seperti garis air yang mengalir di atas dedaunan pagi hari.

Si sosok kecil mengamati setiap inci garis yang muncul dari gerakan tangan kedua bocah itu. Sesekali—Ah, kenapa aku begitu sering berkata, “Sesekali…” ?!!!—… Sesekali…, dia melemparkan pandangan ke wajah Imran dan Sang Dahrun. Setiap kali ia menatap wajah kedua orang ayah itu, pandangannya benar-benar waspada, seolah-olah dirinya sudah siap menangkap berbagai jenis komentar berisi kekaguman seorang ayah terhadap kecerdasan anak perempuannya. Atau, jangan-jangan, dia sedang bersiap-siap akan menumpahkan komentar balasan yang antisipatif dalam rangka mencegah gangguan. (Banyak seniman yang setuju bahwa komentar orang lain yang dikeluarkan di saat si seniman bekerja merupakan gangguan paling laknat seantero studio). Dia tak mau Wafda dan Lili terganggu hanya karena ayah mereka—meskipun tanpa maksud ingin mengganggu—mengomentari gambar anaknya.

Dan begitulah, karena berugaq tersebut sudah menjadi panggung, orang lain pun mulai berdatangan. Sekarang, yang berdiri atau duduk-duduk di dekat berugaq itu bukan lagi hanya Sang Dahrun dan Imran saja. Para gadis remaja yang ikut makan siang tadi pun nimbrung, ikut menonton apa yang terjadi di atas berugaq. Mereka duduk segan-segan di pinggir lantai papan berugaq itu, yang tingginya setinggi pinggang dari tanah. Para istri juga berdatangan kembali dari dapur umum. Ana duduk di samping Sang Dahrun, di gundukan batu yang tak jauh jaraknya dari berugaq; ia meletakkan segelas air putih di tepi lantai papan berugaq (sisi tepi tempat ia meletakkan gelas berisi air itu berhadap-hadapan dengan wajahnya, berjarak kira-kira enam puluh senti). Aceq, istri Imran, sambil menggendong Ben, menghampiri Imran. Dengan penuh rasa sayang, tanpa diminta tanpa aba-aba, Imran menyuapkan sekotesan gerupuk-opak ke mulut istrinya. Kedua orang istri itu pun, akhirnya, ikut mengamati apa yang terjadi di atas panggung berugaq.

Si ahli tani, yang nantinya—di suatu masa tak lama setelah masa berburu gajah terbang yang dilakukan si sosok kecil ini berlalu—akan menjadi istri seorang penyair, juga ikut meramaikan berugaq. Berbeda dengan para gadis remaja yang kusebut tadi, si ahli tani dengan sikap yang begitu akrab justru duduk di samping Wafda. Badannya sedikit membungkuk, mengamati, lebih dekat daripada si sosok kecil, garis-garis berisik anak kesayangan Sang Dahrun itu.

Dan berugaq akan semakin ramai karena ternyata, tidak berselang satu menit, sekawanan orang lain tampak sedang mendekati berugaq. Mereka berjalan cepat-cepat, bukan sedang lari dari sesuatu, tapi justru sedang berusaha mengejar tempat yang teduh karena langit memang terasa lebih panas dibandingkan jam-jam sebelum makan siang tadi. Di antara mereka, ada dua orang yang sudah kaukenal, tentu saja: Sang Badai dan Onyong.

“Sialan! Mengapa berugaq mendadak jadi ramai di saat aku harus berkonsentrasi dengan kedua bocah ini…?!” si sosok kecil menggerutu dalam hati, sambil memperhatikan sekelilingnya.

Angin sepoi-sepoi yang sebelumnya terasa melewati celah-celah tiang berugaq, kini sudah tidak bisa menyentuh leher bagian belakang si sosok kecil lagi. Orang-orang yang berkerumun mengelilingi berugaq—Sang Badai dan Onyong bergerak cepat ke dapur umum dan sekejap kemudian muncul di samping berugaq dengan piring berisi nasi dan lauk di tangan mereka (adegannya persis seperti Imran dan Sang Dahrun ketika akan mulai makan siang tadi)—menghambat jalur tanpa hambatan angin-angin segar itu. Selain Sang Badai dan Onyong, beberapa pemuda yang namanya nanti akan kau dengar satu demi satu juga ikut mengerumuni berugaq. Oh, berugaq berlantai papan kayu setinggi pinggang, oh…, betapa kau kini tampak seperti sebutir gula pasir yang dikerumuni semut-semut!

