Mencoba Mengurai Benang Hantu

Satu malam sebelum malam Tapa Kelomang ditiupkan untuk menyambut empat orang pembawa obor-obor kecil yang, lagi-lagi, menyenandungkan syair Pong Pang Kelinti Capung di atas laut; satu malam sebelum saya melihat cahaya obor di dermaga; saya kebetulan duduk di atas motor, sambil menunggu kedatangan Muhammad Gozali yang tengah mengambil barangnya yang ketinggalan di Taman Sari.

Tulisan ini adalah esai reflektif tentang proyek residensi Bangsal Menggawe 2019, bersama-sama dengan Otty Widasari, Maria Silalahi, Pingkan Polla, Dhuha Ramadhani, Theo Nugraha, dan Anggraeni Widhiasih yang saya presentasikan di Forum Lenteng (21 Maret 2019).

Video kumpulan senyuman warga Pemenang, bagian dari proyek Bangsal Menggawe 2019: “Museum Dongeng”. (Foto: arsip Pasirputih).

Saya khusyuk menatap ke arah cahaya yang berpendar dari layar yang melekat di sebuah bangunan batu, berpadu menyerupai monumen kecil, di depan terminal. Di layar itu, kita bisa melihat ratusan rekaman orang-orang Pemenang yang tengah tersenyum. Dalam format video looping, kita menyaksikan senyuman yang berulang-ulang.

Tapi kala itu saya tak hanya melihat representasi senyuman di layar, tetapi juga senyum (bahkan gelak tawa gembira) dari tiga hingga lima orang pemuda lokal yang, seperti saya, khusyuk menonton senyum-senyuman dari teman-teman mereka.

Momen puitik, kalau boleh saya bilang begitu, menghampiri saya dengan cara menghadirkan secara sekaligus dua macam kenyataan: dunia representasi dan dunia non-representasi.

Pada suatu hari ketika sedang menyunting tulisan Fahrul Fiqi Izomi, datanglah Muhammad Sibawaihi dan Muhammad Gozali ke ruangan yang saya gunakan untuk bekerja di depan laptop, lengkap dengan pakaian yang menunjukkan bahwa mereka, sepertinya, baru pulang dari pengajian. Dan memang, mereka baru pulang dari kegiatan mengaji—membaca surat Yasin—di rumah Kadus Ihsan, Karang Bedil.

Baik Sibawaihi maupun Gozali bercerita tentang peristiwa “flashmob membaca Yasin” itu dan kebingungan bercampur kekhusyukan si tuan rumah menghadapi situasi yang mengejutkan. Saya sebut flashmob karena dalam praktiknya, aksi yang mereka lakukan memang seperi itu: datang beramai-ramai membuat suatu peristiwa, lalu bubar seketika, menyisakan tanda tanya di orang-orang yang menyaksikan atau mengalaminya.

Gozali mengulang cerita peristiwa membaca Yasin yang merupakan bagian dari Teater Isin Angsat, sebuah proyek seni yang memberikan kejutan kepada orang-orang yang suka mengejutkan, dengan kerangka naskahnya: Gozali mendapat amanah dari Bapuq Basin melalui mimpi, untuk membaca Yasin di rumah Kadus Ihsan.

Meskipun saya tak ikut serta membaca Yasin, cerita Gozali mampu memberikan gambaran di kepala saya tentang suatu kejadian yang juga menggabungkan pengalaman personal dan pengalaman persona secara bersamaan—sebuah momen teatrikal yang juga bermain-main di ambang batas antara dunia konsep dan dunia sehari-hari.

Muhammad Imran, Dhuha Ramadhani, dan Theo Nugraha mencoba memasang kabel untuk disalurkan ke berugaq warga. (Foto: arsip Pasirputih).

