kritikus dan pengkarya

“…yang paling mengerikan lagi bagi situasi perfileman Indonesia adalah ketika sekelompok kritikus ingin membangun tradisi kritik di Indonesia dengan baik, namun bagi sebagian sutradara yang dikritik hal itu membuatnya geram. Dan yang paling lucu adalah, antara pengkritik dan sutradara itu, sebenarnya saling berkawan, tetapi ‘sutradara-sutradara muda’ yang tidak mengetahui peta itu justru menganggap bahwa si kritikus adalah orang yang ‘harus dimusuhi’. Ini gila. Padahal, kritik itu menjadi salah satu infrastruktur yang penting untuk pengembangan filem. Dan di negara mana pun, antara kritikus dan sutradara itu selalu berkawan walau ia selalu berdebat habis-habisan di forum, tetapi setelah itu ia minum kopi bersama. Dan ruang-ruang seperti Kineforum menjadi salah satu infrastruktur yang juga harus dibangun. Di ruang inilah para sutradara handal itu dapat bernegosiasi tentang artistik ataupun isu yang ingin diangkatnya. Ruang menonton seperti XXI biarlah berjalan. Ia sudah memiliki mekanismenya sendiri yang tidak akan pernah bangkrut. Kini, giliran ruang seperti Kineforum lah yang harus dibangun oleh orang-orang yang perduli terhadap filem ataupun orang-orang yang mengaku ‘sutradara’, tidak masalah. Yang penting, ruang wacana harus tetap hidup, dengan begitu filem-filem yang diputar di bioskop komersil juga akan semakin baik.”

– Mahardika Yudha, 26 Mei 2012