Tapi…, tunggu dulu! Bukankah pesan-pesan subtil, sekali lagi, tidak mesti hadir dalam wujud rupa yang sepadan…? Ruang narasi kita akan benar-benar membosankan jika berugaq yang ramai itu, lagi-lagi, dilihat hanya sebatas bagaikan gula yang tercecer di lantai. Iya, kan…?

Paling tidak, begitulah yang sampai saat ini selalu diyakini oleh si sosok kecil, si pemuda yang, tatkala semakin ramai orang datang ke berugaq, tampak semakin gugup saja. Dia bersiap-siap menanti bukan hanya komentar para ayah, tetapi juga pertanyaan dari para bocah. *


_______
Cerita ini adalah bagian dari karangan panjang berjudul “Sejurus Pandang pada Sarah“. Bab-bab dari karangan ini lebih dulu terbit sebagai cerbung di akun Instagram @embaragram sejak tanggal 28 Agustus 2018 dan masih beroperasi hingga sekarang. Selain itu, repost dari karangan ini juga termuat di media Wattpad Embaragram.

044 – Gerupuk-Opak di Mula Gambar Gajah

Akhirnya berugaq itu sekarang menjadi sebuah panggung yang di atasnya duduk tiga orang. Ketiganya seakan larut dalam pusaran saling adu “kekuatan untuk saling memengaruhi” satu sama lain. Dua anak perempuan kecil bersekutu, sedangkan satu orang laki-laki dewasa di depan mereka harus pasrah menerima nasibnya untuk bertarung seorang diri.

Sebenarnya, kalau kaulihat dengan saksama, Wafda dan Lili bukan sedang menolak ajakan untuk menggambar. Mereka justru senang sekali. Hanya saja, si sosok kecil yang merayu-rayu mereka berdua itu memang punya masalah dalam hal komunikasi, bukan hanya dengan anak kecil tapi juga dengan siapa pun. Kendala komunikasi itu tentu saja memicu interaksi yang tak nyaman. Dampaknya, sikap malu-malu kucing Wafda dan Lili—mungkin karena tempaan singkat pascagempa yang membuat kewaspadaan mereka muncul lebih sering daripada sebelumnya—malah keluar dalam bentuk pertahanan diri yang ketat; mereka mempertahankan diri dari… apa pun, apalagi dari rayuan-rayuan konyol tanpa alasan masuk akal. (Kaukira menggambar gajah terbang itu menarik…?!)

Ayah Lili, si Imran, datang belakangan, tepat di saat gadis-gadis remaja yang ikut serta makan siang tadi mengangkut piring-piring kotor mereka kembali ke dapur umum. Istrinya dan Ana (ibunya Wafda—istri Sang Dahrun), serta si ahli tani, sudah lebih dulu menyimpan sisa lauk-pauk dan plecing kangkung mereka ke dalam lemari yang letaknya bersebelahan dengan komputer-komputer bekas yang dua minggu terakhir ini aktif digunakan oleh Sang Badai dan beberapa temannya. (Dengan komputer itu, mereka mencetak banyak hal, mulai dari tulisan, gambar, logo-logo, dan segala macam surat. Mereka juga memindahkan banyak rekaman foto dan video ke dalam komputer itu).

Seperti yang kita tahu, ada Sang Dahrun juga di sana sekarang. Imran dan Sang Dahrun tidak duduk di atas panggung berugaq. Imran berdiri di atas tanah yang retak-retak itu, lutut dan pahanya menempel ke tepi lantai berugaq. Ia berdiri dekat sekali dengan anaknya. Sementara itu, Sang Dahrun duduk sedikit lebih jauh, di atas bongkahan batu yang besar. Dia sedang merokok. Kedua ayah ini memperhatikan anak mereka yang duduk di atas berugaq dan tengah diajak menggambar oleh seorang teman mereka yang, sepertinya, hari ini, baru saja sembuh dari panas dalam.

“Aku mau warna merah!” kata Wafda.

“Kalau kau…?” si sosok kecil bertanya kepada Lili, sembari menyerahkan oil pastel kepada Wafda. “…mau krayon warna kuning…?” (Betapa tak bertanggung jawabnya si sosok kecil ini karena, di hadapan kedua bocah itu, ia malah menyebut kata krayon, padahal alat gambar yang mereka gunakan adalah pastel minyak.)