Hal lain yang cukup menempel di kepala saya adalah peristiwa di saat Muhammad Imran dan Dhuha Ramadhani bolak-balik lebih dari sehari-duahari setiap minggu, berjalan atau mengendarai motor, membawa bergulung-gulung kabel dan TV sembari mengenakan topi bambu (walaupun tidak selalu). Mereka melawan terik mentari untuk mencari celah bagaimana caranya sebuah alat operator pemutar video yang ada di Berugaq Pasirputih terhubung ke berugaq milik warga.

Aktivitas bolak-balik itu terjadi berkali-kali di hadapan saya, di waktu-waktu ketika saya pergi membuang hajat ke toilet atau mengambil makan siang ke dapur, atau sekadar untuk merokok di Berugaq Pasirputih.

Dokumentasi kegiatan persiapan Berugaq TV. (Foto: arsip Pasirputih).

Berugaq TV memang nyatanya mengejar output berupa tayangan televisi tentang aktivitas sehari-hari masyarakat, yang ditampilkan di berugaq-berugaq atau rumah-rumah beberapa warga, yang sengaja dipilih untuk menjadi situs-situs perintis bagi keberlanjutan pengelolaan distribusi informasi dan pengarsipan warga Pemenang.

Dokumentasi kegiatan persiapan Berugaq TV. (Foto: arsip Pasirputih).

Ia menjadi siasat yang mengambil manfaat dari fenomena guyub khas masyarakat kita, seolah kembali menerapkan teknis paling dasar dari bermulanya aktivitas memproduksi dan mendistribusikan informasi: orang-orang berbondong-bondong mendatangi papan pengumuman jadwal keberangkatan kapal angkutan.

Dokumentasi kegiatan persiapan Berugaq TV. (Foto: arsip Pasirputih).

Juga membuka pusat baru bagi pergaulan sosial dan ekspektasi di masa depan akan kosmopolitanisme ala warga Lombok yang memilih rehat sejenak dari bising-bising pariwisata. Nyatanya, Shift Café menjadi tempat bagi peluncuran perdana Berugaq TV; café itu dikelola oleh pemuda-pemuda yang sadar untuk beranjak dari dominasi pariwisata dan berinisiatif melakukan penanaman kembali daerah-daerah hutan di Pemenang yang telah rusak, dengan membentuk kelompok baru bernama Bale Kebon.

Muhammad Imran (di atas motor) dan Dhuha Ramadhani ketika bersiap-siap mengangkut TV ke berugaq warga, untuk presentasi Berugaq TV. (Foto: arsip Pasirputih).

Tapi bagi saya pribadi, visual yang berulang-ulang saya lihat sekelebat ini justru lebih menarik hati: peristiwanya seakan menjadi mantra gestural, alih-alih suara untuk indera pendengaran, yang dari aktivitas semacam itulah—berdasarkan pengakuan dua pegiatnya—dapat dipahami bagaimana suatu sistem jaringan, baik itu jaringan elektronis maupun jaringan ketetanggaan, bekerja dalam kehidupan kita. Di sini, menurut saya, juga terjadi dua gagasan sekaligus: otak-atik teknologis dan otak-atik sosial. Otak-atik yang berulang-ulang, membuahkan suatu kekhusyukan tertentu yang tidak hanya memengaruhi tubuh pada satu titik di lokasi ritual, tetapi lebih berupa penjelajahan ruang-ruang masyarakat: Imran dan Dhuha seakan menjadi pengelana fenomena tetangga, bagi saya.


Selanjutnya, apalagi yang berulang-ulang selain mereka?

Mencangkul…

Memangkas…

Dan membersihkan… lapangan berumput.

Dokumentasi salah satu pertandingan Bangsal Cup U-13, tahun 2019, bagian dari Bangsal Menggawe 2019: “Museum Dongeng”. (Foto: arsip Pasirputih).

Menghadirkan keramaian yang terancam punah akibat privatisasi ruang yang terjadi di Pemenang, Bangsal Cup tidak hanya menjadi semacam perayaan akan keharuman namanya sebagai penghasil atlet kelas dunia, atau sekadar wadah untuk menyalurkan minat di bidang tertentu, ataupun semata cara untuk memupuk mimpi menjadi pemain profesional di masa depan. Bukan hanya itu.

