All posts tagged: Umar Kayam

Pidato Jim…

“Peggy, Tuan-tuan. Hari ini, hari penting. Pedang ‘lah kutarik. Dan syiiir, aku putuskan tali kelaziman yang mengekang kemajuan zaman. Tahukah kenapa Amerika makin merosot sebagai negara besar? Karena rakyatnya tidak tahu lagi menjawab kenapa minum kopi pada waktu ‘jam ngopi’. Tidak tahu menjawab kenapa orang cuma bisa beli hot dog dan hamburger sejak dari Bowery sampai Upper-Bronx. Orang mengunyah hot dog karena orang di kirinya mengunyah hot dog. Orang memamah hamburger karena di kanannya memamah hamburger. Beo, Peggy, beo! Monyet Tuan-tuan, di mana-mana monyet! Tapi hari ini pedang ‘lah kutarik. Good bye hot dog, farewell hamburger! Aku mau makan codsteak atau halibut buat makan siangku, meskipun hari ini hari Senin. Aku, aku, aku, a-a-a-a … ku, oh, oh…” Umar Kayam, “Secangkir Kopi dan Sepotong Donat”, dalam buku kumpulan cerpen Umar Kayam, Seribu Kunang-kunang di Manhattan, Jakarta: PT Pustaka Utama Grafiti, 2003. Hlm. 51.

“Mestikah kita tahu semua…?”

“Dan aku sendiri sesungguhnya tidak tahu pasti pula apa mesti aku jawab terhadap pertanyaan itu sendiri. Mestikah kami tahu dengan pasti apakah Erich Schlitz sudah mati, apakah dia seorang chef restoran yang pandai bikin wiener schnitzel, yang berlatih yoga setiap pagi? Mestikah kami tahu dengan pasti apakah Madame Schlitz seorang pemain sandiwara, seorang yang tidak waras, seorang yang kesepian? Mestikah kami tahu dengan pasti apakah Madame Schlitz hilang diculik orang, masuk rumah sakit gila, atau rujuk kembali dengan Erich Schlitz yang mungkin tidak mati, tetapi cuma bercerai saja dari istrinya?” Umar Kayam, “Istriku, Madame Schlitz, dan sang Raksasa”, dalam buku kumpulan cerita pendek Umar Kayam, Seribu Kunang-kunang di Manhattan, Jakarta: PT Pustaka Utama Grafiti, 2003, Hlm. 30.