Menanggapi pertanyaan si sosok kecil, Lili menggeleng kepala saja dengan gerakan yang malu-malu sekali. Dia melirik Wafda; Wafda juga meliriknya. Lili kemudian tersenyum, dan ia menunjuk sebatang oil pastel lainnya yang juga berwarna merah meskipun tak sama merahnya dengan yang sedang dipegang Wafda. Kotak kecil yang memuat semua batang oil pastel itu tampak lusuh dan berantakan.

“Ini krayon untukmu…” kata si sosok kecil; ia memindahkan sebatang oil pastel yang ditunjuk Lili tadi dari kotak oil pastel ke atas sehelai kertas yang ada di hadapan si bocah.

Meskipun sempat mengagetkan karena muncul tiba-tiba di depan wajah si sosok kecil, dan bersama Imran juga sempat membantu si sosok kecil menyelesaikan perdebatan dengan anaknya sendiri dan Lili, Sang Dahrun tetap menganggap bahwa waktu, toh, berjalan seperti biasanya. Dia tidak pernah mengakui kalau dirinya sering muncul tiba-tiba. Menurutnya, orang-orang saja yang sering kali abai dengan apa yang ada di sebelah bahu kanan dan bahu kiri mereka sehingga mereka jarang menyadari jika ada orang lain datang. Itulah yang sebenarnya terjadi, menurut Sang Dahrun. Dia tentu saja tidak akan mau repot-repot membuang-buang tenaga dalamnya, berteleportasi dari suatu tempat yang nun jauh letaknya, hanya untuk memenuhi tuntutan perutnya yang keroncong. Tapi, nyatanya, siang itu perutnya memang sedang keroncongan. Karena para perempuan sudah membereskan meja makan, jadi dia harus bergerak sendiri mengambil seporsi nasi.

Imran juga begitu. Sambil mengikuti Sang Dahrun yang berjalan menuju dapur, dia berkata kepada Lili, “Nanti kita bikin gajah terbang yang makan baberok saja, ya…?!”

Mata si sosok kecil mengikuti gerak badan kedua ayah yang seketika menghilang ke balik tembok triplek berugaq. Keningnya berkerut, bukan karena kesal, tapi karena matahari semakin terik meskipun sudah lewat pukul dua siang.

Beberapa saat kemudian, Sang Dahrun muncul lagi dengan sepiring nasi yang dilengkapi lauk ikan goreng yang dilumuri sambal merah dan ditumpuki batang-batang layu sayur kangkung yang panjang-panjang. Di atas piring itu juga ada gerupuk-opak, berukuran sangat besar, lebih besar dari ukuran piringnya. Sedangkan Imran, datang dengan hanya membawa gerupuk-opak yang sudah ditumpuki sayur kangkung, ditaburi suwiran ayam, dan dilengkapi dengan tumpahan sambal plecing. Tumpukannya tinggi sekali. Sedikit demi sedikit, Imran mengotes bagian-bagian tepi opak sambil sesekali mencicipi lauk yang berada di tengah-tengahnya. Hingga nanti, beberapa menit kemudian, ketika kuah plecing itu berhasil meresap ke dalam sebagian besar daging gerupuk-opak, Imran akan melipatnya seperti selapis panekuk yang halus-lembut, untuk kemudian dilumat lahap ke dalam mulutnya.

Keduanya menyantap hidangan makan siang yang tampak begitu mewah. Demikianlah, seperti yang sudah dicatat oleh si ahli tani, bahwa gempuran keluh bumi dan langit nyatanya tak menyurutkan semangat orang-orang di Kelinti Capung untuk memanjakan lidah-lidah mereka sendiri. *


_______
Cerita ini adalah bagian dari karangan panjang berjudul “Sejurus Pandang pada Sarah“. Bab-bab dari karangan ini lebih dulu terbit sebagai cerbung di akun Instagram @embaragram sejak tanggal 28 Agustus 2018 dan masih beroperasi hingga sekarang. Selain itu, repost dari karangan ini juga termuat di media Wattpad Embaragram.

043 – Ingatan yang Melintas sebelum Wafda dan Lili Menggambar

Aku sekarang sedang tergoda, Sarah, untuk berpikir bahwa perjalananku melompati ingatan ke masa depan adalah bagian dari takdir yang tidak bisa kita hindari, yaitu takdir untuk tidak berbicara hanya tentang gajah yang ingin terbang. Sedangkan di Kelinti Capung, yang kaulihat adalah sapi di mana-mana. Tanduk binatang mungkin bisa menerjemahkan tindak tanduk manusia maka suara hewan-hewan yang hilang bisa mencerminkan tingkat kekesalan bumi sekaligus gegar lingkungan yang kita alami semua.