Turnamen tahunan ini telah menjadi wujud dari konsistensi “Pemberdayaan Raga” tanpa embel-embel laba, yang memperjuangkan hak warga atas ruang-ruang terbuka.

Kerangka konsep saya mengenai hubungan antara “Pemberdayaan Raga” dan “Pemberdayaan Seni”.

Moetidjo pernah berpendapat bahwa “Kerja Ragawi” itu adalah hal yang berbeda dengan “Kerja Seni”, dan ia juga sempat mengkritisi bahwa kerja-kerja pemberdayaan kerap meniadakan “takdir seni”. Namun, di mata saya, usaha penyelenggaraan Bangsal Cup yang konsisten, barangkali, bisa kita petakan seperti ini: bahwa sesungguhnya, “pengasingan” dalam konteks pewacanaan seni (yang tak jarang terjebak dalam subjektivitas dan intelektualitas elite), pasti akan tetap memiliki hubungan dengan “penempatan” dalam konteks pewacanaan kerja pemberdayaan yang melebur kepada warga. Dalam konteks itu, area yang penuh jebakan-jebakan inilah, sebetulnya, menurut saya, yang menjadi area tempat Bangsal Menggawe bereksperimen—sebagaimana yang bisa kita telusuri dari pemikran Otty Widasari sejak Bangsal Menggawe “Membasaq”. Kita, mau tidak mau, memang harus bertransaksi di antara berbagai kepentingan.

Dalam konteks itu, aktivisme yang diusahakan oleh AKUMASSA ketika bersama-sama Pasirputih menginisiasi festival rakyat ini perlu kita refleksikan lebih dalam, bukan sebagai aktivisme yang berorientasi propagandis (dalam artian mengejar massa untuk menumbangkan kekuasaan), tetapi justru aktivisme yang rendah hati (mencintai narasi dan merayakannya dengan membuat peristiwa-peristiwa yang bisa dinarasikan lagi, dan lagi).

Meskipun terlalu dini untuk menyebutkannya, tapi saya berpikir bahwa aktivisme Bangsal Menggawe adalah “aktivisme” yang berusaha melampaui aktivisime.

Pasirputih, sebagai inisiator utama pesta itu, pada kenyataannya masih kerap berada dalam keragu-raguan atau kegamangan soal keterputusan dengan warga dan lingkungan sekitarnya. Komunitas yang sudah berumur satu dekade ini tentu tidak lepas dari kritik.

Akan tetapi, apa yang kemudian mereka ulangkan setiap tahun lewat Bangsal Menggawe, lambat laun akan menjadi tuntunan baru untuk mewujudkan cita-cita Bangsal Menggawe sebagai peristiwa yang benar-benar milik warga.

Proyek-proyek yang digarap dalam Bangsal Menggawe 2019: “Museum Dongeng”, tetap berada pada jalur untuk menjadi “tidak putus” dengan lingkungan sekitar. Mengumpulkan bambu, minyak jelantah, dan botol-botol bekas; senam ke sekolah-sekolah dan perkumpulan ibu-ibu; tawar-menawar di berugaq untuk dijadikan ruang presentasi TV; gotong-royong di lapangan; dan bahkan menggugah pelabuhan lewat kegiatan mengamen yang dibayar cukup hanya dengan senyuman; dan juga menakil. Itu semua terjadi berulang-ulang.

Buat saya, semua peristiwa itu adalah mantra (yang berarti juga doa), bukan hanya karena beragam peristiwa-peristiwa kecil yang terjadi berulang-ulang baik dalam gerak fisik, pengeinderaan, dan pewacanaan—DISKUSI HAMPIR SETIAP MALAM, dan bukan juga karena pegiatnya berbondong-bondong menghimbau orang-orang untuk berdoa ke Bangsal, tetapi juga “mengulangi” prinsip dasar dari seni berkomunikasi: SAMBUNG HATI, menyuarakan bahasa-bahasa yang diam, …

Salah satu sketsa dari penelitian tentang pemetaan bunyi-bunyi di lingkungan Pemenang yang digarap oleh Theo Nugraha untuk Bangsal Menggawe 2019: “Museum Dongeng”. (Foto: arsip Pasirputih).

melalui dongeng-dongeng yang berbunyi di berugaq-berugaq, …

Maestro Rudat Zakaria mensosialisasikan senam tari rudat di sekolah-sekolah dalam rangka Bangsal Menggawe 2019: “Museum Dongeng”. (Foto: arsip Pasirputih).

melintasi keluhan-keluhan sang maestro—yang juga berulang-ulang …

Tapa Kelomang, karya kolaborasi Maria Silalahi, Mintarja, dan warga Pemenang untuk Bangsal Menggawe 2019: “Museum Dongeng”. (Foto: Otty Widasari).

Membangun Tapa Kelomang: bertapa seperti keong.

Lewat bahasa-bahasa berulang—bunyi suara, gerak raga, dan pengalaman peristiwa—mereka menjadi mantra-mantra ampuh dalam tawar-menawar antara kearifan budaya dan pembangunan desa. Sebagai mantra, bahasa-bahasa ini membangkitkan apa yang selama ini diyakini ada tapi abai terlihat, apa yang selama ini selalu dirasa tapi jarang diungkap.

Mantra-mantra inilah yang mengurai benang-benang lampau, untuk melampaui sekat-sekat antardivisi sosial, untuk dijahit kembali menjadi peta kewargaan Pemenang yang sesungguhnya.


Ketika merancang presentasi ini semalam, dengan sedikit sok tahu saya memilih kata “Aksi-Trans” sebagai judul presentasi, tapi belakangan saya justru kelabakan untuk mengurai istilah yang lahir dari wacana Modernisme Barat itu. Sang kurator menyarankan saya untuk mencoba memahami “benang hantu”. Hanya “benang hantu”. Hanya “benang hantu”.

Dan saya kira, benang-benang itu tersembunyi, salah satunya, di lirik ini:

 

Lirik tentang aktivitas sehari-hari seorang ibu yang menimang-nimang anaknya di tengah hari desa, berkali-kali melantunkan syair itu, dengan tujuan sederhana saja, mungkin, yaitu untuk menentramkan si anak sembari meneruskan pekerjaannya… (saya selalu membayangkan ibu itu berdiri di tengah-tengah sawah siang hari). Pemenang memang mesti harus terus bekerja.

Foto bersama para pemimpin umat agama Islam, Hindu, dan Budha di Pemenang, pada malam puncak Bangsal Menggawe 2019. (Foto: Hafiz Rancajale).

Transendensi Bangsal Menggawe bukanlah perihal memistifikasi narasi, tetapi ia akan mencapai titik ultima aktivismenya karena konsistensi.

_______

Unduh materi dalam bentuk Power Point dari esai ini di sini: Presentasi Bangsal Menggawe untuk Forum Lenteng.

Carangan atas Carangan

“Kalau Afrizal bilang ‘penempatan’, saya ‘pengasingan’, itu sebetulnya dua model yang beda. ‘Pengasingan’ itu ‘takdir seni’; ‘penempatan’ itu ‘kerja ragawi’…!” kata Ugeng T. Moetidjo, lantas dia tertawa, bersamaan dengan tawa hadirin yang mendengarkan diskusi itu.

Ini adalah tulisan yang dibuat sekadar untuk mengingat-ingat kembali pengalaman saya menghadiri dan mendengarkan diskusi kemarin sore, setelah cukup lama tidak hadir di sebuah acara diskusi yang menjungkir-balikkan isi kepala saya.