Wafda dan Lili, akhirnya, mau duduk tenang di hadapanku sekarang. Ini terjadi setelah aku terlibat baku debat yang sengit dengan mereka; kulewati proses lobi yang sangat berbelit. Kulobi mereka untuk mau menangguhkan gambar bebek makan kue itu, mengingat kami tak lagi punya banyak waktu. Aku cukup kesulitan, sebenarnya, saat meyakinkan mereka bahwa gajah terbang—aku belum menyinggung soal mesin sayap—adalah peristiwa penting untuk imajinasi. Paling tidak, penting untuk imajinasi mereka sendiri. Untung saja aku tertolong: komunikasi kami menjadi agak lancar di ujung debat. Ayah masing-masing kedua bocah itu membantuku menyusun kata-kata. (Aku sudah cerita, kan, siapa ayahnya Lili…? Imran. Kau ingat…?)

Dengan sikap badan yang tegas, wajah mereka tampak berani, jadinya. Aku rasa, Wafda sudah paham betapa aku sangat mengharapkan bantuannya sehingga dia mulai…, kau tahu…, “jual mahal”. Tapi sudah tidak penting lagi berapa pun mahalnya ia menjual kemauan, aku bisa “membelinya” karena ayah gadis itu, sang-sakti-mandraguna-Sang-Dahrun, tadi sudah membujuknya untuk mau ikut menggambar bersamaku. Walaupun memberungut, ia tak bisa menolak permintaan ayahnya. Di momen-momen seperti itulah aku ingat Kartini—tentu saja Kartini lewat penggambaran Pram; kau tidak sedang berpikir kalau aku pernah bertemu dengan perempuan itu, kan?

Moetidjo bilang padaku suatu hari, bahwa Kartini tak pernah membantah bapaknya. Dari cerita itu, entah bagaimana dan entah sejak kapan, aku sudah meyakini bahwa, sepemberontak apa pun seorang anak perempuan, ia akan luluh di hadapan ayahnya yang baik hati. Ayah yang baik hati. Aku tidak menghitung ayah-ayah brengsek yang menyia-nyiakan kecerdasan anak-anaknya dan kesetiaan istrinya. Untuk ayah-ayah yang seperti itu, kita benamkan saja mereka di rawa bersama-sama, dan jangan pernah beri mereka kue; karena kue hanya untuk para bebek. Meskipun ayah Kartini belum tentu sebaik yang aku bayangkan, tapi aku tidak mengerti mengapa aku memilih untuk meyakininya, bahwa ayah yang baik adalah pangkal bagi anak yang baik.

Kau tahu, ada seorang wartawan yang sekarang tinggal bersama istri barunya—sayang sekali bukan penulis zine penuh keceriaan dan imajinasi anak-anak itu yang menjadi ibu dari anaknya yang sekarang—di sebuah kota yang masih diperintah oleh Sultan. Tapi si wartawan itu belum melupakan dinding-atap yang menyusun kamar-kamar sebuah komplek kos-kosan di bilangan jalur besar area selatan Ibukota, yang lokasinya nyaris menyentuh sebuah kota satelit yang porak poranda akibat kebodohan mantan wali kotanya sendiri. (Apa benar dia masih suka makan ubi?) Di balik pintu salah satu kamar kos, pada bulan yang sama dengan bulan ketika engkau mendengar cerita ini, beberapa tahun yang lalu, si wartawan menulis bahwa Kartini mungkin akan menjadi pegiat lingkungan paling unggul jika saja ia mengalami apa yang dialami oleh ayah dan ibumu hari ini, Sarah; mengalami apa yang Bumi alami, mengalami apa yang orang-orang hari ini hindari dengan cara menetap di dalam rumah saja. *


_______
Cerita ini adalah bagian dari karangan panjang berjudul “Sejurus Pandang pada Sarah“. Bab-bab dari karangan ini lebih dulu terbit sebagai cerbung di akun Instagram @embaragram sejak tanggal 28 Agustus 2018 dan masih beroperasi hingga sekarang. Selain itu, repost dari karangan ini juga termuat di media Wattpad Embaragram.