Salah satu karya Ugeng T. Moetidjo di pameran tunggalnya yang bertajuk Gambaur (di galerikertas-Studiohanafi, Depok, 13 Okt – 5 Nov 2018). (Foto: Pingkan Polla @pingtje)

Ugeng T. Moetidjo, 2012
ruang dalam ruang luar
cat akrilik dan objek temuan
pada kertas 60 x 40 cm.
(Foto: Manshur Zikri).

“Akhir-akhir ini,” Ugeng melanjutkan. “sebetulnya, kata ‘pengasingan’ itu hampir tidak digunakan karena dia membuat modus seni terasa seperti terjangkiti fungsi-fungsi laten kita. Jadi, seni-seni yang begitu ingin disebut seni tapi melakukan proses penelitian itu yang ingin, sebetulnya, meniadakan takdir seni. Mereka ingin membunuh apa yang disebut sebagai ‘tuhan seni’ meskipun sebetulnya ‘tuhan seni’ sudah tidak ada.

“Perbedaan antara—kita bisa singkirkan ini—cara kita melihat sekarang, sebetulnya—bahkan di karya-karya yang menolak ‘seni pengasingan’ itu—adalah kenyataan bahwa mereka tidak mengubah kata ‘penciptaan’, ‘pencipta’, menjadi ‘produser’ dan ‘pembuat’. Padahal, seharusnya, pada kerja-kerja seni yang ‘non-pengasingan’ itu, mereka menggunakan kata ‘produser’ ketimbang ‘the creation’. Karena, ‘the creation’ itu warisan Michelangelo yang adanya di Gereja Sistine, dan itu erat hubungannya dengan bagaimana seni terhubung dengan nilai-nilai perilaku masyarakatnya.

Ugeng T. Moetidjo, 2014
tajin
bulpen, akrilik dan objek temuan
pada kertas 19 x 12 cm.
(Foto: Manshur Zikri).

“Kenapa ‘penempatan’ itu merupakan ‘raga’? Karena itu tadi, saya sudah bilang, bahwa tugas manusia di dunia cuma dua: ‘berolahraga’ dan ‘berdoa’. Nah, saya ingin masuk yang ‘berdoa’ saja dibanding yang ‘berolahraga’, karena yang ‘berolahraga’ tidak perlu orang ketahui.”

Kemudian Afrizal Malna mengganggu pendapat Ugeng T. Moetidjo dengan menyinggung kata ‘kerja’, dan si seniman yang tengah berpameran tunggal itu menjawab, “Berolahraga itu bukannya ‘bekerja’ juga, ya? Karena… ‘memelintir tubuh’.”

Yuki Aditya (kiri), Alifah Melisa (tengah), dan Anggraeni Widhiasih (kanan), tiga orang anggota Forum Lenteng, berpose di depan karya-karya gambar Ugeng T. Moetidjo di pameran tunggal bertajuk “Gambaur”(di galerikertas-Studiohanafi, Depok, 13 Okt – 5 Nov 2018). (Foto: Pingkan Polla @pingkan.jpg).


Kalimat-kalimat kutipan dari Ugeng dalam tulisan ini adalah penggalan—yang sudah saya sunting—dari isi rekaman audio diskusi pada pameran tunggal Ugeng T. Moetidjo. Diskusi itu dimoderatori oleh Afrizal Malna, menghadirkan pembicara Cecil Mariani dan Ugeng T. Moetidjo, dilangsungkan pada hari Minggu, 21 Oktober 2018 di galerikertas-Studiohanafi, dan adalah bagian dari rangkaian acara pameran tunggal Ugeng T. Moetidjo yang berjudul “Gambaur” (berlangsung dari 13 Oktober hingga 5 November 2018).

Konon—seperti yang beberapa kali disebut oleh orang-orang di Studiohanafi—untuk kesemua hal yang berkaitan dengan pameran tunggalnya itu, Ugeng mengurasinya sendiri (dia menjadi kurator bagi pameran tunggalnya), termasuk kudapan yang dapat disantap oleh pengunjung pameran.

Jujur saja, saya belum dapat berkomentar banyak karena bahkan untuk memahami satu per satu bagian-bagian atau topik-topik atau kata-kata (istilah-istilah) serta konsep-konsep, apalagi narasi-narasi historis, yang disinggung para pembicara dan sejumlah hadirin yang berpendapat pada diskusi itu, saya masih sangat kesulitan.

Saya setuju kata-kata Hafiz, yang ia utarakan pada hari itu, bahwa membaca Ugeng bukan lagi persoalan tentang membaca garis-garisnya, juga bukan soal bagaimana mempertanyakan tawaran estetikanya. Sebab, semua tingkatan itu sudah ‘diselesaikan’ oleh Ugeng. Mungkin maksud Hafiz, si aki-aki tua nan tengil ini sudah berada di titik yang beyond, dan karena itu, seharusnya, kita perlu membongkar kode-kode yang kerap dimainkan Ugeng, bahkan pada pameran tunggalnya yang mengejutkan banyak orang itu. Saya pun, pagi ini, memahaminya bahwa Ugeng barangkali sudah berada di level yang sering disebut-sebut Hafiz dalam banyak diskusi-diskusi santai kami di Forum Lenteng, yaitu level bahwa “si seniman itu sendirilah seni-nya”. Beban-beban kultural yang ada di tubuh Ugeng, adalah hal utama yang perlu dibongkar ketimbang sekadar menganalisa kemampuan teknis maupun estetis dari praktik berkesenian Ugeng.

Ya, ini hanya catatan selintas, bukan ulasan tentang pameran tunggal Ugeng. Jika ingin menghadirkan ulasan, saya harus mengerjakannya dengan benar-benar matang dan teliti—harus sedisiplin ketika saya mengerjakan esai kuratorial untuk dua pameran tunggal Otty Widasari. Saya juga sempat terpikir untuk menulis esai reflektif tentang pameran tunggal Hafiz. Dan itu belum bisa saya lakukan sekarang.

Saya senang untuk mengakui, bahwa di dalam perjalanan hidup saya berkesenian hingga detik ini, tiga nama seniman—Otty Widasari, Hafiz, dan Ugeng T. Moetidjo—adalah legenda kebudayaan yang tak terbantahkan. Posisi mereka layaknya legenda para Hokage atau Tiga Sannin di mata Naruto dan para shinobi-shinobi muda Konoha, atau seperti Gold D. Roger dan para Yonko di mata Luffy dan kru bajak laut topi jerami.

Menyusul huru-hara seni yang belum lama terjadi tahun ini di Indonesia — you know what I mean! — tiga nama ini, “Otty”, “Hafiz”, dan “Ugeng”, sekarang lebih saya sikapi sebagai Yonko saja. Soalnya, saya mulai berpikir untuk move on dari keluhan tentang “Generasi Ngambek” itu, dan harus berani merangkul optimisme dari gagasan “Generasi Terburuk” (ya, saya memang sedang merujuk para rookie di komik ciptaan Eiichiro Oda). Sebagai bagian dari generasi terburuk, katakanlah seperti itu, satu-satunya cara saya—dan kawan-kawan yang juga setuju dengan hal itu—untuk bertahan dan melampaui zaman adalah dengan percaya pada militansi dan kedisiplinan untuk menggaris, mengarsir, merekam, membingkai, dan mengintervensi objek, sebanyak ribuan hingga jutaan kali, demi mendapatkan (atau setidaknya memahami) barang satu atau dua Haki yang menjadi “tangan magic” di tubuh ketiga legenda yang saya sebut itu.

Ketika meninjau lagi rekaman audio yang saya punya, saya menyadari bahwa dalam diskusi kemarin, di sesi terakhir sebelum Afrizal menutup acara, Ugeng berkali-kali menyebut kata “carangan” (sebuah istilah dalam ilmu per-wayang-an yang saya sendiri belum tahu sedikit pun tentang itu), atau tepatnya: “metode carangan”.

Satu sumber di internet menyebutkan: “Lakon carangan, atau cerita carangan adalah lakon wayang yang keluar dari jalur pakem (standar) kisah Mahabarata atau Ramayana. Namun, para pemeran dan tempat-tempat dalam cerita carangan itu tetap menggunakan tokoh-tokoh Wayang Purwa yang berdasarkan Mahabarata atau Ramayana seperti biasanya.”

Robyy Octavian, Dhanurendra Pandji, dan Syahrullah, tiga orang anggota Forum Lenteng, sedang melihat-lihat pameran tunggal “Gambaur” Ugeng T. Moetidjo di galerikerta-Studiohanafi, Depok.

Tentang konsep “carangan” atau “metode carangan”, Ugeng mencontohkan bahwa, dalam tradisi wayang kulit di Jawa, beberapa cerita diciptakan tanpa mengikuti kanon dari India. Misalnya, Petruk jadi Ratu atau Raja; hal ini tidak ada presedennya ataupun contoh kasusnya di India. “Termasuk juga, misalnya, Lima Panakawan, tapi satu Panakawan itu hilang; yang selalu tampil adalah Empat Panakawan,” kata Ugeng.

Konsep itu, oleh Ugeng, dipetik dalam rangka kritisisme-nya terhadap cara pandang kita mengenai senirupa kontemporer di Indonesia, yang menurutnya masih bersifat kanonik.

“Kanonik ini sebetulnya yang membuat saya merasa—atau teman-teman lainnya itu—mempunyai beban-beban sejarah laten yang bentuknya visual,” Ugeng berpendapat. “Saya berani katakan bahwa perkembangan histori senirupa Indonesia tidak ditentukan oleh ideologi atau konsep-konsep yang melatarinya, tetapi oleh gambaran-gambaran atau contoh-contoh karya sebagaimana yang sekarang kita lihat di media sosial. Sebetulnya media sosial pun juga bukan hal yang baru. Di tradisi raja-raja Indian atau para ningrat Indian—suku-suku Indian itu, mereka sudah punya “medsos”. Dengan cara, adalah: kalau dia kaya (ningrat), dia punya sepuluh orang [tukang] pos yang akan mengantarkan pesan dan gambar dia secepat sekarang. Atau dua puluh, atau seribu—waktu itu seribu, biasanya, kalau yang kaya. Dan juga para ningrat Rusia.

“Nah, masalahnya adalah, yang kanon itu memang kelihatan seperti punya nilai. Bahkan, Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia pun pada akhirnya percaya bahwa yang kanonik adalah sesuatu yang paling mungkin dibahas dalam studi-studi tentang senirupa ketimbang, misalnya, yang sempalan. Siapa di antara teman-teman ini yang masih ingat dengan Citro Walyuo…? Dengan Sastro Gambar…? Kedua orang ini melukis di atas kaca, salah satunya adalah menggambarkan Petruk sedang mabuk di depan istana Mangkunegara. Tetapi, di atasnya itu ada pesawat terbang Jepang.”

Terkait argumen itu, Afrizal pun bertanya kepada Ugeng, “Jadi, karya-karyamu ini carangan dari kanon…?”

Ugeng diam sebentar, lalu menjawab bahwa karya-karya di pameran tunggalnya itu adalah usaha untuk “Berpikir tentang carangan. Bahwa kemudian aku bisa atau tidak, itu kayaknya…, itu: berolahraga dan berdoa. Terus-menerus berolahraga dan berdoa.”

Karya Ugeng T. Moetidjo yang menggunakan medium konte di atas kertas kardus, merekam beton-beton urban, dipamerkan di acara pameran tunggalnya yang bertajuk “Gambaur” (di galerikertas-Studiohanafi, Depok, 13 Okt – 5 Nov 2018).

Di sini, saya dengan serampangan mencoba mengaitkan gagasan itu dengan refleksi saya tentang kisah Luffy dan kawan-kawan. Saya sengaja memilih komik sebagai sempalan dalam tulisan ini karena saya teringat bahwa suatu kali ketika Ugeng meminjami saya sebuah buku komik tentang komik, pada saat itulah saya mulai paham logika montase pada gambar. Sebelumnya, saya selalu pusing tujuh keliling karena terombang-ambing oleh penjelasan Sartre di L’Imaginaire: Psychologie phénoménologique de l’imagination—dan buku ini, jujur saja, belum pula selesai saya baca. Di dalam buku komik tentang komik tersebut, ada bagian yang menyiratkan bahwa konsep susunan gambar pada manga (komik Jepang) adalah contoh yang cukup baik dan paling jelas dalam mengategorisasikan karakteristik-karakteristik tentang montase (yang digunakan dalam logika bahasa film).

Video di akun instagram Pingkan Polla (@pingkan.jpg) yang merekam Ugeng T. Moetidjo.

 

Sebenarnya, ini hanya usaha untuk mencari-cari pintu dan jendela agar saya bisa masuk ke dalam dan lebih mudah menjelajahi kompleksitas ruang polemik yang lahir dari diskusi kemarin. Mengingat pengalaman baca komik yang satu, lalu celetukan Ugeng, Otty, atau Hafiz yang itu, lantas isi diskusi yang entah kapan di masa lalu, kemudian sedikit kutipan dari bacaan yang terbaca sepintas lalu; semuanya saya coba kait-kaitkan bukan dalam rangka mencari kesimpulan, tapi hanya untuk mengingat. Bahwa, barangkali “carangan” yang dimaksud Ugeng juga bisa dipahami seperti saya memahami keberanian kru topi jerami ketika meledek Big Mom, atau keteguhan Luffy untuk menunggu sajian makan malam dari Sanji di Pulau Kue, atau perintahnya kapada Sogeking untuk membakar bendera pemerintah di pulau Enies Lobby. Semua itu adalah keputusan-keputusan yang menyimpang dari prosedur standar per-bajak-laut-an. Meskipun digambarkan sebagai sosok yang tidak bisa berpikir sedikit lebih pintar dan bijak, keputusan-keputusan itu diambil oleh si bajak laut bertubuh karet dengan penuh kesadaran bahwa ia tidak ingin ikut apa yang sudah dilakukan oleh generasi-generasi yang lebih tua. Karenanya, ia disebut sebagai salah satu tukang onar dari “Generasi Terburuk”. Tapi, cerita kru bajak laut topi jerami selalu membuahkan harapan tentang perubahan-perubahan baru di masa depan, walaupun perubahan itu tidak bisa diprediksi.

Generasi Terburuk sekarang tengah menantang para Yonko. Kalau kita mengamini generasi millennial seni di Indonesia ini sebagai generasi terburuk senirupa Indonesia, berarti kita harus berani menantang ketiga nama itu dan pegiat-pegiat segenerasinya. Tapi, sebagaimana bajak laut topi jerami, mereka menantang penguasa-penguasa laut dengan mencari dan mengumpulkan poneglyph yang menyimpan banyak kode tentang sejarah dunia yang hilang (dengan kata lain, mereka selalu mengelilingi lautan), sembari memupuk raga dan doa untuk meningkatkan Haki.

Mungkin saya harus banyak mengurangi aktivitas bermedia sosial, serta—meminjam istilah Afrizal Malna—mengurasi kata-kata. Saya juga harus lebih banyak berolahraga dan berdoa supaya bisa tahu apa itu carangan.

kuotasi

Ayah gue mengajarkan anak-anaknya untuk tidak mengeluh berkata ‘aduh’. Kata itu ia ganti menjadi ‘bagaimana’.

-UTM-